
Setelah tahu dirinya dikerjai oleh sekertaris Theo, mau tak mau Pinkan menikmati liburannya di Bali. Meski ia tak tahu akan ketahuan atau tidak kalau ia berpura-pura sakit, Pinkan tetap bersenang-senang dan mempostingnya di sosial medianya.
Pinkan yg seolah tak peduli lagi akan pekerjaannya, kini bebas bersenang-senang. Sudah tak ada lagi pengawal suruhan dadnya yg mengawasinya seperti dulu, hingga Pinkan mulai liar saat berada di Bali.
Ia pun pergi kemana-mana sendiri dengan memakai pakaian sexy tanpa perduli mata lelaki memandangnya dengan nakal. Setiap harinya ia selalu ke pantai dengan hanya memakai bikini. Ia berjemur agar kulitnya menjadi tanning. Ia meniknati liburannya dengan uang gajinya selama satu bulan tersebut tanpa menyia-nyiakannya.
Dan pada malam hari, Pinkan pergi ke bar. Ia minum-minum sampai puas, meneriaki hidupnya yg kian hari makin menyebalkan. Hartanya yg sudah hilang karena kejahatan ayahnya, bahkan kekuasaannya di kantornya sudah tak ada lagi. Asisten rumah tangga yg berkurang jumlahnya membuatnya semakin kesal karena harus ekstra sabar jika menyuruh melakukan sesuatu. Bahkan kebiasaan belanjanya yg harus ditekan karena black card miliknya sudah tak berguna lagi.
"Aku akan minum sampai gila." gumam Pinkan sambil mabuk.
"Hai nona, kau sudah mabuk berhentilah minum.." ucap seorang pria bernama Piere.
"Siapa kau berani mengaturku.." ucap Pinkan.
"Siapa aku? mari kita berkenalan, namaku Piere." ucapnya.
"Piere, yaya.. aku Pinkan." ucap Pinkan.
"Nama yg cantik secantik orangnya." ucap Piere tapi Pinkan tak peduli dan terus minum.
Akhirnya Pinkan berhenti saat tak kuat lagi, ia memilih pulang ke hotel dan tak mau diikuti oleh Piere. Tapi Piere menemukan dompet Pinkan yg tertinggal dan ia melihat identitas Pinkan. Setelah itu ia mengembalikan dompetnya pada Pinkan sambil berlari.
"Hei tunggu.." ucap Piere.
"Ada apa lagi?? aku tak kenal dan punya urusan denganmu" ucap Pinkan.
"Ini dompetmu kan?" tanya Piere.
"Sepertinya begitu.." ucap Pinkan menerimanya lalu pergi begitu saja karena mabuk dan ia berusaha untuk tak terlibat dengan siapapun.
"Target baru yg bagus." guman Piere.
Pinkan yg mabuk pun berhasil tiba di hotel tanpa masalah. Ia langsung menuju ke kamarnya, tapi entah mengapa ia merindukan putranya. Pinkan pun sampai menangis saat merindukan buah hatinya tersebut. Tanpa sadar Pinkan menghubungi Kevin, Kevin yg baru saja menidurkan Archie putranya pun terkejut melihat baru ini Pinkan menghubunginya setelah beberapa bulan tak menanyakan kabar putranya.
"Kevin.. dimana putraku.. hiks." ucap Pinkan.
"Dia sudah tidur. Ada apa?" tanya Kevin.
"Aku merindukannya." ucap Pinkan jujur.
"Kau mabuk?" tanya Kevin.
"Ya.. tapi tidak juga.." ucap Pinkan meracau.
"Putramu baik-baik saja.. " ucap Kevin.
"Benarkah?? bolehkah aku lihat wajahnya?" tanya Pinkan.
__ADS_1
"Sebentar.. tapi kau jangan berisik." ucap Kevin.
"Ya.. aku janji." ucap Pinkan.
Lalu mereka beralih ke panggilan video dan memperlihatkan wajah tampan Archie. Pinkan pun tersenyum dan terharu anaknya sangat tampan.
"Putraku yg tampan." ucap Pinkan terharu.
"Akhirnya kau menyadarinya setelah membuangnya." ucap Kevin.
"Aku tak membuangnya aku hanya tak bisa mengurusnya." ucap Pinkan.
"Kenapa tak pernah menanyakan kabarnya ?" tanya Kevin.
"Karena aku malu.." ucap Pinkan.
"Kau boleh bertemu dengannya, tapi atas ijinku." ucap Kevin.
"Terimakasih." ucap Pinkan tersenyum lalu mematikan panggilannya.
Kevin pun tersenyum karena akhirnya Pinkan sedikit peduli pada putranya. Lalu ia melihat putranya yg kondisinya sudah membaik pasca operasi. "Kau masih punya ibu Archie, tapi ayah belum bisa percaya padanya." gumam Kevin.
