
Grace pun mulai curiga sejak awal Risa dan klien tersebut bisik-bisik. Belum lagi tempat duduk Grace yg berada di samping klien yg seusia dengan daddy nya. Grace pun mulai berfikir yg bukan-bukan melihat situasi saat ini.
Awalnya semua berjalan dengan normal dan benar-benar membahas soal project. Grace pun menanggapinya dengan serius dan memberikan beberapa masukan. Setelah membahas masalah project, mereka pun makan malam tanpa adanya kesepakatan karena katanya semua tergantung pada pertemuan mereka malam ini dan besok akan ditentukan hasil kesepakatannya.
Grace pun semakin merasa curiga, tapi ia tetap tenang. Dan mereka semua makan dengan malam dengan suasana santai. Keadaan seakan-akan dibuat sesantai mungkin agar Grace tak bisa mencurigainya.
Hingga setelah makan, Risa mulai berbisik pada Grace.
"Grace, kau harus mengikuti apa kata klien kita." ucap Risa berbisik.
"Tergantung bagaimana permintaan mereka senior." balas Grace.
"Kau ini.. ingat jangan buat bu Angel malu." ucap Risa.
"Ya.. asalkan tak merugikanku aku setuju." ucap Grace.
Setelah itu, nampak wajah Risa kesal dan menatap Grace dengan pandangan penuh intimidasi. Hingga klien mereka bernama tuan Ben mendekati Grace.
"Jadi bisakah kita keluar dari resto ini." ucapnya pada Grace.
"Bukankah, kita hanya membahas project di resto ini?" tanya Grace.
"Nona Risa bagaimana ini? apa kau yidak menjelaskannya?" tanya Ben.
"Maaf tuan, akan saya beritahu." ucap Risa lalu menarik Grace.
"Grace kau ikuti apa kata tuan Ben, ini demi perusahaan dan project pertamamu." ucap Risa.
"Kalau begitu, tuan Ben kemana kita akan pergi?" tanya Grace.
"Tentu saja ke hotel." ucap Ben.
"Hotel mana dan siapa yg akan kita temui, lalu apakah tidak terlalu larut membicarakan bisnis di hotel saat ini?" tanya Grace.
"Pembicaraan kita sudah selesai mengenai project, dan tentu saja disana hanya ada kita berdua.. apa Risa tak memberitahumu?" tanya Ben.
"Ternyata aku dijebak. Maaf, aku bukan wanita rendahan yg mau menuruti lelaki yg seumuran ayahku untuk ke hotel yg pastinya melakukan hal yg tidak masuk akal." ucap Grace.
"Grace, kau mau dipecat?" tanya Risa.
"Sebelum dipecat aku akan mengajukan surat pengunduran diri. Permisi." ucap Grace.
"Tidak bisa begini.." ucap Ben menahan tangan Grace.
"Apa maksud anda? Oh iya tuan Ben kau dari V.corp kan? mau kuberi kejutan?" tanya Grace.
"Kau malam ini harus bersamaku." ucap Ben.
"Fiki bantu aku membawa wanita ini." perintah Ben.
"Baik tuan." ucap Fiki asisten Ben.
"Maaf tuan Ben, lebih baik lepaskan tanganku sebelum kau menyesal.." ucap Grace.
"Apa yg akan kau lakukan? kau bahkan menanyakan V.corp??" tanya Ben sambil tertawa.
"Apa kau kenal tuan Theo dari Alfa.corp.?" tanya Grace.
"Lalu, kau tak mungkin putrinya kan? atau saudara jauhnya? hahaha.. berhenti bercanda." ucap Ben.
__ADS_1
"Tak apa, hanya memastikan." ucap Grace.
Grace pun langsung menendang perut Fiki dan ia langsung terjatuh kesakitan. Dan Grace melepaskan diri dari tangan Ben. Sungguh menjijikan ia dipaksa bersama pria yg seusia ayahnya sendiri. Grace pun mengunci tangan Ben dan sedikit mengancamnya.
"Tuan Ben, kuberi peringatan kecil.. berhenti menggangguku jika ingin reputasimu tak hancur. " ucap Grace.
"Grace apa yg kau lakukan?" tanya Risa yg kemudian menyiram minuman pada Grace.
Dengan cepat Grace menghindar dan malah menyiram tubuh Ben.
Byurr..
"Akh Risa apa yg kau lakukan?" tanya Ben kesal.
"Aku sudahi rapat memuakkan ini.. senior mulai hari ini aku mengundurkan diri dari kantor suratnya akan tiba besok, dan tuan Ben ingat kata-kataku jika tak ingin hancur." ancam Grace kesal lalu meninggalkan ruangan privat yg sudah disewa oleh perusahaan.
"Grace tunggu, kau tak bisa begini..!" ucap Risa kesal.
"Fiki, apa yg kau lakukan tangkap gadis itu.!" perintah Ben.
"Baik tuan." ucap Fiki.
Fiki pun menelpon anak buahnya di luar ruangan untuk menangkap Grace. Dan nampak beberapa orang berbadan besar menghalanginya keluar dari dalam resto.
