
Setelah menyetujui pesan dari Pak Dirwan, Sela kembali masuk kedalam. "Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya permisi." Ucap Sela berpamitan.
"Silahkan," jawab Pak Dirwan.
Karena tidak ada lagi yang ingin diucapkan, Sela bergegas kembali menemui sang ayah yang tengah berbaring di rumah sakit.
"Sela, dimana bapak tadi?" tanya sang ayah sambil celingukan mencari keberadaan Pak Dirwan.
"Sudah pulang, Pa." Jawab Sela sambil duduk disebelah sang ayah.
"Bapak tadi bilang apa?" tanya sang ayah karena penasaran.
"Em ... tadi Pak Dirwan bilang kalau ..." Sela pun bingung harus berterus terang pada sang ayah. Ingin berkata jujur, takut akan ada penolakan dari Beliau. Tetapi jika tidak menolak, pengobatan untuk kesembuhan orang tuanya sangat dibutuhkannya.
"Sela, kok diam? kenapa dengan bapak tadi?" sang ayah pun mengagetkan nya kembali.
"Papa, em ... Sela ingin Papa sembuh. Tapi ... apakah Papa mau menuruti saran dari Sela?"
"Saran apa, Nak? ayo katakan. Jangan kamu pendam sendiri, ceritakan dan katakan sama Papa."
"Papa harus dilakukan operasi, itupun tidak menunggu lama, Pa."
Diam, hening, sang ayah berpikir sejenak. Tatapan seorang ayah tengah membuat Sela tak mampu menatap Beliau.
"Pa, ini jalan satu satunya untuk kesembuhan Papa. Sela ingin Papa segera sembuh, dan juga diangkat penyakit Papa. Sela mohon, Papa mau ya untuk dioperasi. Papa ingin sembuh, 'kan? Sela juga." Bujuk Sela yang lamgsung pada pokok intinya, Beliau masih terdiam.
Sambil menarik napas panjangnya, Beliau meraih tangan putrinya.
"Uang dari mana, kita? mau hutang kemana lagi? untuk makan sehari sehari saja kita masih dibantu oleh keluarga suaminya Nak Aish."
"Tapi Pa, demi kesembuhan Papa. Untuk soal membalas budi, Sela siap untuk tidak mendapatkan gaji full. Bagaimana, Pa? mau kan, Pa."
"Tapi Sel ..."
"Demi kesembuhan Papa, Sela siap menanggung akibatnya. Sekalipun harus bekerja pada keluarga Kak Aish selamanya." Kata Sela yang tidak punya pilihan lain untuk membujuk orang tuanya agar mau menyetujui permintaan nya.
"Kamu yakin?"
"Yakin, Pa. Yang terpenting Papa kembali sehat seperti dulu lagi, Papa tidak harus masuk ke rumah sakit berkali kali. Papa bisa ditemani adik adik Sela di rumah, dan Sela bisa bekerja dengan semangat." Ujar Sela untuk terus membujuk sang ayah.
"Baik lah jika semua ini yang kamu inginkan, maafkan Papa yang sudah membuat kamu harus bekerja keras untuk kesembuhan Papa."
"Papa tidak boleh bicara seperti itu, tidak baik. Papa adalah tanggung jawab Sela, apapun itu. Lebih baik sekarang Papa istirahat saja dulu, Sela mau cuci baju." Ucap Sela sambil mengusap punggung tangan milik sang ayah.
Masih dengan di rumah sakit yang sama, Zakka kini ditemani sang ibu dan Neyla adik perempuannya.
"Cie ... yang sudah mulai bersemangat, cepat sembuh ya, Kak." Kata Neyla menyemangati.
"Semangat itu sudah pasti, memangnya kamu."
__ADS_1
"Dih, dari dulu Ney kan selalu semangat." Ujar Neyla membela diri.
"Sudah sudah, kalian berdua ini masih saja tidak pernah berubah. Neyla, jangan sering meledek kakak kamu. Kamu ini sudah bersuami, hormati kakak kamu." Kata Bunda Maura mengingatkan putrinya.
"Tidak apa apa kok, Ma. Seyn tidak melarangnya, justru hubungan kakak beradik jangan sampai seperti Seyn dan Zayen." Sahut Seyn ikut menimpali.
