
Brakkkk..!!!!
"Apaa?? kau ingin menikahi putriku?" tanya Theo terkejut.
"Benar tuan.. " ucap Sean.
"Dad.. haruskah berekspresi begini?" tanya Grace.
"Grace kau diam saja." ucap Theo.
"Oke.. semoga berhasil Sean.." ucap Grace pasrah.
"Tuan.. aku berjanji akan membahagiakan Grace.. " ucap Sean.
"Kau masih berani memanggilku tuan?" tanya Theo kesal.
"Aku akan berlutut padamu agar kau percaya.." ucap Sean.
"Grace kau yakin dengan pria ini?" tanya Theo.
"Sedikit.." ucap Grace.
"Sedikit?? oh tuhan.." ucap Theo menepuk jidatnya.
"Hahahaha..."
Tiba-tiba suara tawa pun terdengar dan seseorang memasuki ruangan tersebut.
"Da.. Tuan Leon." ucap Sean.
"Hahaha.. kau bahkan berlutut pada Theo, tapi kau tidak berani memanggilku ayahmu." ucap Leon.
"Maaf, apakah tidak masalah dad?" tanya Sean.
Plakkk..
Leon pun memukul bahu putranya yg begitu kaku dan tak paham situasinya.
"Sean, bisakah kau tak merendahkan dirimu saat melamar anak gadis orang?" tanya Leon.
"Aku harus meluluhkan hati tuan Theo dad." ucap Sean.
"Hhh.. dia itu tahu siapa kau.." ucap Leon.
"Benarkah?" tanya Sean.
"Bangun, dan bicara yg benar.." ucap Leon.
Sean pun bangun dan menatap Theo dengan tatapan penuh keseriusan. Bahkan Theo tak bisa mengalahkan tatapan Sean, sang ketua tim alfa. Lalu Sean mengutarakan tujuannya pada Theo, Theo pun tersenyum.
"Begini baru benar, kau ketua tim alfa kan?? jangan berlutut pada siapapun kecuali kau bersalah." ucap Theo.
"Maaf.." ucap Sean.
"Aku sih "Yes" tapi tidak tahu Grace." ucap Theo melemparkan pertanyaan kembali pada Grace.
Semua pun menatap pada Grace dengan tatapan penuh harap.
"Dad.. apa dad sudah yakin?" tanya Grace.
"Ck.. Grace yg akan menikah itu kau bukan aku.." ucap Theo.
"Grace, serius sedikitlah sayang." ucap Sheira.
__ADS_1
Nicho pun muncul karena semua orang tengah berkumpul di suatu ruangan. Karena penasaran dirinya pun ikut bergabung tapi hanya diam saja dan melihay tak ingin mengganggu.
"Hmm.. Oke.." ucap Grace.
"Kau yakin Grace?" tanya Sean.
"Ya.." ucap Grace.
"Baiklah, jangan berubah pikiran apalagi menyesal." ucap Theo.
"Baik dad." ucap Grace.
"Akhirnya aku bisa melihatmu menikah.. Hampir saja aku tak tahu kalau kau melamar putri Theo." ucap Leon.
"Kalau melamar biasanya pakai cincin, mana cincinnya?" tanya Nicho.
"Cin-cin.. " ucap Sean teringat sebuah benda penting.
"Jangan bilang kau melakukannya dengan spontan??" tanya Leon yg tahu karakter Sean.
"Maaf, Grace.. semuanya bagaimana jika kita adakan lamaran dengan cara yg benar.. " ucap Sean mencari alasan.
"Baiklah, nanti kita atur acara yg sebenarnya." ucap Theo.
"Syukurlah, Grace menikah dengan pria baik sepertimu." ucap Sheira.
Semua orang pun tersenyum dengan lamaran spontan Sean. Siapa yg menduga kalau Sean akan melamar Grace hari itu juga. Niatan untuk berkencan pun berubah menjadi sebuah pernikahan. Dan semua diluar prediksi Grace.
Leon pun hanya tersenyum menatap putranya yg tak bisa ditebak tingkah lakunya. Walaupun ia tahu kalau Sean menyukai Grace tapi ia tak menyangka kalau Sean langsung melamar Grace bahkan tanpa memberitahunya. Sepertinya malam ini Sean akan pulang ke rumahnya bukan ke apartemennya.
Begitulah malam pun diakhiri dengan Sean dan Leon yg berpamitan dengan bahagia menandai kalau mereka akan menjadi sebuah keluarga. Sean pun dipanggil Leon untuk datang ke rumahnya dan membahas lamaran yg dilakukan Sean secara tiba-tiba.
"Bagaimana bisa kau melamar seorang gadis sendirian dan tanpa persiapan?" tanya Leon.
"Grace menantangku.. jadi aku harus menunjukkan keseriusanku." ucap Sean.
"Belum, baru saja belum lama aku menyatakan perasaanku." ucap Sean.
"Hhhh.. Sean, kau yakin mau menikahi Grace?? " tanya Leon.
"Benar dad.. aku yakin." ucap Sean.
"Hhh.. ya lakukanlah asalkan kau tidak memaksa anak gadis orang saja." ucap Leon pasrah.
Leon tahu betul, Grace hanya ingin Theo tahu hubungannya bukan memintanya untuk menikahinya. Lalu Leon pun meminta Sean untuk mempersiapkan lamaran dan menyiapkan semuanya sebaik mungkin sesuai keinginan Sean dan Grace.
