
Dengan perasaan berdebar debar, Aish berusaha untuk tetap tenang. "Semoga aku berhasil, bismillah." Gumam Aish harap harap cemas.
"Silahkan masuk, Mbak." Kata salah satu yang berjaga didepan pintu sambil membukakan pintunya, Aish pun mengangguk dan segera masuk.
Seketika, kedua bola mata Zakka mendadak membulat dan tercengang saat melihat sosok perempuan yang ada di hadapannya itu. Sekujur tubuhnya mendadak lemas tidak berdaya, pertemuan yang seperti mimpi buat Zakka.
Aish yang hanya mendapat tatapan dari seseorang yang ada di hadapannya hanya menatapnya aneh, ditambah lagi mengenakan masker.
Tanpa berbelit belit, Zakka langsung membuka maskernya saat Aish sudah berada didepan meja kerjanya.
DUAR!!
Aish pun ikut tercengang melihatnya, bahkan Aish merasa gemetaran saat menatap sosok laki laki yang telah lama tidak pernah ia jumpai.
"Aish!"
"Zak- Zakka!"
"Tidak, tidak mungkin ini kamu. Aku sedang bermimpi, 'kan? ini pasti mimpi." Ucap Aish tidak percaya, bahkan dirinya berulang kali menepuk kedua pipinya. Berharap apa yang ada di hadapannya itu hanyalah sebuah mimpi.
"Tidak, Aish. Kamu sedang tidak bermimpi, ini nyata. Kita dipertemukan lagi, mungkin kita berjodoh. Aku sampai lupa, bagaimana kabar kamu? sudah lama kita tidak pernah berjumpa sudah kesian lamanya. Bahkan sudah empat tahun lamanya, dan kini kita dipertemukan lagi." Ucap Zakka penuh semangat, namun tidak untuk Aish.
Kegusaran pada diri Aish, membuatnya semakin gelisah. Ditambah lagi dengan statusnya yang sekarang ini, Aish dibuatnya dilema.
"Aish, kenapa kamu melamun? kamu sudah menikah, ya?" tanya Zakka mencoba untuk menebaknya. Disaat itu juga, sepasang matanya tertuju pada jari manis Aish yang ada sebuah cincin yang melingkar sangat manis untuk dipandang.
Seketika, Aish langsung menyembunyikan nya kebelakang. "Iya, aku sudah menikah." Jawabnya dengan terang terangan, sedangkan Zakka menatapnya tidak percaya ketika mendengar jawaban dari Aish.
__ADS_1
"Menikah? aku tidak percaya, kamu pasti sengaja mengerjai ku." Ucap Yahya tidak percaya.
'Bagaimana ini? jika aku menunjukkan statusku, pasti Zakka akan menyelidiki ke pusat. Dan pastinya akan ketahuan siapa suamiku, ditambah lagi aku dan Rey sudah ada kartu keluarga, pasti sangat mudah untuk diselidiki.' Batin Aish dengan was was.
"Kenapa kamu diam? kamu pasti berbohong, aku akan mengeceknya di berkas pendaftaran kamu. Aku yakin jika diberkas kamu ada kebenarannya." Ucap Zakka yang akhirnya menggunakan ide yang muncul didalam pikirannya.
Aish semakin gelisah ketika mendengar ucapan dari Zakka, mau bagaimana pun Aish tidak bisa mencegahnya. Yang ada akan semakin mencurigainya.
'Habis lah nasibku dan suamiku, setelah ini berakhir sudah kebohongan yang sudah sekian lama disembunyikan.' Batin Aish yang sudah pasrah dengan apa yang telah terjadi. Mau tidak mau, Aish hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Zakka yang penasaran, dirinya langsung mengoreksinya lagi. Rasa penasarannya terus menghantui pikirannya yang sudah hampir putus asa.
Dengan teliti, Zakka mengoreksi data milik Aish. Bahkan satu kata pun tidak ada yang tertinggal, Zakka benar benar mengoreksinya dengan teliti.
"Belum menikah." Ucap Zakka dengan perasaan lega.
"Belum menikah." Ucap Aish sangat lirih, namun suaranya masih dapat ditangkap oleh pendengaran milik Zakka. Kemudian, keduanya saling menatap dengan bingung.