"Maafkan Mama ya, Seyn. Bukan Maksud Mama untuk menyindir kamu, Mama hanya tidak ingin Neyla lupa jika sudah bersuami dan membuatmu cemburu karena kedekatan Neyla dan Zakka sangat dekat." Kata Bunda Maura.
"Tidak apa apa, Ma. Hal yang wajar jika seorang adik perempuan dekat dengan seorang kakak, Seyn rasa jika Neyla terbawa kebiasan yang menganggap sang kakak adalah pelindung baginya. Apa lagi mempunyai dua kakak laki laki, sikap cerianya tidak pernah lepas. Seyn harus mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada Kak Rey dan juga Kak Zakka yang sudah ikut menjaga Neyla." Kata Seyn.
"Rame banget, sedang ada acara apa in?"
"Ah Papa telat, udah selesai baru datang." Sahut Zakka ketika mendengar sang ayah mengagetkan.
"Karena waktunya sudah mendesak, Neyla dan Seyn pulang duluan ya, Ma ... Pa, kak Zakka." Ucap Neyla berpamitan.
"Kok pulang, kalian berdua mau pergi kemana?" tanya sang ayah.
"Ya nih, baru juga datang langsung pulang. Kamu ini benar benar tega banget sama Kakak, tidak mau menemani Kakak kamu yang ganteng ini." Kata Zakka ikut menimpali, sedangkan Neyla tersenyum lebar mendengarnya.
"Ye ... Neyla dan Seyn lagi ada urusan, Kak. Jadi, besok saja kalau Kakak sudah pulang ke rumah. Jangan khawatir, Neyla bakal temani Kakak sampai bosen. Jika Kak Zakka sudah bosan, Neyla mau meminta sama Papa untuk mencarikan jodoh yang spesial untuk Kakak."
"Hem, mencarikan jodoh itu tidak mudah."
"Kata siapa kalau carikan jodoh itu tidak mudah? gampang banget, Kak. Ya kan, Pa." Kata Neyla tidak mau kalah dari sang kakak.
Karena tidak ingin berlama-lama di rumah sakit, Neyla segera berpamitan untuk pergi.
"Hati hati dijalan, jangan kebut kebutan." Ucap sang ibu mengingatkan anak dan menantunya.
"Ya Pa, Ma." Jawab keduanya serempak. Setelah berpamitan, Neyla dan suami bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.
Kini, kembali lagi Zakka yang hanya ditemani kedua orang tuanya serta memberikan perhatian penuh kepada putranya.
"Ma, Pa, kapan nih Zakka pulang? membosankan." Kata Zakka merajuk ingin segera cepat pulang.
"Sabar dikit, Nak. Besok kamu sudah diperbolehkan untuk pulang, tetap saja kamu akan diawasi oleh seseorang yang akan merawatmu."
"Apa! seseorang yang akan merawat Zakka? ah, yang benar saja. Mama dan Papa jangan mengada ngada dong, Zakka bisa kok melakukannya sendiri." Kata Zakka mencari alasan.
"Terus ... yang suruh ganti celana kamu itu, Papa terus? hah."
"Laki laki kan, Pa?" tanya Zakka untuk memastikan. Takut jika seseorang yang dimaksudkan ayahnya itu bukan laki laki, melainkan seorang perempuan, pikirnya.
"Ya laki laki lah, hem. Memangnya jika yang perawatnya perempuan, kamu mau? Hem."
"Papa ini ada ada saja deh, ya tidak lah. Masa ya, yang mandiin Zakka itu seorang perempuan, jangan ngada ngada deh Pa." Kata Zakka bergidik ngeri ketika mendengar ucapan dari orang tuanya.
"Kalau kamu mau, nanti Papa akan mencarikan perawat untuk kamu. Mau yang cantik, atau yang biasa biasa saja." Timpal bunda Maura ikut meledek putranya.
__ADS_1
"Ih, kenapa juga Mama jadi ikut ikutan kek Papa sih. Ada ada saja lah Mama ini, Zakka tidak butuh perawat perempuan. Yang Zakka butuhkan itu, Zakka ingin segera sembuh." Kata Zakka berusaha untuk menghindari akan sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Kalau kamu mau, kamu akan Papa carikan jodoh untuk kamu." Ucap Tuan Ganan kembali meledek putranya.
