
Hari ini Sheira dikawal oleh pengawal berbeda, tapi ia tak mempermasalahkan itu. Ia tetap bekerja di bakery miliknya dan berpindah dari satu tempat ke tempat yg lain. Dan siang ini adalah bekery terakhir yg ia kunjungi, karena setelah itu ia akan bertemu dengan Theo untuk membahas mengenai project F.
"Oke.. aku harap kalian berhati-hati dan langsung menghubungiku." ucap Sheira.
"Baik bu.. sampai jumpa lagi." ucap mereka.
"Ya.. ingat ya selalu waspada." ucap Sheira.
"Baik bu.."
Sheira pun keluar dari bakery tersebut dan diikuti oleh pengawal di belakangnya. Ia langsung menuju ke gedung Alfa.corp. Disana ia sudah ditunggu oleh Theo dan beberapa konsultan bisnis.
Sheira pun datang sedikit terlambat karena memang ada banyak pekerjaan hari ini.
"Maaf semuanya aku terlambat hari ini.." ucap Sheira memasuki ruangan rapat.
"Ya.. silahkan Sheira." ucap Theo.
"Terimakasih." balas Sheira.
Sheira pun langsung duduk dan mengikuti meeting tersebut. Banyak yg dibahas disana, terutama mengenai wilayah-wilayah atau pembagian area. Dan beberapa arsitek pun hadir untuk memberikan gambaran.
Setelah membahas ini dan itu, meeting pun usai. Sheira terlihat begitu lelah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Theo.
"Ya.. aku baik-baik saja, hanya lelah.." ucap Sheira.
"Tunggu disini dan beristirahatlah sejenak." ucap Theo.
"Oke.." balas Sheira.
Theo pun keluar untuk mengambil sesuatu dan kembali lagi ke dalam. Ia membawakan Sheira segelas kopi.
"Ini minumlah.." ucap Theo.
"Terimakasih." ucap sheira.
"Kau harus sehat, pulang lalu istirahatlah." ucap Theo.
"Ya.. habis ini aku akan pulang." ucap Sheira.
Disana, Theo menemaninya sejenak. Kemudian Theo dipanggil oleh Doni karena ada masalah pekerjaan. Dan Sheira yg sendirian disana pun tertidur karena lelah. Saat Theo kembali, ia melihat Sheira yg tertidur di sofa.
Theo pun menemaninya untuk berjaga-jaga jika Sheira akan jatuh karena ia tidur dalam posisi duduk.
"Akh.. dimana ini?" ucap Sheira terbangun di pundak Theo.
"Theo.. aku masih ada disini? dan maaf.." ucap Sheira.
"Kau hampir jatuh kalau aku tak ada disini.." ucap Theo.
"Terimakasih Theo. Nampaknya aku memang harus pulang, aku akan mengganggumu jika terus disini." ucap Sheira.
__ADS_1
"Tidak, tapi kau memang harus istirahat di apartemenmu." ucap Theo.
"Ya.. aku permisi.." ucap Sheira meraih tasnya.
Theo pun mengantarnya turun ke bawah dan melihat pengawalnya sudah stabdby. Ia pun melihat sampai Sheira pergi bersama pengawal tersebut.
"Semoga tak ada orang jahat lagi disekitarmu." gumam Theo.
Theo pun kembali bekerja di dalam dan sudah ditunggu oleh Doni.
"Maaf Don, aku harus menemani Sheira. " ucap Theo.
"Ya tuan, aku masih bisa mrnghandle nya." ucap Doni.
"Bagus, ayo kita lanjutkan sudah sampai mana tadi ..." ucap Theo.
Theo pun berada di kantornya sampai larut malam.
☘☘☘
Sementara Sheira, ia bersama pengawalnya pulang ke apartemen. Dan di tengah jalan, mobil mereka diberhentikan oleh preman.
"Nona, tetap diam dan jangan berani keluar dari mobil." ucap pengawal tersebut.
"Oke.." ucap Sheira.
Sementara orang tersebut, terus mengancam dan meminta mereka berdua keluar dari dalam mobil.
"Keluar kalian..!"
"Baiklah apa yg kalian inginkan?" tanya pengawal.
"Suruh turun nona yg didalam." perintah mereka.
"Sayangnya tidak bisa." ucap pengawal tersebut dan langsung melawan mereka.
Perkelahian pun tak terelakan dan Sheira menyaksikannya dari dalam mobil. Ia juga mempersiapkan diri untuk kejadian tak terduga.
Bughh..Bughh..
Prankkk..
Salah seorang preman tersebut pun memecahkan kaca mobil dan Sheira pun langsung menjauh dari area jendela yg sudah pecah tersebut.
"Nona jangan keluar..!" teriak pengawal tersebut. "Sial dimana yg lainnya..?" gumam pengawal tersebut dalam hati.
Mau tak mau dia menghajar semua preman tersebut sendirian. Hingga yg memecahkan mobil tersebut membuka pintu dan Sheira keluar dari pintu lainnya.
