
Grace pun selalu menyibukkan diri agar pikirannya tak berfikir yg macam-macam. Dan anehnya Sean malah ditugaskan untuk menjaga Grace selama beberapa bulan. Padahal harusnya Sean mengurus tugas-tugas besar lainnya.
Sean yg ingin protes pun tak bisa melakukannya karena atasannya adalah ayahnya sendiri. Identitas aslinya yg ia sembunyikan selama ini bisa terbongkar jika ia melawan ayahnya. Walaupun ia terlalu bosan mengawal nona muda yg sebenarnya tak perlu pengawalan.
"Kau pasti bosan mengawalku." ucap Grace.
"Benar." ucap Sean.
"Sekarang kau mulai berkata jujur padaku." ucap Grace tersenyum.
"Nona kan yg memintanya." ucap Sean.
"Iya.. aku juga melakukan hal yg sama pada bodyguard lainnya." ucap Grace.
"Ternyata nona orang yg bisa menerima pendapat orang lain." ucap Sean.
"Tentu saja Sean, aku dididik untuk itu." ucap Grace.
"Lalu kau sampai kapan akan menjagaku?" tanya Grace.
"Apa anda yg justru bosan bersamaku?" tanya Sean.
"Aku bahkan tak perduli Sean kau menjagaku atau tidur." ucap Grace.
"Kata-kata anda benar-benar menyakitkan. " ucap Sean.
"Haha.. aku memang begini. Oh iya, kau pengawal dari SHIELD kan?" tanya Grace.
"Tentu saja nona." ucap Sean sebal.
"Jangan terlalu sebal padaku, aku hanya ingin bertanya sesuatu." ucap Grace.
"Katakanlah nona, aku juga takkan sanggup protes." ucap Sean.
"Oke.. jadi maukah kau jadi teman berlatihku?" tanya Grace.
"Berlatih apa? maksud nona bela diri?" tanya Sean.
"Iya, aku sudah mulai jarang melakukannya.. Kau bersedia?" tanya Grace.
"Baiklah, tapi jangan mengeluh ya nona." ucap Sean.
"Aku takkan mengeluh tapi akan jujur saat tak sanggup lagi." ucap Grace.
"Oke.. deal.." ucap Sean.
"Kapan dan dimana?" tanya Sean.
"Nanti sore di belakang rumah." ucap Grace.
"Baiklah nona." ucap Sean.
Begitulah cara Grace memanfaatkan Sean. Ia tahu kalau Sean juga bosan menjaganya, dan Grace tak begitu butuh pengawalan. Jadi daripada kemampuan Sean yg tak begitu dibutuhkan untuk menjaganya, lebih baik Grace memintanya membantunya berlatih bela diri. Hal yg sudah jarang sekali Grace lakukan.
Setelah seharian bekerja, Grace pun pulang ke rumah di sore hari. Lalu ia bersiap untuk latihan dengan Sean di tempat yg sudah disediakan di rumahnya. Sheira dan Theo pun menggelengkan kepala karena Grace benar-benar menyukai bela diri melebihi kedua kakaknya.
__ADS_1
Grace pun membawa Sean masuk ke sebuah ruangan. Disana juga terpajang beberapa piala yg Grace raih dulu saat masih sekolah.
"Kau terkejut?" tanya Grace melihat Sean yg melihat beberapa piala miliknya.
"Ini diluar dugaanku.. kukira anak buahku yg bodoh." ucap Sean.
"Sudahlah, lagipula aku juga mereka kalahkan." ucap Grace.
"Baiklah nona, mari kita lakukan pemanasan sebelum berlatih." ucap Sean.
Keduanya pun kompak melakukan latihan, dan Grace cukup kesulitan mengimbangi Sean yg sudah terlatih. Tapi Sean mengakui kemampuan Grace yg diluar ekspektasinya.
"Cukup, aku tak sanggup.. haaah.." ucap Grace.
"Aku mengakui kemampuanmu nona, walaupun anda takkan bisa mengalahkanku." ucap Sean sombong.
"Tentu saja, mana ada tenaga pria yg lebih lemah dari wanita." ucap Grace.
"Itu benar.." ucap Sean.
"Apapun itu, aku senang hari ini bisa berlatih kembali." ucap Grace.
"Terlihat dari ekspresi anda yg terlihat bahagia sekarang." ucap Sean.
"Harusnya aku tetap melakukannya Sean, aku bodoh karena terlalu sibuk bekerja." ucap Grace.
"Aku bisa menemani nona, selama aku bekerja disini." ucap Sean.
"Baguslah, aku senang memanfaatkanmu dengan benar." ucap Grace tersenyum lebar.
"Ya.. yaa.. sampai jumpa besok.. kau boleh pulang." ucap Grace melambaikan tangan.
"Dasar, nona satu itu cukup unik." ucap Sean.
