Affair With Me??

Affair With Me??
EP.37 Penyesalan Aryo


__ADS_3

Setelah insiden pencurian resep di bakery Sheira, Pinkan pun merasa Aryo mendiamkannya. Ia selalu pulang larut malam dan tak banyak bicara. Kehamilannya juga menyebabkan mereka jarang bersentuhan fisik karena khawatir itu akan mengganggu janin di kandungannya. Pinkan pun curiga kalau Aryo berselingkuh di belakangnya.


Hingga suatu hari, Pinkan sepulang kerja melihat Aryo tengah bersama sekertarisnya sedang berada di sebuah resto. Nampak mereka berbicara begitu serius. Pinkan pun tak terima dan langsung emosi. Ia langsung menghampiri Aryo dan berteriak membuat seisi resto memerhatikan mereka.


"Mas..!" teriak Pinkan.


"Pinkan, ada apa?" tanya Aryo santai.


"Mas yg ada apa? kenapa bersama sekertarismu, kalian ingin berselingkuh di belakangku?" tanya Pinkan.


"Aku sudah bilang bukan akan ada makan malam dengan rekan-rekan kantorku merayakan keberhasilan project kami.." ucap Aryo.


"Bohong, kenapa hanya ada wanita ini saja ." ucap Pinkan.


"Karena yg lainnya belum datang nyonya, mereka masih di jalan karena baru pulang dari kantor dan kami habis meeting dengan beberapa atasan." ucap Juwita sekertaris baru Aryo.


"Maaf pak, sepertinya saya harus meninggalkan bapak agar bapak dan nyonya bisa berbicara santai.." ucap Juwita.


"Terimakasih Juwita.." ucap Aryo.


"Pinkan, kau membuatku malu saja.. ini hanya makan malam dan masih ada rekan yg lain yg belum datang.." ucap Aryo.


"Mana kutahu Mas berbohong.." ucap Pinkan lalu duduk disana.


"Sayang ini makan malam divisi kami dan tak ada yg membawa suami atau istri mereka.." ucap Aryo.


"Ini pasti akal-akalan Mas saja, buktinya belakangan Mas selalu sibuk dan pulang malam.." ucap Pinkan.


Sementara itu, Juwita pun memilih ke toilet dan tak mau ikut campur dengan pertengkaran suami istri tersebut. Ia justru meminta rekan-rekan yg lain agar datang lebih cepat dan meredakan situasi yg tak baik ini. Sambil berpura-pura merapikan makeupnya, Juwita menunggu rekannya.


Hingga saat rekan mereka tiba, Juwita pun keluar dari toilet dan menyambut rekannya.


"Akhirnya kalian datang juga.." ucap Juwita.


"Tentu saja kami datang, ini kan untuk merayakan keberhasilan divisi kita.."


"Dan Juwita siapa wanita itu?" tanya mereka.


"Istri dari Pak Aryo, kalian cepatlah mendekat karena istrinya sedang cemburu padaku.." ucap Juwita.


"Oke.. mari kita selamatkan wajah Juwita dan Pak Aryo."

__ADS_1


"Maaf Pak Aryo, kami terlambat karena macet.."


"Iya selamat datang, silahkan duduk.. perkenalkan ini Pinkan istriku.." ucap Aryo.


"Halo bu Pinkan, salam kenal.." ucap mereka.


Dan mereka semua pun duduk di kursinya. Pinkan pun merasa malu akan ulahnya yg asal menuduh suaminya. Dan jika diperhatikan mereka sedikit risih dengan hadirnya Pinkan, mereka bersikap kaku dan hanya bicara dengan rekan yg ada di sampingnya. Setelah selesai makan, Aryo pun pamit undur diri agar mereka bisa merasa nyaman bicara bersama.


"Kalau begitu, kami duluan ya.. istriku sedang hamil tak baik jika kami pulang larut.." ucap Aryo.


"Iya Pak, nyonya.. sampai jumpa lagi.. " ucap mereka.


Dan setelah Aryo dan Pinkan pergi, mereka pun bisa lega karena orang yg membuat kecanggungan sudah pergi.


"Akhirnya nyonya pergi juga.."


"Iya, tadi sangat canggung.."


"Kalian tak tahu tadi aku hampir dilabrak.." ucap Juwita kesal dituduh.


"Sabar ya Juwita.." ucap rekan-rekannya.


☘☘☘


"Sayang, bisakah kau mempercayaiku?" tanya Aryo.


