Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Merasa diejek


__ADS_3

Setelah berpamitan, Yahya segera pergi meninggalkan ketiga temannya. Dengan berat hati ia harus meninggalkannya, semua itu demi sebuah harapan yang sudah tersusun rapi oleh Yahya sendiri.


Aish dan kedua temannya p tengah melambaikan tangan perpisahan, Yahya pun membalasnya penuh kesedihan yang mendalam. Kemudian, pelan pelan mobil yang dinaiki Yahya tengah melajukannya kembali hingga tidak lagi terlihat bayangan mobilnya.


"Aish, bersabarlah. Yahya pasti akan kembali, percaya deh." Ucap Yunda, kemudian memeluk erat sahabatnya itu.


"Iya, Aish. Kamu jangan khawatir, aku tahu siapa Yahya. Sekali janji, tidak pernah ia ingkari." Ucap Afwan ikut menimpali, Aish pun mengangguk.


"Hari gini, masih ada kata perpisahan? nanti juga ujungnya berpisah beneran." Ucapnya yang mendadak memancing emosi Aish dan juga kedua temannya.


Aish yang mendengarnya pun langsung melepas pelukan dari Yunda, kemudian menoleh ke sumber suara.


"Jaga omongan kamu, ya." Ucap Afwan yang langsung mendekatinya.


"Aw!! lepaskan Bro, sakit." Ucap laki laki itu yang tiba tiba kerah bajunya di tarik dari belakang, Afwan pun menghentikan niatnya untuk memberi pelajaran pada laki laki yang barusan tengah mengejeknya.


"Sudah aku ingatkan, jangan membuat masalah. Apa kamu lupa itu, ayo masuk ke kelas." Ucapnya berbisik ditelinganya.


"Iya, kak Rey ..." jawabnya dengan lembut dan sedikit geram terhadap sang kakak.


Setelah itu, kedua laki laki kakak beradik segera pergi dan meninggalkan Aish dan kedua temannya yang masih berdiri dengan menunjukkan wajah sedihnya.


"Siapa sih, dia. Benar benar menyebalkan laki laki itu, sok banget deh." Ucap Yunda yang ikut geram dengan laki laki yang tengah mengejeknya tadi.


"Sudah lah, mungkin memang begitu sikapnya. Sudah, ayo kita masuk." Ajak Aisy, kemudian segera ia masuk ke dalam kelas. Ayunda dan Afwan hanya bisa nurut dan mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di didepan pintu, Aish hampir saja menabrak laki laki yang tengah mengejeknya. Laki laki itu tiba tiba tersenyum di hadapan Aish .


"Minggir, kita mau lewat." Ucap Afwan yang tiba-tiba sudah berada di hadapan laki laki itu.

__ADS_1


"Tunggu, kalian bertiga boleh masuk kalau memenuhi syarat dariku." Jawabnya sambil berkacak pinggang.


"Heh, ini kelas bukan milik nenek moyangmu. Cepetan minggir, atau aku laporin kalian kepada guru." Ucap Afwan yang semakin geram dibuatnya.


"Silahkan saja kalau berani, syaratnya mudah kok. Sebut saja nama kalian, itu saja." Jawabnya yang masih menyilangkan kedua tangannya didadanya sambil bersandar digawang pintu.


"Memang penting, ya. Kita ini harus menunjukkan nama kita kepada kamu, aku tidak sudi." Ucap Afwan yang semakin memuncak emosinya.


"Namaku, Aish. Sudah cukup, 'kan? jadi, biarkan aku masuk." Ucap Aish yang tidak mau memperpanjang masalah, lagian juga bukan sesuatu yang privat untuk disebutkan, pikirnya.


Kedua temannya pun mendadak saling tatap satu sama lain, antara Yunda dan Afwan. Padahal, Afwan sengaja ingin memancing emosi laki laki yang ada didepannya itu. Meski dirinya sendiri yang sudah terpancing emosinya.


"Nama yang sangat bagus, namaku Zakka. Semoga kita bisa berteman dengan baik, dan tidak seperti kedua teman kamu itu." Ucap Zakka memperkenalkan diri, kemudian tersenyum pada Aish.


Sedangkan Aish tidak meresponnya, segera ia masuk kedalam kelas dan duduk dengan rapi tanpa memikirkan kedua temannya.


'Yes! aku tengah mendapatkan nama gadis cantik itu. Aish, nama yang sangat cantik seperti orangnya.' Batinnya merasa berhasil, meski hanya sebuah nama.


"Sebenarnya maksud laki laki aneh tadi itu sih, apa? benar benar menyebalkan. Kenapa setelah mendapatkan nama Aish langsung pergi begitu saja? ada yang aneh tidak, sih?" Tanya Yunda diselimuti rasa penasarannya.