Tidak lupa Leon mengingatkan Sean untuk mengunjungi makam ibunya. Karena bagaimanapun ibunya tidak boleh dilupakan.
☘☘☘
Sementara Grace dirinya tengah ditatap semua orang dirumahnya dengan tatapan introgasi.
"Jadi, sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Nicho.
"Belum pernah satu detik pun kak." ucap Grace.
"Oh tuhan.. Grace kau yakin dengannya?" tanya Nicho.
"Ya.. bukankah dia menjagaku dengan baik.." ucap Grace.
"Tapi yg dia lakukan itu melamarmu Grace, yg artinya dalam waktu dekat kalian akan menikah." ucap Theo menyadarkan Grace.
"Me-menikah?? bukankah tidak harus langsung menikah.?" tanya Grace.
__ADS_1
"Jadi kau pikir akan berapa tahun kalian akan bertunangan?" tanya Theo.
"Mungkin 1-2tahun.." ucap Grace.
"Kau pikir kredit kendaraan.. dad tidak terima, dalam waktu kurang dari 6 bulan kalau Sean serius kalian harus menikah." ucap Theo.
JDERRRR..!!! Bak petir di tengah malam, membuat Grace terdiam seribu bahasa. Niat hatinya hanya ingin direstui oleh dadnya, tapi kenapa justru malah langsung menikah. Belum lagi, keduanya tidak mengenal sifat masing-masing karena selama ini hanya mengenal sebagai bodyguard dan nona.
Grace pun mengiyakan saja keinginan ayahnya daripada harus bergulat dengan pikirannya yg kacau. Yang lebih penting dari semuanya adalah keduanya memang saling mencintai.
"Ya tak masalah menikahi Sean, dia pria baik, bertanggungjawab juga mapan.. yg penting kami saling mencintai." gumam Grace dalam hati.
Grace pun memilih tidur daripada banyak berpikir. Apapun yg terjadi dirinya juga pasti akan menikah begitulah pikirnya. Hingga pagi hari, dirinya pun terbangun dengan tanpa beban dan pergi bekerja.
Sementara Sean, ia masih mengurus beberapa pekerjaanya sebelum mengurus masalah lamarannya. Dirinya pun sudah menghubungi Grace dan sepakat akan mengurusnya bersama-sama. Terlebih Sean tak tahu apapun soal mengurus hal ini, apalagi selera wanita.
Hari yg dinanti pun tiba, Sean menunggu Grace di depan rumahnya dan Grace pun muncul. Lalu mereka berpamitan dan pergi. Rencananya, mereka akan membeli sebuah cincin. Tak tanggung-tanggung, Sean sudah melakukan survey pada toko perhiasan yg dituju.
Sesampainya disana, Grace pun masuk dan melihat-lihat koleksi yg mereka tawarkan. Dirinya pun memilih dengan seksama, sementara Sean tak bisa memilih dan hanya melihat Grace memilihnya.
"Bagaimana yg ini?" tanya Grace.
"Bagus.." ucap Sean.
"Lalu kalau yg ini..?" tanya Grace.
"Ini juga bagus, semuanya bagus jika kau yg memakainya." ucap Sean tersenyum.
"Sepertinya kau yg tak paham.. baiklah biar aku yg memilihnya." ucap Grace.
"Oke.. aku akan menerima semua yg kau pilihkan." ucap Sean tersenyum.
Grace pun memilih perhiasan yg elegant dan cukup mahal. Disaat yg sama, Celine juga sedang berada disana dan melihat keduanya. Dirinya yg kesal pun menghampirinya.
"Sean.. kau tega sekali padaku." ucap Celine.
"Celine, bukankah aku sudah bicara pada orangtuamu?" tanya Sean.
"Tapi aku hamil." ucap Celine.
"Ha-hamil..?? dengan siapa?? kenapa kau bicara padaku?" tanya Sean bingung.
Sementara Grace hanya tertawa dengan sikap polos Sean yg justru tak bisa ditipu oleh Celine.
"Tentu saja denganmu.." ucap Celine berusaha mempermalukan keduanya.
"Celine apa kau mabuk?? jika mabuk lebih baik kau pulang, aku bahkan tak pernah mengajakmu berkencan." ucap Sean.
"Seann.. kau jahat sekali." ucap Celine.
Grace yg geram pun mulai berbicara karena Celine sudah keterlaluan.
"Oh ya?? kau yakin dirimu hamil?? kau sudah periksa ke rumah sakit mana?" tanya Grace.
"Aku hanya mamakai testpack.. kan testpack 100%akurat." ucap Celine.
"Kata siapa?? kalau begitu ayo kita ke dokter kandungan karena siapa tahu kau bukan hamil tapi sakit." ucap Grace.
"Ta-tapi.." ucap Celine.
"Grace benar, ke rumah sakit tempat kak Aira bekerja saja." tambah Sean.
"Tu-tunggu." ucap Celine.
__ADS_1
"Sudah ayo, aku antar.. Sean selesaikan pembayaran lalu menyusul." ucap Grace.
Grace pun membawa Celine ke mobil dan Sean menyusulnya. Kemudian mereka membawa Celine ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Grace yg tahu kalau Celine membual pun hanya diam saja melihat Celine panik saat ia bawa ke rumah sakit.