Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Acara yang akan segera dimulai


__ADS_3

Disatu sisi, Aidan tengah memperhatikan keduanya. "Maaf ya Nona, hanya dengan cara itu yang bisa membuatmu mau menerima permintaan dari Tuan Muda. Semoga kalian berdua berjodoh." Gumam Aidan di ambang pintu.


"Aidan, kamu sedang ngapain?" tanya Kakek Angga memergoki.


"Tuan Besar, maaf saya menghalangi pintu masuk." Jawab Aidan membusungkan badannya dengan penuh hormat kepada majikannya.


"Ada drama apa lagi didalam sana?" tanya Kakek dengan tatapan ingin tahu.


"Tidak ada drama apa apa, Tuan Besar. Hanya ada drama antara Nona dan Tuan Muda."


"Kamu jangan menyembunyikan dariku, Audan." Gertak kakek Angga.


"Saya tidak menyembunyikan apapun dari Tuan Besar, didalam memang ada drama Nona da Tuan Muda. Tidak ada sesuatu yang ditutup tutupi, Tuan. Silahkan masuk, Tuan." Jawab Aidan memperjelas ucapannya.


"Baik lah, Aku akan masuk. Kamu tunggu saja diluar, pastikan semua aman." Perintah kakek Angga, Aidan menganggukkan kepalanya.


Karena rasa penasaran yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenaran tentang cucu laki lakinya.


"Ekhem, kelihatannya sedang serius." Ucap Kakek Angga mengagetkan.


"Kakek, bikin kaget aja." Jawab Zakka, sedangkan Sela memilih untuk diam. Malu, itu sudah jelas pasti.


"Sepertinya ada sesuatu, ada apa Zakka?" tanya Kakek Angga mencoba menyelidik lebih dalam lagi.


"Tidak ada apa apa kok Kek, Zakka baik baik saja. Oh ya Kek, mulai sekarang Zakka tidak sendirian lagi. Ada Sela yang akan selalu menemani Zakka, dan yang pastinya Zakka akan melupakan masa lalu Zakka yang menyakitkan itu. Zakka akan merubahnya menjadi lebih baik lagi." Ucap Zakka, Kakek Angga mengangguk. Tak perlu mengulang pertanyaan, kakek Angga sudah dapat menemukan jawabannya.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita temui para tamu undangan yang sudah pada datang. Untuk Nak Sela, maafkan cucu Kakek yang sudah banyak memaksa sama kamu."


"Tidak kok, Kek. Sela bersedia melakukannya, kakek tidak perlu mencemaskannya. Sebaik mungkin Sela akan membantu Kak Zakka, dan tidak akan mengecewakannya." Jawab Sela sebaiknya, meski ada perasaan gugup, cemas, khawatir, dan tentunya juga takut.


"Maaf Nona, biar saya saja yang mendorong kursi rodanya. Nona bisa jalan disebelah Tuan Muda, dan biarkan saya yang melakukannya." Ucap Aidan mengambil alih posisinya.


"Tidak apa apa kok, saya juga bisa melakukannya. Maaf sebelumnya, saya harus panggil siapa ya?" kata Sela dan bertanya.


"Panggil saja Aidan, tidak perlu sungkan dengan usia. Lagian juga hanya sebuah nama, tidak penting bagi saya." Jawab Aidan yang juga merasa bingung untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Panggil aja Sekdan," sahut Zakka ikut menimpali.


Aidan dan Sela sama sama menatap satu sama lain karena penuh keheranan ketika mendengarnya.


"Sekdan?" tanya Sela dan Aidan bersamaan.


"Ya, Sekdan. Kenapa? kebagusan, ya? nanti akan aku carikan lagi panggilan yang cocok untuk Aidan." kata Zakka dengan santai.


"Sekdan sih, apaan Tuan?" tanya Aidan dengan kening yang berkerut.


"Ya, apaan itu Kak?" tanya Sela ikut menimpali dengan polos.


"Sekretaris Aidan, kurang bagus, ya?" jawab Zakka sambil memperhatikan ekspresi pada keduanya secara bergantian. Sedangkan Aidan dan Sela hanya menelan salivanya masing masing.


"Hem, tidak cuman kurang bagus. Tetapi sangat melampaui batas kebagusan nya, Tuan." Jawab Aidan dengan pasrah.


