
Dengan waktu yang tepat, akhirnya Aish dan kedua sahabatnya telah sampai didepan Kantor dengan bangunannya yang cukup besar dan juga berdiri sangat kokoh, serta menjulang tinggi.
"Yun, banyak banget loh yang mau daftar. Kira kira kira diterima tidak, ya? aku jadi minder deh." Kata Aish dengan ragu.
"Pesimis banget sih, kamu itu. Semangat dong, kita pasti bisa. Jangan mudah menyerah begitu, nanti yang ada tuh ... sudah gagal duluan sebelum berperang." Kata Yunda menyemangati.
"Ya juga sih, tapi ... lihat coba, penampilannya itu loh. Kita ini apa, coba. Sepertinya kita tidak bakalan di Terima deh, secara kita kan jauh dari kata fashion." Ucap Aish yang masih tidak percaya diri.
"Ngapain mikirin penampilan kita, kalau kenyataannya kita diterima di Kantor ini, berarti memang rizki kita dan nasib baik kita. Ayo lah Aish, kamu jangan menyerah begitu. Buktikan pada orang orang, jika kamu mampu untuk meraih mesuksesan." Kata Afwan ikut menimpali.
"Benar banget yang dikatakan Afwan, kamu harus bangkit. Kalau kamu menyerah, bagaimana dengan perasaan kamu? sudah dikhianati Yahya, lalu kamu menyerah setelah sampai di depan Kantor. Terus ... kamu dapat apa? setidaknya kamu itu mendapat kesuksesan, meski kamu tidak bisa hidup bersama Yahya." Ucap Yunda sedikit memberikan nasehat kecil dan semangat untuk sahabatnya.
"Ayo lah, kamu buang itu rasa takutmu itu. Kamu berhak bahagia dan juga berhak meraih kesuksesan." Kata Afwan menimpali.
"Aku akan mencobanya, terimakasih kalian berdua sudah bersedia menjadi penyemangatku." Jawab Aish dan tersenyum pada kalimat terakhirnya.
"Kita kan sahabat, selamanya akan tetap bersahabat." Kata Yunda tersenyum.
"Semua sudah berkumpul, ayo kita ikut mereka berkumpul disana." Ajak Afwan dan menunjuk ke arah yang dipadati banyak orang, Aish dan Yunda mengangguk dan berjalan menuju banyak orang yang tengah berkumpul.
Salah satu petugas pemandu pendaftaran, satu persatu peserta menyerahkan berkasnya masing masing.
"Aish, semangat. Semoga kamu berhasil, dan mendapatkan posisi yang sesuai kamu harapkan." Kata Yunda yang lagi lagi memberikan dukungan, Aish pun tersenyum.
__ADS_1
"Duh Mbak nya mau kerja ke Arab, Ya. Pakaiannya rapat banget sih, ini Kantor Mbak! yang ada pak Bos nya bosan melihat nya." Kata salah satu peserta, Aish maupun Yunda dan Afwan hanya diam tidak meresponnya.
'Tuh kan ... aku ngerasa juga gitu, sepertinya aku bakal gagal deh. Mana penampilanku ini tidak sebagus seperti yang lainnya, lagi. Apa lah aku ini, aku hanya bisa berusaha. Aku harus bisa melewatinya dan jangan sampai mental ku hilang seketika.' Batin Aish yang mulai ragu ragu untuk mendaftarkan diri.
Usai menyerahkan berkasnya, Aish dan kedua sahabatnya tinggal menunggu antrian untuk dilakukan tes.
"Aku takut, Yun." Ucap Aish sambil meremat ujung kerudungnya.
"Tidak segitunya juga dong, Aish. Tunggu aja nomor urut kita. Pokoknya nih ya, kita harus percaya diri. Jangan memikirkan kegagalan, soal gagal itu nomor terakhir. Yang harus kita pikirkan itu keberhasilan, agar kita semakin bersemangat." Sahut Yunda yang terus memberi motivasi untuk sahabatnya.
Sedangkan di kediaman keluarga Wilyam, Zakka tengah menikmati jajanan yang dibelikan oleh ibundanya. "Ma, Zakka boleh keluar tidak? bosan nih dirumah." Hanya Zakka yang sudah mulai bosan dan merasa jenuh ketika berada di dalam rumah.
