
Setelah meminta ruangan khusus, kini hanyalah Zakka dan Zayen yang berada didalam ruangan tersebut.
"Pakailah alat penyangganya, jangan lagi lagi kamu ketergantungan dengan kursi roda ini. Kamu tahu? ini hanya membuatmu malas, dan hanya akan membuatmu menyerah, kak Zakka." Ucap Zayen sambil menyodorkan sebuah alat penyangga kapada Zakka.
"Apa aku bisa melakukannya?" tanya Zakka yang seakan ingin menyerah sebelum bertarung.
"Kenapa kak Zakka tidak mencontoh Afna? dia perempuan, tetapi dia percaya diri."
"Aku sudah terlalu lama berada di kursi roda ini, Zayen. Kakiku sudah terasa kaku apabila untuk berdiri." Ucap Zakka sambil memegangi kedua lututnya.
"Sudah aku katakan tadi, kursi roda ini hanya akan membuatmu malas dan hilang semangatmu kak. Ayolah ikuti semua saranku, itupun kalau kak Zakka ingin sembuh. Jika tidak, maka jangan salahkan aku kalau sampai aku gagal membantu kakak untuk belajar berjalan." Kata Zayen dengan tegas, dan tidak peduli siapa yang sedang dihadapinya.
"Baik lah, aku akan turuti saran dari kamu. Sebelumnya aku mau minta maaf, jika aku akan merepotkan kamu." Ucap Zakka untuk menegaskan atas sikapnya yang terlalu berlebihan, pikir Zakka.
"Aku paham, karena setiap orang yang sedang menghadapi masa sulit, orang tersebut akan selalu dikuasai emosinya. Yang jelas, orangnya akan mudah marah, selalu merasa hina dan rendah. Tenang saja, aku tidak akan meladeninya. Tujuanku untuk membantu kak Zakka agar bisa berjalan lagi, dan dapat beraktivitas seperti dulu." Kata Zayen, Zakka pun mengangguk.
"Ayo kak Zakka, kita mulai dari sekarang." Ajak Zayen memindahkan dari kursi roda ke tempat tidur. Zayen lebih memilih ruangan kamar tidur yang mudah untuk latihan berjalan. Kemudian Zakka langsung melipat kursi rodanya dan membawanya keluar.
"Kak Rey, simpan kursi rodanya." Kata Zayen sambil menyerahkan kursi rodanya kepada Rey. Setelah itu Zayen kembali masuk kedalam ruangan tersebut.
Setelah tidak ada yang mengganggu penglihatan, Zayen memulai membantu Zakka untuk menggunakan alat penyangganya.
"Hati hati dan jangan gegabah, butuh konsentrasi yang maksimal. Jangan terburu buru, lemaskan dulu otot ototnya." Kata Zayen memberi sebuah saran, Zakka pun memulai melakukan sesuai yang diucapkan oleh Zayen.
"Aaaa!" teriak Zakka menahan rasa sakit pada lututnya yang selalu untuk ditekuk terlalu lama ketika duduk dikursi roda.
"Hati hati, jangan kamu paksakan jika kamu merasakan sakit yang berlebihan." Kata Zayen sambil membantu untuk menjadi penyangga tubuh Zakka.
"Maaf, jika berat badanku sudah menjadikan beban sama kamu." Ucap Zakka merasa tidak enak hati ketika dirinya harus menyusahkan orang lain, pikir Zakka.
"Bagaimana, masih terasa sangat sakit? kalaupun ya, istirahat lah sejenak. Ini hanya pemanasan, bukan untuk langsung berjalan. Semua membutuhkan tahapan tahapan sesuai kemampuan, tidak diharuskan sekian banyak gerakan, tetapi seberapa kuat dan mampu." Kata Zayen yang tidak lupa memberi nasehat sesama saudara.
"Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan, rupanya sangat sulit." Ucap Zakka sambil mengusap lututnya berulang ulang, Zayen pun tersenyum mendengarnya.
"Istriku saja membutuhkan waktu yang lama, semua itu butuh konsentrasi dan kesabaran. Intinya jangan gegabah dan terburu buru, tetap lakukan sesuai kemampuan kita. Jangan dipaksakan ketika badan tidak mau merespon." Kata Zayen mengingatkan.
"Ya, harus konsentrasi dan kesabaran. Terima kasih banyak ya, Zayen. Kamu sudah mau membantuku dan mengajariku untuk berjalan, Afna pasti sangat beruntung memiliki suami seperti kamu." Ucap Zakka, kemudian menepuk punggungnya pelan.
