Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Datang ke rumah utama


__ADS_3

Pagi yang cerah, secerah kebahagiaan Aish dan Rey. Dua insan yang telah lama berpisah hingga enam tahun lamanya. Sebuah pernikahan yang tak pernah disangkakannya kini telah dijalani dengan rasa cinta yang sama besarnya.


Rey yang sudah lama menyimpan rasa sukanya pada sang istri, kini telah ia dapatkan sepenuh jiwa dan raganya. Awalnya Aish tak pernah menyangka jika dirinya akan berjodoh dengan laki laki yang sikapnya begitu dingin, bahkan sulit untuk ia pahami.


Lambat laun dengan sebuah perhatian dari yang kecil, membuat Aish tersadar atas perasaan yang begitu besar dimiliki oleh suaminya.


"Aku sangat beruntung sekali telah memiliki suami yang begitu besar kasih sayangnya padaku. Terima kasih banyak, sayang. Aku sangat bahagia bersama mu, kamu suamiku yang sudah memberikan cinta yang begitu sempurna untukku." Ucap Aish dalam pelukan suaminya dari belakang.


Sambil menatap bayangan lewat cermin, Aish memutar balikkan badannya tepat dihadapan sang suami. Dengan lekat Aish menatap wajah tampan milik suaminya itu.


"Yang lebih beruntungnya lagi aku, mempunyai istri yang sholeha seperti mu. Kamu telah memberiku banyak hal, bahkan aku tak bisa untuk menyebutnya satu persatu. Terima kasih banyak ya, sayang. Kamu telah memberiku pelajaran yang sangat berharga. Tidak hanya itu saja, aku sadar akan betapa berharganya waktu walau hanya lima menit. Aku berjanji, aku akan menjadi suami yang lebih baik lagi untuk kamu." Ucap Rey dengan lembut, kemudian ia mencium kening milik istrinya mesra.


"Aku menyayangimu, sayang." Kata Aish, lalu ia memeluk erat suaminya. Tidak lama kemudisn, ia melepaskannya kembali.


"Tadi Mama menelpon, hari ini kita diminta untuk datang ke rumah. Mama dan Omma sangat menginginkan kamu untuk datang ke rumah, bila perlu untuk menginap. Kamu tidak keberatan, 'kan? soal Zakka tidak perlu kamu pikirkan. Aku yakin, Zakka sudah siap untuk menerimanya. Jadi, ayo kita siap siap untuk pulang ke rumah utama. Jangan takut, hari ini aku libur bekerja. Aku akan selalu berada didekat mu." Ucap Rey panjang lebar, Aish menganggukkan kepalanya.


Dengan perasaan khawatir, Aish mencoba untuk membuang pikiran buruknya. Aish terus berdoa untuk keselamatan dirinya dan juga calon buah hati nya serta untuk suaminya sendiri.


Selesai bersiap siap, Aish dan Rey segera turun kebawah untuk sarapan pagi bersana suami.


"Sayang, kamu tidak kenapa napa kan, sayang? jika kamu keberatan untuk pulang ke rumah utama, aku akan meminta sama Mama dan Omma untuk datang kesini." Tanya Rey yang takut istrinya merasa keberatan untuk datang ke rumah utama, takut bila harus bertemu dengan Zakka.


"Tidak apa apa kok, sayang. Mungkin karena bawaan si jabang bayi, biasa lah jika perempuan hamil, ada ada saja yang membuatku sensitif." Kata Aish beralasan, takut akan membuat suaminya merasa terbebani.

__ADS_1


"Yakin nih, takutnya kamu banyak pikiran di rumah utama. Jangan bohong loh ya, aku tidak ingin calon buah hati kita terganggu kesehatannya karena kamu yang tidak mau berterus terang padaku." Ucap Rey yang mencoba untuk mempertimbangkannya lagi.


"Aku siap, aku siap untuk bertemu dengan keluarga kamu." Kata Aish meyakinkan suaminya.


"Baik lah kalau begitu, ayo kita berangkat." Ajak Rey, kemudian ia menggandeng tangan milik istrinya.


Selama dalam perjalanan menuju rumah utama, Aish bersandar di dada bidang milik suaminya. Rey memeluknya mesra.


