
Sheira pun bahagia bertemu dengan Daniel. Mereka sejak kecil jarang sekali bertemu, dan seingatnya Daniel usianya lebih tua dari Sheira. Dan Sheira sering memanggilnya "Kak Niel" hingga ia lupa kalau nama aslinya Daniel. Begitu juga dengan Daniel, karena ia harus pindah ke luar negeri saat itu.
Setelah bertemu dengan Sheira dan tahu fakta yg sebenarnya, Daniel pun akan membantu Sheira mengembalikan apa yg menjadi hak miliknya. Ia yakin sekali walaupun Sheira tak kekurangan secara financial tapi ia menderita karena harus hidup sebatang kara.
Daniel pun menyelidiki tentang keluarga Aryo yg ia dengar dari Theo sangat jahat pada Sheira. Dan juga ia mencaritahu siapa yg memegang kendali perusahaan milik orang tua Sheira saat ini.
"Kalian cari tahu segalanya dan laporkan padaku.." perintah Daniel di telepon.
Sementara Theo, ia mendapat laporan kalau Daniel bertemu dengan Sheira di Bali dan mereka sempat beberapa kali bersama. Hal tersebut membuat Theo cemburu dan langsung menanyakannya pada Daniel.
"Halo Bro, apa kabarmu??" tanya Daniel di telepon.
"Ck.. jangan sok baik, cepat pulang.. " ucap Theo kesal.
"Jangan marah dulu, aku punya berita bahagia.." balas Daniel.
"Dasar kurang ajar, aku sudah memberitahumu kau malah menikungku dari belakang.." ucap Theo.
"Ck.. kau ini habis makan apa sih? aku bahkan belum cerita apa-apa.." ucap Daniel.
"Pokoknya segera pulang dan temui aku.." ucap Theo.
"Baiklah, aku akan pulang bersama Sheira.." ucap Daniel lalu sambungan telepon pun terputus.
Tutt..tutt..tutt..
"Kurasa dia cemburu dan salah paham.." ucap Daniel menarik nafas panjang.
Tapi ia tak peduli karena saat ini yg terpenting adalah menemani Sheira di pengadilan sesuai janjinya. Ya, Sheira minta ditemani karena tak ada seorangpun yg bisa ia percayai. Bahkan teman pun tak ada karena statusnya yg anak yatim piatu. Itulah mengapa Sheira memutuskan untuk sekolah di luar negeri.
"Sebagai kakak sepupumu aku takkan membiarkanmu ditindas oleh suami beban macam Aryo.." gumam Daniel dalam hati.
Keesokannya Daniel dan Sheira pun pulang ke Jakarta. Daniel yg mempercepat semua jadwalnya demi membantu Sheira, dan ia bergegas pulang untuk menyelesaikan semuanya.
"Kak mampirlah ke apartemenku.." ucap Sheira.
"Ya.. aku akan mampir sebentar.." ucap Daniel.
"Aku senang aku tak sendiri lagi.." balas Sheira.
"Kau jangan merasa begitu, ada banyak orang yg peduli padamu.. " balas Daniel.
"Iya aku tahu.." balas Sheira.
Mereka pun terbang dari Bali menuju ke Jakarta. Dan Daniel langsung dijemput oleh orang-orangnya.
"Ayo naik ke mobilku.." ucap Daniel.
"Baiklah.." balas Sheira.
Mereka pun langsung menuju ke apartemen dan Daniel sudah berjanji untuk mengunjungi apartemen milik adiknya itu. Setelah tiba disana, Sheira mengajaknya masuk dan menyajikan minuman.
"Silahkan diminum kak.." ucap Sheira.
"Ya terimakasih.." balas Daniel.
"Kau benar-benar tinggal sendirian disini.." ucap Daniel.
"Ya.. memang sepi tapi aku sudah terbiasa.." balas Sheira.
"Sheira apa saja yg sudah dilakukan suamimu padamu?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Dia menamparku 2 kali dan mencambukku berkali-kali.. " ucap Sheira menahan air matanya.
"Dasar baj***an.. aku akan membalasnya nanti kau jangan takut.." ucap Daniel.
"Iya kak.. sampai detik ini aku masih takut saat melihat ikat pinggang.. " ucap Sheira menceritakan traumanya.
"Sudah-sudah.. kau sudah berjanji akan melawannya dengan berani.." balas Daniel.
"Iya kak.." balas Sheira.
"Sebentar, Theo menelponku.." ucap Daniel menjauh.
Daniel pun mengangkatnya dan mendengar Theo begitu kesal padanya.
"Hei, apa yg kau lakukan kenapa kau mampir ke apartemen Sheira..?" tanya Theo.
"Ck.. pelankan suaramu.. nanti aku ceritakan.." balas Daniel.
"Sekarang juga ke apartemenku atau aku akan mengusirmu..!" ucap Theo.
"Kau ini benar-benar, tunggu aku kesana sekarang.." ucap Daniel.
Lalu Daniel berpamitan pada Sheira, padahal ia ingin membahas perusahaan milik orangtuanya. Tapi karena Theo ia mengurungkan niatnya.
"Kalian pasti sangat dekat sampai kakak tinggal di apartemennya.." ucap Sheira.
"Ya.. tapi jangan salah sangka, karena aku masih normal.." balas Daniel.
"Haha.. iya kak aku tahu.." balas Sheira.
