
Setelah Jasmine dan Daniel pindah, Sheira pun jadi sering melakukan panggilan telepon pada Jasmine. Mereka pun berbagi cerita disana, dan sesekali Jasmine mengirimkan foto baby Samuel yg mulai besar dan semakin tampan. Begitu juga dengan Sheira yg mulai mengalami perubahan pada tubuhnya dan perutnya semakin membesar.
Jasmine pun menyarankan beberapa hal yg ia alami saat hamil Samuel. Dan Sheira mengikuti arahan Jasmine yg sama persis dengan yg dikatakan oleh dr.Hana.
Kedua anak kembar Sheira pun semakin aktif di dalam perutnya. Pergerakan mereka pun sudah semakin sering dan itu membuat Sheira senang tiap kali mereka mulai bergerak. Theo pun juga ikut terkejut bisa melihat kejadian yg pertama kali ia ketahui.
"Wah mereka bergerak, mereka benar-benar bergerak." ucap Theo.
"Iya.. mereka sudah besar dan semua organnya pasti sudah sempurna sampai bisa bergerak." ucap Sheira.
"Akhirnya aku bisa melihatnya secara langsung." ucap Theo.
"Sayang ayo kita tes gender mereka." ucap Sheira.
"Kau tak ingin jadi kejutan?" tanya Theo.
"Tidak, kita butuh persiapan sayang.. Baju-baju dan sebagainya aku takut salah membelikan baju dan barang lain yg akhirnya jadi mubazir." ucap Sheira.
"Baiklah, ayo kita lakukan.. mom juga penasaran." ucap Theo.
"Oke.." ucap Sheira.
Sheira pun mengatur janji dengan dr.Hana. Ia ingin tahu gender kedua anaknya, agar tidak sulit untuk membelikan pakaian dan kebutuhan mereka. Dan waktunya pun langsung ditentukan oleh dr.Hana. Sheira dan Theo pun sudah tak sabar untuk melihat kedua anak mereka.
Hari yg dinantikan pun tiba, dan Sheira sungguh sangat semangat menantikannya. Mereka berangkat pagi itu juga, dan Theo mengantarkannya sebelum pergi ke kantor.
__ADS_1
Keduanya pun sudah tak sabar dan ingin tahu hasilnya. Begitu memasuki ruang dr.Hana Sheira pun diarahkan ke tempat tidur dan diperiksa. Perlahan dr.Hana menempelkan alatnya di perut Sheira dan muncullah gambar di layarnya. Dr.Hana pun tersenyum karena kondisi kedua janin tersebut sehat. Dan ia memastikan gendernya beberapa kali kalau mereka berdua laki-laki.
"Selamat nyonya Sheira dan tuan Theo kedua anak kalian sepertinya laki-laki." ucap dr.Hana.
"Benarkah dok?" tanya Sheira.
"Iya, sepertinya begitu dan kita bisa lihat nanti saat mereka lahir." ucap dr.Hana.
"Terimakasih dok, mereka berdua sehat kan? " tanya Theo.
"Ya mereka berdua sehat, dan tak ada kelainan.. semua organnya lengkap." ucap dr.Hana.
"Syukurlah dok." ucap Theo.
"Nyonya Sheira jangan terlalu lelah dan rajin berolahraga.. serta dijaga asupan makanannya." ucap dr.Hana.
Setelah konsultasi dari ruangan dr.Hana mereka pun keluar dengan bahagia. Sheira yg sudah terlihat seperti ibu hamil dengan perut besarnya pun berjalan perlahan di dampingi Theo disebelahnya. Mereka kelihatan bahagia menanti kedua anaknya.
Dari kejauhan ada sepasang mata yg terkejut seolah tak percaya. Dia adalah Aryo, ia merasa terkejut melihat Sheira bisa hamil. Dan selama ini ia sudah dibohongi oleh ibunya yg sering mengatakan kalau Sheira mandul. Kini ia menyesal sudah mempercayai ibunya yg dulu begitu membenci Sheira. Dan ia iri melihat Sheira yg hamil dan kelihatan begitu bahagia dengan Theo. Harusnya ia yg berada disana bersama Sheira, tapi karena kebodohannya ia justru tak mempercayai Sheira dan terjebak pernikahan dengan Pinkan.
Mau marah pun percuma, mau kecewa juga tak ada gunanya dan Sheira takkan pernah kembali padanya terlebih ia akan segera memiliki anak dengan Theo. Yg tersisa dari Aryo hanyalah penyesalan, bagaimana bisa ia tak percaya pada istrinya dahulu?? bagaimana ia tak mencaritahu siapa Pinkan dan setuju saja saat ia dijebak?? Dan bagaimana ia tega memukuli Sheira dan menekannya?? Semua pemikiran yg ada dikepalanya pun membuatnya jatuh pingsan.