"Paman bantu aku.. dan hubungi kakakku." ucap Grace di telepon.
"Baik nona." ucap salah seorang.
Grace pun menghadapi situasi sekarang dan melihat resto nampak sudah sepi karena mungkin sudah dibuat demikian oleh Ben yg tak ingin membuat skandal.
"Ada apa ini?" tanya Grace.
"Benarkah?" tanya Grace yg langsung melempar tasnya ke wajah salah satu bodyguard milik Ben.
Bughh..
"Akhh.." ucap pria itu kesakitan saat tas tersebut mengenai matanya.
Grace pun menghadapi pria lainnya di hadapannya. Tak mudah dan ia harus berhati-hati mengingat tubuh mereka yg besar dan tenaga mereka yg lebih kuat dari dirinya. Tapi Grace punya satu hal, yakni kecepatan karena tubuhnya yg ringan.
Grace pun hanya memukul bagian vital mereka karena tak mungkin melawan mereka semua.
Bughh..Bughhh..Bughhh.
Tapi Grace pun tak bisa menangani mereka semua hingga ia terkena pukulan. Bughh..
"Akh.." ucap Grace.
"Berhenti..!" ucap bodyguardnya yg menodongkan senjata di kepala pria yg tengah berhadapan dengan Grace.
"Siapa kalian?" tanya orang-orang Ben.
"Lebih baik, kalian melepaskan nona kami dan melawan kami jika kalian benar-benar pria sejati. " ucap salah seorang bodyguard.
"Terimakasih paman." ucap Grace saat dilepaskan.
"Nona, pergilah ke mobil dan tinggalkan tempat ini.. ini perintah tuan Nicho." ucapnya lagi.
"Baiklah." ucap Grace.
__ADS_1
Kini para bodyguard Grace pun melawan orang-orang Ben. Dan berhasil menumbangkannya. Tapi Fiki yg melihat Grace keluar dari resto pun membuntutinya dan hendak menculiknya sesuai perintah bosnya.
"Mau kemana kau?" tanya Fiki menahan tangan Grace.
"Cur**t satu ini tak kenal takut." ucap Grace.
"Kurang ajar..!" ucap Fiki hendak memukul Grace tapi tiba-tiba sesuatu menimpa kepalanya dan pandangannya pun hilang. Fiki pun jatuh pingsan.
"Senior Jefry.." ucap Grace terkejut karena Jefry memukul Fiki dengan sebuah kayu.
"Kau taka apa Grace? apa yg terjadi?" tanya Jefry.
"Ceritanya panjang, aku dijebak oleh atasanku. " ucap Grace.
Tak lama, Nicho datang dengan panik dan melihat Grace bersama Jefry.
"Grace.. kau tak apa?" tanya Nicho.
"Iya kak.. aku baik-baik saja.. senior juga membantuku." ucap Grace.
"Bukankah dia tak bisa memukul orang.?" tanya Nicho.
"Dia menggunakan kayu di tangannya untuk memukul kepala pria ini." ucap Grace.
Lalu, tiba-tiba Ben keluar dengan hati-hati menuju ke mobilnya.
"Si tua bangka itu mencoba kabur.." ucap Grace melihat Ben.
"Kau diam saja disini.. aku yg akan menghajarnya." ucap Nicho.
Nicho pun dengan cepat menghampirinya dan menahannya.
"Mau kemana kau tuan Ben." ucap Nicho sembari menarik bahunya dan memukul wajahnya.
Bughh..
"Akh.. tuan Nicho apa yg kau lakukan?" tanya Ben bingung.
"Silahkan ikut aku ke kantor polisi dan nanti akan aku jelaskan." ucap Nicho yg langsung mengunci tangan Ben.
Para bodyguard juga sudah berhasil membersihkan anak buah Ben. Malam itu juga Nicho menyeret mereka ke kantor polisi.
Theo dan Sheira pun terkejut, mereka langsung menuju ke kantor polisi. Begitu juga dengan Nathan yg rela meninggalkan lukisannya yg belum selesai.
"Grace.." ucap Nathan berlari menghampirinya.
"Kak Nathan, aku baik-baik saja. " ucap Grace melihat nampaknya Nathan panik.
"Syukurlah, aku senang kau baik-baik saja." ucap Nathan lega.
"Iya kakak tenang saja, aku sudah mempersiapkan segalanya." ucap Grace.
"Jadi kau tahu kalau kau dijebak dan kau diam saja?" tanya Theo yg baru tiba.
"Grace, kenapa ku bergerak sendiri?" tanya Sheira.
"Sudahlah mom.. dad.. aku sudah membawa paman bodyguard dan mereka cukup bisa melindungiku." ucap Grace.
"Grace, dad tak terima dengan insiden ini.. dad akan menuntut perusahaanmu dan juga Ben si tua bangka." ucap Theo kesal.
__ADS_1
Akhirnya Theo pun menuntut perusahaan tempat Grace bekerja dan juga Ben. Ben pun menyesal atas tindakannya malam ini yg menghancurkan reputasinya. Belum lagi hubungannya dengan Theo akan langsung terputus karena Theo begitu marah padanya.