"Yang beruntung itu aku, kak Zakka." Kata Zayen dan tersenyum.
"Sama sama untung dah, tidak ada yang rugi." Ucap Zakka yang juga ikutan senyum.
"Apakah mau lanjut lagi?" tanya Zayen.
__ADS_1
"Boleh, tapi pegangin lagi. Takutnya aku tersungkur, kan malu."
"Kenapa mesti malu, namanya juga belajar." Kata Zayen, kemudian ia kembali membantu Zakka untuk berdiri dengan hati hati dan juga pelan pelan.
"Aaaa!" lagi lagi Zakka berteriak ketika merasakan nyeri pada kaki bagian betisnya.
"Kenapa kak?" tanya Zayen penasaran.
"Ini loh, selalu sakit dibagian yang ini." Jawab Zakka sambil kembali untuk duduk ditempat tidur. Kemudian Zakka menunjukkan bagian yang dirasakan sakitnya.
Zayen yang penasaran, ia mencoba untuk memeriksakannya. Kemudian ia memperhatikannya dengan sangat teliti dan dengan seksama.
"Yang di operasi yang sebelah ini, 'kan?" tanya Zayen sambil nunjuk bagian yang ada bekas jahitan.
"Ya, tapi yang sakit yang sebelah sini." Jawab Zakka sambil menunjukkan kembali rasa sakit yang ada pada kakinya.
"Sebentar, aku periksa dulu. Ada minyak khusus 'kan? sejenis babby oil juga tidak apa apa."
"Panggil aja pelayannya, Zay," kata Zakka.
Karena sangat membutuhkannya, Zayen akhirnya meminta kepada salah satu orang kepercayaan keluarga Wilayah untuk mengambilkan sesuai yang dimintainya.
Setelah mendapatkan sesuatu yang diminta,
Zayen membantu Zakka bersandar dan duduk dengan kedua kakinya yang diluruskan.
"Tentu saja,aku akan mengurut kaki kamu. Aku merasa ada urat yang terkilir. Tenang saja, aku akan melakukannya dengan sangat hati hati dan tentunya dengan pelan." Jawab Zayen.
Zakka yang menyimpan rasa keraguan, maju mundur untuk mengizinkan Zayen mengurut kakinya. Bukan karena tidak percaya, Zakka takut jika Zayen akan salah mengurut.
"Tenang saja, aman." Lagi lagi Zayen terus meyakinkan nya. Zakka tidak mempunyai pilihan lain, ia hanya bisa nurut dengan apa yang diminta oleh Zayen.
"Aaaa!" teriak Zakka sambil meringis menahan rasa sakit pada kakinya.
"Sabar, tidak lama kok. Ini hanya untuk melemaskan saja, selebihnya masih bisa dilakukan besok lagi." Kata Zayen meyakinkan saudaranya.
Zakka masih terus menahan rasa sakit ketika Zayen melakukan pemijatan pada kakinya. Meski terasa sangat sakit, Zakka berusaha untuk tidak menunjukkan ketika harus menahan rasa sakit.
"Sudah, aku mengurutnya hanya sebentar saja kok. Jangan takut, tidak akan terjadi apa apa sama kaki kak Zakka." Ucap Zayen meyakinkan untuk tidak terlalu berlebihan ketika mencemasakan sesuatu.
"Terima kasih banyak, Zayen." Jawab Zakka, Zayen pun mengangguk.
"Coba digerakkan, bagaimana reaksinya, kak Zakka?" perinta Zayen yang ingin mengetahui selesai ia melakukan pemijatan. Mungkinkah ada reaksinya, atau sebaliknya, pikirnya.
__ADS_1
Setelah selesai mengurut, kini Zayen mulai mengajak Zakka untuk kembali belajar berdiri terlebih dahulu. Sedangkan untuk belajar berjalan harus menggunakan tahap demi tahap, ujarnya dalam hatinya.
"Pegang saja aku, kak. Takutnya jika terjatuh, bahaya." Kata Zayen yang berusaha untuk terlihat guyup rukun, mungkin.
Setelah berdiri, Zakka mulai menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh tersungkur, pikir Zakka yang tengah merasa takut ketika dirinya terjatuh dan akan menambah rasa sakitnya.
