
Setelah beberapa hari menginap di rumah Sheira, Daniel dan Jasmine pun harus kembali ke US. Sebenarnya mereka berat meninggalkan Indonesia dengan segala kehidupan dan orang-orang yg mereka sayangi, tapi pekerjaan Daniel tidak bisa ditinggal lebih lama.
Hari ini mereka harus kembali sesuai jadwal. Dan Theo akan mengantar mereka sampai bandara, diikuti oleh David dan Tio. Sementara Sheira, ia harus bersama si kembar dan hanya berpamitan di rumah.
Daniel dan Jasmine pun berpamitan pada semuanya di bandara, mereka juga mengucapkan banyak terimakasih terutama pada Theo yg bersedia menyediakan tempat tinggal di rumah mereka demi keamanan baby Samuel.
"Terimakasih Theo, aku akan kemari lagi nanti .." ucap Daniel.
"Ya.. tak masalah, kau bisa datang kapan saja dan rumahku selalu terbuka lebar untukmu." ucap Theo.
"David, terimakasih sudah mengantarku.. Nanti kita harus banyak berbincang saat aku kembali." ucap Daniel.
"Kau tenang saja, nanti aku yg akan mengunjungimu jika kau tak bisa kemari." ucap David.
"Dan Tio, terimakasih.. aku juga senang mendengar kabar soal klinik barumu." ucap Daniel.
"Ya.. kau boleh mampir kapan-kapan." ucap Tio.
"Baiklah kami berangkat ya semuanya, sampau jumpa lagi.. " ucap Daniel berpamitan bersama Jasmine.
"Ya hati-hati." ucap ketiganya.
Setelah mengantar Daniel dan Jasmine, ketiganya berpencar ke arah masing-masing.
"Sampai jumpa lagi kawan nampaknya kita harus kembali bekerja." ucap David.
"Ya.. sampai jumpa lagi." ucap Theo.
"Ya.. aku menantikan saat kita bisa berkumpul lagi." ucap Tio.
Berpisahlah mereka bertiga menuju ke tujuan masing-masing. Theo pun ke kantornya untuk kembali bekerja, begitu juga dengan yg lainnya. Semuanya sangat sibuk dan saat waktunya berkumpul mereka akan menyempatkan diri walau sejenak.
Sementara Sheira, ia pun disibukkan dengan data-data perusahaan dan juga kedua anak kembarnya. Ia sebisa mungkin membagi waktunya, untuk anaknya dan pekerjaannya. Untungnya kedua putranya cukup tenang dan jarang menangis, tapi sekalinya menangis, keduanya seperti paduan suara yg saling bersahutan.
Kalau sudah menangis keduanya ingin bersama Sheira, dan sebisa mungkin Sheira menggendong keduanya perlahan. Tak bisa dibayangkan bagaimana jika keduanya semakin besar dan pastinya bobotnya juga akan semakin berat.
__ADS_1
"Kalian tak mau jauh dari mom ya.." ucap Viola karena keduanya ingin bersama Sheira.
"Iya Grams(Grandmom).. " balas Sheira.
"Mereka langsung tenang begitu berada di gendonganmu." ucap Viola.
"Iya mom, tampaknya aku harus latihan angkat beban jika begini.." ucap Sheira.
"Sepertinua begitu karena mereka akan semakin besar dan berat. " ucap Viola.
Setelah keduanya tenang, Viola pun membantunya dan merebahkannya di tempat tidur. Dibantu dengan babysitter yg sudah menghangatkan ASI untuk keduanya. Kini keduanya pun minum susu dan tidur dengan lelap. Hingga Sheira bisa lanjut bekerja. Sheira sangat terbantu dengan adanya ART dan babysitter dimana ia bisa bekerja dan mengurus anaknya tanpa memikirkan siapa yg akan bersih-bersih rumah.
Disela-sela kesibukannya mengurus di kembar, Sheora juga menyempatkan diri untuk memasak makanan dibantu Juminten untuk mempercepat prosesnya. Theo pun salut dengan Sheira yg masih menyempatkan memasak makanan untuknya disela-sela sibuknya Sheira mengurus kedua putranya.
"Terimakasih sayang, tapi kau tak harus begini biarkan bi Jum yg melakukannya kau pasti lelah." ucap Theo.
"Aku tak apa.. aku lebih bosan jika tak memasak." ucap Sheira.
"Baiklah.." ucap Theo.
