Affair With Me??

Affair With Me??
EP.14 Tersakiti


__ADS_3

Sakit dan sesak yg memenuhi dadanya, membuat Sheira tak memiliki gairah untuk hidup. Tapi saat membayangkan Pinkan beserta ibu mertuanya bahagia di atas penderitaannya, Sheira pun merasa harus bangkit. Ia harus tetap hidup bagaimanapun caranya.


Walau ia kehilangan selera makannya, Sheira tetap berusaha menelan agar setidaknya cukup hatinya saja yg sakit tubuhnya harus sehat untuk terus mencari nafkah. Sheira sadar satu hal, ia punya keberuntungan karena memiliki pekerjaan yg akan membuatnya bertahan tanpa Aryo nanti.


Sheira pun kembali bekerja, bekerja dan bekerja. Ia sekuat tenaga menerima semua rasa sakitnya dan menjalani hidupnya seperti biasanya. Ia pun pergi ke pusat kebugaran agar pikirannya lebih fokus. Juga ia sering melakukan ibadah agar hatinya sedikit lebih ikhlas dan tenang.


Sudah 3 hari suaminya tidak pulang ke rumah, dan menurut laporan terakhir sang detektif, Aryo dan Pinkan pergi untuk berbulan madu. Sakit tapi tak berdarah, itulah ungkapan yg tepat untuk Sheira. Sudah tak dihargai, dikhianati pula. Rasanya ia harus berbuat sesuatu pada kehidupan pernikahannya.


Selepas dari Gym, Sheira pulang ke rumah dan berfikir keras. Mungkin suaminya akan datang bersama ja***ang tersebut, dan mungkin juga wanita itu akan menguasai bukan hanya suaminya tapi rumahnya. Dengan cekatan Sheira membereskan semua berkas aset-aset pribadi miliknya. Mobil, ruko, toko, dan rumah peninggalan orang tuanya yg kini ia sewakan.


Setelah semua terkumpul, Sheira menaruhnya di brankas miliknya. Dan juga ia memindahkan seluruh barang-barangnya dari kamar utama menuju kemar yg ia tempati saat ini. Meskipun bukan kamar utama tapi kamar tersebut cukup luas dan berada di lantai 2. Kamar yg sebenarnya ditujukan untuk kamar bayinya nanti, tapi karena tak kunjung memiliki keturunan kamar tersebut pun dibiarkan seperti kamar tamu.


"Aku harus punya tempat tinggal selain disini.." gumam Sheira.


Sheira pun mencari informasi mengenai apartemen atau rumah yg bisa ia beli walaupun harus mencicilnya. Ia tak bisa tinggal di rumah orangtuanya karena masih ada penghuni yg mengontrak rumah tersebut.


Ada beberapa pilihan, hanya tinggal ia survei saja lokasinya. Sheira pun sudah menghubungi beberapa agennya.


"Tempat tinggal.. aku harus mendapatnya.." gumam Sheira.


Kemudian ia, memilih tidur lebih awal dan mengistirahatkan otaknya karena banyak hal yg sedang ia pikirkan. Hatinya?? sudah pasti hancur, tapi ia sudah tak peduli lagi karena yg terpenting adalah bertahan hidup dan bercerai.


Tengah malam, bel rumah tersebut pun berbunyi tapi Sheira tak menggubrisnya. Sementara Pinkan dan Aryo pun terus berusaha untuk bisa masuk karena lelah.


"Mas, istrimu itu sedang apa sampai mengabaikanmu?" tanya Pinkan kesal.


"Mungkin dia sedang tidur.." balas Aryo.


"Atau sedang bersama pria lain?" ucap Pinkan memancing emosi Aryo.


Aryo pun langsung menghubungi Sheira berkali-kali. Dan akhirnya Sheira pun bangkit karena merasa terganggu.


"Akhirnya sa***pah ini pulang juga.." gumam Sheira langsung turun ke bawah dan membukakan pintu.


Cklekk..


"Lama sekali.." gerutu Pinkan.


"Mungkin kalian lupa mengucapkan salam, jadi aku malas membukakan pintunya.." ucap Sheira.


"Sheira sedang apa kau di dalam? apa sedang bersama pria lain?" tanya Aryo.


"Untuk apa? untuk membalas perbuatan Mas?? buang-buang tenaga dan waktuku saja.. " ucap Sheira santai.

__ADS_1


"Silahkan kalian nikmati kamar utama, karena aku sudah membereskan barang-barangku disana.." ucap Sheira.


"Sayang kenapa kau yg keluar??" tanya Aryo.


"Dan bagaimana kau tahu kalau aku akan datang bersama Pinkan.?" tanya Aryo.


"Aku tidak bodoh Mas, kau tidak pulang berarti kau menikahinya.. untuk apa bertanya hal yg sudah jelas.. Sudah ya aku masih ngantuk.. " ucap Sheira.


