
Pinkan pun menelpon suaminya untuk minta dijemput dari rumah orang tuanya. Dan Aryo akan menjemputnya setelah urusannya dengan wanita lain usai.
"Baby, mau kemana?" tanya Celine.
"Aku mau menjemput Pinkan.." ucap Aryo.
"Ngapain sih Beb, dia itu ayahnya pelaku kriminal lho.." ucap Celine.
"Celine sayang, ingat peraturan affair kita.. kita sudah sama-sama menikah.. jadi tidak boleh saling mengganggu rumah tangga masing-masing." ucap Aryo.
"Baiklah beib.." ucap Celine.
"Ya.. nanti kita bertemu lagi saat kondisinya lebih baik." ucap Aryo.
"Oke.." balas Celine.
Ya, Aryo yg sudah ketagihan berselingkuh terus berselingkuh ketika ia sudah tak nyaman pada pasangannya. Affair yg ia lakukan pun hanya sebatas hubungan singkat karena saling membutuhkan kehangatan dan kasih sayang. Setelah semuanya tak memungkinkan ia akan berpisah. Dan ia sudah sebulan berhubungan dengan Celine.
"Jika Pinkan tak sedang mengandung anakku, aku pasti sudah menceraikannya.. bagaimana mungkin aku hidup dengan keluarga kriminal.. Kalau Sheira pasti hidupku takkan sekacau ini." gumam Aryo dalam hati.
Penyesalan Aryo pun masih terus berlanjut dan sepertinya akan terus berlanjut hingga ia sadar kesalahannya yg sebenarnya. Dan sekarang ia justru terus mengulangi kesalahannya.
Kini ia sudah berada di rumah keluarga Pinkan, dan Pinkan pun sudah menunggunya.
"Sudah selesai kaburnya?" tanya Aryo.
"Mas.. sudah aku sedang tak ingin berdebat." ucap Pinkan.
"Oke.. ingat sekali lagi kau keluar tanpa ijinku, aku akan meninggalkanmu." ucap Aryo.
"Oke." ucap Pinkan. "Apa salahnya aku kan hanya pergi ke rumah orangtuaku." gumam Pinkan dalam hati.
Selama di dalam mobil, Aryo diam begitu juga Pinkan dengan segala pemikirannya tentang keluarganya. Ia tak bisa membayangkan jika harus jatuh miskin. Untungnya masih ada Aryo yg berpenghasilan stabil, setidaknya ia takkan kesulitan.
Setibanya di rumah, Aryo menceramahi Pinkan habis-habisan.
"Pinkan ini peringatan dariku, dan demi anakku." ucap Aryo.
__ADS_1
"Memangnya ada apa Mas?" tanya Pinkan.
"Ada apa?? ahaha.. kali ini kau harus serius menjalankan peranmu sebagai istri dan calon ibu. " ucap Aryo.
"Maksudmu Mas?" tanya Pinkan.
"Maksudku, berhenti melakukan diet konyolmu.. anakmu itu butuh nutrisi, bagaimana kalau ia terlahir cacat karena kurangnya asupan??" tanya Aryo.
Pinkan pun terdiam dan baru menyadarinya.
"Coba kau cek di internet apa penyebabnya jika janin kekurangan asupan.. dan lagi berhenti berkeliaran sesuka hatimu dengan perut besarmu itu. Aku tak mau menjemputmu kemarin karena aku tahu kau yg suka cari masalah.. dan aku malu dengan tingkahmu." ucap Aryo yg membuat Pinkan menangis.
"Kau malu Mas padaku?" tanya Pinkan menitihkan air mata.
"Iya aku malu, punya istri yg selalu iri pada orang lain padahal ia punya segalanya. " ucap Aryo.
"Sikapmu terlalu egois dan tak mau kalah, justru mempermalukan dirimu sendiri, bahkan pengacaramu saja mengundurkan diri bukan?" tanya Aryo.
"Tapi Mas, kau tak mau membelaku sama sekali?? apa kurangnya aku dari Sheira mantan istrimu itu?" tanya Pinkan.
"Bedanya??? banyak sekali, dia bisa memasak dan mengurus rumah tangga.. Ia juga tahu usaha apa yg bisa ia kerjakan hingga bisa seperti sekarang." ucap Aryo.
"Mas.. kau itu jahat sekali..!" ucap Pinkan.
"Kalau kau masih tak sadar kesalahanmu, silahkan jika kau mau pergi ke rumah orangtuamu." ucap Aryo.
"Mass.. kau jahat sekali.." ucap Pinkan menangis di kamarnya sementara Aryo pergi mandi.
