
Setelah membersihkan dirinya, Sheira pun mengambil bukti video rekaman cctv tersebut. Dan semuanya sudah terkumpul cukup banyak. Tapi baginya masih kurang agar suaminya melepaskannya tanpa perlawanan.
Setelah itu, Sheira turun ke bawah dan nampak kuenya diambil oleh Pinkan dan Aryo untuk dinikmati berdua tanpa malu. Hal itu membuat Sheira geram, dan bahkan mereka tak membereskan semuanya.
"Sayang maaf.." ucap Aryo mendekat.
"Terserah.." balas Sheira membereskan semuanya.
"Kuenya.. Pinkan menginginkannya.." ucap Aryo.
"Mau dimakan sampai habis pun aku tak perduli, aku bisa membuatnya lagi " ucap Sheira.
"Sayang maafkan Mas, Mas terpaksa.." ucap Aryo.
"Cukup Mas, aku lelah.. lebih baik kita jalani hidup masing-masing.." ucap Sheira.
"Maksudmu?" tanya Aryo.
"Kau dengan Pinkan dan aku dengan hidupku sendiri.. toh aku tak dihargai jadi lebih baik jangan pedulikan aku.." ucap sheira.
"Jangan bilang begitu.." ucap Aryo.
"Sudah Mas, aku lelah mau istirahat.." ucap Sheira meninggalkan Aryo.
"Sayang tunggu.." ucap Aryo.
Tapi Sheira terus berjalan menjauh dan masuk ke kamarnya. Nampaknya kekecewaan Sheira semakin besar dan tak bisa membendung lagi emosinya. Aryo yg serba salah pun hanya bisa bersabar menuruti ibunya karena ia tak mau ibunya kenapa-kenapa.
Keesokannya Sheira tetap memasak untuk suaminya dan untuknya ia masukkan ke dalam kotak bekal. Lalu ia naik ke atas dan membawa kotak bekal miliknya.
Saat turun, nampak Aryo dan Pinkan sedang berdebat.
"Mas, masa tak ada sarapan untukku?" tanya Pinkan.
"Sayang, kau kan bisa membuatnya.. " ucap Aryo.
"Aku baru tahu kalau istrimu itu pelit sekali.." ucap Pinkan.
"Ya aku memang pelit, karena dirimu tanggungjawab Mas Aryo.. bukan aku.." balas Sheira lalu pergi meninggalkan kedua orang tersebut.
"Sudah Pinkan, kau makan saja milikku.." ucap Aryo.
"Tapi Mas.." ucap Pinkan.
"Terserah, Mas tak mau berdebat lagi, hari ini aku juga harus pergi bekerja.." ucap Aryo.
"Baiklah Mas.." ucap Pinkan menyantap sarapan milik Aryo.
Sikap Pinkan sungguh egois dan manja, tentu saja karena ia terbiasa hidup nyaman dengan orangtuanya yg kaya raya. Ibunya tak pernah menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah karena semua sudah ada ART yg melakukannya.
Jangankan memasak, bahkan pakaiannya sendiri pun ART nya yg mancucinya. Hingga ia akan mengirim pakaian kotornya setiap beberapa hari kerumahnya untuk dikerjakan ARTnya. Hingga Mia pun geram dan mendesak Aryo untuk mempunyai ART dirumahnya. Mau tak mau Aryo pun setuju dan hari ini ada ART dirumah mereka yg tugasnya melayani Pinkan.
Sheira yg tak tahu hal itu pun, hanya bekerja seharian tanpa memedulikan tingkah suaminya ataupun madunya. Baginya bekerja adalah hiburan dikala sakit hatinya, karena setiap kali ia pulang ke rumahnya rasanya bagaikan neraka. Rumah mewah dan fasilitas lengkap tak menjadi jaminan seseorang bisa bahagia, itulah yg Sheira rasakan sekarang.
Dan siang ini ia kembali bertemu dengan Theo, kali ini mereka bertegur sapa karena hubungan kerjasama pekerjaan mereka.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Theo.
"Silahkan.." ucap Sheira.
Mereka pun makan berdua, dan sedikit berbincang.
"Jadi bagaimana hubunganmu dengan suamimu?" tanya Theo.
"Tidak baik, tapi aku tak mau menceritakannya.." ucao Sheira.
"Pantas saja kemarin suamimu hanya membelanjakan istri keduanya tanpa dirimu.." ucap Theo.
__ADS_1
"Kau bahkan tahu hal itu.." ucap Sheira malu.
"Kau tak usah malu, aku mendukungmu.. sungguh.." ucap Theo.
"Kenapa?" tanya Sheira.
"Karena aku membenci perselingkuhan.. " ucap Theo.
"Oh begitu,." ucap Sheira.
"Aku juga sangat menyayangkan wanita baik dan berbakat sepertimu disia-siakan begini.. kalau aku jadi suamimu jangankan menikah lagi, melirik wanita lain saja takkan kulakukan.." ucap Theo.
"Terimakasih aku sedikit terhibur, tapi nampaknya kau agak berlebihan.." ucap Sheira.
"No.. kau pantas mendapatkan yg lebih karena kau juga berharga.." ucap Theo yg langsung membuat Sheira menangis.
Bukan tanpa alasan, karena baru pertama kali Sheira mendengar ada yg bicara kalau dirinya juga berharga setelah semua penderitaan dan penghinaan yg ia terima.
"Maaf, apa aku kelewatan?" tanya Theo langsung memberikan tisu.
"Tidak, aku hanya terharu kau bilang aku berharga sementara aku sudah sering direndahkan.." ucap Sheira.
"Kau tahu Sheira, setiap manusia itu berharga, dan juga tak pantas direndahkan karena kedudukannya.." ucap Theo.
