
Beberapa bulan setelahnya, Sheira pun rutin mengecek kehamilannya tapi hasilnya selalu negatif. Hingga Sheira lelah dan takkan lagi mengeceknya kecuali ia telat datang bulan. Sheira pun tetap melakukan pola hidup sehatnya dan tak mengubahnya sama sekali, ia takut di rahimnya akan muncul kista atau muncul penyakit lain ditubuhnya jika ia makan sembarangan.
Sheira pun semakin giat berolahraga setelah pulang kerja. Ia tak mau jika fisiknya lemah dan mudah sakit karena kini ada banyak orang yg menggantungkan rezekinya padanya. Ia harus sehat dan bekerja hingga tak ada yg dirugikan.
Suatu pagi, Theo pun merasa tak enak badan. Ia pusing dan rasanya berputar-putar. Tak lama ia juga merasakan mual dan muntah-muntah. Sheira pun merawatnya dan memintanya untuk beristirahat dirumah. Tapi Theo bersikeras untuk bekerja walaupun ia harus berangkat lebih siang.
"Baiklah, ini minum air madu hangatnya mungkin bisa meredakan mualmu." ucap Sheira.
"Terimakasih sayang." ucap Theo.
"Mau sarapan??" tanya Sheira.
"Aku belum bisa makan sesuatu rasanya mual sekali." ucap Theo.
"Coba periksa ke dokter, aku takut lambungmu bermasalah." ucap Sheira.
"Iya nanti aku akan periksa ke dokter." ucap Theo.
"Oke.. aku akan bawakan bekal jika nanti kau lapar." ucap Sheira.
"Baiklah. Terimakasih sayang." ucap Theo.
Setelah dirinya agak membaik, Theo pun berangkat ke kantornya di jemput oleh Doni. Sheira pun menitipkan Theo pada Doni karena suaminya sedang sakit.
"Doni, tolong jaga Theo dengan baik dia nampaknya tak enak badan dan juga antar dia ke dokter, karena dia tak mau aku yg mengantarnya." ucap Sheira.
"Baik nyonya." ucap Doni.
"Sayang aku berangkat ya.." ucap Theo.
"Iya hati-hati." ucap Sheira sambil melambaikan tangan.
Theo pun melaju menuju ke kantornya. Doni pun melihat Theo agak pucat dan ia sedikit khawatir.
"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Doni.
"Ya.. begitulah.. hanya agak mual." ucap Theo.
"Kalau begitu, jam berapa kita akan ke dokter?" tanya Doni.
"Setelah meeting saja.." ucap Theo.
"Baik tuan. Katakan saja jika anda tidak nyaman." ucap Doni.
"Oke.. kau jalani saja seperti biasanya." ucap Theo.
__ADS_1
"Baik tuan." ucap Doni.
Mereka berdua pun menuju kantor dan malakukan meeting yg sempat tertunda selama 2 jam karena Theo tidak enak badan. Untungnya mereka hanya mengadakan meeting internal dan tak ada tamu dari luar perusahaan.
Meeting pun berjalan dengan lancar, dan setelah meeting usai Theo kembali ke toilet karena ia sangat mual. Pagi ini bahkan ia belum menyentuh makanan tapi sudah muntah beberapa kali.
"Anda baik-baik saja tuan? mau kupanggil dokter saja?" tanya Doni.
"Tidak kita ke rumah sakit saja.." ucap Theo.
"Baik tuan." ucap Doni yg langsung melakukan reservasi.
Mereka pun berangkat setelah yakin tak ada pekerjaan mendesak. Setelah tiba di rumah sakit, Theo pun langsung menuju dokterl langganannya.
"Jadi anda mengalami sakit kepala, mual dan muntah.. apa ada gejala lainnya?" tanya dokter Gery.
"Tidak ada dok, tolong berikan aku obat pereda mual.. rasanya sangat tak enak, aku bahkan belum menyentuh makanan pagi ini." ucap Theo.
"Baiklah, saya akan meresepkan obat.. tapi jika anda masih merasakan gejalanya kita akan melakukan pemeriksaan menyeluruh." ucap dr.Gery.
"Baik dok." ucap Theo.
Setelah diperiksa dengan seksama, Theo tak ada masalah sama sekali dengan lambungnya. Dan juga dr.Gery tak menemukan penyakit setelah memeriksanya jadi ia hanya meresepkan beberapa obat dan vitamin. Theo pun keluar dan Doni menemaninya untuk menebus obat.
Doni pun menebus obatnya setelah melihat kondisi Theo yg melemah.
"Iya.. aku harus mengerjakan beberapa berkas." ucap Theo.
"Tapi lebih baik anda makan dulu bekal buatan nyonya lalu minum obat pereda mual." ucap Doni.
