Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Berkumpul keluarga besar


__ADS_3

Tanpa disengaja, Zakka dan Rey bertemu saat keduanya sama sama hendak menuruni anak tangga. Zakka yang masih terasa dongkol terhadap sang kakak, dengan sorot matanya yang tajam, ia menunjukkan rasa kekesalannya pada Rey.


Tanpa sapaan, Zakka langsung menuruni anak tangga dengan angkuhnya.


"Zakka, tunggu." Panggil Rey sambil menuruni anak tangga untuk mengejar langkah kaki sang adik. Zakka tidak memperdulikannya, ia terus berjalan menuju ruang keluarga yang dimana banyak anggota keluarganya yang tengah berkumpul bersama.


Rey yang tidak mendapatkan respon dari Zakka, ia tetap bersikap tenang untuk menyapa anggota keluarga yang lainnya.


"Kak Rey," panggil Neyla yang sudah berada dibelakangnya. Rey yang sudah tahu siapa yang memanggilnya, ia langsung menoleh kebelakang.


"Kamu, ada apa?" tanya Rey sambil mengamati penampilan adik perempuannya.


"Aku mau tanya aja, sebenarnya ada apa sih dengan kak Zakka? perasaan dari kemarin sore bawaannya marah terus deh. Kak Rey sedang berantem, ya? jangan jangan ... ada hubungannya dengan cewek yang ada di handphone kalian berdua, hayo ngaku." Tanya Neyla menyelidik.


"Hem, sok tau kamu itu. Kenapa kamu tanyanya sama Kakak, tanya aja sama Zakka. Ah sudah lah, Kak Rey mau menemui anggota keluarga kita." Ucap Rey, kemudian ia bergegas menemui keluarga besarnya.


Saat berkumpul bersama keluarga besar, Zakka hanya melirik kearah sang kakak dengan sekilas. Itupun dengan tatapan sinis dan menunjukkan kekesalannya. Hatinya terasa dongkol ketika melihat ada kecurangan pada sang kakak. Zakka pun acuh tak acuh pada saudara kembarnya.


Rey yang mengetahui kemarahan dari sang adik, ia tetap bersikap santai. Seakan akan tidak ada sesuatu yang terjadi pada dirinya, meski kenyataannya sangat lah besar sesuatunya yang ia sembunyikan dari saudara kembarnya.


"Zakka, kapan kamu nikah?" tanya Kazza membuka suara saat semua diam, termasuk adik iparnya yang hanya menjadi pendengar setia. Suami Afna tidak banyak bicara, ia sadar diri dengan statusnya saat ini. Ditambah lagi dengan posisinya yang hanya menjadi pengganti sang kakak, ia lebih banyak diam dan tetap bersikap tenang serta tidak banyak berbicara.

__ADS_1


Zakka yang mendapatkan pertanyaan dari saudaranya, ia melirik ke arah saudara kembarnya sendiri.


"Cie ... Kak Zakka, yang menyukai Peremp ..." seketika, mulutnya dibekap oleh kakak pertamanya. Siapa lagi kalau bukan Rey yang membekap adik bungsunya.


"Jaga bicara mu, hargai perasaan kakak kedua mu itu." Bisik Rey pada Neyla, disaat itu juga Ney hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


"Kamu itu perempuan sendiri, sudah sana pergi. Tidak malu apa, sama si Afna. Tuh lihat, Afna aja berkumpulnya sama sama perempuan. Lah kamu, kumpul kok bareng kita yang cowok. Malu dong dilihat suami Afna, sana pergi." Usir Rey pada adik perempuannya.


"Ya kan aku kenal sama suami Afna, tidak apa apa juga dong. Ya kan, Ayen? dulu kita kan temenan. Eh! maksud aku teman bolos." Kata Neyla, kemudian ia tertawa kecil saat mengingat tingkah lakunya ketika masih sekolah abu abu. Yang dimana selalu mendapatkan hukuman dan hukuman, bahkan sang ayah pun ikut geram dengan cara bergaul nya seorang Neyla yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki lakinya.


