Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Merasa kesal


__ADS_3

Pagi yang cerah, secerah harapan seorang yang tengah bahagia. Namun tidak secerah harapan seorang Zakka yang gagal mendapatkan cinta dari perempuan yang ia cintai, kini harus pupus begitu saja tanpa ia bayangkan sebelumnya.


Dengan malas malasan, Zakka masih dalam balutan selimut. Rasa malas membuatnya tidak ingin beraktivitas apapun, semua serasa hancur berkeping-keping tak tersisa.


Pintu kamar sengaja tidak ditutup oleh Zakka, ia malas jika harus membukakan pintu ketika dirinya tak ada semangat ketika diminta untuk membukakan pintu kamarnya.


Bunda Maura yang hendak sarapan pagi, tidak dilihatnya putra kedua di ruang makan. Akhirnya Bunda Maura segera membangunkan putranya agar tidak larut dalam kesedihannya terus menerus.


"Zakka sayang, Zakka, bangun Nak." Panggil sang Bunda sambil berjalan masuk ke kamar dan membuka selimutnya.


"Mama, apa apaan sih. Zakka masih ngantuk, Ma. Sudah sana Mama keluar, Zakka masih ingin sendirian. Zakka males untuk keluar, Zakka mau tidur aja deh, Ma." Sahut Zakka dibalik selimut dengan posisi tengkurap, namun sayang di sayang selimutnya sudah ditarik oleh Bunda Maura. Dengan tingkahnya yang tidak pernah berubah dari kecil, Zakka langsung meraih bantal tidurnya untuk menutupi kepalanya. Naas, sang ibu langsung merebutnya.


"Tidak baik seorang patah hati mengurung diri, yang ada kamu akan ditertawakan sama burung burung yang sudah berkicau dari tadi." Ucap sang Ibu berusaha untuk membangunkan putranya.


"Tapi Zakka masih ngantuk loh Ma, Zakka masih ingin tidur." Sahut Zakka yang masih dengan posisinya yang tengkurap.


"Jangan banyak protes, buruan bangun dan segera mandi. Ada sesuatu yang ingin Kakel sampaikan padamu, ayo buruan bangun dan mandi. Mama mau siapkan sarapan mu terlebih dulu. Kalau sudah mandi, langsung ke ruang makan, ok." Kata sang Ibu mengingatkan, Zakka yang tidak mempunyai pilihan, akhirnya dengan berat hari Zakka menuruti permintaan dari sang Ibu.


"Ya ya ya, Ma. Zakka nyerah, Zakka mau mandi." Jawab Zakka dengan pasrah, sang Ibu pun tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari putranya yang akhirnya mau menuruti permintaan sang Ibunda.


"Mama tunggu dibawah ya, Nak." Ucap Bunda Maura, Zakka menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Setelah tidak ada lagi Bunga Maura didalam kamar, Zakka membalikkan badannya dan segera bangkit dari posisi tidurnya. Karena terasa sedikit pusing akibat terlalu dalam memikirkan sesuatu, kepalanya pun terasa berat dan juga pusing. Zakka memilih untuk menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang tempat tidurnya.


Alih alih Zakka meraih ponselnya dan membuka galerry yang dimana dirinya menyimpan banyak kenangan saat mencuri gambar perempuan yang ia sukai, siapa lagi kalau bukan Aishwa.


"Kamu tega banget, Aish. Kenapa kamu tega bohongi aku, jahat! kamu itu. Kenapa kamu tidak jujur denganku, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku. Sebenarnya ada rahasia apa antara kamu dan Kak Rey, sampai sampai kalian menikah ditahun yang dimana kita selesai sekolah." Gumam Zakka dan tidak luput menitikan air mata kesedihannya.


Disaat itu juga, ingatan Zakka kembali ditahun yang dimana dirinya telah selesai mengenyam pendidikannya di sekolah abu abu.


"Mungkin kah pada saat mau berangkat ke Amerika Kak Rey menikah? secara Kak Rey dan Kakek datang belakanga. Terus ... saat Kak Rey izin untuk pulang ke Tanah Air yakni untuk menikah secara hukum? ya! itu pasti. Pantas saja, Kak Rey terlihat seperti menang lotre." Gumam Zakka kembali penasaran dengan pernikahan saudara kembarnya.


