
Waktu yang begitu cepat, tidak terasa Aish telah melewati hari harinya dengan kesendirian dan hanya ditemani adik dari ayahnya. Yang tidak lain, Ibu Melin.
Keseharian Aish hanyalah menyibukkan diri di Toko kuehnya, terkadang menyempatkan waktunya untuk mengajari siapa saja yang berminat untuk belajar membuat kueh maupun belajar kerajinan tangan. Membuat berbagai macam tas rajutan dan lain sebagainya. Pemesanan tidak hanya mencakup di Daerah nya saja, tetapi pemesanan mulai berdatangan dari luar Daerah maupun luar Negri meski hanya segelintir orang yang memesannya.
Setidaknya Aish dapat membantu perekonomian warga, dan menjadi sumber penghasilannya. Bahkan, wajah cantik Aish sempat beredar dalam media sosial karena keuletannya dan kepintarannya serta ilmu yang dimilikinya menarik perhatian warganet.
Dengan kerja kerasnya seorang Aish tidak lepas dari pengawasan suaminya serta dukungannya, meski tanpa disadari oleh Aish sendiri.
Berbeda dengan kedua sahabatnya, Yunda dan Afwan. Keduanya kini tetap bertahan dengan pekerjaannya di Kantor yang berbeda. Yunda yang berpindah tempat untuk menjadi sekretaris Neyla, saudara kembar Rey dan Zakka. Sedangkan Afwan dijadikan sekretarisnya Zakka, hubungan keduanya semakin baik dan tidak pernah ada konflik apapun.
"Kak Aish," panggil salah satu karyawan di Toko kuehnya yang masih belum juga pulang.
"Ya Sel, ada apa?" sahut Aish sambil membereskan barang barang yang baru datang.
"Kak Aish tidak pulang? ini sudah malam loh Kak."
"Kak Aish masih ingin berada di Toko ini. Kalau kamu mau pulang, pulang saja tidak apa apa."
"Tidak ah, Sela mau nemenin Kak Aish."
"Loh kenapa Sel? Kak Aish sudah terbiasa pulang malam, lagian juga tidak jauh dari rumah Kakak. Nanti kamu kena marah sama orang tua kamu loh, kasihan sudah nunggu kamu pulang." Kata Aish yang tidak mau merepotkan.
"Tapi Sela kasihan sama Kak Aish sendirian, nanti biar Sela menghubungi Papa." Ucap Sela yang sudah begitu akrab dengan Aish. Bagi Sela, Aish sudah dianggap sebagai Kakak nya sendiri. Keluh kesahnya ada pada Aish, apapun itu.
"Kalau kamu masih tetap bersikukuh untuk menemani Kak Aish, sekarang juga Kak Aish mau pulang. Kakak tidak mau direpotkan, apa lagi kamu masih sekolah." Kata Aish yang tidak mau mengganggu jam istirahatnya Sela yang masih harus bangun pagi untuk sekolah, dan pulangnya untuk bekerja.
__ADS_1
Aish begitu bangga dengan sosok Sela. Biarpun usianya masih belasan tahun, semangatnya tidak kalah beda dengannya dikala masih muda.
"Sela, ini ada kueh yang tadi kelebihan membuat pesanan. Kamu bawa pulang saja ya, sayang kalau harus dianggurin. Di rumah bisa untuk cemilan, kamu kan ada adik." Ucap Aish sambil memasukkan ke kotak kueh dan memasukkan nya kedalam wadah plastik besar.
Setelah berpencar arah saat pulang, dengan malas Aish mengayun sepedanya. Sekian lamanya ia hanya menyibukkan diri dengan usahanya diperbakingan dan beberapa macam kueh kering yang lainnya.
Cukup lama saat dalam perjalanan pulang, akhirnya Aish telah sampai didepan rumah. Dengan pelan, Aish membuka pintunya dengan kunci yang ia bawa. Pelan pelan Aish melangkahkan kakinya, takut ada yang terbangun dari mimpinya. Siapa lagi kalau bukan Tante Melin, yang begitu perhatian dengan keponakannya.
Ibu Melin sudah menganggap Aish seperti anak kandungnya sendiri. Berbeda dengan putrinya yang lebih memilih untuk tinggal bersama mantan suaminya yang kehidupannya lebih terjamin ketimbang harus ikut dengan Ibu Melin yang hanya dengan kesederhanaannya.
