
Usai membersihkan diri dari hadas besar, Aish segera membereskan tempat tidur dibantu sang suami.
"Tidak perlu kamu mencuci sepreinya, biar aku aja. Lebih baik kamu istirahat, takutnya badan kamu akan bertambah sakit. Jangan kemana mana, aku mau buatkan kamu teh hangat." Ucap Rey yang tidak ingin istrinya melakukan aktivitas apapun.
Aish yang tidak bisa menolak permintaan dari suaminya, dirinya hanya bisa menuruti kemauan sang suami.
Tidak sampai lima menit, Rey sudah membuatkan minuman teh hangat untuk sang istri. Kemudian ia membawa satu gelas teh hangat kedalam kamar dan memberikannya langsung pada sang istri yang tengah duduk diatas tempat tidur dah bersandar pada kepala ranjang.
"Jangan lupa diminum, aku mau mencuci sepreinya dulu. Kalau ingin sesuatu yang lain, panggil saja aku." Ucapnya hendak masuk ke kamar mandi untuk mengambil baju kotor serta seprei yang sudah terkena noda.
"Kamu tidak perlu mencucinya, biar aku saja nanti yang cuci baju dan sepreinya." Sahut Aish tidak enak hati.
"Sudah, jangan bawel. Aku bisa melakukannya, lebih baik kamu itu istirahat." Kata Rey yang tidak bisa diganggu gugat, setelah itu ia langsung mengambil bantu dan seprei kotor untuk dicuci dibelakang. Aish hanya bisa mengalah dengan apa yang diperintahkan dari sang suami.
Sedangkan dikediaman keluarga Tuan Ganan, Zakka masih duduk santai dibelakang rumah. Usia yang sudah berjalan 24 tahun, Zakka masih sendiri.
"Anak Mama, kok ngelamun? tidak ke Kantor? kakak kamu hari ini pulang loh." Tanya sang ibu mengagetkan, Zakka masih berdiri sambil menatap tanaman bunga yang sejuk untuk dipandang.
"Zakka takut Ma, takut kak Rey yang akan jadi saingannya Zakka." Ucap Zakka yang mulai tidak tenang dalam pikirannya.
"Kenapa mesti takut? memangnya apa yang kamu takutkan dengan kakak kamu? saingan apa maksudnya? hem." Tanya Beliau kembali.
"Lucu tidak sih Ma, jika Zakka dan kak Rey itu menyukai satu perempuan yang sama? Zakka takut Zakka tidak bisa mendapatkannya." Jawab Rey masih dengan kegelisahannya.
__ADS_1
Disaat itu juga, Bunda Maura teringat akan sebuah cerita masa lalu Ibu mertuanya. Yang dimana kakak beradik menyukai perempuan yang sama.
"Tanyakan saja langsung pada kakek kamu, karena kakek Angga yang menjalaninya. Tapi ... semua itu ada pada perempuan yang kamu sukai, apakah dia menyukaimu? atau ... menyukai kakak kamu? atau ... tidak untuk dua duanya. Ingat pesan dari Mama, jangan kamu kotori hatimu hanya karena tidak bisa mendapatkan perempuan yang kamu sukai. Jangan seperti paman Zio, yang terlalu dalam mencintai Tante Qinan. Akhirnya diri sendiri yang tersiksa, sedang perempuan yang kita sukai telah bahagia." Ucap sang Ibu menasehati putranya.
"Zakka tidak tahu Ma, soalnya Zakka belum tahu kebenarannya. Apakah kak Rey berhasil mendapatkannya, atau ... tidak bisa memenangkan cinta dari perempuan yang kak Rey sukai." Kata Zakka yang mulai cemas.
"Sudah lah, perempuan tidak hanya satu. Banyak perempuan baik diluaran sana, yang terpenting kamu tetap mempunyai pendirian yang baik dan tidak mempunyai pendendam." Ucap sang Ibu kembali mengingatkannya, takut jika masa lalu mertuanya akan kembali terulang pada kedua putranya.
