
Semakin mendekati kelahiran, Sheira pun semakin sering berada di rumah. Hanya sesekali ia ke kantor jika ada meeting penting saja. Sisanya ia akan bekerja dari rumah dan mengontrol semuanya dari rumah.
Seperti hari ini ia akan meeting di kantornya. Dan Sheira pergi bersama sang sopir, sementara Theo sudah berangkat dari pagi hari. Sheira pun santai saja karena mengikuti jadwal meeting pada siang hari. Ia datang dengan menggunakan pakaian yg nyaman.
Nampak semua orang memerhatikannya yg sedang hamil besar tapi tetap ke kantor untuk meeting.
"Mari kita mulai agenda hari ini.. " ucap Sheira.
Meeting pun dimulai dan berjalan dengan lancar. Kini tak ada lagi yg berani mengganggu dirinya di kantor karena mereka sudah mengakui Sheira. Sheira pun memimpin jalannya rapat dengan baik, dan pulang pada malam hari karena memang jadwalnya agak padat setelah rapat.
Sementara Theo ia pulang lebih awal dan langsung ke rumahnya. Dilihatnya ponselnya kalau Sheira mengatakan dirinya akan pulang terlambat karena ada yg harus diurus di salah satu bekery miliknya. Theo pun akan menjemputnya nanti, jika ia sudah selesai.
Theo pun pulang ke rumahnya dan membersihkan diri. Lalu ia keluar kamarnya dan turun ke bawah menuju dapur. Nampak ada ART wanita yg masih muda berada di sana.
"Ada yg anda butuhkan tuan?" tanya Art bernama Suci.
"Tidak ada, kau bisa pergi." ucap Theo.
"Tapi ibu Sheira berpesan untuk melayani tuan jika tuan meminta sesuatu. " ucapnya bohong.
"Apa aku barusan meminta sesuatu?" tanya Theo tegas.
"Tidak tuan." ucap Suci takut.
"Aku menyuruhmu pergi bukan, jadi silahkan jangan hiraukan aku." ucap Theo dan Suci pun pergi.
Theo pun membuat kopi sendiri dan melihat kulkasnua nampak Sheira sudah memasak beberapa makanan seperti biasa. Sheira selalu melakukan iti karena lebih praktis saat ia dan Theo sibuk jadi mereka hanya tinggal menghangatkannya. Theo pun jadi tahu kalau Art bernama Suci tadi sedang menggodanya. Karena ia tahu Sheira memiliki kebiasaan membuat stok makanan di kulkas.
"Berani sekali dia padaku." gumam Theo dalam hati.
Theo pun meminta beberapa penjaga untuk mengawasi Suci karena tingkahnya yg dinilai kurang ajar pada tuannya. Ia bermaksud menggoda Theo karena tahu tuannya sangat tampan dan kaya raya.
Setelah memberikan perintah lewat pesan singkat, Theo pun menghangatkan makanan yg dibuat Sheira lalu makan dengan santai. Tampak juga kepala ART disana mulai mengawasi Suci dan memberi tugas yg menjauhkannya dari tuannya yg mulai tak suka padanya. Suci adalah ART pengganti karena ART sebelumnya hamil dan berhenti tiba-tiba karena kondisinya. Sheira pun memakluminya dan menyuruhnya pulang serta memberikan uang saku.
Dan Suci pun dikirim sebagai pengganti tanpa sepengetahuan Viola. Viola juga cukup sibuk dengan beberapa bisnis dan agendanya hingga tak terlalu memerhatikan ART tersebut.
Kini Suci sedang merencanakan bagaimana caranya ia mendekati tuannya. Ia rela menjadi pelakor asalkan bisa menikah dengan tuannya yg tampan dan kaya itu. Ia sampai sudah menyiapkan obat perangsang untuk menjebak tuannya tersebut.
Tapi pengawal pun tahu gerak-gerik Suci, serta ART lain yg sekamar dengannya pun ikut mengawasinya sesuai perintah kepala pelayan disana. Ia melihat Suci memyimpan sebuah obat di balik kasurnya saat ia sedang pura-pura tertidur.
__ADS_1
"Obat apa itu?" gumam Lastri saat sedang pura-pura tertidur.
☘☘☘
Sementara itu, Theo pun menjemput Sheira ke bakery miliknya. Ia melihat pelayan bernama Suci sudah beristirahat di kamarnya dan Theo pun lega karena tak harus bertemu wanita menyebalkan itu.
Theo pun menjemput Sheira yg tengah menunggu di bakery nya. Sheira pun nampak sudah lelah, dan Theo langsung membawanya pulang.
"Kau sudah makan?" tanya Theo.
"Sudah tadi aku makan bersama mereka(Pegawai tokonya).." ucap Sheira.
"Baguslah, kita langsung pulang saja." ucap Theo.
Theo pun bergegas pulang karena Sheira sudah mengantuk. Hingga saat tiba di rumahnya Sheira pun tertidur. Theo pun dengan hati-hati menggendong Sheira masuk ke rumahnya. Dan ia meletakkan Sheira di kasur serta melepas sepatunya.
