Affair With Me??

Affair With Me??
EP.76 Ketertarikan


__ADS_3

Leon yg hadir di pesta tersebut sebagai pendamping adiknya Vivian. Semua adalah perintah dadnya untuk menjaga Vivian dari mata lelaki. Tapi justru Leon sendiri yg tak bisa menjaga matanya dan memerhatikan Sheira dan juga Theo.


"Kak.. sudahlah sekali lihat juga tahu mereka saling menyukai." ucap Vivian.


"Tidak Viv, aku tahu mereka sedang apa." ucap Leon.


"Kalau begitu bolehkah aku dansa dengan seorang pria? atau mungkin minum segelas wine.?" tanya Vivian.


"Ck.. Kau ini mengganggu saja." ucap Leon lalu menariknya berdansa.


Vivian pun tersenyum setelah mengerjai kakaknya yg terkenal garang itu. Ia juga memerhatikan wanita bernama Sheira yg ditatap oleh kakaknya. Menurutnya wanita itu cukup cantik tapi nasibnya kurang beruntung karena harus jadi janda di usia muda.


"Apakah kakak tak bisa melihat kalau keduanya saling tertarik..?" gumam Vivian dalam hati.


Setelah dansa usai, Theo berbincang dengan rekan bisnisnya. Dan Sheira duduk di mejanya, ia menikmati minuman jus yg disediakan dan juga camilan buah.


Tibalah Pinkan disana, dan reaksi Sheira sangat santai.


"Bagaimana rasanya memimpin perusahaan? pasti sulit." ucap Pinkan.


"Tidak juga." balas Sheira.


"Jangan berbohong.. kau bahkan tak pernah bekerja di kantor." ucap Pinkan.


"Ya memang, tapi mau bagaimana lagi aku kan tinggal belajar dan bertanya jika tak mengerti." balas Sheira.


"Oh iya, masa cutimu seminggu lagi habis kan?" tanya Sheira.


"Aku akan mengundurkan diri." ucap Pinkan.


"Kau yakin? tapi jika serius kuharap kau mengikuti prosedur yg ada. Kau tahu kan prosedurnya?" tanya Sheira.


"Baiklah." ucap Pinkan berwajah masam.


"Pinkan apa yg kau lakukan disini?" tanya Aryo.


"Kami hanya bicara soal pekerjaan." ucap Pinkan.


"Benarkah?" tanya Aryo.


"Tanya saja padanya." ucap Pinkan.


"Sheira, apakah itu benar?" tanya Aryo.


"Benar, lagipula sekarang statusku adalah atasannya Pinkan.. kalau dia macam-macam dia yg rugi." ucap Sheira santai.


Leon pun datang menghampiri melihat ada 2 orang yg berpotensi menyakiti Sheira.


"Halo nona Sheira, bagaimana kabarmu?" tanya Leon.


"Oh, tuan Leon.. aku baik, kau sendiri?" balas Sheira.


"Aku juga baik, aku bolehkan duduk disini." ucap Leon yg langsung duduk.


"Silahkan." ucap Sheira.


"Kalian jika ingin bergabung kenapa berdiri?" tanya Leon.

__ADS_1


"Kami akan duduk." ucap Aryo melihat Sheira didekati beberapa pria.


Sementara Pinkan melihat Leon yg tampan dihadapannya tanpa berkedip. Ia merasa menemukan sosok sempurna di hadapannya.


"Ehm.. apa ada yg salah dengan diriku nona?" tanya Leon seketika membuat Pinkan tersadar.


"Tidak ada tuan." ucap Pinkan malu dan tangan Aryo menggenggam tangan Pinkan tanda tak suka.


"Pinkan ayo kita kesana." ajak Aryo dan mereka pun pergi.


Leon pun tersenyum karena kehadirannya membuat mereka pergi.


"Kau sudah tidak takut pada mereka?" tanya Leon.


"Ya begitulah tapi terimakasih tuan Leon berkat anda mereka bisa pergi dengan tenang." ucap Sheira.


Theo pun tiba dan melihat Leon. Ia terkejut tapi langsung menyapanya.


"Selamat malam tuan Leon, aku tak menyangka anda akan hadir." ucap Theo.


"Aku juga bekerja disini, mengawal seseorang." ucap Leon.


"Benarkah, apakah tak apa anda ada di mejaku?" tanya Sheira.


"Ya.. aku tak masalah." ucap Leon.


Namun tiba-tiba earphone milik Leon berbunyi dan Vivian memanggilnya. Seketika Leon pun beranjak dan pamit meninggalkan mereka berdua.


"Maaf, mungkin kita bisa berbincang lain waktu.. aku ada pekerjaan." ucap Leon.


Leon pun menghampiri adiknya dan melihat kini Vivian tengah digoda oleh beberapa pria. Leon pun tak tinggal diam dan menarik Vivian. Para pria itu tak terima dan melawan, hingga mereka mendapat hadiah sambutan dari Leon sang kakak.


"Jangan macam-macam pada nona Vivian." ucap Leon setelah mereka semua terkapar.


Sementara Vivian berbisik pada kakaknya.


