
Rasa kantuk yang susah untuk ia kendalikan, Sela akhirnya memejamkan kedua matanya dengan posisi membelakangi sang suami. Sedangkan Zakka dengan posisi berbaring, kedua tangannya ia silangkan diatas dada bidangnya. Pelan pelan, Zakka sambil memejamkan kedua matanya dan juga menarik napasnya serta membuangnya dengan pelan.
Karena tidak ingin jam istirahat berkurang, keduanya tertidur dengan lelap. Karena dari kebiasaan, Sela semakin menggeser posisi tidurnya hingga jarak pada suaminya tidak ada lagi jarak. Bahkan, posisi Sela sudah memeluk tubuh Zakka begitu nyamannya dan terlihat begitu romantis layaknya pasangan suami istri yang normal. Istri yang manja dan membutuhkan kehangatan dari suaminya.
Zakka terbangun dari tidurnya dan membelai rambut istrinya.
'Beginikah rasanya tidur bersama istri? sayangnya, ini hanyalah sandiwara. Ada apa dengan pikiranku ini, kenapa aku begitu nyaman bersama Sela. Bahkan aku tidak pernah merasakan senyaman ini.' Batin Zakka.
Karena rasa penasaran dalam seumur hidupnya, Zakka menc*ium bibir milik istrinya dengan sangat lembut. Entah karena rasa penasaran, atau tidak dapat dipungkiri dengan usianya yang sudah cukup matang untuk menikah.
Wajar saja jika Zakka menginginkannya, dia lelaki normal dan juga menyukai lawan jenis. Apalagi perempuan yang ada dihadapannya itu sudah menjadi miliknya. Zakka bisa melakukannya dengan luluasa.
Tidak cukup hanya menc*ium bibir milik istrinya, Zakka memulai lihai turun kebawah, tepatnya pada leher jenjangnya yang putih mulus membuat naf*su bir*ahi Zakka naik dan tidak lupa telah meninggalkan jejak pada leher milik istrinya sebanyak ada tiga tanda merah hingga membuat si empunya tetap tidur pulas. Tetap saja, Zakka menahannya. Terlebih lebih Zakka hanya sebatas naf*su, bukan cinta.
Karena tidak ingin membuat Sela terbangun dari mimpinya, Zakka memilih untuk melanjutkan tidurnya dan tidak lupa untuk mengecup pucuk kepala milik istrinya itu.
****
Pagi hari yang cerah, namun belum secerah impian Sela dan Zakka. Keduanya masih berada dalam keterikatan atas status kepalsuan.
Terasa gerah, namun tidak juga membangunkan lelapnya tidur sepasang pengantin. Sela yang sudah terbiasa bangun pagi pagi, kini dirinya terhipnotis dengan suasana didalam kamar suaminya.
Karena merasa sudah cukup untuk beristirahat, pelan pelan Sela membuka kedua matanya. Perlahan lahan, Sela menyempurnakan kesadarannya dan juga penglihatannya.
"Maaf, maaf, maaf Kak. Aku benar-benar tidak sengaja, aku tidak bermaksud apa apa." Kata Sela yang baru tersadar dari posisi tidurnya.
"Tidak apa apa, mungkin kamu mengira jika aku ini guling." Jawab Zakka dengan senyum tipisnya, sedangkan Sela dibuatnya kikuk. Malu, itu sudah pasti.
"Maaf Kak, aku sudah terbiasa memeluk guling." Kata Sela dengan ekspresi malu, lagi lagi Zakka hanya tersenyum tipis mendengar dan melihat ekspresi sang istri yang terlihat menggemaskan. Sela segera bergegas bangun dari tempat tidur dan meraih ikat rambut dan mengucirnya.
Pandangan Zakka kembali tertuju pada bekas tanda kepimilikan karena ulahnya yang semalam.
__ADS_1
"Sudah pagi, kamu mandi duluan aja. Aku ingin meregangkan otot otot pada tubuhku." Ucap Zakka, Sela pun menganggukan kepalanya.
"Kakak aja yang mandi duluan. Kalau aku yang mandi duluan, nanti kalau ada apa apa dengan kak Zakka, bagaimana? mendingan kakak. duluan aja yang mandi." Kata Sela yang teringat jika suaminya yang tengah kesulitan untuk berjalan normal.