Pak Dirwan yang sedari tadi menyetir mobil, Beliau tak lepas memperhatikan kebahagiaan majikannya yang tak pernah disangka keduanya akan menjadi sepasang suami-istri yang begitu serasi dan harmonis.


Tidak memakan waktu lama, akhirnya telah sampai di depan rumah yang sangat besar dan juga terlihat begitu megah.


Aish tercengang saat melihat rumah bagaikan istana, megah dan juga tentunya sangat lah besar. Bahkan seumur hidupnya, Aish baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di rumah yang cukup megah. Tokoh kueh dan rumah Ibu Melin tidak ada apa apanya dibanding rumah keluarga suaminya sendiri.


"Em ... tidak apa apa, kita sudah sampai?" tanya Aish ingin memastikan.


"Ya, sayang. Kita sudah sampai rumah utama, ayo kita turun." Jawab Rey dan mengajaknya untuk turun, sedangkan Aish masih merasa bingung.


"Tunggu,"


"Ada apa lagi, sayang?"


"Ini benaran rumah utama keluarga kamu? maksud aku rumah orang tua kamu." Lagi lagi Aish masih setengah penasaran dan tidak percaya, ia mencoba untuk memastikannya lagi.

__ADS_1


Rey yang mendapat pertanyaan dari istrinya pun, ia tersenyum mendengarnya.


"Benar, sayang. Rumah ini milik keluarga aku, masih ada Kakek dan Omma. Nanti aku akan perkenalkan kamu, ayo kita turun. Jangan malu, didalam masih ada adik perempuan bersama suaminya. Kamu tidak merasa sendirian didalam rumah, ada Neyla adik perempuan ku yang bisa jadi teman untuk kamu." Kata Rey menjelaskan, Aish tersenyum.


"Tapi ... apa aku pantas untuk masuk kedalam rumah yang sangat megah itu, sedangkan aku dari kalangan orang bawah." Ucap Aish sedikit canggung, bahkan ia merasa takut jika berhadapan orang orang yang tajir melintir. Apa lagi ada seorang adik ipar perempuan, semakin menciut nyali Aish untuk bertatap muka.


"Tenang, keluarga aku tidak pernah membedakan status sosial. Keluargaku menganggap orang yang ada dihadapannya itu sama, tidak ada yang lebih tinggi maupun yang paling bawah. Yang terpenting mempunyai kesopanan dan bijak dalam menyikapi lawan kita." Ucap Rey meyakinkan istri tercintanya, berharap tidak merasa canggung atau pun takut.


Aish tersenyum mendengar penuturan dari suaminya, lalu ia mengangguk dan ikut turun dari mobil.


Setelah turun dari mobil, Rey mendekati istri tercinta dan menggandeng tangannya mesra. Sambil berjalan beriringan, Aish mencoba mengatur pernapasan nya agar tidak terasa gugup maupun gemetaran.


Sampainya dipintu utama, beberapa asisten rumah tengah menyambut hormat dengan sopan santun ketika Aish dan Rey masuk kedalam rumah.


"Kakak pertama ...." panggil Neyla sambil berjalan cepat menghampiri Rey dan Aish yang tengah lambat jalannya.


"Hem, sudah bersuami juga, masih aja kek anak remaja saja kamu ini."


"Tidak mau disambut Ney nih, ya sudah. Ney mau menyambut kakak ipar yang cantik ini saja, wek." Kata Neyla dibuat cemberut pada saudara kembarnya.


"Selamat datang di rumah utama, kakak ipar ... perkenalkan, namaku Neyla. Aku anak bungsu, adik dari kak Rey dan kak Zakka. Semoga betah tinggal di rumah utama ya, Kakak ipar." Ucap Neyla menyambut hangat kedatangan kakak ipar dan sekaligus memperkenalkan diri, tak lupa dengan senyum ramahnya.


Aish ikut tersenyum mendengarnya, kemudian ia memberanikan diri untuk memperkenalkan diri dihadapan adik iparnya.

__ADS_1


"Nama Kakak, Aishwa Zahra. Kamu bisa panggil Kak Aish saja, tidak perlu ada kakak iparnya." Kata Aish yang juga ikut tersenyum pada adik iparnya.


__ADS_2