"Sudah sudah sana kamu pergi, kamu PRU perempuan." Perintah Rey dengan tatapan penuh arti, Neyla yang tau maksud dari sang kakak pun segera ia pergi meninggalkan tempat tersebut.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Kazza, justru Zakka menoleh kearah saudara kembarnya.


Rey yang mendapatkan tatapan sinis dari sang adik, ia hanya menarik napasnya dengan berat.


"Tunggu aja tanggalnya, siapkan juga kadonya." Kata Zakka setelah menatap sinis pada saudara kembarnya.


"Nah! gitu, dong. Aku tunggu undangannya, jangan lama lama." Kata Kazza sambil memainkan alisnya naik turun.


"Kamu sendiri, bagaimana dengan karyawan di Restoran mu itu? si Vella, ya si Vella itu loh." Zakka pun balik bertanya saat mengingat Kazza bercerita atas perasaannya sendiri terhadap perempuan yang ia sukai.

__ADS_1


"Hem, lupakan saja. Aku pamit, aku mau ikut berkumpul bersama Kakek Angga dan Kakek Zio. Sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan Beliau." Ucap Kazza mencari alasan, ia pun takut jika mendapatkan sebuah pertanyaan yang sama. Tidak hanya itu saja, Zayen pun ikut berpamitan yang juga ingin berkumpul dengan keluarga istrinya yang lain.


"Cih! main kabur aja kamu ini, hem." Kata Zakka.


Kini tinggal lah Rey dan Zakka yang masih duduk disatu tempat, kemudian keduanya menyingkir ke tempat yang berbeda.


Yang lainnya bersenda gurau, justru kedua putra Tuan Ganan saling acuh tak acuh. Keduanya terlihat jelas tengah memendam masalahnya masing masing. Padahal, situasi yang begitu ramainya di kediaman keluarga Wilyam, semua berbaur dengan rukun dan damai serta bersenda gurau bersama. Namun tidak untuk Rey dan Zakka, yang dimana keduanya sibuk dengan pikirannya masing masing.


Tidak terasa, waktu begitu panjang telah dilewati dalam seharian oleh keluarga Wilyam bersama keluarga Danuarta yang membentuk suatu hubungan yang semakin erat. Ditambah lagi dengan sebuah pernikahan dari anak Tuan Alfan dan Tuan Tirta yang tidak pernah disangkakannya menjadikan hubungan kekeluargaannya yang semakin dekat setelah Tuan Danuarta dengan Tuan Wilyam berbesanan yang juga tanpa disangkakan nya karena sebuah perjodohan.


Tidak terasa waktu pun sudah hampir sore, satu persatu anggota keluarganya berpamitan untuk pulang. Setelah tidak ada lagi yang berada di dalam rumah selain sang pemilik rumah, Zakka dan Rey kembali ke kamarnya masing masing.


Kakek Ganan yang merasa heran atas sikap kedua cucu laki lakinya, ia langsung menemui Zakka terlebih dulu. Meski tidak begitu dekat, kakek Angga tetap bersikap adil pada cucu cucunya.


"Kamu mau ngapain masuk ke kamar Zakka?" tanya sang istri, kakek Angga menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan pelan. Kemudian, Beliau menatap wajah istrinya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu pada Zakka, aku tidak akan membiarkan masa lalu kita terulang lagi pada cucu kita. Posisi Zakka sama seperti Zio, setidaknya aku akan memberi arahan serta nasehat untuknya. Aku tahu, Zakka tidak begitu dekat denganku. Tapi, aku tidak menyerah sebelum aku mencobanya." Jawab Kakek Angga dengan tatapan penuh yakin dan penuh harap.


"Aku hanya bisa berdoa, semoga saja Zakka tidak mengulangi kesalahan seperti yang dilakukan oleh Zio." Kata sang istri, Beliau pun juga takut jika cucunya mempunyai kenekatan demi mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Doakan saja, semoga aku berhasil." Ucap Kakek Angga, sang istri pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2