Tapi dia berada di rumah sakit dan langsung ditangani dokter. Sepertinya Aryo sedang stres berat, ia memiliki kekecewaan yg dalam pada hidupnya yg sekarang. Dan harusnya ia menemani ibunya cek ke dokter tapi justru malah dirinya sendirilah yg dirawat disana.
Siti serta Sigit pun cemas akan kondisi Aryo. Setelah Aryo sadar, keduanya pun bertanya apa yg terjadi hingga putra mereka pingsan, apakah ada yg ingin mencelakai Aryo dan jawaban dari Aryo membuat Siti merasa malu.
__ADS_1
"Sheira sedang hamil, dan tuduhan ibu selama ini tidaklah benar." ucap Aryo.
"Maafkan ibu nak, ibu memang sangat jahat dulu padanya.. Tapi saat ini ibu sudah meminta maaf dan dimaafkan olehnya." ucap Siti.
"Ya aku tahu, aku tahu juga kalau semuanya sudah terlambat dan tak bisa diperbaiki lagi." ucap Aryo.
"Aryo, jangan begini hidupmu masih panjang.. kau harus bisa mengatasi permasalahan hidupmu yg mungkin akan membuatmu bertemu pasanganmu nantinya." ucap Sigit.
"Baik ayah aku tahu, aku hanya kecewa pada diriku sendiri. " ucap Aryo.
Setelah itu, Aryo pun dirawat beberapa hari di rumah sakit. Dan Siti maupun Sigit bergantian menjaganya. Siti pun menyesali perbuatannya, dan ia tahu bagaimana Aryo kecewa padanya. Ia sering kali menyebut kalau Sheira mandul padahal kini Sheira bisa hamil. Dan Siti sudah memastikannya, dengan bertanya pada suster yg berjaga.
"Aku sudah menghancurkan hidup anakku." gumam Siti menangis.
Mau menangis pun sudah tak ada gunanya karena nasi sudah menjadi bubur. Kini hanya tinggal dirinya yg harus membuat Aryo kembali seperti dulu, dan semangat menjalani hidupnya yg berat. Bagaimana tidak berat kalau Aryo belum bisa merelakan cintanya. Sekeras apapun ia berusaha, bayangan Sheira terus muncul menghampirinya. Dirumahnya Aryo pun terbayang saat Sheira memasak, membersihkan rumah atau saat ia sedang bekerja di depan laptopnya. Hingga akhirnya Sigit memintanya untuk menjual rumah milik Aryo untuk menghilangkan bayangan masa lalunya bersama Sheira.
"Kau jual saja rumahmu dan kembali ke rumah bersama ayah dan ibu." ucap Sigit.
"Aku masih belum bisa ayah." ucap Aryo.
"Kau pasti bisa, jika terus begini kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri. Kau harus move on seperti Sheira yg bisa menemukan kebahagiaannya.. dan kau pasti bisa." ucap Sigit.
"Aku akan memikirkannya ayah." ucap Aryo.
Semalaman Aryo pun berpikir keras kalau apa yg dikatakan ayahnya benar. Ia harus ikhlas dan melupakan Sheira termasuk semua kenangan mereka di rumah tersebut.
__ADS_1
Akhirnya Aryo pun membulatkan tekatnya untuk menjual rumah tersebut beserta perabotannya. Semua dilakukan untuk melupakan kenangannya bersama Sheira dan memulai hidup baru. Jika Sheira bisa bahagia, kenapa Aryo juga tidak bisa. Meski berat dan sedih Aryo pun melangkah maju dan berusaha melupakan Sheira. Seorang wanita yg masih ada di hatinya tapi kini sudah menjadi istri orang lain. Hal yg tak boleh Aryo lakukan, karena itu sangat berdosa jika ia masih menginginkan Sheira.
Tapi sebuah tindakan yg diambil oleh Aryo adalah mengambil pekerjaan di luar negeri. Ia ingin memulai hidup barunya disana dan kembali saat ia siap. Dan ia juga bisa menutupi kelemahannya dari orangtuanya dimana ia mengidap penyakit mental pasca ditinggal Sheira. Anxiety atau gejala kecemasan yg dialami Aryo juga cukup menyulitkan hidupnya. Sepertinya ini karma atas kejahatannya dahulu.