Theo pun memperlakukan Sheira dengan lembut dab penuh kasih sayang hingga Sheira nyaman dan tak terbangun. Theo pun ikut tidur di samping Sheira karena dirinya juga lelah.
Keesokan harinya, Theo bekerja seperti biasanya. Dan Sheira melakukan kewajibannya menyiapkan kebutuhan Theo mulai dari pakaian hingga sarapan. Dan Suci yg hendak memasak untuk Theo pun dimarahi oleh kepala pelayan bernama Juminten dan menariknya ke halaman yg sepi.
"Kau ini tidak mengerti bahasa manusia atau bagaimana?? ibu Sheira itu pandai memasak dan memiliki setifikat khusus, dan sudah sepantasnya ia melayani suaminya. Dan kita hanya pembantu disini tugasnya bersih-bersih dan membantu ibu Sheira bukan menggantikan tugasnya." ucap Juminten memarahi Suci.
"Sudahlah bu, maafkan aku." ucap Suci tak terima.
"Baik bu." ucap Suci malas.
Suci pun ditugaskan untuk merawat halaman, dan tak diijinkan mengurus rumah bagian dalam. Dan Juminten mengawasinya dengan ketat. Sementara Lastri bertugas mencari sesuatu yg disembunyikan oleh Suci di bawah tempat tidur. Ia pun menemukan sebuah pil dan melaporkannya pada penjaga dan Juminten. Penjaga dan Juminten pun memeriksanya dan tahu kalau itu obat perangsang. Mereka pun langsung melaporkannya pada tuannya. Dan Theo menyiapkan rencana untuk menyingkirkannya.
Mereka pun menuruti keinginan Theo. Dan menyiapkan segalanya sampai meminta bantuan Viola dan menceritakan segalanya. Viola pun terkejut dan ingin memarahi penanggungjawab yayasan tempat penyaluran ART tapi Theo mencegahnya karena ia harus menangkap basah Suci.
Theo pun berniat menjebaknya pada saat weekend, dan Sheira diajak Viola pergi sesuai rencananya. Juminten pun melonggarkan pengawasannya terhadap Suci sampai ART centil itu bisa menggoda Theo terang-terangan.
"Tuan, ini kopi spesial yg saya buat untuk tuan." ucap Suci.
"Terimakasih." ucap Theo.
"Tuan, jika tuan butuh saya untuk membantu melayani tuan aku siap." ucap Suci.
"Melayani?? seperti apa yg kau maksud.?" tanya Theo.
__ADS_1
"Ya seperti yg kita tahu Ibu Sheira kan sedang hamil besar, pasti tuan tidak bisa dilayani olehnya." ucap Suci.
"Itu benar jika soal ranjang." ucap Theo.
"Jadi saya bersedia melayani tuan." ucap Suci.
"Benarkah??" tany Theo setelah berpura-pura meminum kopi buatannya.
"Benar, tuan katakan kapan saja saya selalu siap." ucap Suci.
"Kenapa tubuhku jadi panas ya.. dan ada apa dengan bajumu?" tanya Theo karena Suci berpakaian ketat.
"Tuan, kalau begitu bagaimana jika malam ini?" tanya Suci.
"Ikut denganku." ucap Theo.
"Kita mau kemana tuan?" tanya Suci.
"Sudah ikut saja, ini rumahku dan ada cctv dimana-mana." ucap Theo.
Sampailah mereka ke parkiran. Dan Theo menyuruh Suci untuk masuk ke mobilnya.
"Naiklah." ucap Theo membukakan pintu mobil.
"Terimakasih tuan.." ucap Suci senang berpikir Theo sudah dalam pengaruh obat.
Theo pun menutup pintu dan sopir pun datang, lalu masuk ke kursi kemudi.
"Tuan, kenapa anda tidak masuk??" tanya Suci bingung karena sang sopir hendak tancap gas.
"Ini uang untukmu, dan mulai sekarang kau kami berhentikan bekerja disini. Masalah barang-barangmu, sudah ada di bagasi belakang." ucap Theo.
"Tu-tuan.. bukankah anda tadi ingin.." ucap Suci terdiam.
"Ingin apa?? aku hanya ingin memecatmu dan aku punya seluruh bukti percakapan kita dan bukti cctv lainnya. Bahkan Juminten dan para penjaga sudah mengetahui rencana busukmu." ucap Theo.
"Tu-tuan maafkan saya, jangan pecat saya.." ucap Suci memohon.
"Pak, segera bawa Suci pulang ke kampungnya.. pakaian dan lain-lain sudah aman kan?" tanya Theo.
__ADS_1
"Sudah tuan." ucap sopir dan langsung pergi membawa Suci.
Di depan gerbang sudah menunggu 2 pengawal jika yg akan ikut mengantar Suci jika wanita itu macam-macam pada sang sopir. Suci pun tak bisa berbuat macam-macam dan menurutinya. Gagal sudah rencananya menjadi nyonya di rumah tersebut.