"Iya, aku juga merasa aneh. Jangan jangan laki laki itu menyukai Aish, kita harus mencegahnya." Jawab Afwan yang masih pada posisinya.


"Iya, kita harus mencegahnya. Kita harus menjaga Aish dari godaan laki laki lain, Aish hanya milik Yahya. Tidak untuk laki laki lain, kasihan Yahya jika ia melihat Aish di dekati laki. laki lain." Ucap Yunda yang teringat akan pesan dari temannya, yaitu Yahya.


"Sudahlah, ayo kita masuk. Nanti laki laki itu mendekati Aish, bisa gawat." Jawab Afwan yang teringat jika Aish sudah berada di dalam kelas.


Benar saja, Aish duduk bersebelahan dengan sosok Zakka. Niat ingin pindah, namun tidak ada lagi bangku kosong. Mau tidak mau, Aish terpaksa duduk bersebelahan dengan Zakka. Meski bersebelahan, Aish tetap fokus pandangannya lurus kedepan.


Sedangkan sosok laki laki yang tengah menabrak Aish, kini sedang memperhatikannya. Namun, segera ia kembali pada posisi duduknya lurus kedepan. Karena merasa malu, segera ia menarik kerah baju milik Zakka.

__ADS_1


"Kembali ke tempat duduk kamu, tidak sopan jika kamu duduk di sebelah seorang wanita." Ucapnya lagi yang masih memegangi kerah baju milik Zakka.


"Iya ya, Bro ..." jawabnya dan segera bangkit dari posisi duduknya yang bersebelahan dengan Aish.


Yunda yang melihatnya pun merasa lega, akhirnya ia dapat duduk bersama sahabatnya yaitu Aish.


Sedangkan Afwan, tempat duduknya tidak jauh dari kedua sahabatnya. Namun, dibelakang Zakka dan Rey saudara kembarnya.


Semua hening, saat seorang guru tengah masuk ke dalam ruangan kelas. Tidak ada satupun yang berani mengeluarkan sepatah katapun.


Semua sangat khidmat saat menerima penjelasan dari guru yang baru pertama kalinya memberi materi.


Setelah cukup lama mengikuti mata pelajaran meski hanya sebagai selingan dari sebuah nasehat, tidak terasa sudah waktunya jam istirahat.


"Aish, kita ke kantin, yuk ..." ajak Yunda memohon, ia berharap seorang Aish mau diajaknya untuk keluar.


"Maaf Yun, aku tidak bisa. Lain kali saja, serius." Jawab Aish beralasan, ia sadar diri akan statusnya yang harus belajar hemat.


"Aku yang akan mentrakrirmu, kamu jangan khawatir." Ucap Yunda penuh harap, ia mengerti akan jawaban dari sahabatnya itu.


Sedangkan Zakka dan Rey hanya memperhatikan Aish dan kedua temannya, namun kedua kakak beradik segera pergi ke kantin. Dikarenakan, perut Zakka maupun Rey sama sama keroncongan.


Sedangkan Aish masih saja berusaha menolak ajakan dari temannya itu. Sedangkan Yunda yang sudah tidak merasa lapar, mau tidak mau harus pergi meninggalkan Aish.


Namun, setelah dipikir pikir oleh Yunda, akhirnya ia memutuskan untuk meminta bantuan pada Afwan untuk membeli makanan. Dan memintanya untuk dibawa kedalam kelas, berharap Aish mau makan bersama.


"Afwan, kamu yang beli nih. Tenang saja, kamu juga tidak perlu membayarnya. Hari ini aku akan mentraktir kalian berdua, dikarenakan aku mendapat bonus dari tanteku. Jadi, tidak ada alasan untuk kalian berdua menolak permintaanku." Ucap Yunda penuh beralasan, ia berharap sahabatnya tidak lagi menolaknya. Berbagai cara tengah ia pikirkan, Afwan pun mengerti apa yang dimaksudkan dari Yunda.


"Serius ini, Yun. Wah ... asik ... dapat traktiran." Jawab Afwan sambil menunjukkan senyum merekahnya.

__ADS_1


"Mana uangnya, aku yang akan pergi ke kantin." Ucap Afwan sambil menengadah satu tangannya, seraya meminta uangnya. Yunda pun segera merogoh sakunya dan menberikan uang sakunya kepada Afwan.


Tanpa pikir panjang, Afwan segera pergi ke Kantin. Sedangkan Aish tidak meresponnya, ia tetap fokus dengan buku bacaan yang ada dihadapannya.


__ADS_2