
Sheira pun akhirnya mengambil ruko tersebut, dan sementara ia akan kembali ke Jakarta. Sudah cukup baginya untuk menenangkan diri. Ia akan kembali dan berbicara dengan suaminya.
Sheira pun sudah tiba di rumahnya, ia tahu kalau suaminya pasti sudah bekerja saat ini. Hingga ia bisa pulang dengan nyaman. Ia merebahkan tubuhnya di kasurnya, tapi entah kenapa bayangan suaminya bersama wanita bersama Desy terus terbayang dimatanya.
Sheira pun memilih mandi dan membersihkan diri. Lalu ia memasak makanan seperti biasanya. Ia tak tahu apakah rumah tangganya akan bertahan atau tidak.
"Apa yg harus kulakukan dengan Mas Aryo?? haruskah aku meninggalkannya.?" gumam Sheira dalam hati.
Sheira pun memasak makanan seperti biasa. Namun, suaminya tidak pulang melainkan sedang makan malam dengan Pinkan.
"Mas, kau tidak suka bertemu denganku?" tanya Pinkan.
"Aku hanya merasa apa yg kita lakukan salah.." ucap Aryo.
"Apa yg salah? kita akan menikah.." ucap Pinkan.
"Menikah? jangan gila, aku tidak akan meninggalkan Sheira." ucap Aryo.
"Kau hanya menikahiku bukan meninggalkan Sheira.. itu hanya poligami.." ucap Pinkan.
"Apa semudah itu bagimu menjadi istri kedua?" tanya Aryo.
"Tentu saja, aku tak masalah.. Lagipula istrimu itu sungguh tidak berkelas.." balas Pinkan.
"Cukup. Kita sudahi makan malam ini.." ucap Aryo pergi meninggalkan tempat tersebut.
Jika bukan karena ibunya tidak mungkin Aryo mau makan malam dengan Pinkan. Ia masih mencintai Sheira dan tak bisa meninggalakannya. Aryo pun pulang ke rumah.
Disana Sheira sudah menunggunya dan duduk di ruang makan sendirian.
"Sayang.. kau kembali.." ucap Aryo mendekat.
"Stop.. silahkan duduk di kursimu.." ucap Sheira.
"Aku senang kau kembali.." ucap Aryo tak percaya.
"Aku tak tahu, apakah aku bisa mempercayaimu lagi atau tidak. " ucap Sheira.
"Lalu kau mau bagaimana? kita saling mencintai dan bisa memperbaiki semuanya.. " ucap Aryo.
"Lalu kau darimana saja hingga baru pulang..?" tanya Sheira.
"Aku.. aku pergi bersama teman.." ucap Aryo.
"Teman wanita maksudmu?" tanya Sheira.
"Dia Pinkan anak teman ibuku.." ucap Aryo.
"Oh, jadi kau bertemu wanita sombong itu. Aku tahu tujuan ibumu adalah menjodohkannya denganmu.." ucap Sheira.
__ADS_1
"Jadi kau sudah tahu?" tanya Aryo.
"Ya.. saat arisan kemarin mereka sempat bicara dan aku tak sengaja mendengarnya." ucap Sheira.
"Sayang, aku tak mencintainya aku hanya mencintaimu.. aku bisa menolaknya.." ucap Aryo.
"Yakin?? aku tahu kau takkan bisa menolak ibumu.." ucap Sheira tak percaya.
"Sayang percayalah, aku akan berubah dan kembali seperti dahulu.. aku janji.." ucap Aryo.
"Aku belum bisa percaya, tapi aku ingin melihat kesungguhanmu.." ucap Sheira.
"Ya.. aku akan membuktikannya.." ucap Aryo.
"Kau pasti sudah makan dengan Pinkan, aku akan membereskannya dan mulai hari ini aku akan tinggal di kamar tamu.." ucap Sheira.
"Sayang, jangan kau harus tidur di kamar kita.." ucap Aryo.
"Bayanganmu dengan wanita itu, selalu ada di ingatanku.." ucap Sheira lalu membereskan semuanya di atas meja.
Aryo pun memeluknya dan berlutut meminta ampunan, tapi Sheira tak bergeming dan meninggalkan Aryo.
"Mas, aku butuh waktu untuk percaya.." ucap Sheira.
Sheira pun pergi menuju kamar tamu yg sudah dipersiapkan. Hatinya masih sakit ingat semua kelakuan suaminya. Tapi ia masih memikirkan rumah tangganya hingga ia memilih bertahan dan mengawasi apakah suaminya akan jujur padanya.
Pada malam harinya Aryo akan mengunjungi kamar Sheira dan tidur disana. Ia benar-benar ingin membuktikan kalau dirinya sudah berubah. Dan ia bertekad untuk membuat Sheira percaya padanya.