"Makanya Mas itu, jangan keseringan pulang larut.. dan selalu saja sibuk membuatku curiga saja.." ucap Pinkan.


"Sayang, bisakah kau mengerti tadi itu aku hanya makan malam dengan rekan-rekan di kantor.." ucap Aryo.


"Mana aku tahu kau berbohong.." ucap Pinkan.


"Kau kan sudah lihat sendiri tadi.. apa aku berbohong?" tanya Aryo.


"Sudahlah Mas, aku lelah mau istirahat." ucap Pinkan meninggalkan Aryo.


"Terserah kau sajalah.." ucap Aryo kesal lalu meninggalkannya.


Aryo memilih untuk menuju ke ruang kerjanya. Ia mengambil alkohol dan menenggaknya. Ia meluapkan rasa kekesalannya pada Pinkan yg hampir saja mempermalukannya.


Namun, saat itu yg teringat di benaknya hanyalah Sheira. Pasti kalau Sheira takkan seperti itu dan akan menunggunya pulang dengan sabar. Bahkan Sheira akan menyiapkan makanan dan pakaian. Berbeda dari Pinkan yg malah mengurusi dirinya sendiri dan meninggalkannya untuk menghindari kesalahannya.

__ADS_1


"Aku bodoh..! sangat bodoh.."


"Sheira.. kembalilah.." gumam Aryo sembari menepuk-nepuk dadanya yg terasa begitu sakit merindukan Sheira.


Dan Pinkan yg penasaran melihat Aryo diruangan tersebut melihat Aryo tengah memanggil nama Sheira. Ia pun kesal lantas meninggalkannya dan masuk ke kamarnya. Pinkan bahkan sampai mengunci pintunya dan Aryo tak bisa masuk.


"Pinkan buka pintunya.." ucap Aryo.


Sementara tak ada jawaban dan membuat Aryo harus tidur di kamar bekas Sheira tidur di lantai 2. Aryo sudah tak tahu lagi bagaimana menangani Pinkan karena ia terlalu egois dan tak mau mengalah. Belum lagi ibunya yg selalu mengeluh karena jika ada sedikit saja masalah Pinkan akan mengadu dan berakhir dengan Aryo yg diceramahi ibunya dan ibu mertuanya.


Aryo pun menatap kamar yg pernah ditinggali Sheira beberapa bulan terakhir. Ia pun tidur disana dan merasakan aroma parfum yg sering Sheira pakai. Ia pun terlelap disana dan terbangun di pagi hari.


Ia pun turun ke bawah dan melihat Pinkan tengah sarapan dan hendak ke kantor. Aryo pun lewat begitu saja tanpa menegur Pinkan dan masuk ke kamarnya untuk mandi dan bersiap juga.


"Akh.. Mas Aryo benar-benar keterlaluan." gerutu Pinkan.


Saat Aryo keluar kamar nampak Pinkan menunggunya di meja makan. Dengan tatapan kesal ia menatap suaminya.


"Ada apa?" tanya Aryo.


"Kau yg ada apa? kenapa mendiamkanku?" tanya Pinkan.


"Kenapa kau mengunci pintu kamar?" balas Aryo.


"Karena kau menyebut nama Sheira.." ucap Pinkan.


"Kenapa?? kau cemburu?? tidak ingat bagaimana kau datang di rumah tanggaku dengannya dan membuatnya pergi.." ucap Aryo.


"Mas..! apa kau tidak bisa menjaga perasaanku? aku ini sedang hamil anakmu.." ucap Pinkan.


"Makanya, kau itu harus dewasa.. jangan terlalu cemburu dan curiga.. aku diluar sana pergi bekerja untukmu.. Kau tidak sadar keperluanmu itu banyak?? " ucap Aryo.


"Jadi kau tidak mampu menafkahiku??" tanya Pinkan.


"Aku mampu, buktinya aku tak mengeluh tapi kau harusnya mengerti kalau aku bekerja untukmu juga.." ucap Aryo.


"Mas.. mau kemana?" tanya Pinkan.


"Kerja memangnya mau kemana lagi.." ucap Aryo kesal.


"Kau renungkan dan introspeksi diri, kau itu terlalu egois.. " ucap Aryo.

__ADS_1


"Mass..!!" teriak Pinkan.


Sementara Aryo pergi begitu saja, ia tak mau lagi berdebat dengan Pinkan. Dan ia begitu menyesal menceraikan Sheira dan menikahi Pinkan. Tapi ia juga tak bisa egois karena Pinkan sedang mengandung anaknya.


__ADS_2