"Nona, kemarilah jika tak ingin menerima perlakuan kasar." ucapnya.
"Coba saja jika kau bisa.." ucap Sheira.
Sementara sang pengawal masih berkelahi dengan yg lainnya ia melihat nona Sheira sedang berhadapan dengan seorang preman. Pengawal tersebut pun langsung memukul lawannya dengan sekuat tenaga hingga jatuh pingsan. Dan ia segera berlari menuju nonanya. Tapi yg terjadi justru preman tersebut pingsan karena tersengat listrik dari alat kejut listrik.
__ADS_1
"Haha.. dia tak apa kan?" tanya Sheira tertawa kaku melihat preman tersebut jatuh.
"Dia hanya pingsan nona, nona tak apa kan?" tanyanya.
"Aku tak apa.. Kau sendiri?" ucap Sheira.
"Hanya luka kecil.. dan untung saja nona membawa alat itu, simpan baik-baik nona alat itu sungguh berguna dalam kondisi begini." ucap pengawal tersebut.
"Dan sekarang mobilku harus masuk bengkel." ucap Sheira melihat kaca mobilnya pecah dan cukup berbahaya karena banyak pecahan kacanya yg berserakan di dalam.
"Kita akan naik taksi saja.." ucap Sheira.
Sheira dan pengawal tersebut pun naik taksi menuju rumah sakit karena Sheira melihat pengawal tersebut terluka di bagian kepala. Awalnya pengawal tersebut menolak tapi Sheira memaksanya. Hingga mereka tiba di rumah sakit. Pengawal tersebut pun sudah menghubungi Leon dan mengabari kalau rekannya menghilang. Leon pun langsung menuju ke rumah sakit tersebut. Dan meminta anak buah lainnya untuk mencari pengawalnya yg hilang kontak.
Mobil Sheira pun sudah dibawa ke bengkel dan akan diperbaiki selama beberapa hari. Hingga beberapa hari kedepan mungkin ia akan naik taksi. Saat sang pengawal di periksa dokter, Sheira pun pergi ke sebuah mesin minuman otomatis. Ia memilih-milih minuman disana. Dan saat ia menekan tombol, tiba-tiba ia melihat bayangan dari kaca dan situasi memang sedang sepi.
Sheira pun merunduk saat pria itu mendekat, lalu ia kabur saat ada kesempatan.
"Hey jangan kabur.." ucap mereka.
Sementara Sheira kabur keluar rumah sakit, ia ingin memanggil taksi dan pulang ke apartemen. Ia pun terkepung di sebuah taman yg sepi. Dan entah bagaimana ia bisa kabur ke taman tersebut karena ia bingung dikejar-kejar oleh mereka.
"Apa mau kalian??" tanya Sheira.
"Nona ikut dengan kami.."
"Tidak.. " ucap Sheira sembari mengambil sesuatu dari tasnya yaitu alat kejut listrik.
"Nona jangan buat kami memaksa .." ucap salah seorang.
"Baiklah.. aku ikut.. " ucap Sheira lalu menempelkan alat kejut listrik tersebut ke tubuh pria yg ada di hadapannya.
Teman-temannya pun panik dan menjauh, sementara Sheira terus mengarahkan alat kejut tersebut ke mereka bergantian. Hingga salah seorang membawa sapu tangan dengan obat bius dan menutup mulut Sheira dari sapu tangan tersebut.
"Akhh.. Tolonggg..." ucap Sheira lalu ia pingsan.
Sementara sang pengawal panik bukan main setelah ia diobati dan tak menemukan nona Sheira. Ia berlari mencari kesana kemari dan tak menemukannya. Leon pun tiba di rumah sakit dan melihat tas Sheira terkatuh dengan alat kejut listrik.
"Tuan Leon maaf, nona sepertinya diculik.." ucap pengawal tersebut.
"Aku tahu, aku menemukan tas dan alat ini. " ucap Leon.
"Kau ada dimana saja daritadi?" tanya Leon.
"Aku sedang dijahit dibagian kepala di ruangan pemeriksaan, dan nona harusnya menunggu di ruang tunggu.. tapi saat aku sudah selesai nona menghilang. "
"Akh.. dasar mereka ini benar-benar mencari masalah dengan kita.. dan rekan-rekanmu kutemukan pingsan, sepertinya mereka terkena keracunan makanan." ucap Leon.
"Sudah kau kembali, aku dan Kim yg akan melacaknya." ucap Leon.
"Tapi tuan.." ucapnya merasa bersalah.
"Kepalamu sudah bocor begini mau dijahit lagi?" tanya Leon.
__ADS_1
"Ti-tidak tuan, aku akan pulang." ucapnya.
Leon pun menghubungi Kim untuk melacak Sheira dibawa kabur kemana. Kim pun meretas CCTV sekitar dan Leon juga memeriksa CCTV rumah sakit.