'Semoga saja putraku tidak mengulang masa lalu Omma dan Kakeknya.' Batin Bunda Maura penuh harap.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti yang ada kamu tersiksa sendiri. Percayalah sama Mama jika kamu berjodoh dengan perempuan yang kamu sukai, maka akan menjadi milikmu. Namun jika tidak berjodoh, apapun caranya akan tetap sulit untuk kamu dapatkan." Kata sang ibu mengingatkannya kembali.
Zakka yang mendengarnya pun hanya bisa menanggukan kepalanya. "Ya Ma, terima kasih sudah mengingatkan." Jawab Zakka masih terlihat lesu.
"Oh ya, besok kita akan ada acara di rumah. Mama minta untuk tidak pergi kemana mana." Ucap sang ibu mengingatkan.
"Memangnya mau ada acara apa, Ma?" tanya Zakka.
"Biasa kumpul bareng keluarga besar, pokoknya rame banget." Kata sang Ibu.
"Kirain mau ada acara lamaran si Neyla."
"Makanya kamu buruan cari istri, biar ada acara." Goda sang Ibu sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Yah! Mama tertawa, lagi. Sabar dong, Ma. Nanti kalau udah saatnya juga bakal nikah, nunggu kak Rey." Kata Zakka, kemudian ia kembali masuk kedalam rumah dan dikuti Bundanya dari belakang.
Sedangkan di rumah Ibu Melin, akhirnya Rey selesai juga mencuci baju dan sepreinya. Setelah itu, ia kembali masuk ke kamar. Dilihatnya sang istri yang tengah sibuk dengan ponselnya, tanpa Aish sadari jika suaminya sudah berdiri didekatnya.
"Lagi ngapain?" tanya Rey mengagetkan. Aish langsung mendongak kearah sang suami, ia langsung meletakkan benda pipihnya disebelah ia duduk.
"Aku sedang mengecek pengeluaran di Toko kueh dalam waktu sebulan ini, ada apa?" jawab Aish sambil menatap suaminya. Rey yang ingin mengatakan sesuatu, ia ikut duduk diatas tempat tidur tepatnya disebelah istrinya.
Lagi lagi Aish kembali memikirkan yang tidak tidak, sebisa mungkin Aish membuang pikiran motornya.
"Tidak apa apa, hari ini aku harus pulang ke rumah. Sebelumnya aku minta maaf jika aku belum bisa membawa mu pulang ke rumah, alasannya karena ada Zakka. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya, aku harap kamu dapat mengerti dengan posisiku." Ucap Rey dan meraih kedua tangan istrinya dan menggenggamnya erat.
"Ya, tidak apa apa. Aku tidak melarangmu untuk pulang." Jawab Aish masih terasa canggung saat menatap wajah tampan milik suaminya.
Disaat itu juga, Rey menc*ium kening milik istrinya dengan lembut. "Tidak apa apa kan, jika aku pulang? nanti malam aku kembali lagi kalau tidak lagi sibuk. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja, nanti aku pesankan makanan untuk makan siangmu." Ucapnya, Aish pun mengagguk.
Setelah berpamitan, Rey segera bersiap siap untuk menunggu mobil jemputan nya. Tidak memakan waktu lama, pak Dirwan selaku supir juga menjadi orang kepercayaan keluarga Wilyam pun datang untuk menjemput anak dari Bos Besarnya.
"Pak Dirwan sepertinya sudah datang, kalau begitu aku pamit pulang. Jangan kemana mana, tetap dirumah. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan karena hal mendadak ataupun darurat, kamu bisa hubungi aku." Kata Rey berpamitan pulang.
"Hati hati di perjalanan, salam untuk Kakek dan Papa." Ucap Aish yang hanya mengenal kakek Angga dan ayah mertuanya. Rey pun tersenyum, kemudian ia langsung bergegas pergi meninggalkan istrinya didalam kamar.
Dalam perjalanan pulang, Rey sudah tidak lagi merasa gelisah karena perasaannya terhadap istrinya. Pak Dirwan yang dapat menangkap raut wajah yang berseri seri lewat pantulan cermin didepan, Beliau tersenyum sambil fokus dengan setirnya.
__ADS_1
'Sepertinya Tuan Muda sedang bahagia, semoga saja begitu.' Batin Pak Dirwan.