
Aish yang merasa sedikit cemas dan takut, ia menoleh kebelakang untuk memastikan suaminya yang sudah berada didalam kamar.
"Kenapa berhenti?" tanya Rey yang hendak berjalan menuju tempat tidur.
"Em ... tidak ada apa apa, kenapa? aku hanya nengok kebelakang aja." Sahut Aish dan balik bertanya.
"Ooh, kirain ada apa. Ya sudah kalau mau mandi, jangan lupa mandinya yang bersih dan tentunya yang wangi." Kata Rey sambil duduk di tempat tidur.
"Hem," Aish hanya berdehem dan langsung masuk ke kamar mandi dan tidak lupa untuk menguncinya. Rey yang mendengar istrinya mengunci pintu, dirinya hanya tersenyum sambil membuka layar ponselnya. Saat berada di dalam kamar mandi, Aish nampak bingung.
"Bagaimana ini? mana Tante Melin tidak ada dirumah, lagi. Kalau dia macem macem, bagaimana aku? aku benar benar belum siap. Tapi ... jika dia benar benar meminta hak nya? aku mesti jawab apa? tidak mungkin aku beralasan sedang datang bulan. Dosa besar jika aku berbohong padanya, pura pura sakit aja apa ya? tapi ... tetap aja masih dengan kategori berbohong. Kenapa sih, dia datang dalam waktu kek gini. Kasih kabar kek, atau bagaimana. Setidaknya aku bisa kabur, eh! tetap aja dosa." Gumam Aish sambil mencari ide, namun tetap aja tidak menemukan jawabannya.
Karena tidak ingin larut dalam kebingungan, akhirnya Aish memilih untuk segera membersihkan diri sebelum pintu ada yang menggedor gedor, pikirnya.
Selang beberapa waktu, Aish telah selesai mandinya. Seketika, ia lupa membawa baju ganti. "Sial banget sih hari ini, mana lupa bawa baju ganti, lagi. Aish Aish, mimpi apa kamu semalam sih? sampai sampai harus terkurung dalam kamar mandi. Oooh! tidak, mana handuknya bukan yang kimono, lagi." Gumam Aish berdecak kesal dan menyalahkan diri sendiri karena kelalaiannya.
Karena tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya Aish terpaksa keluar dengan mengenakan handuk yang dililitkan. Sambil membuka pintu kamar mandi, Aish menutup bagian da*da nya dengan kedua tangannya. Berharap suaminya tidak berubah menjadi mes*um, pikirnya.
"Saat membuka pintunya, pandangan Aish tertuju pada suaminya yang duduk diatas tempat tidur dengan posisi kaki yang diluruskan sambil memainkan benda pipihnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tutupin? aku sudah melihat semuanya."
Aish hanya menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan kasar, ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan suaminya. Dengan berani, Aish berjalan menuju lemari yang mana ada Rey disebelahnya.
Tanpa menoleh kearah sang suami, Aish tetap fokus dengan tujuannya untuk mengambil baju ganti dilemari yang posisinya ada Rey didekatnya berdiri.
Rey segera meletakkan ponselnya dan bangkit dari posisi duduknya. Tanpa pikir panjang, Rey memegangi pundak dengan kulit kuning langsat dan mulus milik istrinya. Seketika, Aish terperanjat kaget dengan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang. Entah ada angin apa, Rey mencium lembut pada pundak Aish dan menjalar ke leher jenjangnya.
Campur aduk yang dirasakan oleh Aish, bulu kuduknya pun ikut berdiri. Bahkan otak nya sendiri sulit untuk berpikir jernih, Aish ikut terbawa suasana dengan apa yang dilakukan suaminya dibelakangnya.
Karena ingin menatap wajah ayu milik istrinya, Rey membalikkan badan Aish hingga menghadap padanya. Kini kedua netranya saling bertemu, Aish masih dengan setengah kesadarannya.
'Apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus memberikan hak nya? doa, ya! doa, aku dan dia belum berdoa.' Batin Aish yang teringat dengan apa yang akan dilakukan oleh keduanya , Aish masih menatap wajah tampan milik suaminya yang menurutnya sangat lah sempurna. Perempuan mana yang tidak tertarik dan jatuh cinta padanya, dengan segala kepandaiannya dan juga ketampanannya membuat semua perempuan mudah tergoda dengannya.
