
Satu minggu sudah dilewatinya, bahkan sudah lebih beberapa hari yang lalu. Aish kini sudah tinggal bersama Tantenya yang bernama Ibu Melin, sedangkan putrinya sudah lebih awal tinggal di Asrama.
Disudut teras rumah, Aish duduk termenung sambil melihat jalanan yang lalu lalang kesana kemari. Pikirannya tidak lagi seluas cita citanya, semua seakan telah sirna baik ditelan bumi.
Kesunyian hati yang semakin tidak mempunyai semangat jiwa, Aish serasa ingin menyerah untuk memulai hidupnya yang baru.
"Aish, kamu sedang apa Nak? ayo kita masuk." tanya seorang perempuan paruh baya dan mengajaknya untuk masuk kedalam.
"Iya Tante, Aish masih ingin berada di luar rumah. Nanti kalau sudah terasa mengantuk, Aish bakalan masuk ke dalam rumah kok, Tante." Sahut Aish masih terlihat lesu.
"Jangan terlalu larut dalam kesedihan, tidak baik untuk kesehatan. Oh iya, mulai besok kamu sudah bisa untuk berangkat ke Kampus. Tadi ada perangkat desa datang ke rumah, dan meminta kamu untuk datang ke Kantor Desa." Ucap Ibu Melin sembari duduk disebelah keponakannya dan memberi sebuah pesan untuknya.
"Memangnya ada apaan sih Tente? apakah ada masalah dengan Lunika?" tanya Lunika yang tidak mengerti.
"Tante kurang tahu soal itu, mungkin soal bantuan untuk kamu."
"Bantuan? Bantuan apaan, Tante?"
"Mungkin saja sejenis sembako pada umumnya. Ah sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan hal yang aneh aneh. Lebih baik kamu fokuskan saja dengan masa depan kamu, ayo kita masuk. Kita lanjutkan mengobrolnya didalam saja, diluar dingin dan juga banyak nyamuk." Jawab ibu Melin asal menebaknya, lagi lagi Beliau mengajak keponakannya untuk segera masuk kedalam rumah.
"Permisi Bu," tiba tiba suara dari seorang laki laki tengah mengagetkan Ibu Melin maupun Aish.
"Iya, ada apa?" Sahut ibu Melin penasaran.
"Ini benar, rumah Ibu Melin?"
"Iya, saya orangnya. Ada apa, ya?"
"Begini loh Bu Melin, saya ada perlu dengan keponakan Ibu Melin yang bernama Aish." Ucap pak RT yang tiba tiba datang dan mengagetkannya.
__ADS_1
"Saya masih tidak mengerti Pak RT, maksudnya ada apa ya?"
"Bolehkah saya masuk kedalam rumah Ibu Melin?"
"Tentu saja, Pak. Mari Pak, silahkan." Sahut Ibu Melin mempersilakan untuk masuk ke dalam rumahnya. Pak RT dan seseorang yang tidak dikenali oleh Ibu Melin pun segera masuk ke rumah.
"Mari Pak, silahkan duduk."
"Dan kamu Aish, buatkan teh untuk Pak RT dan temannya." Perintah Ibu Melin pada keponakannya, Aish pun mengangguk dan segera pergi ke belakang.
Tidak menunggu lama, Aish keluar dari dapur sambil membawa dia gelas minuman teh untuk kedua orang tamu yang tiba tiba membuatnya was was dan juga sedikit takut.
Dengan sangat hati hati, Aish meletakkan minuman teh nya di hadapan Pak RT dan temannya.
"Aish, duduk lah. Pak RT mau berbicara penting denganmu, sekarang juga." Perintah dari Tantenya yang sudah mendapatkan pesan dari Pak RT disaat Aish tengah membuatkan minuman Teh untuk kedua orang tamu yang datang secara tiba tiba dimalam hari.
"Begini Nak Aish, sebelumnya Bapak meminta maaf jika kedatangan Bapak kemari membuatmu terganggu. Tapi ini adalah amanat yang sudah tersirat, jadi Bapak harus menyampaikannya pada Nak Aish." Jawab Pak RT mencoba untuk menjelaskan secara detail, meski masih belum bisa dicerna oleh Aish sendiri.
"Amanat? maksud Pak RT itu, apa? amanat yang bagaimana?" tanya Aish yang masih belum mengerti.