Sejujurnya Aryo tak tega tapi ia harus melakukannya agar Pinkan mau berubah. Jika tak berubah pun, ia sudah siap jika Pinkan meninggalkannya. "Kuharap kau sadar karena kau akan jadi seorang ibu." gumam Aryo dalam hati.
Aryo pun keluar dari kamar mandi dan mendapati Pinkan tertidur di kamarnya. Dilihatnya wajah Pinkan lalu ia selimuti tubuhnya dengan selimut. Kemudian Aryo keluar, ia pergi ke dapur dan mencari makanan. Ia hanya memasak mie instan dan tak mau dilayani oleh Art mereka.
Disana ia mendapat pesan dari Celine, kalau mereka harus berpisah karena suaminya akan mengajaknya ke luar negeri. "Baguslah, sebentar lagi anakku akan lahir dan aku takkan punya waktu bertemu denganmu." gumam Aryo dalam hati.
Sejak berpisah dari Sheira, Aryo suka berganti pasangan. Ia terang-terangan melakukan Affair pada wanita lain di belakang Pinkan. Ia merasa tak puas pada sikap Pinkan tapi juga tak bisa meninggalkannya karena ada anak di dalam kandungannya.
Dan satu bulan lagi, Pinkan akan segera melahirkan. Aryo pun sudah mempersiapkan segalanya. Tapi ia sedikit terusik dari keluarga Pinkan, dimana ayah Pinkan akan dipenjara karena kasus hukum yg menjeratnya. Dan Aryo tak tahu siapa saja korban dari kekejaman Haris. Ia hanya melihat beritanya di televisi atau di ponsel.
__ADS_1
Dan Siti yg mendengar berita itu pun heboh sendiri. Ia harap-harap cemas karena jika tuduhan itu benar itu adalah aib dalam keluarganya. Dimana ia punya besan seorang narapidana kasus pembunuhan. Membayangkannya saja dirinya sudah stress.
Keesokannya, Siti pun berkunjung ke rumah Aryo. Kebetulan Aryo habis berbelanja kebutuhan bayinya bersama Pinkan. Aryo pun tak tega melihat Pinkan tertekan karena kasus ayahnya jadi ia sedikit menghiburnya.
Siti pun tiba dan mulai berkomentar.
"Kalian habis belanja perlengkapan bayi?" tanya Siti.
"Iya bu, kan ibu bisa lihat sendiri." ucap Aryo.
"Pinkan bisa bicara sebentar ." ucap Siti sementara Aryo merapikan barang belanjaan mereka yg berat dan merakit beberapa barang.
"Ada apa bu?" tanya Pinkan.
"Bagaimana kasus ayahmu? apakah tuduhannya benar?? ayahmu tidak bersalah kan?" tanya Siti.
"Tentu saja tidak bu.. mana mungkin dad sejahat itu.. " ucap Pinkan.
"Syukurlah, ibu sudah cemas.. Apalagi kau sedang hamil, ibu takut kau kenapa-kenapa.. kau jangan stres ya.." ucap Siti.
"Iya bu, makanya hari ini Mas Aryo menemaniku berbelanja." ucap Pinkan.
"Bagus, kau harus terus berbahagia." ucap Siti.
Mereka pun mengobrol dan Pinkan diajari banyak hal cara merawat bayi. Bahkan ia disuruh banyak memakan sayuran agar bayinya sehat. Pinkan juga dilarang makan fastfood karena tak sehat.
"Astaga banyak sekali larangannya." gumam Pinkan dalam hati.
"Pinkan kau makan sup ini, ini sehat dan baik untuk janinmu." ucap Siti.
"Baik bu.." ucap Pinkan.
"Kau biasakan setiap pagi jalan-jalan agar persalinannya lancar.. dan udara pagi masih segar.." ucap Siti.
"Iya bu.." ucap Pinkan. "Aku bahkan tak pernah bangun pagi, paling pagi aku bangun jam 7 pagi." gumam Pinkan dalam hati.
Dan Pinkan pun mendengar semua ocehan Siti yg membuatnya bosan. Banyak sekalu pantangan yg harus ia hindari dan harus ia lakukan. Harus begini, harus begini, meski begini meski begitu. Hingga Pinkan mengantuk mendengarnya.
__ADS_1
"Bu, Pinkan lelah.. sudah cukup." ucap Aryo.
"Baiklah, kau istirahat saja Pinkan." ucap Siti. "Baru segini saja lelah.. belum nanti saat anakmu lahir memangnya kau bisa istirahat jika bayimu menangis. " gumam Siti dalam hati.