Rey yang tidak sabar, ia langsung menc*ium bibir ranum milik istrinya dengan hangat. Aish yang terlanjur tergoda dengan perlakuan suaminya, ia mengikuti permainan dari suaminya.
Cukup lama berci*uman, Rey mendekati daun telinga istrinya seakan mau membisikkan sesuatu pada Aish.
"Aku menginginkannya sekarang." Bisik Rey sangat lembut. Hasr*at yang sudah sekian lamanya terpendam, Rey tidak mau menunggunya lama. Cukup 6 tahun lamanya ia menahan apa yang seharusnya ia dapatkan.
__ADS_1
Aish yang mendengarnya pun seakan luluh begitu saja. "Aku akan menyerahkan milikku ini, sebelumnya berdoalah. Segala sesuatunya harus diawali dengan doa, apapun itu." Jawab Aish dengan lirih, tetap saja masih dapat untuk didengarkan.
"Ucapkan doanya, maka aku akan mengikutinya." Kata Rey masih dengan posisi yang semula, Aish pun menganggukan kepalanya pertanda menyetujui apa yang diminta suaminya.
"Bissmillahirrohmaannirrohiim, Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna." Ucap Aish cukup jelas, agar suaminya dapat melafazkan dengan benar.
Hanya butuh dua kali pengucapan, Rey mampu menghafalkannya. Setelah keduanya mengucapkan kalimat doa sebelum berhubungan in*tim, Rey menuntun istrinya ketengah tengah tempat tidur. Tidak lupa, Aish selalu menutup anggota tu*buh polosnya dan milik suami dengan selimut tebalnya.
Meski dengan ruang kamar cukup sempit, namun tidak membuat Rey hilang selera. Semakin dalam, Rey hilang kendali saat mendapatkan kenik*matan surga dunia semakin liar dibuatnya. Sekian lamanya menahan serta menunggu sesuatu yang ia tahan sebisa mungkin, kini ia dapat menyalurkannya tanpa adanya keterpaksaan.
Begitu juga dengan Aish, yang awalnya merasa berat untuk menyerahkan sesuatu yang ia jaga dengan baik, kini telah ia berikan sepenuhnya pada suaminya. Setelah cukup panas dalam ritual panjangnya, Rey maupun istrinya telah sampai pada titik puncak pelepasannya hingga keduanya terkulai lemas.
Rey yang berhasil memenangkan istrinya, rasa bahagia tidak mampu untuk ia gambarkan. Dengan lembut, Rey menc*ium kening milik istrinya. Kemudian memeluknya erat dengan tu*buh polosnya masing masing. Kenik*matan yang sudah didapatkan oleh Rey telah membuatnya bahagia karena sebuah mahkota yang sangat berharga itu telah ia dapatkan.
"Sayang, terima kasih atas apa yang sudah kamu berikan untukku. Aku sangat beruntung memilikimu, sekian lama aku menunggunya dan kini aku berhasil memenangkan mahkota berhargamu. Kamu tahu? sekian lamanya aku memendam rasaku ini padamu, tapi kamu tidak pernah mau tahu dan tidak pernah mau menyadarinya. Tapi kini aku berhasil memiliki mu seutuhnya, dan semoga setelah ini aku akan berhasil mendapatkan cintamu. Aja berjanji akan selalu menjagamu dan akan selalu berada disampingmu." Ucap Rey sambil memeluk istrinya dengan erat.
Aish yang mendengar pengakuan dari suaminya serasa mimpi, ia baru menyadari jika suaminya memendam rasa sejak lama. Tidak bisa menjawab ucapan dari suami, Aish hanya bisa membalas pelukan dari suaminya. Meski hanya sebuah pelukan dari sang istri, Rey pun dapat memahaminya dan juga dapat mengerti apa yang dilakukan istrinya.
"Bagaimana kalau kita mandi dengan air hangat, agar badan kamu tidak terasa sakit." Ajak Rey, Aish pun mengangguk. Kemudian, Rey langsung menggendong istrinya sampai didalam kamar mandi dengan balutan selimut. Sedangkan Rey mengenakan handuk yang bekas dipakai istrinya setelah mandi.
__ADS_1
Saat sudah berada didalam kamar mandi, Aish mengajarkan suaminya tata cara mandi besar. Rey yang tidak mengerti, dengan seksama mendengar istrinya mengucapkan kalimat doa sebelum menysucikan seluruh anggota tub*uhnya. Kemudian disusul dengan tata cara membersihkan diri dari hadas besar dimulai dari sebelah mananya.