Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Bertemu lagi


__ADS_3

Rey dan Aish sedang dalam perjalanan menuju tempat acara pernikahan teman sekolahnya, yakni Afwan dan Yunda.


"Sayang, acaranya di rumah Yunda atau ... di sebuah gedung?" tanya Aish.


"Acaranya di rumah Yunda, katanya sih. Tapi keknya memang benar deh, sayang. Sebentar, aku mau menepikan mobil dulu." Jawabnya, kemudian ia segera menepikan mobil dipinggiran jalan yang ada pohon besarnya.


Setelah itu, Rey mengambil ponselnya di saku jas nya. Kemudian ia membukw pesan dari Afwan di kala itu, sedangkan Aish dengan sabar menunggu jawaban dari suaminya.


"Ya, benar. Acara pernikahannya di rumah Yunda, katanya sih ada undangan untuk anak anak yatim piatu dan anak pondok didekatnya." Ucap Rey sambil menunjukkan pesan dari Afwan, seketika Aish teringat dengan obrolan bersama sahabatnya itu.


"Sayang, kenapa kamu melamun? ada masalah?" tanya Rey membuyarkan lamunan istrinya.


"Emmm ... tidak ada apa apa, aku ikut senang mendengarnya. Impian Yunda tergapai, dari dulu ia berharap ketika menikah bisa berbagi dengan anak anak yatim piatu. Sekarang impiannya sudah terkabul, dan aku sebagai sahabatnya ikut senang mendengarnya." Jawab Aish diakhiri senyum tipis.


Rey yang dapat menangkap ekspresi istri tercintanya, ia meraih kedua tangan miliknya.


"Aku tahu maksud kamu, bahwa kamu juga ingin ikut berbagi seperti Yunda, 'kan?"


"Ya, itu dulu. Tapi aku tidak mempermasalahkannya, aku bisa berbagi tidak harus dengan acara pernikahan." Kata Aish berusaha untuk bersikap biasa biasa saja didepan suaminya.


Rey tersenyum menatap istrinya, kemudian menarik napasnya pelan dan membuangnya dengan pelan juga.


"Ya, benar. Kita berbagi tidak harus di hari pernikahan, masih banyak cara lain selain di acara pernikaha. Bukankah tiap bulannya kamu selalu berbagi dengan anak anak yatim piatu dan orang orang yang tidak mampu? itu juga sudah kamu lakukan, sayang." Ucap Rey mengingatkan istrinya.


"Ya, itu juga lewat bantuan dari kamu. Kalau tidak ada Toko kueh, mungkin kita lupa untuk berbagi." Kata Aish merendah.


"Hem, kata siapa? kata kamu rizki bisa datang dari mana pun. Jadi kalau tidak ada Toko kueh, mungkin ada jalan lain untuk berbagi. Berprasangka baik itu nomor satu, keduanya kita jalani dengan ikhlas." Jawab Rey sedikit mengingatkan lagi, Rey tersenyum malu ketika suaminya sudah kelihatan adanya perubahan pada siang suami.


"Kalau ngobrol terus, kapan sampainya? hem." Sindir Aish sambil menatap lurus kedepan.


"Ah ya, aku sampai lupa. Nanti kita mampir ke rumah Mama Melin ya, sayang. Sejak dirumah sakit, kamu belum menjenguk kedua orang tua kamu." Jawab Rey, kemudian ia berniat untuk mengajak istrinya datang ke rumah kedua orang tuanya.


"Aku sendiri juga lupa, yang aku tahu Beliau itu Tante Melin dan bukan orang tua kandung ku." Kata Aish dengan senyum tipis, Rey pun mengusap pucuk kepalanya.


"Ya sudah kalau gitu, kita berangkat." Ajak Rey yang tak ingin datang terlambat.


Dengan kecepatan sedang, Rey melajukan mobilnya hingga tidak terasa sudah sampai didepan rumah Yunda yang dipenuhi tenda pernikahan.