"Terimakasih Don untung kau mengingatkanku." ucap Theo.
"Sama-sama tuan." ucap Doni.
Mereka pun kembali ke kantornya dan Theo menikmati bekal buatan Sheira tanpa ada rasa mual. Setelah itu ia minum obat dari dokter dan sejenak beristirahat. Lalu Theo melanjutkan pekerjaannya.
Selama beberapa hari ini pula Theo sensitif pada aroma-aroma parfum yg menyengat. Ia bahkan memarahi pegawainya kalau wangi parfumnya menusuk hudungnya. Bahkan pegawainya sampai melakukan rapat secara online karena Theo tak tahan dengan bau-bau menyengat.
Setelah beberapa hari, obat yg diresepkan dokkter Gery pun habis tapi gejala Theo masih sama. Theo pun harus kembali ke rumah sakit guna memeriksakan kondisinya. Ia tak mau sampai sakit dan membuat Sheira cemas.
Berdasarkan pemeriksaan keseluruhan Theo pun baik-baik saja. Tak ada penyakit serius atau semacamnya. Theo pun terdiam pada kasus yg ia alami saat ini. Dan dr.Gery cukup bingung akan penyakit yg dialami Theo. Hingga ia meminta Theo untuk mengurangi pekerjaan untuk menghilangkan stres atau bahkan mengambil cuti. Dr.Gery juga hanya meresepkan vitamin dan obat pereda mual pada Theo.
Theo pun keluar pintu ruangan dengan lemas dan Doni yg melihatnya cukup prihatin. Ia kemudian membawa tuannya ke mobil dan mengajaknya bicara .
"Tuan anda baik-baik saja?? apa ada berita buruk?" tanya Doni.
__ADS_1
"Justru aku baik-baik saja Don.. Padahal aku merasa mual yg luar biasa setiap pagi, belum lagi kadang-kadang kepalaku sangat sakit." ucap Theo.
"Apa kita mencari dokter lain saja tuan?? mungkin dokter lain bisa tahu." ucap Doni.
"Kau carikan saja Don.. kepalaku sudah pusing, bisa mengerjakan tugas kantor saja sudah bagus." ucap Theo.
"Baik tuan.." ucap Doni.
Mereka pun tetap kembali bekerja seperti biasanya. Walaupun menderita Theo tetap mencoba bekerja secara profesional. Dan Doni mencari dokter bagus yg bisa menyembuhkan penyakit tuannya. Doni pun menemukan dokter bagus melalui koneksinya. Dokter tersebut bekerja di rumah sakit keluarga Leon.
Setelah mengabari Theo, Theo pun setuju untuk melakukan pemeriksaan. Dan dibuatlah janji dengan dokter tersebut. Theo yg sudah lelah marasakan mual pun langsung berangkat begitu hari yg ditunggu tiba. Ia langsung berangkat bersama Doni pada pagi hari sesuai janjinya.
Dokter tersebut bernama dr.Viera. Ia langsung mengecek Theo dan tak mendeteksi penyakit apapun.
"Sudah berapa lama gejalanya?" tanya Viera.
"Sudah hampir sebulan dok, saya benar-benar tersiksa." ucap Theo.
"Mual, pusing, muntah.. ada lagi?" tanya Viera.
"Sensitif terhadap bau parfum menyengat.. " ucap Theo.
"Apa anda sudah menikah?" tanya Viera.
"Dok.. tolong saya sedang serius." ucap Theo.
"Memangnya seorang dokter boleh bercanda saat menangani pasien?" tanya Viera membuat Theo takut ditatap dengan tajam.
"Su-sudah dok.." ucap Theo.
"Sudah berapa lama?" tanya Viera.
"Sekitar 1 tahun lebih." ucap Theo.
"Tuan Theo, coba anda periksa istri anda ke dokter.. jika firasatku benar anda mengalami gejala kehamilan simpatik karena yg anda alami saat ini adalah gejala orang hamil di trisemester pertama." ucap Viera.
"Kehamilan simpatik.. ??" tanya Theo.
"Iya, lebih baik anda pulang dan temui istri anda. Ajak dia periksa ke dokter atau langsung tanya saja kapan istri anda datang bulan terakhir." ucap Viera.
"Jadi begitu ya.. baiklah terimakasih dok." ucap Theo.
"Oke.. aku takkan meresepkan apapun.. jadi anda langsung pulang saja." ucap Viera.
"Baik dok." ucap Theo yg masih bengong.
__ADS_1
Ia pun keluar dan langsung ke mobil bersama Doni. Mereka pun kembali ke kantor karena Theo masih tak paham maksud dari dokter, otaknya tiba-tiba blank dan pusing hingga tak bisa berfikir.