"Lain kali ucapkan salam jika masuk ke dalam rumah.." ucap Sheira lalu naik ke lantai 2 menuju ke kamarnya.


"Sombong sekali.." gerutu Pinkan.


"Sheira benar, kita tak mengucapkan salam.. " ucap Aryo.


"Sudahlah Mas aku lelah.. " ucap Pinkan meninggalkan koper-kopernya begitu saja.


"Pinkan bawa kopermu..!" ucap Aryo.


"Mas, aku lelah.. kau saja yg bawa.." ucap Pinkan.


"Dimana kamar utamanya..?" tanya Pinkan.


Aryo pun dengan sabar menunjukkan kamarnya. Kamar yg biasanya ia tempati bersama Sheira, dan rasa bersalah pun muncul karena semua barang-barang Sheira hilang dari tempat tersebut.


"Pagi sayang.." sapa Aryo.


"Pagi.." balas Sheira.


"Kenapa hanya satu?" tanya Pinkan melihat hanya ada 1 piring sarapan tanpa pemiliknya di meja.


"Sheira kau tak membuatkan untuk Pinkan?" tanya Aryo.


"Hmm.. aku istrimu Mas, jadi aku hanya menyiapkan untukmu.." balas Sheira mulai kesal.


"Tapi sekarang ada Pinkan.." ucap Aryo.


"Dia juga kan istrimu, harusnya dia tahu harus berbuat apa, kecuali dia tidak bisa memasak.." ucap Sheira.


"Baiklah, aku mengerti.." ucap Aryo.


"Sayang kau makan punyaku saja.." ucap Aryo pada Pinkan.


"Tapi kau makan apa?" tanya Pinkan.

__ADS_1


"Aku akan sarapan di kantor saja.." ucap Aryo lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap.


"Baiklah.." balas Pinkan lalu duduk dan menikmati sarapannya.


Sheira pun bangkit dari duduknya tanpa menghabiskan makanannya. Rasanya mual sekali hidup seatap bahkan makan satu meja dengan madunya. Ia pun membereskan piringnya dan pergi bekerja.


"Kau mau kemana?" tanya Pinkan.


"Bukan urusanmu.." ucap Sheira.


"Lalu siapa yg membereskan ini semua?" tanya Pinkan.


"Kau kan punya tangan.." balas Sheira lalu pergi.


"Seenaknya saja, maaf ja**ang aku bukan pembantumu.." gumam Sheira dalam hati.


Sheira pun melajukan mobilnya menuju ke bakery miliknya. Ia mengecek semua pekerjaannya dan semakin hari usahanya semakin lancar saja. Dan omset bulan ini cukup besar hingga ia bisa punya uang tambahan untuk membeli tempat tinggal.


Siang harinya, Sheira ada janji dengan agen apartemen. Ia ingin melakukan survei pada apartemen yg akan ia beli.


"Silahkan nyonya, lihat semuanya.. semua fasilitas kami lengkap dan aman.. agar konsumen puas.."


"Terimakasih.." balas Sheira melihat-lihat.


"Nyonya, disini juga ada view pemandangan yg indah saat malam hari.." ucapnya seraya menunjukkan jendela yg mengarah ke luar dengan pemandangannya.


"Wah, menarik sekali.." ucap Sheira yg tertarik.


"Dan kami mengedepankan keamanan agar penghuni nyaman tinggal disini.." ucapnya menjelaskan berbagai fasilitas.


"Aku tertarik pada apartemen ini.." ucap Sheira.


"Jika anda sudah yakin, kita bisa melakukannya hari ini.." ucap sang agent tersebut.


Dan Sheira pun membeli apartemen tersebut secara cash, dengan uang yg ia kumpulkan selama ini.


"Kini aku punya tujuan untuk pergi dari rumah itu.." gumam Sheira dalam hati.


Sheira sungguh puas akan apartemen tersebut, mewah, berkelas, aman, nyaman dan pastinya tak kalah dengan rumah suaminya.


Sementara Pinkan, ia sedang berada di rumah sendirian. Ia pun mengacak-acak rumah tersebut dan menikmati camilan yg ada di lemari. Sheira pun langsung menggelengkan kepalanya melihat rumahnya seperti kapal pecah padahal hanya ada Pinkan disana. Ya, Pinkan terbiasa hidup dengan ART yg akan membereskan semuanya. Sementara Sheira akan membereskan dan membersihkan semuanya sendiri. Hanya sesekali ia memanggil petugas yg akan membersihkan rumah besar tersebut biasanya satu kali dalam sebulan.


"Kita lihat bagaimana respon Mas Aryo melihat ini.." gumam Sheira.

__ADS_1


__ADS_2