Affair With Me??

Affair With Me??
EP.133 Kesempurnaan


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian, Sheira dan Theo pun menjalani kehidupan yg sempurna. Karir cemerlang, keluarga yg bahagia dan anak-anak yg tampan. Kini Nicholas dan Nathan sudah berusia 5 tahun. Keduanya pun sudah masuk ke sekolah TK terbaik yg berada di dekat rumah mereka.


"Nathaan...!! kau sedang apa kenapa belum turun juga.." teriak Sheira saat melihat Nicholas sudah menyantap sarapannya.


"Mom, dia itu bangun kesiangan tadi." ucap Nicholas.


"Oh Tuhan, dia selalu begini." gumam Sheira.


"Mom.. aku segera turun." ucap Nathan dengan terburu-buru bahkan sampai ia salah mengancingkan baju seragamnya.


"Nath.. kau tidak bercermin? " tanya Nicholas.


"Aku sudah tampan dari lahir, benar kan mom.?" ucap Nathan.


"Oh Tuhan, benar kata saudaramu, coba bercerminlah sayang." ucap Sheira dengan penuh kesabaran.


Nathan pun berlari ke arah cermin dan melihat dirinya yg berantakan. Lalu ia berteriak dan sadar atas kebodohannya.


"Tuh kan mom, dia akhirnya sadar." ucap Nicholas.


"Kau benar, saudaramu itu memang unik." ucap Sheira.


"Dad mana mom?" tanya Nicholas.


"Dad sudah berangkat.. sudah kau sarapan saja kita hampir terlambat." ucap Sheira.


"Bagaimana Nathan masih lama? nanti kita terlambat." ucap Sheira pada Nathan.


"Sudah mom.. " ucap Nathan ke meja makan dengan pakaian yg rapi.


"Makanya kalau sedang dipakaikan baju oleh nanny diam saja dan tunggu." ucap Nicholas.


"Iya, iya maaf.. aku takut terlambat." ucap Nathan.


"Sudah kita sarapan sekarang." ucap Sheira.


Setelah sarapan Sheira pun mengantar keduanya pergi ke sekolah. Meskipun satu sekolah tapi keduanya ingin memiliki kelas yg berbeda agar teman-teman mereka bisa membedakan mereka yg nyaris sulit dibedakan. Hanya warna rambut yg membedakan mereka. Jika Nicholas berwarna rambut agak kecoklatan sementara Nathan berambut hitam gelap.


"See you Nath.." ucap Nicholas.


"See you Nicho.." ucap Nathan saat mereka berpisah ke kelas masing-masing.

__ADS_1


Sementara Sheira ia harus kembali ke kantor dan bekerja. Perannya sebagai ibu rumah tangga yg mengurus kedua anaknya dan juga suaminya selesai, kini ia harus menjalankan perannya sebagai pemimpin perusahaan. Sheira pun bekerja hingga sore hari di kantornya. Dan anak-anaknya akan dijemput oleh sopir.


Sepulang kerja, Sheira pun nampak begitu lelah. Tapi begitu mendengar suara kedua bocah laki-laki itupun seketika lelahnya berkurang.


"Mommy.." teriak Nathan.


"Mommy.." ucap Nicholas.


"Hai sayang, bagaimana sekolahnya? apakah menyenangkan?" tanya Sheira.


"Iya.. sangat menyenangkan.." ucap keduanya.


"Mom aku dapat nilai 100 untuk matematika." ucap Nicholas.


"Dan aku dapat nilai A untuk kelas menggambar." ucap Nathan tak mau kalah.


"Wah anak-anak mom pintar-pintar ya.. mau hadiah apa?" tanya Sheira.


"Aku Pizzaa.. " teriak Nathan.


"Aku Steik ayam.." ucap Nicholas.


"Oke.. tapi mom mandi dulu ya nanti mom buatkan." ucap Sheira.


"Ayo nath.. kita belajar lagi kau masih salah hitungannya tadi." ucap Nicholas.


"Oke.. kali ini aku takkan salah." ucap Nathan.


"Dan ajarkan aku membuat mobil yg keren seperti milik dad." ucap Nicholas.


"Oke.." ucap Nathan.


Keduanya pun punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing tapi tetap akur karena Sheira mengajarkan mereka untuk tidak iri pada kemampuan saudaranya masing-masing serta tak membedakan keduanya. Begitu juga dengan Theo yg mengajarakan hal yg sama. Hingga mereka tumbuh dengan baik dan saling membantu satu sama lain.


