
Sabrina pun ditunggu oleh Piere dan ia masuk ke dalam ruangannya. Benar saja apa kata Michelle kalau mereka di tes apakah perawan atau tidak dilihat dari pembicaraannya. Dari sanalah baik Sabrina ataupun Michelle semakin curiga kalau nanti mereka yg akan dijadikan korban selanjutnya.
"Kalau begini sudah pasti kita adalah korbannya." ucap Sabrina di kamar mereka.
"Iya, mana ada atasan yg menanyakan hal seperti ini pada pelayan baru." ucap Michelle.
"Tempat ini adalah.. tempat yg kita cari." ucap Sabrina.
"Ya.. kuharap David, Sandi dan Gilang juga sudah tahu fakta ini." ucap Michelle.
"Kini kita tinggal mencari para korban, dan tadi saat kau dipanggil aku bertemu dengan wanita yg terlihat mabuk." ucap Sabrina.
"Mabuk?? atau.." ucap Michelle lalu menatap Sabrina.
"Ya bisa juga begitu, mungkin wanita itu dalam pengaruh obat." ucap Sabrina.
"Sab, kau caritahu tentang wanita tadi karena kau yg tahu wajahnya." ucap Michelle.
"Oke, aku akan berusaha dan kau cari informasi dari pelayan lain." ucap Sabrina.
"Kalau memang benar begitu, kita harus menahan lapar dan haus sampai kita bisa yakin kalau makanan kita aman." ucap Michelle.
"Kau benar, mungkin kita bisa memesan makanan." ucap Sabrina.
"Atau kita bisa memasaknya di dapur, kita kan pelayan?" tanya Michelle tersenyum.
"Kau benar, kita buat makanan kita sangat berbeda dari mereka agar mereka mengerti selera kita." ucap Sabrina tersenyum.
Dan esoknya keduanya mulai melancarkan aksinya. Michelle dan Sabrina pun mendekati staf dapur dan mereka bilang ingin memasak sendiri makanan mereka. Staf dapur pun dengan senang hati membiarkan mereka berbuat begitu.
Untuk urusan makanan dan minuman semuanya sudah aman, kini tinggal mencari para korban. Sesekali Michelle atau Sabrina menghampiri David atau rekannya untuk berbagi informasi. Baik dari sisi pengawal pria ataupun wanita sudah tahu fakta bahwa tempat ini memang tempat yg mereka cari.
Kedua tim itupun saling melindungi dan berbagi informasi yg didapat. Sabrina juga mencari wanita yg malam itu menghampirinya tapi tak menemukannya juga. Hingga ia meminta bantuan David dan rekannya untuk mencari apakah ada bangunan mencurigakan yg dibiarkan kosong padahal mungkin ada seseorang disana.
Mereka berlima pun berpencar mencari ke setiap ruangan di villa tersebut sembari bekerja. Michelle yg cepat akrab dengan pelayan lain pun juga memperoleh informasi menarik.
"Michelle.. bagaimana apa kau sudah melakukannya?" tanya seorang pelayan lain.
"Melakukan apa? apa ada yg tidak kukerjakan?" tanya Michelle memancing mereka.
"Jangan berlagak polos, aku tahu kau masuk ke kamar tuan Piere malam itu." ucapnya lagi.
"Bukannya begitu, hanya saja aku cuma diberi beberapa pertanyaan lalu kembali ke kamar." ucap Michelle.
"Hanya itu? bukan.." ucap pelayan lain memberi isyarat.
"Apa?? itu artinya apa?" tanya Michelle pura-pura tak mengerti.
__ADS_1
"Yah pokoknya begitulah nanti juga kau paham." ucap nya.
"Tapi kau sendiri pernah?" tanya Michelle penasaran.
"Tentu saja, semua yg ada disini pernah ke kamar tuan Piere." ucapnya.
"Termasuk penjaga laki-laki?" tanya Michelle.
"Ckk.. entahlah aku lelah bicara dengan manusia polos satu ini." ucapnya kesal sendiri.
"Hei jangan kabur.. beritahu aku selengkapnya.." ucap Michelle.
Dan setelah temannya pergi ia pun tersenyum karena ia melihat ekspresi temannya yg kesal dengan kepolosannya.
"Hahaha.. aktingku bagus kan?" gumam Michelle dalam hati.
Sementara Sabrina ia mencari ke setiap sudut kamar dan mengikuti seniornya. Ia diminta untuk melakukan pekerjaan tambahan dan menyiapkan makanan untuk beberapa kamar.
"Pekerjaan tambahan?" tanya Sabrina.
"Sudahlah menurut saja dan bantu kami." ucap seniornya.
"Oke tak masalah, tapi apa yg harus aku bantu?" tanya Sabrina.
