
Zakka masih dengan diamnya, sepatah kata pun tidak keluar lewat mulutnya. Bunda Maura yang mengerti dengan situasi yang menegangkan untuk putranya mencari ide untuk memberi ruang kepada anak dan menantunya menyelesaikan masalah dimasa lalunya.
"Zayen, Sela, kita sudahi dulu cerita masa lalu. Semua sudah jelas, biarkan Zakka berpikir atas perbuatannya dimasa lalunya. Lebih baik sekarang kita sarapan terlebih dahulu, setelah itu waktunya untuk latihan berjalan. Tidak apa apa kan, Sela?" ujar bunda Maura dan memberi pertanyaan untuk menantunya.
"Ya Ma, Sela mengerti." Jawab Sela, kemudian menoleh kearah suaminya yang juga sama sekali tidak menoleh kearahnya.
"Bagaimana nak Zayen?" tanya Tuan Ganan.
"Ya Paman, Zayen setuju dengan pendapat dari tante Maura. Biar kak Zakka dan Sela yang akan menyelesaikan masalahnya sendiri, kita tidak punya hak." Jawab Zayen yang juga menyetujui atas pendapat dari bunda Maura.
Zakka yang tiba tiba berubah menjadi dingin, ia hanya menikmati sarapan paginya dengan diam. Sela yang bingung harus bagaimana, dirinya pun juga hanya bisa diam.
Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya semua telah menghabiskan sarapan paginya masing-masing.
"Zakka," panggil sang ibu pada putranya.
"Ya Ma, ada apa?" sahut Zakka dan bertanya.
"Sepertinya malam ini Mama dan Papa tidak pulang ke rumah, karena mau menginap di rumah kakak kamu. Tidak apa apa, 'kan? semalam aja kok. Lagian juga kamu sudah ada Sela, tidak lagi kesepian seperti dulu." Ucap sang ibu, kemudian meraih tissue untuk mengelap, mulutnya.
Zakka yang tidak mempunyai cara lain, mau tidak mau hanya bisa nurut dengan apa yang diucapkan oleh ibundanya.
"Ya Ma, tidak apa apa kalau mama mau menginap di rumah kak Rey. Jugaan sudah ada Sela, mama tidak perlu khawatir lagi." Jawab Zakka, bunda Maura tersenyum mendengarkannya.
"Ya sudah kalau gitu, Papa dan Mama pamit berangkat. Jaga diri kalian baik baik, jika ada apa apa panggil saja asisten rumah." Ucap Tuan Ganan untuk menyudahi.
__ADS_1
"Hati hati diperjalanan, Paman dan Tante." Jawab Zayen, Tuan Ganan mengangguk dan bergegas meninggalkan ruang makan bersama istrinya.
Kini, tinggal lah Zayen, Zakka, dan Sela yang masih berada di ruang makan. Karena tidak ingin membuang buang waktu, Zayen segera bangkit dari posisi duduknya dan mengajak sepupunya untuk latihan jalan seperti yang sudah dijanjikan.
"Kak Zakka, apakah sudah siap untuk melakukan latihan berjalan?" tanya Zakka untuk memastikan.
"Sudah, tapi kita duduk santai dulu di taman belakang. Tidak baik setelah makan kita langsung beraktivitas, apa lagi untuk berolahraga, sangat tidak baik untuk kesehatan. Kita istirahat sejenak, tidak apa apa 'kan?"
"Ya, lebih baik kita istirahat sejenak setelah sarapan. Baik lah, ayo aku bantu untuk berjalan." Ucap Zayen memberi tawaran untuk saudara sepupunya.
"Tidak perlu, aku ada istri yang bisa membantuku untuk berjalan sampai di taman belakang." Jawab Zakka, Sela yang merasa dibicarakan, ia segera memegangi lengan suaminya bagian kiri.
"Baik lah, hati hati untuk berjalan." Ucap Zayen, kemudian Zakka dan istri berjalan dengan peka sampai di taman belakang. Sedangkan Zayen mengikutinya dari belakang.
Sampainya di taman belakang, Zakka dibantu istrinya untuk duduk. Sambil memandang tanaman yang tengah berbunga, Zakka mengatur pernapasan nya.
"Apakah waktunya istirahat sudah cukup?" tanya Zayen tanpa adanya basa basi, langsung pada topiknya.
