
Sepulang dari luar negeri nampak Nicho dan Nathan pun lebih banyak tersenyum. Mereka begitu bahagia setelah kepergian mereka beberapa hari. Grace pun melihat mereka ikut bahagia.
"Grace bagaimana acara kemarin?" tanya Nathan.
"Sukses besar." balas Grace.
"Benarkah?? jadi si bre***ek itu terlihat kesal?" tanya Nicho antusias.
"Iya kak, kalian harusnya melihat pria bre***ek itu dan tante Bianca mencoba menghinaku tapi justru malah dimarahi oleh om Hans." ucap Grace tersenyum.
"Aku senang mendengarnya." ucap Nathan.
"Ya.. di keluarga itu yg normal hanya om Hans.." ucap Nicho.
"Dan kalian tampak bahagia sekali, apa kalian akan memperkenalkan seorang kakak ipar yg cantik padaku?" tanya Grace.
"Belum saatnya anak manis." ucap Nathan.
"Ck.. jangan sampai aku yg duluan menikah." ucap Grace.
"Aku tak keberatan, kau duluan saja.." ucap Nicho.
"Kau dengan Sean boleh juga." goda Nathan membuat pipi Grace merona.
"Lihat Nick, pipinya merah." ucap Nathan.
"Ikh.. kakak.. bukan begitu." ucap Grace.
"Jadi kau menyukainya??" tanya Nicho.
"Tidak tahu ah.. kalian saja tak mau jujur tentang kekasih kalian. Kalau mau tahu ya kita barter informasi." ucap Grace melawan.
"Baiklah, nanti aku akan jujur.. kau jangan menghindar." ucap Nathan.
"Bukan hanya jujur aku akan memperkenalkannya langsung padamu." balas Nicho.
"Oke.. Deall." ucap Grace.
"Deal.." balas Nicho dan Nathan.
Mereka bertiga pun tersenyum dan berjanji akan jujur jika memiliki pasangan. Dan bukan hanya itu, Nathan dan Nicho juga akan mengawasi Sean karena adiknya terlihat tertarik pada pengawalnya.
Nicho dan Nathan pun mencari info tentang Sean. Dan Nathan mendapatkan info yg mencengangkan.
"Nick, Sean bukan orang sembarangan." ucap Nathan.
"Benarkah?" tanya Nicho terkejut.
"Benar, dia kapten tim alfa yg terkenal mengurusi kasus-kasus besar. Dan dia mengawal Grace atas perintah tuan Leon." ucap Nathan.
__ADS_1
"Baiklah, asalkan dia tak macam-macam pada Grace aku sih tak masalah." ucap Nicho.
"Dan lagi, dia nampak melindungi Grace dengan baik." ucap Nathan.
Mereka pun sepakat untuk diam saja tapi memperhatikan Sean untuk melihat apakah pria itu tertarik atau tidak pada adik mereka. Mengingat Sean bukanlah orang biasa yg suka berpergian kemanapun saat misinya, mereka sedikit khawatir jika Grace berhubungan dengannya tiba-tiba Sean menghilang.
☘☘☘
Seperti biasa, Grace pun pergi bekerja dengan Sean. Mata Nicho dan Nathan pun menatap Sean dari kejauhan. Dan Sean menyadari hal tersebut tapi tetap bersikap seperti biasa.
"Sean, hari ini kita keluar kota karena ada beberapa hal yg harus aku periksa." ucap Grace.
"Baik nona." ucap Sean.
Setelah mengunjungi bakery terdekat, Grace pun pergi keluar kota bersama Sean. Mereka pun menempuh perjalanan cukup jauh dan Grace nampak selalu berada di depan laptopnya atau tabletnya memantau bakery milik ibunya.
Sean pun fokus menyetir agar semuanya terkendali. Tak ada kejadian khusus dan mereka tiba dengan cepat. Grace pun datang dan disambut oleh pegawainya dengan senyum. Grace pun langsung mengerjakan tugasnya lalu melakukan briefing bersama pegawainya. Banyak yg Grace bahas pada mereka mengenai produk dan sebagainya.
Sean pun hanya melihat dari kejauhan karena mungkin ini yg terakhir kalinya menemani Grace bekerja. Wajah penuh semangat Grace saat menjelaskan, dan sikap tegasnya pada pegawainya, serta keramahannya membuat Sean ingin mengabadikannya. Diam-diam Sean pun mengabadikan momen tersebut dalam sebuah jepretan foto di ponselnya. Karena mustahil hal ini bisa teejadi lagi.
Setelah mengambil beberapa foto secara diam-diam, Sean pun kembali mengamati situasi. Cukup aman dan terkendali, nampak juga kebersihan toko tersebut. Sean pun menunggu Grace bekerja dengan sabar sembari mencaritahu sebuah negara yg akan ia kunjungi.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Grace membuyarkan fokusnya.