☘☘☘
Keesokannya Pinkan pun terbangun, dengan kepala yg terasa berat Pinkan membuka mata dan mencari air. Setelah minum, ia berusaha mencerna apasaja yg terjadi semalam. Dan ia mengingatnya perlahan saat ia sarapan pagi. Ia ingat kalau semalam ia menangis karena merindukan putranya.
"Kenapa baru sekarang aku menyesal memberikannya pada Kevin??" gumam Pinkan dalam hati.
Pinkan pun bertemu kembali dengan Piere, pria yh ditemuinya di bar semalam. Dan Piere memang sudah menargetkan Pinkan sebagai target barunya. Piere pun mulai mendekati Pinkan saat dirinya sedang berjalan-jalan.
"Hai nona Pinkan.. bagaimana keadaanmu?" tanya Piere.
"Baik." ucap Pinkan.
"Aku bukan orang jahat tenang saja." ucap Piere.
"Terserah kau saja aku tak ingin berurusan dengan siapapun" ucap Pinkan.
"Kau mau kuundang ke party ku di kapal pribadiku?" tanya Piere.
"Terimakasih.." ucap Pinkan menolak. Walaupun Piere tampan tapi Pinkan masih menargetkan Theo.
"Kau yakin? bukankah kau suka pesta daripada seperti semalam, kau bisa hadir di pestaku nanti malam.. dan kau takkan sendiri." ucap Piere.
"Kapan dan dimana?" tanya Pinkan.
Piere pun memberitahukan kapan dan lokasi kapal tersebut. Pinkan pun tersenyum karena ternyata Piere cukup kaya. Setidaknya ia bisa punya teman kaya dan menikmati pesta di hari terakhirnya di Bali.
__ADS_1
Malam itu Pinkan pun datang ke pesta tersebut. Piere pun tersenyum karena Pinkan mau datang. Terlebih Pinkan memakai pakaian terbuka yg memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Aku senang kau datang.." ucap Piere.
"Ya.. kebetulan aku sedang bosan." ucap Pinkan sembari melihat kapal yg cukup mewah tersebut.
"Mari kita berpesta.." ucap Piere.
"Hanya ada kita berdua?" tanya Pinkan.
"Ada beberapa temanku diatas.. " ucap Piere menunjukkannya.
"Oh begitu." ucap Piere.
Pinkan pun minum-minum bersama Piere. Dirinya mabuk dan termakan rayuan Piere. Belum lagi ia melihat Piere yg tampan dan kaya raya yg bisa dijadikan pilihan jika Theo tetap menolaknya.
Mereka berdua pun menikmati malam yg penuh dengan kehangatan di kapal tersebut. Mereka melakukan one night stand, dan Pinkan begitu menikmatinya setelah sekian lama. Tanpa memiliki hubungan, tanpa pasksaan, dan terlebih tanpa adanya tujuan hal tersebut membuat Piere semakin yakin akan targetnya.
Dan pagi-pagi sekali Pinkan meninggalkan kapal tersebut untuk mengejar jam terbang pesawatnya. Tanpa ia berpamitan pada Piere yg masih tertidur. Pinkan hanya meninggalkan sebuah pesan kalau ia harus kembali.
Pinkan pun kembali ke Jakarta, ia cukup senang libuarannya kali ini menyenangkan. Juga ia harus menyiapkan mental untuk besok serta rencana baru mendekati Theo.
Dan keesokannya Pinkan masuk kerja, tampak tak ada masalah. Ia hanya diberi peringatan saja, dan ia baik-baik saja. Hingga ia melancarkan aksinya mendekati Theo. Dengan memakai rok pendek dan atasan dengan belahan dada rendah yg memperlihatkan kedua asetnya, Pinkan pun masuk ke ruangan Theo tepat saat Doni sedang keluar kantor.
"Permisi.." ucap Pinkan.
"Ada apa?" tanya Theo tanpa melihat.
"Aku hanya ingin menyerahkan laporan hari ini Pak." ucap Pinkan mendekat.
Setelah menaruh laporan, Pinkan mendekati Theo dan Theo pun menjauh karena tak nyaman.
"Ada apa lagi?" tanya Theo.
"Theo, aku masih menyukaimu.." ucap Pinkan menggodanya.
"Pinkan..! cukup ya aku sudah bertunangan." ucap Theo.
"Tapi aku tak bisa berhenti.." ucap Pinkan mendekat dengan membuka blazernya yg memperlihatkan tonjolan kedua asetnya.
"Ck.. dasar murahan..!" teriak Theo.
"A-apa murahan?" tanya Pinkan.
"Lebih baik kau sadar diri dan keluar dari sini sebelum kupecat." ucap Theo.
"Kau yakin tak tertarik?" tanya Pinkan.
__ADS_1
"Keluar atau kupecat?" tanya Theo dan Pinkan pun merapikan pakaiannya lalu keluar.
Theo sungguh jijik dengan kelakukan Pinkan yg semakin berani dan liar.