
Sheira pun mengadakan syukuran saat kandungannya berusia 4 bulan. Ia mengadakannya di sebuah panti asuhan terdekat. Ia memberikan beberapa sumbangan donasi dan menggelar doa disana. Nampak begitu ramai dan antusias dari anak-anak panti asuhan tersebut.
Daniel dan Jasmine juga turut hadir membawa baby Samuel. Viola pun juga hadir disana untuk merayakannya di panti asuha. Hal sederhana yg tak terpikirkan oleh Theo, dimana Sheira hanya ingin berbagi dengan anak yatim piatu sama seperti dirinya.
Acara pun berjalan dengan baik, dimana anak-anak panti tersebut begitu tertib dan mengikuti arahan dari pengurus panti asuhan. Sheira pun tersenyum senang melihat anak-anak yg ceria tapi juga disiplin. Saat berdoa semuanya diam dan mengikuti arahan, kemudian mereka berbagi makana disana. Tampak raut bahagia anak-anak tersebut saat menikmati makanan dan snack.
Tapi dari kejauhan nampak Sheira melihat ada anak perempuan yg sedang sakit. Karena acara masih berjalan Sheira pun hanya memerhatikannya dari kejauhan. Ia melihat anak perempuan tersebut pun begitu lemah dan sulit berjalan.
Dan setelah acara tersebut berakhir, Sheira pun memberanikan diri untuk melihat anak perempuan tersebut. Ia juga bertanya pada bu Wanti selaku salah satu pengasuh disana.
"Ibu Sheira, ada apa kemari?" tanya Wanti.
"Maaf bu, tadi aku melihat anak perempuan yg tak ikut bergabung dengan yg lain.. " ucap Sheira.
"Benar bu, namanya Aira dia sedang sakit jadi tak bisa ikut.." ucap Wanti.
"Sakit apa bu? apakah parah?" tanya Sheira.
"Sebenarnya bukan sakit yg seperti biasanya, Aira dia mengalami hal yg buruk dengan orangtua asuhnya sebelumnya." ucap Wanti.
"Apa dia mengalami kekerasan bu?" tanya Sheira.
"Ibu Sheira benar, dia dikirimkan kemari oleh organisasi keamanan karena menjadi target jual-beli anak. Aku juga sedih mendengarnya." ucap Wanti.
"Aku tak menyangka masih ada orang yg kejam di dunia ini.. tapi bolehkah aku menjenguknya?" tanya Sheira.
"Boleh bu, silahkan." ucap Wanti.
"Aira, ada ibu Sheira ingin menjengukmu." ucap Wanti.
"Ibu Sheira siapa ya?" tanya Aira.
"Ini namanya ibu Sheira, dia yg mengadakan acara syukuran hari ini." ucap Wanti.
"Oh begitu.. " ucap Aira.
"Terimakasih ibu Sheira." ucap Aira.
"Bagaimana kondisimu? kata ibu Wanti kamu sedang sekit.." ucap Sheira.
"Aira sudah baikan kok bu." ucap Aira.
"Sungguh? apa ada yg sakit??" tanya Sheira.
__ADS_1
"Sudah lebih baik bu." ucap Aira.
"Kau yakin? mau ke rumah sakit?" tanya Sheira.
"Tidak usah bu.." ucap Aira.
"Coba aku lihat tanganmu.." ucap Sheira lalu menarik lengan anak tersebut.
Terlihatlah beberapa luka lebam di tangannya dan karena penasaran Sheira juga melihat bagian tubuh lain anak itu. Sheira pun menangis melihatnya yg seperti habis disiksa oleh orangtua asuh sebelumnya.
"Bu Wanti, apa Aira sudah diobati?" tanya Sheira.
"Sudah bu, tapi kami memang belum mengantarnya ke rumah sakit, dia hanya dirawat oleh perawat yg bekerja disini." ucap Wanti.
"Aku akan membawa Aira untuk berobat." ucap Sheira.
"Tidak usah bu.." ucap Aira.
"Tak apa Aira, kau harus diobati dan cepat sembuh agar bisa bermain lagi." ucap Sheira.
Setelah mendapat persetujuan dari penanggungjawab, Sheira pun membawa Aira ke rumah sakit dengan Theo. Theo yg terkejut pun hanya menurut saja karena tak masalah baginya. Apalagi Sheira ingin membantu seorang anak.