"Pa, stop. Zakka ingin sembuh, bukan ingin dijodohkan." Sahut Zakka yang tidak ingin bernasib seperti kakeknya sendiri. Yang dulunya mengalami kecelakaan dan menjadikan lumpuh pada kedua kakinya dan harus menerima perjodohan dari orang tuanya.
Ya ... walaupun perjodohannya itu berakhir dengan kebahagiaan, tetapi harus diawali dengan berbagai konflik yang cukup berat.
"Ya sudah, semua terserah kamu saja. Papa tidak akan memaksamu, bersemangat lah untuk sembuh." Ucap Tuan Ganan menyemangati putranya.
"Tuh, dengerin kata Papa. Bersemangat lah untuk sembuh, jangan pikirkan yang tidak tidak. Jangan khawatir, besok sudah diijinkan untuk pulang." Timpal Bunda Maura.
"Meski sudah mendapatkan ijin untuk pulang, tetap saja harus ada pengawasan untuk kamu." Sahut Tuan Ganan.
"Ya Ma, Pa. Terima kasih banyak atas perhatian dari kalian berdua, Zakka berasa menjadi anak kecil yang selalu bikin onar." Kata Zakka, kedua orang tuanya tersenyum mendengarnya.
"Sudah siang, sudah waktunya untuk makan siang. Setelah itu, kamu beristirahat."
"Ya, Ma. Oh ya Ma, Zakka kok pingin kueh yang dari Tokonya Aish, ya. Mama bisa tidak, pesankan kueh untuk Zakka. Nanti biar Sela yang ngantar pesanannya, anak itu kan paling rajin dan sangat patuh." Ucap Zakka yang tiba tiba menginginkan sesuatu.
"Cie ... pingin kueh nya atau pingin ketemu sama karyawannya nih? ngaku aja." Lagi lagi Bunda Maura menggoda putranya.
"Mama apa apaan lagi sih, kenapa menjalar kesitu? hem."
"Ya juga tidak apa apa," kata Bundanya.
"Tidak jadi, tidak jadi." Kata Zakka dibuat jutek, kedua orang tuanya pun tertawa kecil mendengarkannya.
"Kenapa tidak jadi? baik lah, Mama akan pesankan kuehnya lewat pak Dirwan." Sahut sang ibu, disaat itu juga Tuan Ganan teringat jika Sela tengah berada di rumah sakit yang sama.
"Tunggu tunggu tunggu, Sela sedang tidak ada di Toko kueh." Timpal sang ayah.
"Tidak ada di Toko kueh, maksud Papa?"
"Ayahnya Sela sedang di rawat di rumah sakit, sakit jantung katanya." Jawab Bunda Maura ikut menimpali, karena kedua orang tuanya sudah melihatnya langsung ketika Rey menghampiri Sela yang sedang menangis duduk sendiri aja dipinggiran kursi.
"Kok Mama tahu, dari siapa?" tanya Zakka penasaran.
"Mama dan Papa melihatnya langsung, saat itu Rey yang mendapati Sela tengah menangis. Kemudian Rey menghampirinya dan juga ikut mengurus biaya pengobatan orang tua Sela. Disitulah, penyakit yang diderita ayahnya Sela diketahui." Jawab Bunda Maura menjelaskan.
"Jadi, Sela berada di rumah sakit ini juga?" tanya Zakka memastikan.
"Benar, sayang. Jadi, biar pak Dirwan yang mengambil pesanan untuk kamu, soalnya Sela sedang menemani orang tuanya di rumah sakit." Jawab Bunda Maura.
"Sekalian buat Sela juga ya, Ma." Kata Zakka berpesan.
"Ya, sayang. Ya sudah kalau begitu, lebih baik kamu makan siang terlebih dulu. Setelah itu istirahat sambil menunggu pesanan datang, bagaimana? ok."
"Ya, Ma. Zakka nurut aja apa kata Mama." Jawab Zakka yang tak lupa untuk selalu tersenyum.
__ADS_1