"Baik lah, Sela akan memanggilnya seperti saran dari Kak Zakka." Ucap Sela tidak lupa dengan murah senyumnya, Aidan membelalakan kedua bola matanya.


"Sudah sudah, sekarang antarkan aku keluar untuk menemui yang lainnya." Perintah Zakka, kemudian Aidan membawa Zakka keluar dari ruangan tersebut.


"Sayang, acaranya jam berapa?" tanya Aish sambil bersandar pada dada bidang suaminya, tepatnya pada pelukan sang suami.


"Jam sembilan kurang, mungkin. Aku lupa untuk bertanya, lagian juga ini acara kumpul bersama teman teman sekolah kita. Pasti tidak ada acara awal dan akhir, sama aja." Jawab Rey sambil mengusap lengan milik istrinya dengan pelan.


"Seharusnya sejak sore tadi kamu sudah berada dirumah utama, bukan datang belakangan. Bukankah hari ulang tahun mu juga, 'kan?"


"Bagi aku tidak penting, mau ulang tahun ataupun tidaknya juga sama saja. Tidak ada yang spesial, yang spesial itu hanyalah kamu. Ya, kamu segalanya untukku setelah Ibuku." Jawab Rey sambil mengatur pernapasannya agar tidak terasa sesak didada.


Aish mendongakkan pandangannya kearah wajah tampan milik suaminya, kemudian mengusapnya lembut.


"Apakah kamu ada masalah? aku dapat merasakan detak jantungmu, dan juga ketika kamu menarik napasmu." Tanya Aish menyimpan rasa penasarannya.


"Tidak, aku tidak ada masalah apapun. Kamu salah menebak. Bagaimana detak jantungku akan normal? kamu sendiri bersandar tepat didadaku. Ya benar saja jika aku kedengaran sulit untuk bernapas, sayang." Jawab Rey beralasan.


"Aku merasakannya, kamu tidak akan bisa menghindar dari sebuah kebohongan yang kamu buat, sayang. Aku ini istri kamu, buka lawanmu. Apakah seperti ini kita menjalin rumah tangga? berbohong dibelakang istrinya ketika kamu tengah berkeluh kesah. Bukankah tujuan kita menikah bukan untuk kebohongan, 'kan? tetapi untuk saling berkata jujur." Ucap Aish yang berusaha untuk membuat suaminya tidak menyembunyikan masalahnya.

__ADS_1


Rey tersenyum melihat dan mendengarnya, kemudian ia mencium pipi milik istrinya. "Baik lah, aku akan bercerita denganmu. Tapi maaf, tidak untuk sekarang."


"Terus, kapan?"


"Setelah kita pulang, bagaimana? biar aku leluasa untuk bermanja manja denganmu."


"Tuh kan ... kok begitu sih, sayang."


"Jangan cemberut begitu dong, sayang. Nanti kalau aku bertambah sedih, bagaimana? tidak kasihan sama suami kamu sendiri nih."


"Ya deh, aku nurut saja. Oh ya, aku lupa."


"Lupa apanya?"


"Aku lupa belum membelikan kado untuk Neyla." Jawab Aish yang tiba tiba baru teringat.


"Hem, kado buat suaminya sendiri tidak diingat nih?"


"Kan tadi udah, masih kurang?"


"Masih dong, tadi kan itu kejutan. Kalau kado kan berbentuk hadiah."


"Hadiah, aku bingung membelikan kamu hadiah. Habisnya aku belum tahu kesukaan kamu, orang kamunya tidak pernah dirumah. Pulang aja kak es batu campur es dingin, panas kalau tiba tiba meminta sesuatu." Ucap Aish dan tidak lupa mengerucutkan bibir manisnya


Rey yang tersadar akan sikapnya selama menikah dengan Aish, Rey tertawa kecil ketika mengingat momen dimasa lalunya bersama istrinya.


"Habisnya kamu sangat menggoda, wajar lah jika es nya berubah mencair, sayang."


"Hem, begitu ya."


"Aku janji tidak akan meninggalkan kamu, apapun yang terjadi. Percayalah denganku sayang."


"Ya ya ya, sayang." Jawab Aish, kemudian melingkarkan kedua tangannya pada tubuh suaminya dan memeluknya.


Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Pak Dirwan telah sampai di halaman rumah utama. Semua para tamu undangan dibuatnya terkejut ketika sebuah mobil mewah masuk kehalaman rumah utama.

__ADS_1


__ADS_2