"Aku bisa melakukannya sendiri, kamu duluan aja yang mandi." Jawab Zakka, disaat itu juga terdengar suara dari luar tengah mengetuk pintu kamarnya.
"Biar aku yang akan membukakan pintunya, kakak duduk aja." Ucap Sela, kemudian ia segera membuka pintunya.
"Mama,"
Disaat itu juga, bunda Maura tersenyum mengembang saat melihat menantunya degan stempel merah pada leher jenjangnya.
"Kok Mama senyum senyum, ada apa ya Ma?" tanya Sela yang tidak mengerti dengan senyuman dari ibu mertuanya yang terlihat begitu aneh, pikirnya.
"Tidak apa apa, Mama sangat bahagia atas pernikahan kamu dengan Zakka. Mama hanya minta tolong sama kamu, mau 'kan?"
"Memangnya Mama mau minta tolong apa, ya?" tanya Sela yang masih belum mengerti.
Zakka yang merasa namanya dipanggil, segera bangkit dari posisinya dan ia mendekati ibundanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Zakka.
"Aidan tidak bisa datang ke rumah, jadi Sela yang akan menemani kamu latihan jalan bersama Zayen. Jadi, sekarang kalian berdua segera bersiap siap. Habis ini kita akan sarapan pagi, Mama dan Papa ada urusan sebentar bersama rekan bisnis Papa." Jawab bunda Maura.
"Zakka sudah tahu kok, Ma. Aidan sudah mengatakannya sama Zakka, dan juga sudah meminta tolong sama Sela untuk menemanu Zakka belajar jalan." Kata Zakka.
"Ooh, jadi Aidan sudah menghubungi kamu. Yasudah kalau begitu, jangan lama-lama. Takutnya Zayen lama menunggu, aku mintanya untuk datang pagi pagi." Ucap bunda Maura.
"Ya, Ma." Jawab Zakka, kemudian bunda Maura bergegas pergi dari hadapan anak dan menantunya.
Kini, tinggal lah Sela dan Zakka yang tengah berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"Ya sudah, aku duluan yang mandi." Ucap Zakka, Sela pun mengangguk. Kemudian ia segera menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Sedangkan Zakka menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Satu satu, Zakka menanggalkan pakaiannya tanpa sisa sehelai benang pun. Zakka benar benar sangat polos didalam kamar mandi bak bayi yang baru saja lahir.
BRUG
"Aaaaaaa!!!" teriak Zakka dari dalam kamar mandi, Sela yang kaget segera masuk ke kamar mandi.
Sampai didalam kamar mandi, alangkah terkejutnya Sela melihat keadaan suaminya yang sudah jatuh di lantai. Cepat cepat ia langsung meraih handuk yang ada didekatnya, ia tidak peduli dengan apa yang ia lihat. Karena tidak ada larangan apapun pada dirinya mengenai suaminya sendiri.
Sela segera menutupi bagian yang perlu untuk ditutupi dan melilitkan pada pinggangnya.
"Hati hati, aku bantu berdiri." Ucap Sela.
"Nanti kamu jatuh, berikan saja tongkat penyangganya. Aku bisa melakukannya sendiri, berikan alat penyangganya padaku." Kata Zakka setengah malu ketika dirinya terjatuh dalam keadaan yang sangat memalukan, pikirnya.
"Tidak apa apa, aku akan membantu kak Zakka untuk berdiri." Ucap Sela yang tetap bersikukuh atas pendiriannya.
"Aku ingin duduk saja disitu." Kata Zakka sambil menunjukkan tempat duduk yang dijadikan alat bantu untuk mandi.
"Baik lah, aku akan membantu kakak untuk mandi." Jawab Sela berusaha untuk tetap tenang, meski yang dirasakannya sangat lah gugup dan dengan detak jantung yang tidak karuan.
"Tidak usah, aku bisa meminta tolong kepada pelayan laki laki untuk membantu aku mandi." Kata Zakka, sedangkan Sela menggelengkan kepalanya.
"Tidak, apa kata Mama dan yang lainnya jika kakak masih dibantu pelayan. Lantas apa gunanya aku ini menjadi istri kak Zakka.
" Tapi, apa kamu tidak takut dan malu?"
"Untuk apa takut dan malu, eh tapi ..." jawab Sela dan memutar balikkan badan.
Hahahaha... penasaran ya... sabar ya.. otornya mau masak dulu..
__ADS_1