Sheira pun tersenyum melihat kedua putranya yg mulai tumbuh besar. Dirinya yakin kalau Nicholas dan Nathan akan selalu akur walaupun mereka berbeda pendapat dan walau sering juga bertengkar.


Sheira pun melupakan rasa lelahnya dan memasak begitu selesai membersihkan diri. Ia menyiapkan makanan yg diinginkan kedua putranya. Lalu keduanya yg tengah belajar pun mencium aroma lezat dari dapur. Keduanya pun sepakat untuk mendekati momnya karena mulai lapar.


"Ayo kita cek di dapur, aromanya membuatku lapar." ucap Nicholas.


"Iya.. siapatahu kita bisa mencobanya." ucap Nathan.

__ADS_1


Keduanya pun ke dapur dan menemui momnya.


"Moomm...!" teriak keduanya.


"Wah.. ada apa ini?" tanya Sheira yg tahu kalau keduanya sudah lapar.


"Apakah makanannya sudah jadi?" tanya Nicholas.


"Iya.. aku lapar.." ucap Nathan.


"Belum sayang.. Pizza masih di oven begitu juga dengan steik nya." ucap Sheira.


"Apakah masih lama?" tanya Nicholas.


"Sebentar lagi dan Nathan, makan nasi dulu baru makan pizza." ucap Sheira.


"Baiklah mom." ucap Nathan.


Keduanya pun menunggu dengan sabar sambil menonton televisi. Ya bagi mereka makan masakan Sheira adalah hal yg mereka tunggu setiap harinya. Karena ibunya pandai memasak dan mampu memasak apa yg mereka inginkan. Mereka juga jarang makan diluar dan hanya menikmati makanan buatan Sheira.


Hal tersebut sudah Sheira lakukan sejak mereka kecil agar mereka betah berada di rumah. Dan juga makanan rumah lebih sehat dan terjamin kebersihannya. Hingga Nathan dan Nicholas lebih suka makan masakan momnya daripada makan diluar.


"Boys.. makanan sudah siap.." ucap Sheira.


"Yeaayyyy..!" teriak mereka berdua gembira.


Lalu mereka berlari ke arah tempat cuci tangan dan mencuci tangan mereka. Setelah itu mereka duduk dengan tenang di meja makan.


"Terimakasih mom." ucap keduanya.


"Sama-sama sayang." ucap Sheira.


Keduanya pun berdoa sebelum menyantap makanannya dan makan dengan tenang. Sheira pun bahagia melihat keduanya yg sangat disiplin dan mengikuti aturan yg ia berikan. Mencuci tangan sebelum makan, berdoa, dan makan dengan tenang. Serta yg paling membuatnya bahagia adalag melihat keduanya makan dengan lahap. Entah apapun yg ia masak keduanya selalu menyukainya.


Selesai makan mereka juga merapikannya dan menaruhnya di tempat cucian piring walaupun belum bisa mencucinya. Lalu mereka mencuci tangan dan menonton televisi menunggu dadnya pulang.


Jika sudah begitu Sheira akan menyiapkan buah-buahan untuk camilan mereka sambil nonton tv. Keduanya pun lalu biasa bercerita tentang apa yg terjadi di sekolahnya pada Sheira. Dan Sheira mendengarkannya dengan baik lalu merespon dengan santai.


Hingga Theo tiba dan mereka begitu bahagia melihat dadnya pulang. Terkadang Theo merasa bersalah karena harus pulang larut hampir setiap harinya. Tapi ia juga harus bekerja dan mengurus beberapa perusahaannya dan juga membantu perusahaan Sheira.


Theo dan Sheira pun sepakat membagi tugasnya masing-masing. Theo yg akan menghandle beberapa urusan pekerjaan miliknya dan juga Sheira karena Sheira harus mengurus kedua anaknya. Dan Walaupun berakhir dengan Theo yg selalu pulang malam tapi ia senang istrinya bisa mengurus kedua anaknya dengan baik.

__ADS_1


Saat pulang pun Theo menyempatkan diri untuk bermain bersama Nicholas dan Nathan. Kadang Theo tertidur di tengah-tengah cerita Nathan dan Nicholas. Hingga mau tak mau mereka membangunkan dadnya dan memintanya untuk tidur di kamar.


Jika sudah begitu maka Sheira akan memberi mereka pengertian kalau dadnya lelah bekerja sampai malam dan untungnya keduanya pun mengerti.


__ADS_2