Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Khawatir


__ADS_3

Acara masih berlangsung, Tuan Ganan dan istri berpamitan untuk pergi ke rumah sakit.


"Zakka, Sela, mama dan papa pamit dulu ya nak. Mama mau pergi ke rumah sakit sebentar, setelah itu mama dan papa kembali kesini untuk menjemput kalian. Kasihan kak Rey, pasti juga ingin ditemani mama dan papa. Tidak apa apa, 'kan?"


Zakka yang mendengarkannya pun mengangguk.


"Ya, Ma. Kak Rey juga anak mama dan papa, butuh juga perhatian dari kalian berdua. Salam buat kak Rey, selamat atas kelahiran anaknya." Ucap Zakka menitipkan salam untuk saudara kembarnya, bunda Maura pun tersenyum mendengarkannya.


"Ada Neyla dan Seyn yang akan menemani kalian, ada anggota keluarga kita juga. Ada Kazza, ada Zayen dan lainnya." Ucap sang ayah menimpali.


"Ya, Pa. Hati hati dalam perjalanan." Jawab Zakka.


Setelah itu, Tuan Ganan dan bunda Maura bergegas pergi dari acara pernikahan putranys.


Sedangkan di rumah sakit, Rey tengah membantu istrinya untuk melakukan pergerakan agar dimudahkan untuk persalinan.


Begitu juga dengan ibu Melin yang juga ikut memberi nasehat nasehat kecil untuk putrinys.


"Sayang, sakit banget." Rengek Aish sambil mencengkram lengan suaminya ketika menahan kontraksi yang sulit untuk dijelaskan.


"Kamu pasti bisa, sayang." Kata sang suami yang terus menyemangati istrinya.


Aish yang semakin merasakan tidak karuan ketika durasi kontraksi yang terus membuat nya semakin meronta ronta, ia terus mencengkram tangan milik suaminya sangat kuat. Bahkan tanpa Aish sadari, Rey mendapatkan luka pada punggung tangannya ketika sang istri menekan jari jemarinya yang cukup kuat hingga terluka.


Rey yang mengerti dengan rasa sakit yang tengah dirasakan oleh istrinya pun, ia tidak membentaknya. Justru Rey memberi belaian yg lembut kepada istri tercintanya.


"Maaf, Nona. Mari silahkan untuk berbaring, saya mau memeriksakan nya lagi." Ucap seorang ibu bidan yang akan memeriksanya lagi.


Aish yang tidak bisa berbuat apa apa selain menahan kontraksi hebat, ia hanya bisa nurut dengan perintah ibu Dokter maupun ibu Bidan.


Saat berbaring, durasinya terus terus semakin cepat dan tidak karuan. Rey sebagai sang suami, tetap berada di dekat istrinya.


"Bu Dokter, sakit ...." Ucap Aish sambil meringis menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


Rey mendekati istrinya di dekat telinganya dan membisikkan sesuatu padanya.


"Sayang, terus berdzikirlah dan lakukan sesuai saran dari ibu Bidan maupun ibu Dokter." Kata Rey mengingatkan istri tercintanya.


Disaat itu juga, Aish terus berdzikir sebagaimana keyakinannya. Begitu juga dengan Rey yang terus menguatkan istrinya.


Aish terus mengejan, dan juga menarik ulurksn napasnya. Dengan napas maju mundur, Aish terus mengejan.


Seketika, bayi yang diharapkankannya pun telah lahir dengan normal. Senyum merekah terlihat begitu jelas pada kedua sudut bibir milik Reynan, sedangkan Aish masih mengumpulkan energinya. Tidak berjarak waktu yang lama, Aish kembali merasakan kontraksi yang juga cukup hebat yang dirasakannya. Lagi lagi Rey kembali panik ketika istrinya merasakan kontraksi yang kedua kalinya. Rey terus menggenggamnya dengan erat untuk memberi penyemangat untuk istrinya.


Disaat itu juga, bayi yang kedua lahir dengan normal dan dengan tangisan yang cukup nyaring.


"Alhamdulillah." Ucap Aish, kemudian dengan penglihatan yang semakin kabur, Aish pingsan disaat itu juga.


Rey semakin panik melihatnya.


"Sayang, bangun sayang. Sayang, bangun." Teriak Rey dengan histeris.


