
Sheira yg tengah sibuk kesana kemari, mengurus perusahaan dan juga bakery-nya kini sedang mengecek salah satu cabang bakery baru yg akan dibuka di kota lain. Ia pun diantarkan oleh pengawal Theo yg bertugas sebagai sopir dan menjaganya.
"Nona nampaknya kita diikuti seseorang." ucap sang sopir bernama Anton.
"Benarkah? sejak kapan mobil itu mengikuti kita?" tanya Sheira.
"Sejak kita keluar jalan tol nona." ucap Anton.
"Baiklah.. terus saja jalan." ucap Sheira.
"Baik nona." ucap Anton.
"Aku punya rencana, menurutmu mereka ada berapa orang?" tanya Sheira.
"Kalau menguntit biasanya 1 atau 2 orang." ucap Anton.
"Oke.. kita jebak mereka di area C." ucap Sheira.
"Anda yakin nona?" tanya Anton.
"Tentu saja, aku ada ini.." ucap Sheira menunjukkan alat kejut listrik.
"Oh.. bagus kalau begitu." ucap Anton.
Anton pun menjebaknya di area C. Area sepi yg jarang dilintasi oleh pengguna jalan. Mereka pun bersembunyi di suatu tempat agar pada stalker tersebut keluar dari persembunyian.
Begitu, mereka tiba di tempat mereka melihat mobil Sheira sudah tak ada. Dan hal itu membuat mereka bingung.
"Kemana mobil tadi?"
"Aku tak tahu.. "
"Kau mau kemana?"
"Aku akan turun.. dan melihat sekitar."
"Baiklah."
"Aku yakin mobil hitam tadi lewat sini."
"Ini tempat yg sepi.. apakah kau yakin?"
"Iya."
"Oh.. jadi kalian yg mengikutiku?" tanya Sheira tiba-tiba muncul.
"Maaf anda sepertinya salah paham." ucap salah seorang.
"Benarkah? bukannya kalian mengikuti mobil hitam milikku yg terparkir disana? dan tak ada mobil hitam lain yg melintas kemari kecuali mobilku." ucap Sheira.
"Maaf nona anda salah paham." ucap mereka lagi.
"Oke.. aku akan mengingat wajah kalian, jika kalian benar mengikutiku maka aku takkan segan-segan menangkap kalian." ucap Sheira.
Sheira pun pergi bersama sang sopir. Sementara mereka hampir saja ketahuan. Dan perintah Aryo adalah mengikuti Sheira tanpa membuat masalah yg tak perlu, apalagi cara kekerasan. Sheira pun tersenyum setelah melihat wajah pucat mereka yg ketahuan.
__ADS_1
"Anton mulai sekarang kau ingat wajah mereka berdua." ucap Sheira.
"Baik nona." ucap Anton.
Sheira pun kembali melanjutkan perjalanan dan mereka tak bisa mengikuti karena sudah ketahuan. Aryo yg mendapat kabar tersebut pun meminta mereka kembali karena tak mungkin dilanjutkan lagi.
Sheira pun melanjutkan pekerjaannya dan selesai pada sore hari. Ia langsung kembali begitu pekerjaannya selesai. Dan ia langsung menuju ke kantornya untuk mengecek beberapa pekerjaan.
☘☘☘
Sementara Theo mendapat laporan kalau Sheira kembali diikuti oleh seseorang. Hal tersebut membuat Theo semakin memperketat pengawasan karena takut yg mengikutinya berniat buruk.
Theo yg sedang sibuk diruangannya pun tengah mengurusi beberapa pekerjaan lainnya, hingga seseorang masuk dan membuatnya terkejut. Orang tersebut adalah Pinkan, ia kini berusaha kembali menggoda Theo.
"Permisi Pak, aku mengantarkan berkasnya." ucap Pinkan.
"Ya taruh saja di meja." ucap Theo datar tanpa menatap wajah Pinkan.
"Kalau begitu saya permisi." ucap Pinkan pergi dan Theo hanya diam saja tak menjawab.
Pinkan pun kesal mendapat perlakuan dingin dari Theo. Ia merasa gagal lagi di percobaan pertamanya. "Lihat saja aku akan berusaha mendapatkanmu kali ini" gumam Pinkan dalam hati.
Theo pun tak mau menanggapi Pinkan karena tahu ada niat terselubung dirinya bergabung di perusahaan ini.
Bahkan pada jam istirahat Pinkan terus mencari perhatian Theo, padahal Theo terus mengabaikannya.
"Selamat makan Pak.." ucap Pinkan.
"Ya." ucap Theo tanpa menatapnya.
