Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Berbohong


__ADS_3

Setelah mematikan ponselnya, Aish langsung meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Lalu, ia segera mengganti pakaiannya dan makan siang bersama sang ayah.


"Aish, siapa tadi yang menelfonmu?" tanya sang ayah penuh selidik. Seketika Aish berubah menjadi gugup dan bingung harus berkata apa. Jujur, itu tidak mungkin. Berbohong? sangatlah berdosa, pikir Aish terus berusaha mencari ide.


"Kenapa kamu diam?" tanya sang ayah semakin penasaran dengan perubahan mimik diwajahnya.


"Emmmm ... itu, Pa. Em ... teman baru Aish disekolah, bener deh." Jawab Aish penuh alasan.


"Oooh ... lalu, kenapa kamu menjadi gugup seperti itu? apa ada yang tengah mengganggumu? bilang saja sama Papa, jika ada anak yang menghina kamu atau yang lainnya." Tanya sang ayah mencoba memastikan putrinya.


"Tidak, Pa. Sama sekali tidak ada yang menghina Aish, semua murid disekolahan baik baik." Ujar Aish berusaha meyakinkan sang ayah, berharap tidak mencurigainya.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita makan siang." Ajak sang ayah mengakhiri obrolannya, Aisy pun mengangguk dan mengambil nasi beserta sup buntutnya.


"Maafkan Aish, Pa. Jika Aish telah banyak berbohong dengan Papa, lain kali Aish akan selalu berhati hati agar tidak terulang kembali." Batin Aish penuh sesal atas perbuatannya yang tengah berbohong terhadap ayahnya sendiri.


Aish yang lehernya seperti tercekik ditenggorokannya begitu saja saat dirinya menyuapi makanannya.


Setelah selesai makan siang, Aish kembali ke kamar berniat untuk istirahat.


"Aish, kamu sudah shalat?" tanya sang ayah mengingatkan.


"Sudah, Pa. Disekolahan rutin diadakannya shat berjama'ah sebelum pulang sekolah." Jawab Aish.


"Ya sudah, kalau kamu mau istirahat, istirahatlah. Hari ini Papa mungkin pulangnya malam, tidak apa 'kan?" ucap sang ayah.

__ADS_1


"Tidak apa apa kok, Pa. Kebetulan, Aish lagi tidak mengaji karena libur. Dikarenakan, di pondok pesantren ada acara khusus untuk para santri." Jawab Aish dengan tenang, sang ayah mengangguk dan kembali ke kamarnya. Begitu juga dengan Aish ikut masuk ke kamarnya.


Saat berada didalam kamar, Aish merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur untuk beristirahat. Sesekali Aish menatap langit langit dinding yang terlihat jelas benda genting berada dikamarnya, maklumlah tempat Aish yang begitu sederhana dan jauh dari bagus, apalagi mewah.


Seketika, Aish teringat dua anak laki laki yang sebayanya yang dirasa seperti tengah mengikutinya pulang. Rasa penasarannya pun tengah menyeruak dalam hatinya, ia tidak ingin kecolongan begitu saja. Apalagi seseorang yang begitu aneh menurutnya itu.


'Dua laki laki tadi itu siapa sih, sepertinya mereka kakak beradik. Tapi ... aku rasa tidak mungkin, kalaupun kakak beradik tidak mungkin umurnya sama. Ah! kenapa tiba tiba aku memikirkannya.' Batinnya.


"Astaghfirullah hal'adzim." Ucapnya lirih beristighfar, menyesali tengah mengingatnya.


Karena rasa kantuk yang tidak dapat ia kendalikan, Aish tertidur dengan pulas. Tanpa Aish sadari, waktu jam tiga sore telah dilewatinya. Sang ayah pun sudah tidak lagi berada di rumah, melainkan sudah berangkat untuk bekerja.


Pelan pelan, Aish membuka kedua kelopak matanya dan mengumpulkan kesadarannya. Dilihat lah jam dinding yang menempel di tembok kamarnya, seketika Aish mengucek kedua matanya berkali kali. Percaya seperti tidak percaya, jika dirinya telah memakan waktu yang cukup lama untuk beristirahat.


Dengan kilat, Aish langsung bangkit dari posisinya dan langsung keluar dari kamarnya untuk segera mandi. Selesainya mandi, Aish melaksanakan kewajibannya yaitu shalat asyar.