Mengurus kedua bayinya, mengatur stok ASI, memasak, bekerja dari rumah mengontrol perusahaan dan bakery, begitulah kesibukan Sheira. Tapi untungnya semua orang bisa ia andalkan dan percaya. Serta Theo yg bisa menggantikannya di perusahaan selama ia masih si kembar masih belum bisa ditinggal.
Setelah si kembar berusia satu bulan, Sheira pun pergi ke kantornya untuk menghadiri rapat bulanan dengan dewan direksi. Sheira pun tetap tahu apa saja yg terjadi meskipun ia sudah absen selama beberapa bulan di kantor. Hal tersebut membuat mereka tak berani macam-macam dengannya.
Hingga saat pulang kantor, Sheira pun langsung mandi dan mengganti pakaiannya sebelum menemui si kembar. Ia tak mau pulang membawa virus dan sebagainya. Dan wajah mereka pun nampak seperyi begitu merindukan ibunya.
"Wah kalian anak pintar, mom bekerja seharian dan kalian bisa tenang bersama nanny.." ucap Sheira memeluk keduanya bergantian.
Tapi yg dipeluk tak ingin dilepaskan sehingga keduanya berada di pangkuan Sheira. Keduanya tak mau lepas dan ingin bersama ibunya.
"Terimakasih ya sus.. anak-anak tidak rewel kan?" tanya Sheira.
"Iya bu, anak-anak cukup tenang dan langsung tertidur setelah dimandikan dan diberi susu." ucap salah seorang babysitter.
"Baiklah, malam ini mom akan bermain bersama kalian." ucap Sheira.
__ADS_1
Sheira pun bersama kedua putranya bermain dan mulai mengajak mereka bicara. Hingga Theo datang dan diabaikan. Theo pun merasa kini si kembar mulai merebut perhatian Sheira dari dirinya. Meskipun iri tapi Theo berusaha mengerti kalau mereka memang membutuhkan Sheira.
"Dad sudah pulang.." ucap Sheira dan mereka pun hanya mengoceh sambil tersenyum.
Theo pun menghampiri mereka setelah mandi, dan menggendong Nathan. Tapi Nicholas lebih memilih bersama Sheira. Tapi nanti keduanya akan bertukar bayi mereka agar adil. Dan ujung-ujungnya, keduanya tetap memilih Sheira untuk menemani tidur mereka.
Theo pun harus bersabar dan menikmati makan malamnya sendirian. Ia juga menengok ke kamar bayi selama beberapa saat dan melihat Sheira dan para babysitter sedang mencoba menidurkan mereka.
Theo yg lelah pun akhirnya memutuskan ke kamarnya berharap Sheira menyusulnya. Selang beberapa menit, Sheira pun ke kamarnya menyusul Thei setelah Nicholas dan Nathan tidur. Sheira pun menghampiri Theo yg nampak kesepian.
"Sayang, aku sudah selesai." ucap Sheira.
"Oh baguslah, aku tak menyangka kedua bayi itu begitu merebut perhatianmu." ucap Theo.
"Haha.. kau cemburu pada anakmu sendiri..?" tanya Sheira.
"Mau bagaimana lagi, mereka selalu mencarimu apalagi saat sedang menangis." ucap Theo.
"Kau ini seperti anak kecil saja, mereka kan anakmu .. " ucap Sheira.
"Iya aku tahu dan berusaha mengerti." ucap Theo.
"Tapi.. aku juga merindukanmu." ucap Theo.
"Baiklah, kemarilah.." ucap Sheira membuka tangannya dan Theo menghampirinya dan memeluknya.
Keduanya pun hanyut dalam kasih sayang dan cinta, hingga tangisan si kembar mengusik aktivitas mereka.
"Kalau sudah begini, mereka pemenangnya.. " ucap Theo.
"Mereka masih tak tahu apa-apa." ucap Sheira.
"Tapi mereka pengganggu terbaik disini." ucap Theo.
"Yasudah ayo temani aku kesana." ucap Sheira.
__ADS_1
Mereka pun merapikan pakaian dan menuju ke ruang bayi, dimana pada nanny sedang menenangkan mereka. Dan mereka hanya bisa tenang setelah berada di pelukan Sheira. Walau kesulitan menggendong dua bayi, tapi Sheira tetap melakukannya dibantu oleh Theo. Mereka pun tenang seketika dan salah satu bayi digendong oleh Theo dan diberi susu. Keduanya pun kembali tidur, dan orangtuanya juga ikut lelah hingga mereka berempat pun tidur di kamar bayi setelah para nanny itu keluar.