"Kenapa kamu menatapku begitu? sama status mu sendiri kenapa terlihat gelisah? seperti ketahuan selingkuh saja, kamu ini." Kata Zakka meledek, sedangkan Aish sendiri hanya tersenyum tipis.
"Ah ya, aku baru sadar jika statusku masih belum menikah. Mungkin tadi aku hanya mimpi, lucu sekali aku ini." Jawab Aish beralasan demi untuk tidak dicurigai teman sekolahnya.
'Kenapa tiba tiba dataku bisa berubah, ya? perasaan tadi sudah benar deh. Apa aku salah membawa identitas lamaku? perasaan yang aku bawa tadi itu memang identitas yang baru, tapi ... kenapa tiba tiba bisa berubah drastis? membingungkan sekali.' Batin Aish yang terus berusaha untuk mencernanya.
"Aish, kenapa kamu melamun? nanti kesambet loh." Panggil Zakka setengah meledak, Aish hanya tersenyum tipis.
"Oh ya, kapan tes nya? katanya tadi ada penyeleksian, kok aku tidak dipanggil panggil?" tanya Aish.
__ADS_1
"Ngapain juga kamu pakai acara tes segala, aku sangat percaya dengan kemampuan kamu. Kamu tidak perlu lewat jalur tes, aku akan meloloskan kamu untuk menjadi sekretaris ...." Jawab Zakka yang tiba tiba mendadak berhenti.
"Mana ada pendaftaran tidak melakukan tes, nanti dikira aku ini menyogok pada atasan, lagi." Kata Aish dengan polos.
"Tenang saja, tidak ada yang tahu." Jawab Zakka.
'Sepertinya Aish belum mengetahui posisiku di Kantor ini, semoga saja besok tidak mengundurkan diri. Jika ia, aku akan tetap mengejar dan mengikuti kemana Aish berpijak. Aku tidak akan membiarkan kesempatan emas ini dengan sia sia, aku tidak akan melepaskan Aish. Selagi kak Rey pulang, aku harus mendapatkan cinta dari Aish. Setidaknya aku akan menikahinya terlebih dahulu, urusan kak Rey belakangan.' Batin Zakka penuh harap.
"Kalau aku mengundurkan diri, bagaimana?" tanya Aish secara tiba-tiba. Zakka pun kaget mendengarnya.
"Mengundurkan diri? yang benar saja, kamu ini. Baru saja di terima, kenapa langsung mengundurkan diri?" tanya Zakka yang masih tidak percaya.
"Tidak perlu takut, tetap lah bekerja di Kantor ini." Sahut Tuan Ganan yang tiba tiba masuk ke ruangan penyeleksian dan memberikan kode pada Aish.
Aish yang tidak bisa berbuat apa apa, dirinya hanya bisa menuruti apa yang sudah menjadi perintah untuk dirinya. Mau tidak mau, Aish menerimanya untuk tetap bekerja di Kantor.
'Untuk apa aku harus berada di Kantor ini? jika diriku ini akan dijadikan tersangka. Bagaimana dengan pesan dari suamiku? pasti dia akan murka ketika aku berjumpa dengan Zakka. Pesan itu masih terdengar jelas di ingatanku. Meski pernikahanku tidak jauh dengan sebuah sandiwara, namun aku sendiri tidak berani menganggap pernikahan adalah sebuah sandiwara.' Batin Aish yang mulai merasa dilema sendiri.
"Aish, ada apa dengan mu?" tanya Zakka yang semakin penasaran.
"Ah tidak, tidak ada apa apa." Kata Aish sedikit gelisah.
"Zakka, sudah waktu nya untuk makan siang. Biarkan peserta yang ada dihadapan kamu ini keluar, siapa tahu saja ingin beristirahat." Timpal Tuan Ganan pada putranya.
"Ah ya, Zakka baru ingat. Baik lah kalau begitu, kamu aku izinkan keluar. Besok pagi berangkat lah lebih awal, karena kamu sudah otomatis untuk menjadi sekretaris di Kantor ini." Ucap Zakka.
"Terima kasih banyak, kalau begitu saya permisi untuk keluar." Jawab Aish berpamitan, sedangkan Tuan Ganan hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Aish sendiri segera keluar dari ruangan penyeleksian banyak nya peserta yang ingin bekerja di Perusahaan milik keluarga Wilyam.
__ADS_1