"Iya Nak Aish, amat. Lebih jelasnya, Bapak akan menunjukkan sesuatunya pada kamu. Bapak berharap kamu bisa memenuhi syarat yang sudah ditentukan."
"Maksudnya? Aish masih tidak mengerti, Pak. Justru Aish semakin bingung mendengar penjelasan dari Pak RT."
"Begini Kak Aish, perkenalkan dulu. Nama Bapak yaitu Dirwan, panggil saja Pak Dirwan. Bapak adalah orang kepercayaan yang selalu di percayai oleh orang orang yang membutuhkan Bapak." Ucapnya, lagi lagi Aish semakin kesal dibuatnya. Berbicara, namun tidak ada titik terangnya. Justru dirinya merasa dikerjain, pikirnya.
"Tolong dong Pak, jelasin pada intinya saja. Dari tadi saya tuh bingung untuk menerima penjelasan dari Bapak Dirwan." Ucap Aish yang semakin geram mendengarnya, ia merasa kesabarannya telah diuji dengan entengnya.
"Lebih jelasnya, Nak Aish lihat dan dengarkan semua yang ada di rekaman video ini." Sahut pak Dirwan sambil membuka Laptopnya, kemudian menyalakan dengan benar.
__ADS_1
Dengan fokus, Aish dan juga Tantenya telah memperhatikan Pak Dirwan yang tengah sibuk dengan layar pintarnya.
Durasinya pun mulai terlihat dimulai dari nol, Aish semakin fokus untuk melihatnya.
"Dilihat dengan seksama, agar tidak terlewatkan disetiap durasinya." Ucap Pak Dirwan menjelaskannya, dengan reflek dan setengah melamun, Aish hanya mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun.
Detik demi detik, Aish melihat serta mendengarkannya begitu lekat. Bahkan tidak satupun durasi yang terlewatkan, Aish tetap fokus dengan layar pintar yang dimiliki oleh Bapak Dirwan.
Seketika, Aish mendadak tercengang milihat serta mendengarkannya. Tubuhnya mendadak lunglai dan tidak berdaya, sepasang matanya mendadak berlinang air matanya. Ingatannya kembali tajam saat ia harus mengingatnya.
Ibu Melin yang tidak kuasa melihat kesedihan keponakannya, segera ia menenangkan Aish dengan memeluknya.
"Aish, kamu harus kuat dan juga tegar, Nak
... percayalah sama Tante. Pesan yang kamu dengar itu ada baiknya, dan pastinya memang harus kamu terima. Percayalah sama Tante, Aish. Setelah kamu menyelesaikan pendidikanmu, maka disaat itu juga kamu berhak menentukan pilihanmu. Tapi untuk saat ini, sepertinya kamu harus menerima Wasiat itu. Tapi ... semua itu ada padamu, keputusan hanya kamu yang menentukan. Tante tidak akan memaksamu, hanya saja menyuport kamu agar kamu mempunyai masa depan yang cerah." Ucap Ibu Melin mengingatkan serta menasehati keponakannya, berharap keputusan yang dipilihnya tidak akan mengecewakan.
Aish masih terdiam dan membisu, penjelasan yang ia dengar seakan seperti cambuk yang siap tidak siap untuk ia terima.
"Bagaimana Nak Aish?" tanya Pak RT menunggu kepastian.
"Apakah Aish harus menjawabnya sekarang?" tanya Aish melempar pertanyaan.
"Apakah kamu masih meragukannya?" tanya Pak Dirwan.
"Iya Pak, saya masih butuh waktu untuk memikirkannya. Saya takut, jika pilihan secara mendadak, maka bisa menjadi senjata yang akan mengenai saya." Jawab Aish dengan penuh keraguan dan juga masih merasa takut untuk menjalaninya.
"Baik lah, Bapak tidak akan memaksamu. Karena ini adalah sebuah pilihan, maka kamu harus menimbang nya lagi dengan penuh yakin dan tentunya ikhlas." Sahut Pak RT ikut menimpali.
"Ya sudah kalau begitu, Bapak hanya memberikan waktu hanya satu minggu. Setelah itu, jika Nak Aish masih juga belum bisa memutuskannya, maka keputusan ada pada diri Bapak." Ucap Pak Dirwan, Aish pun mengangguk pasrah.
__ADS_1