"Mas, kenapa kau ada disini?" tanya Sheira.
"Aku akan membuktikannya padamu kalau aku bisa berubah.." ucap Aryo.
"Terserah padamu saja.." ucap Sheira meninggalkan suaminya untuk sholat subuh lalu pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Sheira pun hanya membuat roti panggang dan telur mata sapi.
"Pagi sayang, sepertinya enak.." ucap Aryo.
"Nikmatilah sarapanmu Mas.." ucap Sheira lalu duduk dan sarapan bersama suaminya.
"Nanti kita makan malam diluar.." ucap Aryo.
"Baik.." ucap Sheira.
Sheira pun berangkat kerja menuju ke bakery-nya. Dan Aryo pergi ke kantornya, Aryo pun lega setidaknya Sheira pulang dan memilih untuk mempertahankan rumah tangganya.
Sheira pun memilih untuk kembali bekerja mengontrol toko miliknya. Dan ia melihat brosur tempat kebugaran di tokonya. Ia sedikit tertarik untuk menghilangkan stresnya.
"Sepertinya berolahraga baik untuk menghilangkan stres.." gumam Sheira dalam hati.
__ADS_1
Sheira pun bekerja dari satu toko ke toko lainnya. Hingga ia sampai di toko kedua miliknya, ia melihat toko keduanya sudah cukup berkembang pesat. Orang-orang menyukai roti dan kue-kue yg ia jual dan pendapatannya sudah menyamai toko pertamanya. Sheira pun senang akan hasil kerja kerasnya.
Setidaknya masih ada hal yg membuatnya bahagia. Sementara Theo, ia memutuskan untuk mempir ke toko tersebut. Tapi karena status Sheira istri orang, ia mengurungkan niatnya dan menyuruh sopirnya untuk membelikannya.
Theo pun mencoba kue-kue dan roti yg ia beli, beberapa rasanya sangat enak membuatnya akan membelinya kembali nanti. Lalu ia pergi menuju ke kantornya setelah ia menghadiri meeting dengan kliennya.
☘☘☘
Pada malam harinya, Sheira bersiap untuk makan malam dengan suaminya. Ia datang ke resto yg sudah direservasi suaminya. Nampak, Aryo sudah tiba disana.
"Sayang aku senang kau datang.." ucap Aryo.
"Ya.. aku mencoba berdamai dengan keadaan.." ucap Sheira.
"Kau pesan apa saja yg kau mau.. kita makan semua pesananmu saja.." ucap Aryo.
"Baiklah, jangan menyesal.." ucap Sheira.
Mereka pun makan malam bersama. Sheira sudah mulai bisa membuka dirinya pada suaminya dan sedikit demi sedikit menerima kembali suaminya. Tapi di sudut ruangan nampak seorang wanita mengepal geram melihat kebersamaan Sheira dan Aryo.
"Dasar Ja***ang..!" gumam Pinkan.
"Hei kau kenapa?" tanya rekan Pinkan.
"Tidak bukan apa-apa.." balas Pinkan, karena tidak mungkin Pinkan jujur kalau ia menyukai suami orang pada rekannya.
Sementara Sheira dan Aryo pergi dari resto. Mereka langsung pulang ke rumah karena lelah. Dan Sheira masih tidur di kamar tamu, membuat Aryo berpindah juga ke kamar tamu meskipun Sheira sudah mengusirnya.
"Sayang, biarkan aku tidur disini.." ucap Aryo.
"Terserah kau saja.." ucap Sheira kesal dan tak mau berdebat.
Keesokannya, Aryo pun menghabiskan diri di ruamh saat liburnya. Ia ingin mengambil hati Sheira kembali. Sheira pun hanya mengawasi Aryo dan melihat ketulusannya.
Siang hari itu, Siti pun datang. Dia datang bersama Pinkan, dan Sheira paham akan situasi ini.
"Aryo, bagaimana kabarmu?" tanya Siti.
"Baik, ada apa bu?? kenapa bersama Pinkan..?" tanya Aryo.
"Kau harus dekat dengannya." ucap Siti.
"Mana Sheira, ibu datang bukannya menyiapkan makanan dan minuman.. ada tamu penting malah di dalam saja.." ucap Siti.
"Cukup bu, aku sedang memperbaiki hubungan kami.." ucap Aryo.
"Maaf bu, aku sedang menyiapkan makanan untukmu dan wanita ini.." ucap Sheira tersenyum.
"Aku punya nama..! " ucap Pinkan ketus.
__ADS_1
"Baiklah Pinkan selamat datang di rumah kami.." ucap Sheira.
Sheira pun menyajikan makanan dan minuman. Nampak Sheira sengaja mengeluarkan semua makanan di hadapan ibu mertuanya agar mulutnya tak berbicara omong kosong di hadapannya.