Karena sudah tidak tahan menahan rasa kantuk nya, Aish langsung meletakkan tas bawaannya dan melepas pakaiannya dan segera masuk ke kamar mandi.
Cukup lama berada di dalam kamar mandi, akhirnya selesai juga membersihkan diri. Dengan terburu buru Aish mengganti pakaiannya, ia tidak peduli dengan kondisi dalam kamarnya.
Seketika, sepasang matanya mendadak tercengang ketika melihat sosok laki laki yang sudah bersandar dikepala ranjang dengan posisi kaki yang diluruskan.
"Sudah malam, cepetan tidur." Perintahnya, sedangkan tubuh Aish masih terasa kaku dan begitu sulitnya untuk ia gerakkan.
Susah payah Aish menelan salivanya, bahkan tenggorokannya seakan terasa tercekik.
"Apa perlu aku menggendongmu? hem." Ucapnya setengah mengancam, sekujur badan Aish masih terasa kaku.
"Em ... aku tidur di kamar depan aja ya, disini gerah." Ucap Aish berusaha untuk menghindar.
Tanpa pikir panjang, tubuh Aish langsung digendong dan dibawa ke kamar depan.
__ADS_1
"Lepaskan, aku bisa jalan sendiri. Bukan bukan bukan, bukan begitu maksud aku em ... ya ya ya, aku mau tidur di kamarku." Ucap Aish yang merasa bingung harus berkata apa.
'Mimpi apa ... aku semalam, kenapa dia pulangnya mendadak begini sih. Bikin jantungan aja ini orang.' Batin Aish berasa mimpi.
"Aw! pelan pelan dong." Pekik Aish dengan reflek.
"Tidur, sudah malam." Perintahnya tanpa menyapa ataupun sekedar basa basi tanya kabar.
"Kenapa kamu tidak mengabari aku jika mau pulang? aku kan tidak sekaget ini jadinya." Tanya Aish memberanikan diri karena rasa penasarannya.
"Untuk apa aku memberimu kabar, memangnya kamu mau menyambutku, begitu?" tanya nya dengan tatapan yang begitu intens.
"Ya bukan begitu, ya maksud aku setidaknya kamu itu memberiku kabar padaku. Apa gunanya kamu memberiku sebuah ponsel, jika selama 2 tahun saja kamu tidak pernah memberiku kabar. Aaah bukan begitu juga maksudku, ah! ada apa dengan mulutku ini." Jawab Aish yang serba salah dengan pengucapannya. Rey yang mendengar celotehan dari istrinya pun dia tersenyum.
"Kenapa kamu tidak bilang saja, jika kamu menginginkan kabar dariku."
"Tidak, tadi aku salah ucap. Kamu tidak perlu percaya dengan ucapan aku yang tadi, semuanya bohong. Siapa juga yang menunggu kabar dari kamu, tidak ada." Kata Aish dengan ketus, lagi lagi Rey tertawa kecil mendengarnya.
"Kenapa kamu tertawa? ada yang lucu kah denganku? hem." Tanya Aish hanya melirik suaminya, dirinya masih tidak mampu jika harus berhadapan dengan saling menatap satu sama lain.
"Ya, kamu itu lucu." Jawab Rey dengan singkat, kemudian ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit langit. Kemudian memejamkan kedua matanya untuk beristirahat.
Aish yang melihatnya pun merasa enggan dan ada rasa takut ketika dirinya mau tidur di sebelah sang suami.
Namun mau bagaimana lagi, Aish tidak mempunyai cara lain untuk menghindari suaminya. Mau tidak mau, Aish tidur disebelah suaminya.
__ADS_1
Karena tidak ada cara lain, Aish memilih tidur dengan posisi membelakangi suaminya. Sebelumnya Aish berdoa terlebih dahulu ketika dirinya hendak mau tidur. Lambat laun, akhirnya Aish terlelap dari tidurnya. Meski kedua matanya terpejam, Aish masih dengan kesadarannya. Bayang bayang dimasa lalunya masih terngiang ngiang dalam ingatannya, Aish mencoba memilih untuk pura pura tidur dengan suasana yang terasa hening dalam kamar.