"Tuan, ayo kita keluar sebentar." Ajak seorang Dokter untuk meminta Rey keluar dari ruang persalinan.


"Istri Tuan baik baik saja, untuk saat ini saya minta untuk keluar sebentar. Istri Tuan harus ditangani terlebih dahulu. Tunggu di luar, Tuan. Mari, silahkan." Perintah sang Dokter pada Reynan.


Karena tidak mempunyai pilihan lainnya, Rey hanya bisa nurut demi keselamatan istrinya.


Ibu Melin pun segera menghampiri menantunya.


"Ada apa dengan Aish, nak?" tanya ibu Melin dengan cemas dan khawatir dan menuntun menantunya untuk duduk. Setelah itu, ibu Melin menyodorkan minuman untuknya.


"Minumlah, agar pikiran kamu jauh lebih tenang." Ucap Ibu Melin kepada menantunya setelah memberikan air mineralnya.


Rey menerimanya, kemudian ia menenggak air mineral pemberian dari ibu mertuanya.


Rey masih mengatur pernapasannya, ingatannya kembali dengan wajah pucat milik istrinya itu.

__ADS_1


"Aish pingsan, Ma." Kata Rey setelah dirasa cukup tenang pernapasan nya. Disaat itu juga, ibu Melin ikutan khawatir dengan kondisi putrinya.


"Terus, bagaimana dengan bayinya, nak. Baik baik saja, 'kan?" tanya Ibu Melin dengan perasaan kekhawatiran nya.


"Baik baik saja, Ma." Kata Rey sambil menunduk.


"Kita doakan, semoga Aish baik baik saja dan juga kedua bayinya. Berdoalah untuk Aish dan kedua anak kamu, nak Rey." Ucap pak Soni, kemudian beliau mengusap punggung milik menantunya.


"Ya, Pa. Rey sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Aish, Rey tidak akan memaafkan diri Rey." Ucap Rey dengan kekhawatiran nya.


"Rey, bagaimana keadaan Aish dan kedua cucu mama? baik baik saja, 'kan? kenapa semuanya di luar?" tanya bunda Maura yang sudah datang bersama sang suami.


"Aish pingsan, Ma." Jawab Rey masih tidak berani mendongakkan pandangannya pada kedua orang tuanya.


Ibu Melin yang tahu jika bunda Maura ingin duduk, segera bangkit dari posisi duduknya dan pindah ke tempat duduk lainnya. Begitu juga dengan pak Soni yang juga ikutan bangkit dari posisi duduknya dan mempersilahkan Tuan Ganan untuk duduk.


Kini, Rey tengah berada ditengah tengah kedus orang tuanya. Bunda Maura pun memeluk putranya, Rey sedikit tenang saat pikirannya tengah tidak karuan memikirkan istri dan kedua anaknya.


"Berdo'alah untuk istri dan kedua anak kamu. Percayalah sama mama, jika Aish dan anak kembar kamu baik baik saja." Kata bunda Maura menyemangati putranya, Rey hanya mengangguk.


"Ya, Ma. Terima kasih sudah mengingatkan Rey." Ucap Rey sambil memijat pelipisnya.


"Istriku pasti bisa melewati masa perjuangannya untuk anak kembar mu." Ucap sang ayah yang juga mencoba menenangkan pikiran cemas yang tengah menguasi pikiran putranya.


"Permisi, Tuan. Maaf, saya mau menyampaikan pesan. Bahwa pasien yang bernama Aishwa telah sadarkan diri, dan sekarang meminta suaminya untuk menemuinya."


"Apa Sus? istri saya sudah sadarkan diri?" tanya Rey dengan wajah yang berbinar.


"Benar, Tuan. Mari saya antarkan ke ruangan istrinya Tuan." Jawabnya, Rey pun mengangguk dengan perasaan lega.


Setelah itu, Rey dan kedua orang tuanya serta kedua orang tua istrinya mengikutinya dari belakang.


Perasaan lega pun, kini tengah dirasakan oleh Reynan atas kekhawatirannya terhadap istri tercintanya yang mendadak pingsan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Rey telah sampai didepan pintu ruang rawat istrinya yang sudah dipindahkan dari ruang persalinan.


"Silahkan masuk, Tuan." Ucapnya mempersilahkan masuk, kemudian membantu membukakan pintunya.


__ADS_2