Mereka pun pergi ke sebuah rumah sakit dan Aira mendapat pertolongan dari dokter. Dokter pun meresepkan beberapa obat untuknya. Dan Sheira langsung mengajaknya kembali begitu selesai.
"Terimakasih Bu Sheira dan Pak Theo karena sudah mengobati Aira." ucap anak perempuan tersebut.
"Sama-sama, kau harus minum obat dan lekas sembuh agar bisa bermain dengan teman-teman." ucap Sheira.
"Ya.. semoga kau lekas sembuh ya." ucap Theo.
"Terimakasih Ibu Sheira dan Pak Theo mau memerhatikan anak kami Aira.." ucap Wanti.
"Sama-sama bu kalau begitu kami permisi dulu ya.. " ucap Sheira.
"Iya.. hati-hati dijalan." ucap Wanti dan ia pun mengantar kepulangan Sheira.
Aira pun melambaikan tangan dan tersenyum, membuat Sheira merasa bahagia telah membantu seorang anak yg bernasib sama sepertinya. Ia jadi ingat masa lalunya dan merasa beruntung karena diasuh oleh neneknya. Juga ia beruntung bisa bersekolah seperti anak lainnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Theo mengaburkan lamunan Sheira.
"Iya, aku baik-baik saja.. aku hanya sedih melihat anak perempuan tadi." ucap Sheira.
"Tak semua orang mengalami keberuntungan dengan orangtua, atau harta yg berkecukupan.. Tapi Aira beruntung bisa diselamatkan." ucap Theo.
__ADS_1
"Ya.. aku sungguh merasa kasihan melihatnya habis dipukuli bahkan nyaris jadi korban jual beli manusia." ucap Sheira.
"Aku juga merasa kasihan, tapi dia sekarang sudah berada di tempat yg aman jadi kau tenang saja." ucap Theo.
"Iya kita bisa mengunjunginya sesekali." ucap Sheira.
"Kau pasti ingat akan masalalumu." ucap Theo.
"Kau benar, dan aku merasa beruntung diasuh oleh nenekku." ucap Sheira.
"Oh iya, mom ingin kita menginap malam ini.." ucap Theo.
"Baiklah, kita pulang dulu mengambil pakaian." ucap Sheira.
Sheira dan Theo pun pulang ke apartemen dan mempersiapkan pakaian untuk menginap. Lalu mereka mandi dan berangkat ke rumah Viola. Nampaknya Viola begitu merindukan anak dan menantunya.
Viola pun menyambut mereka dengan ceria. Ia ingin membuat acara syukuran Sheira di rumahnya dengan para asisten rumah tangganya dan beberapa pekerja di rumahnya.
Sheira pun merasa senang mendapat kasih sayang dan dukungan dari ibu mertua. Ia juga menikmati apa yg disajikan oleh Viola di rumahnya. Begitu hangat dan bahagia suasana yg ada dirumah Viola. Theo pun merasa bahagia akan ibunya yg begitu menerima Sheira sebagai menantu. Terlebih begitu mendengar Sheira sedang mengandung anak kembar, Viola begitu perhatian padanya. Terkadang ibunya juga mengirimkan banyak makanan dan buah-buahan yg sehat untuk Sheira.
Acara makan bersama di rumah Viola pun berlangsung dengan nyaman baik Sheira maupun Theo. Sheira juga langsung diminta beristirahat oleh Viola. Dan Viola akan berbicara dengan Theo.
"Theo, kau harus bersiap karena kehamilan Sheira akan semakin besar." ucap Viola.
"Tentu mom.." ucap Theo.
"Hamil anak kembar bukanlah hal mudah Theo, dan kau tahu kan dulu kau punya saudara kembar." ucap Viola.
"Benarkah mom?" tanya Theo.
"Iya, masa kau lupa.. tapi dia meninggal di dalam kandungan." ucap Viola.
"Sepertinya aku lupa mom." ucap Theo.
"Bagaimanapun dia juga saudaramu.." ucap Viola.
"Iya mom.. Tapi jika mom pernah hamil anak kembar bagaimana rasanya waktu itu?" tanya theo.
"Rasanya benar-benar bahagia sekaligus ekstra hati-hati." ucap Viola.
"Seberapa besar mom kandungannya waktu itu?" tanya Theo penasaran.
"Cukup besar, tapi setiap wanita beda-beda tak selalu sama." ucap Viola.
__ADS_1
"Oh begitu." ucap Theo.