Tidak hanya itu, sebagiannya ada beberapa tanaman bunga yang Aish tanam untuk disiraminya.


Kini, terlihat bersih dan juga bunga bunganya terlihat segar untuk dilihatnya.


"Eh ... Aish, rajin sekali kamu Nak. Wah, pasti nanti banyak orang tua mengincar kamu untuk dijadikan menantu." Ledek seorang ibu paruh baya.


"Ah, ibu mah bisa saja. Aish tidak terpikirkan sejauh itu, Aish mau mengejar cita cita Aish untuk sukses dan tidak akan menyusahkan Papa lagi." Jawab Aish dan tersenyum.


"Cita cita kamu sangat mulia, semoga diijabah. Aamiin, kalau begitu Ibu mau ke warung. Belajar yang rajin ya, Nak." Ucapnya.

__ADS_1


"Iya, Bu." Jawab Aish disertai anggukan, ibu tersebut pun langsung pergi ke warung seperti yang diucapkannya.


Sedangkan Aish kembali masuk kedalam rumah, kemudian ia memasak nasi dan lauk seadanya. Apalagi kalau bukan tempe penyet, yang mudah dan simpel tanpa masak sayur, pikirnya.


Waktu begitu cepat ia lewati, hingga tidak terasa sudah hampir gelap. Semua jendela dan pintu telah Aish tutup dan dikunci. Tidak hanya itu, Aish tidak pernah menerima tamu lewat dari maghrib. Siapapun yang berkunjung, saudara ataupun orang lain. Aish tidak ingin sesuatu bahaya mengancamnya, ia lebih memilih berjaga jaga itu jauh lebih baik katanya.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah


Pondok pesantren. Yahya selalu disibukkan dengan jadwal belajarnya yang begitu rutin. Selain itu, ia akan benar benar fokus belajarnya dan akan dibawa pulang ilmu yang didapatkannya.


"Yahya, kamu jauh jauh dari rumah kamu datang ke Pondok ini apa bisa menahan rindu pada keluargamu?" tanya salah satu teman dekatnya yang penasaran dengan sosok Yahya yang dikatakan keluarganya memiliki pondok pesantren, tetapi ia menuntut ilmunya jauh di sebrang.


Yahya tersenyum mendengarnya, serasa mendapatkan pertanyaan yang cukup membuatnya dapat tersenyum.


"Kenapa? ada yang salah denganku? meski keluargaku mempunyai pondok pesantren, aku pun dimintai untuk menuntut ilmu jauh dari rumah. Aku sendiri tidak mengerti maksud dan tujuan kedua orang tuaku maupun kakek aku sendiri." Jawab Yahya menjelaskan.


"Aku tahu, agar kamu dapat belajar dengan serius dan memiliki tanggung jawab yang besar. Agar kelak kamu dewasa, kamu akan memiliki kepribadian yang seperti diharapkan oleh kedua orang tua kamu maupun kakek kamu." Ucapnya.


"Kamu sendiri, kenapa tidak mondok di tempat lingkungan rumah kamu. Aku yakin bahwa jarak dari rumah kamu tidak jauh dari Pondok Pesantren, lalu kenapa kamu menuntut ilmunya di Pondok Pesantren ini?" tanya Yahya balik bertanya.


"Seperti yang sudah aku jelaskan pada kamu. Oh iya, ayo kita istirahat. Sudah malam, besok pagi kita banyak tugas." Ajaknya, Yahya pun segera istirahat. Karena dirinya sendiri tidak ingin bangun kesiangan dan mendapatkan hukuman.


Dilain tempat, ada anak laki laki yang usianya masih belasan tahun yang gelisah tidak bisa tidur. Siapa lagi kalau bukan Reynan, yang sedari tadi seperti memikirkan sesuatu yang tersimpan dalam ingatannya.


"Ah! sialan, anak itu masuk dalam pikiranku. Tidak bisakah menghilang begitu saja, huh!" Gerutunya dalam kamar sendirian, lalu membuang nafasnya kasar.

__ADS_1


Sedangkan Zakka yang berada di kamar sebelah tidak seperti dihantui oleh bayangan Aish, justru tidurnya begitu nyenyak dan sangat pulas.


__ADS_2