"Kak kau itu darimana saja, kan aku harus mempertahankan sikap anggun ini selama di pesta.." ucap Vivian lirih.


"Maaf, kita pulang saja." ucap Leon.


Leon dan Vivian pun akhirnya pulang lebih dahulu. Sementara Theo dan Sheira mereka menikmati pesta sembari berbincang dengan beberapa rekan bisnis.


Disudut lain, nampak Aryo tengah memandang Pinkan dengan tatapan tak suka.


"Pinkan berani sekali kau menatap pria lain saat ada aku." ucap Aryo.


"Mas sendiri bagaimana? ada aku tapi masih melirik mantan istri." balas Pinkan.


Mereka berdua pun terdiam karena sindiran masing-masing. Pinkan pun merasa tak bersalah karena ia hanya mengagumi pria tampan tadi, dan Aryo jelas-jelas selalu membandingkan dirinya dan Sheira.


Hingga akhirnya mereka berdua pun pulang dan saling terdiam. Aryo pun semakin tak yakin pada Pinkan, melihat keadaannya yg selalu egois. Belum lagi bayinya yg masih berada di rumah sakit dan belum bisa kembali pulang. Bagaimana nanti saat bayi tersebut dibawa pulang?? akankah Pinkan yg merawatnya ataukah akan ada babysitter?? Pikiran itupun sudah ada di bayangan Aryo.


☘☘☘


Sementara Sheira dan Theo mereka yg dari awal hingga akhir tetap serasi. Mereka pun pulang saat mulai larut dan tamu mulai pulang. Semua pun nampak menghormati Theo, karena sejatinya perusahaan tersebut adalah miliknya dan ia menyembunyikan identitasnya selama ini.


Dan melihat Aryo yg menjadi bawahannya, terkadang membuat Theo emosi jika ia macam-macam pada Sheira. Ingin sekali Theo memecatnya tapi nanti ia akan dikira pemimpin yg arogan.

__ADS_1


Tapi kali ini, ia berhasil bersama dengan Sheira sebagai kekasih palsunya. Meski begitu semua orang mengatakan mereka serasi dan cocok sebagai pasangan.


Dan hal itu membuat Theo senang, ia berharap Sheira tertarik dan memiliki chemistry yg dalam dengannya hingga hubungan mereka bisa menjadi nyata.


"Aku senang akting kita dipuji orang hari ini." ucap Sheira.


"Ya.. karena kita memang serasi." ucap Theo.


"Benarkah?" tanya Sheira.


"Ya.. bahkan aku tak keberatan jika hubungan ini jadi nyata." ucap Theo.


"Kau ini bicara apa.." ucap Sheira malu.


"Mau bagaimana lagi, kau itu cantik." ucap Theo yg juga gugup mengatakannya.


"Terimakasih.." balas Sheira sambil memelingkan wajahnya malu. "Kenapa aku jadi malu sekali.. jantungku tenanglah ini bukan sedang dalam bahaya.." gumam Sheira dalam hati.


Theo pun mengendarai mobilnya dengan santai. Hingga mereka tiba di parkiran apartemen mereka. Theo pun terdiam dan membuat Sheira bingung.


"Ada apa Theo?" tanya Sheira.


"Sheira jika aku benar-benar menyukaimu apakah kau akan menerimaku?" tanya Theo.


"Eh.. kenapa kau bertanya begitu.?" balas Sheira.


"Jawab saja dengan jujur." ucap Theo.


"Sejujurnya aku tertarik padamu, tapi hatiku belum siap untuk memulai hubungan baru.. kau menyenangkan dan selalu ada untukku, juga kita sering berbagi banyak hal." ucap Sheira.


"Apa kau tak bisa menerimaku? aku menyukaimu sejak lama." ucap Theo.


"Aku perlu memikirkannya Theo, kau tahu kan aku masih agak sulit memulai hubungan baru." ucap Sheira.


"Aku akan menunggu jawabanmu." ucap Theo.


"Baiklah, aku akan memikirkannya. "ucap Sheira.


"Oke sekarang kita turun." ucap Theo.


Keduanya pun membeku sampai di kamar masing-masing. Tak ada pembicaraan karena keduanya saling merasa gugup satu sama lain. Hingga Sheira tiba di dalam apartemennya, dan Jasmine masih menunggunya.


"Sheira ada apa?? apa ada yg mengikutimu?" tanya Jasmine.


"Tidak.. aku hanya gugup." ucap Sheira.


"Kau gugup bertemu siapa? hantu??" tanya Jasmine.


"Bukan.." ucap Sheira lalu berlari ke arah kulkas dan menenggak air minum.


"Akhh.. Theo mengutarakan perasaannya padaku." ucap Sheira.


"Bukannya itu bagus.. kalau kau suka kau bisa menerimanya dan buktikan pada mantan suamimu itu kalau kau bisa bahagia.." ucap Jasmine.


"Tapi aku bilang akan memikirkannya dulu." ucap Sheira.


"Ya pikirkanlah dengan baik, kesempatan tak lewat 2x ingat itu.." ucap Jasmine.

__ADS_1


Sheira pun mendengarkan ucapan Jasmine dan memikirkannya baik-baik.


__ADS_2