"Sudah, ayo kita latihan." Jawab Zakka, kemudian dibantu istrinya untuk berdiri.
Seperti yang dipesankan dari ibu mertuanya, Sela tidak peduli dengan masa lalunya. Kini yang ada dalam pikiran Sela yaitu, suami segera sembuh dan dirinya tidak lagi menjadi pelunas balas budi dari orang tuanya.
Bukan karena membenci atas sikap suaminya dimasa lalu yang sudah membuat kakinya cidera, tidak. Justru Sela takut, jika diantara salah satu akan ada yang jatuh hati dan menjadikan cinta bertepuk sebelah tangan.
Berbagai cara tengah Sela pikirkan, tetap aja tidak mendapatkan ide yang cukup bagus dan akhirnya memilih untuk menepiskan pikiran yang tidak karuan itu.
__ADS_1
Setelah membantu suaminya berdiri, tiba tiba Zayen mengambil alat penyangga milik Zakka.
Sela membelalakan kedua bola matanya, Zakka pun merasa sakit untuk menahan berat badannya sendiri. Dengan sigap, Sela langsung membantu menyangga tubuh suaminya.
"Sela, lepaskan. Biarkan Zakka berlatih untuk tidak membiasakan dengan alat bantunya." Kata Zayen meminta Sela untuk tidak diganggu latihannya.
"Tapi Kak, kalau suami Sela jatuh, bagaimana?"
"Biarkan jatuh, bukankah kehidupan saja ada yang harus jatuh duluan untuk mencapai keberhasilan, ya 'kan? menyingkirlah. Jika aku tidak menyuruh kamu untuk membantu Zakka, maka kamu jangan ikut mencampurinya. Kamu cukup memperhatikan suami kamu sendiri." Kata Zayen dengan tegas, Sela hanya bisa mengiyakan. Selebihnya Sela hanya bisa diam dan nurut dengan apa yang diperintahkan oleh sepupu suaminya sendiri.
Setelah melepaskan suaminya, Zakka berjuang keras untuk menahan rasa sakit atas keseimbangan berat badannya. Tanpa mengeluh sedikit pun, Zakka tetap menunjukkan sikapnya yang tenang. Meski begitu terlihat sangat jelas saat menahan rasa sakit, Zakka tetap pada pendiriannya untuk kesembuhan kakinya.
'Inikah yang pernah kamu rasakan dulu, Sela? maafkan aku yang sudah mengabaikan kamu. Maafkan aku yang bodoh ini, yang hanya memikirkan satu perempuan. Sedangkan aku ini masih ada kesalahan dimasa laluku yang belum aku lunisai. Dan kini dibayar dengan lunas dengan apa yang aku alami selama ini. Sela, masih adakah pintu maaf untukku? berilah pintu maaf itu untukku walaupun banyak dengan isyarat sekalipun.' Batin Zakka dengan perasaan penuh penyesalan.
Ingin berteriak sekencang mungkin pun, Zakka tidak mampu untuk melakukannya. Kesalahan yang pernah ia perbuat masih menghantui atas penyesalan yang kini tengah menghantui pikirannya.
Zayen maupun Sela yang sedari tadi memperhatikan Zakka pun, benar benar tidak percaya dengan durasi yang cukup lama untuk berdiri.
Begitu juga dengan Zakka sendiri, yang sedari tadi menahan rasa sakit seakan lupa dengan rasa sakit yang ia tahan.
Bagaimana akan ingat jika dirinya sedang latihan berdiri? sedari tadi Zakka sibuk memikirkan untuk meminta maaf kepada istrinya atas kesalahan dimasa lalunya. Sedangkan Zayen segera menghampiri Sela, yang tentu saja untuk melakukan ide selanjutnya.
"Sela," panggil Zayen dengan lirih.
"Ya kak, ada apa?" tanya Sela yang juga suaranya yang lirih.
__ADS_1
"Aku minta sama kamu untuk berdiri di depan suami kamu, ajak lah untuk berjalan. Teruslah untuk menyemangati Zakka agar mau menuruti ajakan kamu untuk berjalan, aku yakin Zakka bisa melakukannya. Sepertinya Zakka sedang memikirkan sesuatu, ayo kita coba. Jangan salah, gerak reflek biasanya sangat membantu." Ucap Zayen dengan idenya.