"Tidak ke kantin pak?" tanya Pinkan.
"Tidak." balas Theo dingin dan langsung pergi. Doni sang asisten pun menegurnya.
"Nona Pinkan, anda sudah membuat tuan Theo tak nyaman, bisakah anda menjaga sikap anda?" tanya Doni.
"Baiklah." ucap Pinkan yg tahu seperti apa asisten Theo yg satu ini.
Doni pun pergi meninggalkan Pinkan dan berharap wanita itu paham situasinya. Pinkan yg tahu Doni diam-diam menakutkan saat terganggu pun ia memilih untuk menurut.
Tibalah Theo disebuah resto tempatnya janjian bertemu dengan Sheira. Tak lama Sheira datang dan mereka makan siang bersama. Dan lagi-lagi ada stalker yg mengikuti Sheira. Ia duduk tak jauh dari meja Theo dan Sheira.
Stalker itu pun mengawasi Sheira dan Theo yg sedang makan siang. Lalu mengirim foto-foto itu pada Aryo seperti biasanya. Dan Anton pun melihat pergerakan stalker tersebut. Ia melihat stalker tersebut memfoto Sheira dan Theo yg sedang makan di meja mereka. Dan kebetulan Anton duduk di meja yg tak jauh dari stalker tersebut.
Anton pun menghmpirinya dan mengunci tangannya hingga menimbulkan sedikit keributan.
Brakk..
"Serahkan ponselmu ..!" ucap Anton.
"Apa urusanmu? berani sekali kau memimta barang pribadi orang lain"
"Kenapa kau memotret nona Sheira dan tuan Theo..? kau bisa jelaskan.?" tanya Anton yg menguncinya.
Lalu Theo dan Sheira datang, Theo pun mencari ponsel yg disembunyikan di saku stalker tersebut. Kemudian ia membuka ponsel tersebut dan melihat ada banyak foto-foto Sheira di ponselnya. Sheira pun melihatnya dan merinding dengan tingkah stalker satu ini.
__ADS_1
Bagaimana bisa semua aktifitasnya berhasil difoto oleh orang ini?? apa tujuannya?? apa ia disuruh oleh seseorang?
"Apa maksud dari semua foto-foto ini?" tanya Sheira.
"Aku hanya pengagummu."
"Berhenti bercanda." ucap Theo lalu memukul kepala pria tersebut. Plakk..
Tak lama muncul pesan dari seseorang tanpa nama di ponsel tersebut. Sheira pun membaca semua pesannya dari awal hingga akhir. Dan ia menjadi penasaran siapa orang ini hingga Sheira menelponnya langsung.
"Jawab apa yg kuperintahkan jika tak mau mati tersengat listrik." ancam Sheira setelah pria tadi dibawa ke mobilnya. Sheira pun menunjukkan alat kejut listrik miliknya dan seketika stalker itu menurut.
"Halo.. ada apa?" tanya si penelpon.
"Maaf tuan, saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini."
"Apa kau bilang?? aku sudah membayarmu mahal."
"Maaf tuan, tapi cukup sampai disini saja.."
"Kau ini membuatku kesal saja."
"Maaf.. aku harus pulang ke kampungku."
"Ya terserah, jangan cari aku kalau kau sudah kembali."
Telepon pun dimatikan dan Sheira tahu siapa pemilik suara tersebut. Pria itu adalah Aryo, dan Sheira mengenali suaranya dengan baik.
"Jadi Aryo yg memerintahkanmu.." ucap Sheira.
"Benar nona."
"Kenapa baru menjawab sekarang." ucap Sheira sembari menempelkan alat kejut listrik tersebut.
"Aaakhhh.. ampun nona."
"Baiklah, aku ampuni.. ponselmu kusita dan akan kuganti dengan uang tunai.. silahkan pergi dan jangan menggangguku.." ucap Sheira.
"Ba-baik nona."
"Ingat jika kau ketahuan menjadi stalker lagi dan mengikutiku kau akan tahu akibatnya." ucap Sheira.
"Baik nona."
"Apa kau yakin melepaskannya?" tanya Theo.
"Ya.. aku yakin dia takkan berani apalagi ponselnya sudah aku ambil." ucap Sheira.
"Baiklah, kerja bagus Anton.. terus waspada." ucap Theo.
"Maaf makan siang kita jadi terganggu." ucap Sheira.
"Ya tak apa .. kita harus segera kembali sekarang." ucap Theo.
"Oke.. sampai ketemu lagi." ucap Sheira.
__ADS_1
"Ya..ingat untuk selalu mengabari aku." ucap Theo.