Sean pun pulang ke rumahnya dan Grace pun menghabiskan waktu dengan keluarganya. Meski sulit Grace harus hidup normal karena akan sia-sia waktunya jika hanya memikirkan Jefry.
☘☘☘
Keesokannya, Grace pun kembali bekerja. Ia dan Sean mengunjungi beberapa bakery seperti biasanya. Dan Sean sudah hafal dengan semua kebiasaan Grace.
Hingga saat ia tiba di sebuah toko rotinya, ia melihat wanita dengan memakai dres pendek duduk di bakery miliknya. Pegawainya pun berkata kalau wanita itu ingin bicaranya padanya.
Sean pun memerhatikan wanita itu dengan seksama sebelum Grace menemuinya.
"Sudah kan, aku akan menghadapinya." ucap Grace pada Sean.
Sean pun hanya melihatnya dari kejauhan. Dan Grace menghampirinya.
"Oh ada apa ibu Angel menemuiku?" tanya Grace yg sudah tahu kalau dia adalah Angel karena pernah mencaritahu tentang Jefry.
"Kau sudah mengenalku rupanya." ucap Angel.
"Bagaimana aku bisa lupa, bu Angel kan dari perusahaan XXX.. " ucap Grace.
"Kau bahkan sampai tahu sedetail itu." ucap Angel terkejut.
__ADS_1
"Jadi jangan membuang-buang waktuku.. katakan ada apa ibu Angel.?" tanya Grace dengan menekankan kata "Ibu".
"Jangan menangis ya nona.." ejek Angel memberikan undangan pernikahannya dengan Jefry mantan Grace.
"Untuk apa iri? toh kalian juga menikah bukan karena saling menyukai.. ups bolehkan aku menyebutkannya?" tanya Grace tersenyum.
"Yang jelas aku yang menang.." ucap Angel.
"Aku tak tahu soal menang atau kalah dalam menikah. Yang aku tahu menikah itu bukan siapa cepat dia dapat tapi siapa yg bisa bertahan seumur hidup." ucap Grace membuat Angel kesal.
"Uhh.. jangan terlalu kesal kasian janinmu." ucap Grace.
"Baiklah aku akan pulang.. Jadi jika kau baik-baik saja pastikan datang ya dan ingat dengan senyuman bukan air mata." ejek Angel.
"Oke.. kau begitu ingin aku datang rupanya." ucap Grace.
Angel pun pergi dan wajah Grace berubah menjadi kesal. Seketika Sean paham siapa wanita itu. Grace pun menyimpan undangan tersebut bermaksud akan datang dengan kedua kakaknya. Tapi takdir berkata lain, Nicho sedang ditugaskan untuk perjalanan dinas ke luar negeri. Dan Nathan, ia juga sedang mengurus galery miliknya di luar negeri.
Grace pun terdiam dan kesal saat memandang undangan tersebut.
"Akhhh.. aku sudah berlagak akan datang tapi kenapa kedua kakakku pergi ke luar negeri.???!!" umpat Grace di dalam mobil.
"Anda baik-baik saja nona?" tanya Sean di sampingnya yg sedang mengemudi.
"Tidak Sean, aku tak baik-baik saja.. bagaimana aku menghadapi manusia ular itu??" tanya Grace.
"Ma-manusia ular??" tanya Sean bingung.
"Kau itu lambat sekali, maksudku Angel si pelakor." ucap Grace.
"Kan anda tinggal datang saja." ucap Sean.
"Sean kau benar-benar tak mengerti." ucap Grace.
"Apa kau punya kekasih?" tanya Grace.
"Kekasih? tak ada aku terlalu sibuk." ucap Sean.
"Kenapa banyak pria sukses hampir sama seperti kedua kakakku.?" tanya Grace.
"Mana kutahu nona, aku hanya belum menemukannya saja." ucap Sean santai.
"Baiklah, kau mau kan menolongku?" tanya Grace.
"Perasaanku jadi tak enak mendengarnya. " ucap Sean mulai merasakan kalau Grace akan memanfaatkannya.
"Benar, kau akan kumanfaatkan lagi.. ayolah Sean bantu aku.. Kita bukan nona dan bodyguard, kita seperti teman." ucap Grace.
Memang selama ini Grace tak pernah menganggap Sean sebagai bodyguardnya, tapi lebih seperti orang yg menemaninya sebagai asisten. Sean pun tak bisa menolaknya karena tugasnya adalah menjaga Grace.
"Dad.. kau benar-benar menjebakku.. sampai aku harus pura-pura begini demi misi yg kau berikan" gumam Sean dalam hati.
Dan saat ini mereka tengah berada di butik pakaian terkenal di kota ini. Dan Grace memilihkan setelan jas yg cocok dengan Sean, juga gaun yg cocok dengan dirinya agar terlihat serasi. Tak lupa, Grace juga sudah mengabari kedua kakaknya akan rencananya.
"Baiklah, kau terlihat lebih baik dengan jas itu." ucap Grace melihat Sean mencoba jas pilihannya.
__ADS_1