Seketika, Zakka terkejut ketika ia bisa berdiri dengan tegak. Hanya saja, Zakka masih merasakan nyeri pada bagian kakinya.
"Aku bisa, aku bisa berdiri. Ya! aku sedang tidak bermimpi, 'kan?" kata Zakka dengan perasaan girang dan serasa seperti tengah bermimpi.
Zayen yang mendapatkan hasil yang begitu memuaskan, ia tersenyum bahagia dan merasa lega ketika melihat Zakka mampu berdiri.
"Cukup cukup cukup, duduk lah." Perintah Zayen yang tetap mengingatkan untuk melalui tahap demi tahap, takutnya kaki yang cidera akan bengkak dan bertambah rasa sakitnya.
Dengan pelan dan penuh hati hati, Zayen membantu Zakka untuk kembali duduk di tempat tidur.
"Meski kamu bisa berdiri, tetap saja harus melalui tahap. Takutnya otot otot kamu yang kaku akan kaget dan terjadi pembengkakan pada kaki kamu itu." Ucapnya, sedangkan Zayen tetap tidak pernah berhenti untuk menyemangati. Setelah dirasa cukup, Zayen menyudahinya.
Semua yang menyimpan rasa penasaran dengan adanya perubahan pada diri Zakka, yang lainnya segera masuk kedalam ruangan tersebut untuk melihatnya.
"Zayen, bagaimana dengan kondisinya Zakka?" tanya Tuan Ganan dengan rasa penasarannya.
"Langsung meresponnya, paman. Tentu saja Zakka sudah bisa berdiri, hanya saja belum aku izinkan untuk melangkahkan kakinya. Yang Zayen takutkan, akan terjadi pembengkakan pada kakinya. Jadi, tetap saja melalui tahapan yang dimulai dari yang paling kecil." Jawab Zakka memperjelas ucapannya.
Tuan Ganan yang takut dengan resikonya, Beliau hanya bisa untuk menuruti apa yang sudah disarankan sebelumnya oleh Zayen.
"Syukurlah, sudah ada kemajuan yang baik. Sudah hampir larut malam, dan juga sudah waktunya untuk beristirahat, kasihan dengan kesehatan yang kita miliki." Kata kakek Angga berbicara.
"Ya Kek, semua butuh proses dari yang paling bawah. Zakka sengaja tidak Zayen minta untuk berjalan, takutnya akan ada pembengkakan pada kakinya. Berjaga jaga bukankah sesuatu tindakan yang jauh lebih ih baik lagi." Ucap Zayen ikut menimpali.
"Kakek sangat bangga sama kamu, Zayen. Kamu tidak jauh beda dengan kakek kamu, beruntung lah kamu." Kata kakek Angga memujinya.
"Kakek bisa saja, Zayen hanya bisa melakukan dengan apa yang ada pada diri Zayen, kek." Jawab Zayen tersipu malu.
"Tidak apa apa, kamu menguasai dalam bidang apapun. Kakek benar benar bangga mempunyai cucu seperti mu." Ucap kakek Angga memuji.
Karena waktu semakin larut dan sudah mulai sepi, akhirnya Zayen memilih untuk berpamitan pulang.
"Paman, kakek, Zayen pamit pulang ya." Ucap Zayen berpamitan.
"Ya, Zayen. Terima kasih banyak karena kamu sudah bersedia memberi pertolongan sama Zakka cucu kakek. Tidak hanya itu saja, bahkan kamu bersedia juga untuk menyematkan waktu luangmu membantu Zakka belajar berjalan." Ucap kakek Angga yang tidak pernah lupa untuk mengucapkan banyak banyak terima kasih.
"Hati hati dijalanan ya, nak. Tante ucapkan banyak banyak berterima sama kamu, karena berkat kepandaian kamu, Zakka sudah mulai ada perubahan." Ucap Bunda Maura yang tidak lupa untuk mengucapkan banyak banyak berterima kasih.
__ADS_1
"Ya, Tante. Zayen pamit pulang, Tante." Jawab Zayen, setelah itu ia segera pergi dan meninggalkan rumah di kediaman milik Tuan Ganan.
Ketika sudah tidak ada lagi sosok Zayen di kediaman Tuan Ganan, kini Rey dan Zakka maupun yang lainnya segera kembali ke kamarnya masing masing untuk beristirahat. Sebelum berbaring di tempat tidur, Aish mapun sang suami segera mencuci muka dan memgganti pakaian tidurnya.