"Kau benar, mungkin selama ini aku hanya bertemu orang-orang tidak waras.." ucap Sheira.
"Kau harus semangat, dan kau bisa menghubungiku jika butuh bantuan.." ucao Theo.
"Terimakasih.." ucap Sheira.
"Atau aku bersedia membantumu membalas mereka.." ucap Theo.
"Bagaimana caranya?" tanya Sheira.
"Kita melakukan Affair dan lihat bagaimana reaksi suamimu.. " ucap Theo.
"Itu konyol.." ucap Sheira.
"Itu adalah hal gila yg takkan kulakukann.." ucap Sheira.
"Kenapa?" tanya Theo.
"Karena aku tak ada bedanya jika membalas perbuatannya dengan melakukan affair seperti yg suamiku lakukan.." ucap Sheira.
"Tapi pria itu pantas mendapatkannya.." ucap Theo.
"Cukup Theo, terimakasih atas saran dan penghiburannya tapi aku tak tertarik melakukan affair yg akan menjatuhkan nama kita berdua.." ucap Sheira.
"Baiklah, aku mengerti.." ucap Theo.
"Oke.." ucap Sheira.
"Tapi kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran." ucap Theo.
"Tidak akan.. " ucap Sheira.
Lalu mereka pun berpisah karena waktu makan siang keduanya hampir habis. Dan Pinkan melihat keduanya bertemu, hal itu bisa menjadi alasan kuat Aryo untuk mengusir Sheira dari hidup mereka. Dengan begitu, Pinkan menjadi istri satu-satunya dan pernikahan mereka bisa diresmikan.
"Akhirnya aku menemukan kelemahannya.." gumam Pinkan.
Pinkan pun begitu kegirangan dan tak sabar untuk bicara pada suaminya. Dan ternyata Aryo dan Pinkan hampir setiap hari makan siang bersama. Seperti hari ini mereka pun bertemu.
"Mas.." ucap Pinkan.
"Hai sayang, ayo duduk.." ucap Aryo.
"Mas kau tahu, aku kesal tadi.." ucap Pinkan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aryo.
"Tadi aku melihat Sheira bersama Theo, kau tahu kan Theo.." ucap Pinkan.
"Anak tante Viola.." ucap Aryo.
"Ya.. dan mereka makan siang bersama begitu akrab.." ucap Pinkan.
"Benarkah?? berani-beraninya Sheira selingkuh dariku.." ucap Aryo.
"Mas, nampaknya dia tak terima kau menikahiku jadi ingin balas dendam.." ucap Pinkan.
"Aku akan langsung menemuinya.." ucap Aryo meninggalkan Pinkan di resto tersebut.
"Mas.. mau kemana?" tanya Pinkan.
"Ke tempat Bakery Sheira.." ucap Aryo.
"Baiklah, aku ikut.." ucap Pinkan.
Mereka berdua pun menuju bakery Sheira. Dan nampak Sheira sedang sibuk mengurus bakerynya terutama data-data di laptopnya.
"Sheira..!" panggil Aryo kesal.
"Ada apa Mas?" tanya Sheira.
Plakk..
Sheira pun ditampar dihadapan banyak karyawannya.
"Mas, apa maksudmu?" tanya Sheira.
"Kau berselingkuh dengan Theo?" tanya Aryo.
"Tidak, mana buktinya?" tanya Sheira.
"Kau makan siang bersamanya tadi, aku melihatnya.." ucap Pinkan.
"Makan bersama apa itu artinya berselingkuh?? lalu kau sendiri bagaimana Mas?? tidur dengan 2 wanita.." ucap Sheira.
"Cukup Sheira jangan ungkit masalalu, sekarang jelaskan apa kau berselingkuh dengan Theo? apa karena aku menikah lagi?" tanya Aryo.
"Ck.. memangnya aku dirimu yg suka berselingkuh. Pertama, aku hanya kebetulan bertemu. Kedua, aku punya project dengannya dimana aku membeli unit ruko miliknya.." ucap Sheira.
"Mana buktinya?" tanya Aryo.
"Sebentar.." ucap Sheira mengambil berkas miliknya.
"Ini silahkan baca, aku bahkan sudah taken kontrak dan membayarnya sebagian.." ucap Sheira.
"Baiklah jika begitu.. Maaf sudah menuduhmu.." ucap Aryo.
"Hh.. gampang ya Mas minta maaf, tapi aku tak menerimanya karena kau bukan hanya menuduh, tapi menampar dan mempermalukanku di hadapan karyawanku.." ucap Sheira.
"Sayang aku emosi karena kau berubah.." ucap Aryo.
"Aku berubah karena kau juga yg berubah.. ingat itu.. dan aku bukan orang bodoh.." ucap Sheira.
"Sekarang kalian berdua keluar.. aku terlalu lelah berdebat dengan kalian di rumah dan sekarang kalian menggangguku di tempat kerjaku.." ucap Sheira.
"Sayang maafkan Mas ." ucap Aryo.
"Keluar Mas, aku lelah.." ucap Sheira.
"Sudah Mas, kita pergi saja katanya tadi mau makan siang.." ucap Pinkan.
Lalu kedua orang itupun pergi dan Sheira bisa menumpahkan air matanya. Lagi dan lagi dipermalukan bahkan ditampar. Sheira pun teringat perkataan Theo kalau dirinya juga berharga, dan membuatnya untuk mempercepat perceraiannya.
__ADS_1
"Theo benar, aku juga berharga dan tak pantas menerima semua luka ini.." gumam Sheira dalam hati.
Beberapa pegawainya pun menghiburnya dan membawakan minumam serta tisu. Mereka merasa kasihan pada Sheira, karena atasannya tersebut sangat baik hati dan tak membedakan status mereka.