"Oke.. nanti kita bicara lagi.." ucap Daniel lalu pergi meninggalkan apartemen Sheira.
☘☘☘
"Ck.. ini penyambutanmu? seram sekali.." balas Daniel.
"Cepat ceritakan ada apa kau dengan Sheira.." pinta Theo.
"Oke.. mari duduk dan bicara .." ucap Daniel.
"Jangan terlalu kasar padaku nanti kau akan menyesal setelah mendengarnya.." balas Daniel.
"Jadi ada apa?" tanya Theo setelah mereka duduk.
"Jadi Sheira adalah sepupuku yg bernama Ara.." ucap Daniel.
"Kau tidak bercanda kan?" tanya Theo.
"Mana mungkin.. aku melihat dengan jelas saat Sheira membuka dompetnya ada foto paman dan tanteku.." ucap Daniel.
"Benarkah?" tanya Theo masih tak percaya.
"Ya.. dan dia juga tahu nama ayah dan ibuku.." balas Daniel.
"Baiklah, jika kau bohong awas kau.." ancam Theo.
"Jika aku benar, aku yg akan mengawasimu karena Sheira adalah adikku.." ucap Daniel, seketika membuat Theo berubah pikiran.
"Nampaknya kau lelah, mau kusiapkan air hangat kaka ipar.." balas Theo.
"Cih.. tadi saja matamu melotot seperti ingin menelanku hidup-hidup.." ucap Daniel.
__ADS_1
"Ya.. aku berubah pikiran.." balas Theo tersenyum tanpa dosa.
"Tidak usah, aku bisa mandi sendiri.. nanti kita bicara lagi karena aku lelah.." balas Daniel.
"Oke Bro.." balas Theo.
"Hampir saja aku memukulnya dan bisa-bisa dicoret namaku dari calon adik iparnya.." gumam Theo dalam hati.
☘☘☘
Menjelang persidangan, Sheira mendapat banyak bunga dari Aryo. Nampaknya Aryo masih bersikukuh untuk mengajak Sheira rujuk. Dan hal itu membuat Daniel geram. Ia takkan membiarkan baj***an itu mendekati adiknya lagi apalagi sampai adiknya rujuk dengannya.
Theo pun yg mendengar tak kalah kesal. Tapi ia menahan diri sekuat yg ia bisa agar Sheira tak kesulitan.
Seperti saat ini, Daniel dan Sheira pun sedang makan bersama untuk membahas masalah orangtua Sheira.
"Jadi kau tidak ingin tahu apa saja harta peninggalan orangtuamu?" tanya Daniel.
"Biarlah kak aku sudah pusing dengan masalahku.." ucap Sheira.
"No.. mereka harus dihukum dan kau harus mendapatkan hakmu.." ucap Daniel.
"Tapi aku bisa apa? pasti sulit mengajukan gugatannya setelah sekian lama.." balas Sheira.
"Aku akan membantumu." ucap Daniel.
"Akan aku pikirkan.." balas Sheira tersenyum.
Tapi dari kejauhan nampak Aryo berada disana bersama Pinkan. Ia nampak kesal melihat Sheira bersama pria lain, dan langsung melabraknya. Pinkan pun tak mencegahnya karena ia ingin Sheira dipermalukan oleh Aryo.
"Ayo Mas labrak dan permalukan wanita ja**ang itu.." gumam Pinkan dalam hati.
Aryo pun mendekat dan memanggil Sheira.
"Sheira..!" panggil Aryo.
"Ck.. Mas, aku tidak tuli.. bisa kan panggil biasa saja.." ucap Sheira.
"Dan ada apalagi?? sebentar lagi kita bercerai kan?" balas Sheira.
"Kita belum resmi bercerai dan kau sedang asik bersama pria lain..?? dasar kau ini rendahan sekali.." ucap Aryo membuat Daniel kesal.
"Oh jadi ini suami beban yg sudah menyakiti adikku..?" tanya Daniel.
"Kak.. jangan disini ada banyak orang.." ucap Sheira..
"Kak..?? drama apalagi sekarang?" tanya Aryo.
"Aryo wibowo jangan kau kira aku tak tahu kebusukanmu, kau berselingkuh 2 x dari adikku dan kini menikahi salah satu selingkuhanmu.. sekarang kau justru mencari kesalahan adikku..? Dasar manusia sam***h..!" ucap Daniel.
"Apa kau bilang?? berani sekali pria rendahan sepertimu, dia masih istriku jadi aku berhak marah saat dia bersama pria lain." ucap Aryo semakin membuat keributan.
"Pria lain yg kau maksud itu kakak dari istrimu.. dan sekali lagi kau mengganggu Sheira kau takkan kubiarkan hidup tenang.." ucap Daniel.
"Kau harus mendapat pelajaran.." ucap Aryo hendak memukul tapi ditepis oleh Daniel.
Plakk.. Bughh..
Justru Aryo yg jatuh terkena pukulan Daniel.
"Ingat ini peringatan terakhir, jauh-jauh dari adikku jika ingin hidup tenang.." ucap Daniel mempermalukan Aryo.
__ADS_1
Daniel pun menarik Sheira dari tempat itu untuk pergi menjauh. Dan nampak Sheira sangat ketakutan bertemu dengan Aryo walaupun ia berusaha menyembunyikannya. Tangannya bergetar hebat dan Daniel melihatnya dengan jelas.