__ADS_1


"Sayang, kita sudah sampai." Ucap Rey sambil melepaskan sabuk pengamannya, begitu juga dengan Aish yang tengah sibuk melepaskan sabuk pengamannya.


"Sayang, ayo kita turun." Ajak Rey sambil membenarkan pakaiannya, sedangkan Aish tengah membenarkan khimar nya.


"Sayang, aku malu."


"Malu kenapa? hem."


"Malu punya suami seperti ku? hem."


"Bukan, bukan itu maksudku."


"Terus ... maksud mu itu, apa?"


"Tidak ada apa apa, mungkin karena baru pertama kalinya aku menghadiri acara pernikahan." Jawab Aish sebaik mungkin.


"Sudah lah, kamu tidak perlu mengurusi omongan orang orang mengenai hubungan kita. Lagian juga kita sudah sah menjadi suami istri, tidak perlu kamu takutkan." Kata Rey meyakinkan istrinya, Aish pun mengangguk dan tersenyum.


"Ayo, kita turun." Ajak Rey, kemudian ia segera turun. Saat keluar dari mobil, semua para tamu undangan yang baru saja datang pun, tak lupa untuk memperhatikan sepasang suami istri yang begitu serasi.


Tidak hanya itu saja, beberapa para tamu undangan ada yang berbisik untuk membicarakan kehadiran Aish ditengah tengah acara pernikahan Yunda dan Afwan.


"Eh, bukankah itu Aish? benar tidak sih. Apa aku nya yang salah lihat, ya." Bisik salah satu tamu undangan yang baru saja datang dan mendapati Aish yang baru saja turun dari mobil yang cukup mewah.


"Ya, itu Aish. Dengar dengar sih, Aish itu sudah menikah sama orang kaya. Tapi aku merasa curiga deh, mana ada orang kaya yang mau menikah sama Aish yang tidak punya apa apa." Jawab salah satunya yang juga ikutan membicarakan Aish.


"Ya juga ya, aku rasa Aish itu pasti jadi istri simpanannya deh. Mau bagaimana lagi, Yahya kan sudah dijodohkan sama pemilik Pesantren. Mau tidak mau, Aish segera menikah, ya 'kan?" sahut salah satunya lagi yang juga bersemangat ketika membicarakan Aish.


"Hus! kalian berdua ini, masih saja sempat sempatnya ngomongin orang lain. Lebih baik kalian semua itu ikut menyambut kedatangan Bos nya Yunda dan Afwan."


"Bos nya Afwan dan Yunda, datang?"


"Lah ya, memang kamu tidak tahu. Noh! lihat, sudah berdiri dipanggung pengantin." Jawabnya sambil menunjuk kearah panggung pengantin. Disaat itu juga, beberapa tamu undangan yang baru saja membicarakan Aish pun, tiba tiba tercengang melihatnya dan juga mendengarkan Yunda dan Afwan ketika memperkenalkan sepasang suami istri yang tidak lain Bos nya sendiri.


Tidak hanya itu saja, rupanya disudut tempat ada yang sedang memperhatikan Aish dengan lekat.


"Eh Pak Ustadz Yahya, lagi memperhatikan mantan kekasih nya ya?" ledek salah satu tetangganya saat mendapati Yahya yang tengah memperhatikan Aish sedang berdiri diatas panggung didampingi suaminya.

__ADS_1


"Ibu Minah, ada ada saja." Jawab Yahya, kemudian ia memilih untuk pergi dari kerumunan para tamu undangan yang lainnya.


Sedangkan diatas panggung, Aish bersenda gurau bersama kedua sahabatnya itu.


"Bos, ngomong ngomong Zakka dimana? perasaan aku tidak melihatnya." Tanya Afwan sambil celingukan dibawa panggung. Tetap saja, Yunda dan Afwan tak juga mendapati keberadaan Zakka di acara pernikahannya.