"Tidak boleh, Papa melarang kamu untuk pergi." Sahut sang ibu sambil berjalan mendekati putranya.
"Apa!! Papa meminta Zakka untuk datang ke Kantor? sekarang juga. Kenapa mesti Zakka sih, Ma? kan ada sekretaris dan juga orang kepercayaan Papa." Jawab Zakka dengan malas.
"Sekretaris lama sudah dipindahkan ke Kantor Neyla. Dan kamu yang akan memilih sekretaris baru, jadi kamu yang diminta Papa untuk datang ke Kantor. Jika kamu tidak mau datang ke Kantor, maka kamu harus siap untuk menerima keputusan dari Papa."
Seketika, Zakka membulatkan kedua bola matanya. Secara tiba tiba Zakka tercengang mendengar penuturan dari ibundanya.
"Ya, Ma. Zakka mau bersiap siap." Jawab Zakka dengan malas. Mau tidak mau, Zakka segera bersiap siap untuk berangkat ke Kantor sesuai permintaan Ayahnya.
"Loh loh loh loh, kamu ini bagaimana sih? kenapa kamu pakai baju seperti itu, Nak? ganti ganti ganti." Perintah sang ibu yang mendapati penampilan putranya yang sudah seperti mau liburan.
__ADS_1
"Mamah ih, norak banget sih. Memangnya ada yang salah dengan penampilannya Zakka? ada ada saja Mam ini, nyuruh ganti baju segala. Tidak mau ah, Zakka mau berpenampilan seperti ini. Lagian juga belum aktif di Kantor, ini kan cuman melakukan penyeleksian. Yang ada tuh, semua peserta bersorak ria ketika Bos nya yang menyeleksi. Biarin aja kek gini, Ma. Justru cara ini lah yang sangat bermanfaat untuk mencari mana yang baik dan mana yang tidak baik." Kata Zakka yang tetap pada pendiriannya.
"Hem, terserah kamu aja. Ingat, ini ajang mencari karyawan, bukan mencari jodoh." Sahut Bunga Maura sambil mengingatkan putranya.
"Nah, itu Mama tahu. Nanti kalau Zakka salah pilih, bagaimana? Mama aja yang menyeleksi, ya?" rayu Zakka sambil tersenyum pasta gigi.
"Kamu kira penyeleksian cari menantu, makin ngelantur aja kamu ini. Sudah sana, buruan berangkat." Ucap Bunda Maura.
"Ya ya ya ya, Ma." Jawab Zakka dan segera pergi ke Kantor.
Sedangkan Aish dan kedua temannya tengah duduk bersama peserta lainnya. Rasa ka tuk dan jenuh mulai membuat Aish merasa bosan menunggu antrian.
'Aku merasa lelah, bahkan aku ingin menyerah. Bukannya aku takut gagal, aku hanya merasa jenuh saja. Entahlah, sampai kapan aku akan terus seperti ini. Statusku yang tidak jelas, apa perasaanku yang tidak mempunyai pendirian.' Batin Aish sambil melamun.
Waktu begitu lama untuk menunggu antrian, semua peserta sudah dibuatnya bosan. Ditambah lagi dipadati banyaknya peserta, membuat nyali para peserta semakin menciut untuk diterimanya di Kantor tersebut.
"Aish, kamu dipanggil." Seru Yunda pada sahabatnya, sedangkan Aish masih sibuk dengan lamunannya.
"Aish, giliran kamu yang dipanggil. Aish, sadar dong. Aish, buruan masuk ke ruangan penyeleksian." Seru Afwan memanggil sahabatnya untuk segera masuk ke ruangan penyeleksian.
"Yun, kita pulang aja yuk." Ajak Aish yang hilang kesadarannya saat di panggil oleh kedua temannya.
"Aish ... kamu itu dipanggil, sekarang giliran kamu untuk masuk." Ucap Yunda yang mencoba menyadarkan Aish yang tengah terbawa lamunannya.
__ADS_1
"Apa! aku dipanggil, yang benar. Kenapa kamu baru bilang, Yun ... jahat banget sih, kamu ini." Kata Aish dan segera masuk ke ruangan penyeleksian. Sedangkan Afwan dan Yunda hanya menepuk keningnya karena ulah sahabatnya.