"Maaf nona, saya hanya sedang mempelajari sesuatu." ucap Sean.
"Langsung saja nona, saya tidak lelah." ucap Sean.
"Baiklah." ucap Grace.
Sepanjang perjalanan pun Grace tertidur, dan terlihat Grace begitu kelelahan. Ia hanya istirahat untuk makan siang dan melanjutkan pekerjaannya. Dan seharian itu pula, Sean mencuri-curi pandang pada Grace.
Sesampainya di rumah Grace, Sean pun membangunkannya.
"Nona, bangunlah." ucap Sean.
"Hmm.. sudah tiba dirumah." ucap Grace.
"Iya nona, bangunlah." ucap Sean.
"Terimakasih Sean, kau driver yg handal." ucap Grace.
"Hoaamm.." Grace pun menguap.
"Anda kelihatan sangat lelah dan mengantuk.. Sebaiknya anda masuk." ucap Sean.
"Oke.. sampai jumpa lagi Sean." ucap Grace.
Grace pun keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya. Tubuhnya pun terasa begitu lelah, hingga ia ambruk di tempat tidur tanpa mandi ataupun berganti pakaian.
__ADS_1
Sementara Sean, ia merapikan mobil dan mengecek segalanya agar bisa langsung diatasi jika ada kerusakan. Kemudian, barulah ia menuju ke mobilnya untuk pulang.
Saat sedang berjalan, Sean pun merasa tengah diikuti dan dan diintai.
"Siapapun keluarlah aku tahu kalian sedang bersembunyi." ucap Sean yg selalu siaga.
"Instingmu tak diragukan lagi." ucap Nicho keluar.
"Padahal aku sudah bersembunyi dan tak bersuara." ucap Nathan ikut keluar.
"Ada apa tuan Nicho dan tuan Nathan.?" tanya Sean.
"Kami hanya mengujimu. Kau ternyata sehebat yg kami dengar." ucap Nicho.
"Kenapa baru sekarang? waktuku bekerja tinggal menghitung hari." ucap Sean.
"Ya, itu benar tapi juga kami sangat percaya padamu bahkan sampai kau bisa menjaga Grace hingga saat ini." ucap Nathan.
"Oke.. langsung saja ke intinya kalian ada perlu apa padaku?" tanya Sean.
"Kau memang setegas ini." ucap Nathan lalu melirik Nicho.
"Bagaimana menurutmu tentang Grace selama kau menjadi pengawalnya?" tanya Nicho.
"Selain orang-orang yg kulaporkan, tak ada lagi penguntit tuan. Lingkungan nona Grace juga cukup aman, ditambah kemampuan nona juga kurasa ia bisa melindungi dirinya dengan baik." ucap Sean.
"Analisamu cukup baik Sean, terimakasih atas infonya." ucap Nathan.
"Tapi apa kau menyukai Grace?" tanya Nicho to the point membuat Nathan melihatnya dengan tatapan yg berarti (kenapa langsung menanyakan itu?).
"Menyukai dalam arti pekerjaan, nona sangat baik, rendah hati, dan tak sombong, tapi juga tegas dan pemberani. Ia menganggapku sebagai temannya bukan bawahannya." ucap Sean.
"Jadi kesimpulannya kau menyukainya sebagai atasanmu atau sebagai wanita?" tanya Nicho.
"Kurasa aku terlalu berani jika menyukai nona sebagai wanita." ucap Sean.
"Oke.. aku mengerti." ucap Nicho.
"Nick, sudahlah.. dia hanya mengawal Grace.." ucap Nathan.
"Baiklah, kau boleh pulang dan kabari jika ada yg tak beres di sekitar adikku." ucap Nicho.
"Baik tuan, saya permisi." ucap Sean.
Sean pun pamit dan menuju ke mobilnya. Dapat ia rasakan debaran jantungnya saat kedua kakak Grace mengintrogasinya. Dan juga ia terpaksa berbohong agar tetap bekerja dengan nyaman. Ia masih ingin bertemu dan melihat Grace setidaknya sebulan terakhir ini.
Tapi Grace ternyata mendengar pembicaraan tersebut. Awalnya ia merasa ada barang yg tertinggal di dalam mobil pun memutuskan kembali dan mengambilnya. Tapi justru melihat dan mendengar pembicaraan kedua kakaknya dengan Sean. Tapi yg membuatnya patah hati adalah pernyataan Sean yg menyukainya bukan sebagai wanita.
"Aku terlalu banyak berharap." gumam Grace dalam hati.
__ADS_1