"Ya nih, padahal sebelum nya kita pernah bertemu dengan Zakka. Kami berdua pun tidak lupa untuk memintanya datang ke acara pernikahan kami, dan dia juga mengiyakan. Tapi ... kok tidak kelihatan, apa dia sedang sibuk di Kantor? sepertinya itu tidak mungkin." Sahut Yunda ikut menimpali.


Rey dan Aish saling menatap satu sama lain, seakan keduanya sama sama meminta untuk menjelaskan langsung pada Yunda dan Afwan.


"Zakka kecelakaan, sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit." Kata Rey memberanikan diri untuk berterus terang pada Yunda dan Afwan.


"Apa!! celakaan? kok bisa?"


"Ceritanya panjang, doakan saja untuk Zakia agar segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti dulu." Kata Rey yang tidak ingin membahas tentang Zakka begitu detail.


'Apa jangan jangan karena prustasi akibat Aish menikah dengan Rey, saudara kembarnya sendiri. Kasihan juga nasib Zakka, cintanya harus bertepuk sebelah tangan. Yang ia dapatkan hanya sebuah angan angan dan mimpi.' Batin Yunda yang tau akan perasaan Zakka pada Aish.


"Aamiin, semoga Zakka segera lekas sembuh dan dapat beraktivitas seprti dulu lagi. Kasihan banget si Zakka, tapi mau bagaimana lagi kalau musibah itu memang sudah waktunya untuk menghampiri." Ucap Afwan yang ikut sedih dengan keadaan Zakka yang sedang berbaring di rumah sakit, pikirnya.


"Aku doakan juga untuk Zakka, semoga dia segera lekas sembuh dan dimudahkan segala urusannya. Padahal Zakka orangnya paling rame dan juga sangat menghibur, tapi kenyataannya dia nya sedang diuji dari keceriaannya." Kata Yunda ikut menimpali memberi doa untuk Zakka, teman sekolahnya.


"Yun, Afwan, selamat ya atas pernikahan kalian berdua. Semoga bahagia selalu menghampiri kalian berdua, dan juga disegerakan mendapatkan kabar bahagia." Ucap Aish yang baru sempat memberi ucapan selamat untuk kedua sahabatnya. Bukan karena lupa, tapi Afwan lebih dulu memperkenalkan suaminya di depan khalayak para tamu undangan.


Selanjutnya, Rey juga tak lupa memberi ucapan selamat untuk Yunda dan Afwan. Karena tidak ingin menjadi bahan sorotan kamera, Rey memilih untuk pergi meninggalkan acara pernikahan Yunda dan Afwan.


"Waktuku tidak bisa lama lama di sini, kita berdua mau langsung pamit pulang ya, Yun, Afwan. Kalian berdua tak perlu khawatir, aku memberi hari libur kalian selama satu minggu. Jadi, nikmatilah kebersamaan kalian selama hari libur di Hotel yang sudah ditentukan oleh Perusahaan." Ucap Rey berpamitan.


"Terima kasih banyak ya, Bos. Akhirnya kami bisa menikmati hari libur di Hotel ternama." Jawab Afwan dengan senyum yang lebar, Rey pun membalasnya dengan senyumnya yang tipis.


Setelah berpamitan, Rey dan Aish segera pulang setelah cukup lama mengobrol diatas panggung. Dengan sangat hati hati, Rey menuntun sang istri turun dari atas panggung.


Dengan hati hati, Rey menggandeng tangan istrinya berada ditengah tengah para tamu undangan yang sedang menikmati makanannya masing masing.


Seketika, wajah Aish bertemu dengan Yahya yang sudah berdiri dihadapannya yang tengah berjalan. Disaat itu juga, Rey menatapnya geram.


"Yah-ya." Aish pun menyebut nama Yahya, dan disaat itu juga terasa panas untuk Rey dengar.

__ADS_1


__ADS_2