Karena tidak ingin semakin pusing untuk memikirkannya, Zakka memilih untuk segera membersihkan diri.


Sedangkan di tempat lain, Rey dan Aish tengah bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit. Tepatnya untuk memeriksa kandungannya, dan ingin mengetahui hasil pemeriksaan dengan detail.


Aish yang mendengarnya pun terasa geli, segera ia memutar badannya dan menghadap suaminya.


"Ngegombal, bilang aja mau merayu." Kata Aish tidak mau kalah, Rey pun langsung memeluknya lagi.


"Merayu istrinya tidak apa apa, 'kan?"


"Hem."

__ADS_1


"Kok hem, ayo kita sarapan. Aku sudah sangat lapar nih, gara gara semalam aku jadi lupa untuk makan malam kan. Kamu sih, sangat menggoda." Kata Rey sambil mencubit gemas kedua pipi milik istrinya, sedangkan Aish membulatkan kedua bola matanya.


Karena tidak ingin mengantri terlalu panjang, Aish dan suami segera sarapan pagi. Saat mau hendak keluar dari kamar, terdengar suara gaduh di bawah.


"Sayang, sepertinya ada Rena deh. Aku temui dia dulu ya, kamu jangan turun dulu." Ucap Aish meminta suaminya untuk tidak ikut turun kebawah.


"Tapi kalau kamu kenapa kenapa, bagaimana?"


"Tenang, ada Sela yang selalu siap siaga didekatku." Kata Aish meyakinkan suaminya, Rey mengangguk. Tetap saja, Rey tidak tinggal diam begitu saja.


Pelan pelan Aish menuruni anak tangga. Sampai dibawah anak tangga ia mendapati saudara perempuannya yang sudah berdiri menunggunya turun.


"Ada perlu apa kamu datang kesini? bukankah kemarin aku sudah memberikan uang yang cukup banyak untuk kamu? apa ada yang lain? atau ...." tanya Aish memberi banyak pertanyaan pada saudara perempuannya.


"Uang yang kamu berikan masih kurang, aku mau minta yang lebih banyak lagi. Aku mau kredit mobil, bosan! naik taxi terus menerus. Kalau kamu tidak mau memberiku uang, aku tidak akan segan segan membuangmu jauh jauh dari muka bumi ini." Jawab Rena dengan entengnya, bahkan tanpa ada rasa berdosa dengan mudahnya memaksa serta mengancam Aish seenaknya saja.


"Rena! hentikan cara kamu itu. Seharusnya kamu itu malu, pulang pulang hanya menjadi benalu untuk Aish. Kamu itu tidak mempunyai hak apapun padanya, apa yang Aish miliki adalah hak sepenuhnya. Bukannya membantu pekerjaannya, tapi kamu memerasnya tanpa belas kasihan. Dimana hati nurani kamu itu, cepat! kau pulang sekarang juga. Apa perlu Mama antarkan kamu ke Ayah kamu, hah."


Seketika, Rena terasa dongkol ketika mendengar ucapan dari Ibu Melin. Seakan akan Rena tidak lagi dianggap putrinya, melainkan orang asing. Bahkan baru pertama kalinya ia di usir oleh orang tuanya sendiri, pikirnya. Ada rasa kecewa pada Ibu Melin ketika ia berkata seakan mengusir putrinya, namun Beliau tidak mempunyai cara lain selain menggertak seorang Rena yang sudah melampaui batas kesabaran seseorang.


"Ooh! jadi, sekarang Mama lebih sayang Kak Aish daripada sama Rena. Pantas saja, Kak Aish selalu dibela belain. Karena Mama sudah dicuci otaknya oleh Kak Aish, awas! kau Kak Aish." Ucap Rena tanpa peduli dengan ucapan kasarnya didepan seorang Ibu.

__ADS_1


"Pergi! dari sini, aku tidak sudi tempatku kamu kotori dengan ucapan mu itu." Usir Rey yang tidak bisa menahan emosinya ketika ia melihat ada orang tua yang dibentak oleh anaknya sendiri. Bahkan dengan ucapan yang kasar, Rey langsung mengusirnya. Rey tidak peduli siapa itu Rena, sekalipun bagian anggota keluarga istrinya sendiri.


__ADS_2