"Kita akan melayani wanita tuan Piere." ucapnya.
"Kesayangannya." ucap seniornya lagi.
"Yah apapun itu baiklah kak aku akan membantumu." ucap Sabrina.
"Baiklah kau bawa makanan ini hati-hati aku yg akan memandu dan membantu jika naik tangga dan sejenisnya." ucapnya lagi.
"Oke siap." ucap Sabrina.
Sabrina pun mengikuti seniornya itu dan mengantarkan makanan serta beberapa hadiah untuk wanita yg disebut "Kesayangan" tuannya. Sabrina pun melihat makanan dan hadiah yg banyak, hingga ia berpikir pasti wanita itu sungguh beruntung.
Tapi ekspektasinya terlalu tinggi dan ada sebuah tempat yg memiliki banyak kamar disana. Dengan fasilitas yg mewah dan lengkap. Sabrina juga diminta untuk membagikan hadiah dan makanan yg ia bawa sesuai nomor yg ada tertera disana.
"Oh ******.. maksudnya ini harem??" gumam Sabrina dalam hati.
Ia masuk ke setiap kamar dan bertemu dengan wanita cantik di dalamnya. Hingga ia ke sebuah kamar yg berisi wanita yg menabraknya malam itu.
"Kau yg waktu itu menabrakku kan? kau baik-baik saja?" tanya Sabrina melihat wanita itu terlihat murung dengan pandangan kosong.
"Iya.. aku baik-baik saja." ucap Pinkan.
"Siapa namamu?" tanya Sabrina.
__ADS_1
"Pinkan, aku ingin keluar dari villa ini dan kembali ke rumahku.. aku rindu anakku." ucap Pinkan meracau.
"Kau kan bisa pergi." ucap Sabrina.
"Mereka takkan membiarkanku pergi." ucap Pinkan.
"Oke.. aku pergi dulu, tugasku sudah selesai." ucap Sabrina.
"Tolong aku, aku ingin keluar dari sini.. disini adalah neraka kau juga harus lari sebelum terlambat." ucap Pinkan menangis.
"Sabrina.. ! kenapa lama sekali.. cepatlah." ucap seniornya dari luar.
"Aku hanya anak baru yg tak tahu apa-apa, nanti aku akan kemari lagi dan mendengarkanmu." ucap Sabrina lalu pergi.
Sabrina pun keluar dari kamar wanita itu dan menghampiri seniornya.
"Apa wanita itu bertingkah lagi?" tanya seniornya.
"Sepertinya dia mabuk kak, aku hanya menenangkannya saja dan tak menghiraukan ucapannya." ucap Sabrina.
"Yah bagus, tak ada gunanya kau mendengarkannya karena hanya akan menyusahkanmu." ucap seniornya.
"Oke.. aku paham maksud kakak." ucap Sabrina.
Setelah mengunjungi villa "kesayangan" tuan Piere atau yg lebih pantas disebut harem di villa tersebut, Sabrina pun membagikan infonya pada Michelle dan Michelle membaginya dengan David dan kedua rekan mereka.
"Sab kau yakin??" tanya Michelle.
"Iya, tempat itu seperti harem.. dan ada banyak wanita simpanan tuan Piere." ucap Sabrina.
"Iya, kau bagikan info ini pada David dan yg lainnya. Karena mungkin aku yg jadi targetnya yg pertama." ucap Sabrina.
"Lalu apalagi yg kau dapat?" tanya Michelle.
"Wanita yg kutemui malam itu, namanya Pinkan. Ia sepertinya mulai sadar kalau tempat ini berbahaya dan dia ingin pulang ke rumahnya menemui anaknya." ucap Sabrina.
"Lalu wanita yg lainnya?" tanya Michelle penasaran.
"Beberapa acuh tak acuh, mungkin karena mereka tak ada pilihan lain." ucap Sabrina.
"Mulai sekarang kau hati-hati, aku akan membantumu sebisaku. " ucap Michelle.
"Kau juga hati-hati, minta para pria untuk bersiaga untuk hal genting. Aku juga mulai besok akan membantu senior mengurus para wanita itu dan bertanya lebih detail." ucap Sabrina.
"Baiklah, aku mengerti." ucap Michelle.
Sabrina pun menceritakan fakta yg ia dapat hari ini, serta ia juga yakin tujuannya diperlihatkan para "kesayangan" tuan Piere adalah menjadikannya target berikutnya dengan iming-iming hidup enak dan mewah. Tapi tugas Sabrina belum berakhir, ia tak mau jadi korban dan ia akan berusaha mengulur waktu sebisanya. Hingga rekannya siap untuk melancarkan aksinya menangkap Piere.
__ADS_1