
Kejadian pemukulan itu pun berujung pada pelaporan ke pihak berwajib. Nicho pun tampak tak merasa bersalah setelah memukuli Jefry. Dirinya justru senang melihat wajah babak belur Jefry. Angel pun datang bersama Bianca dan Theo datang bersama Nathan.
"Kerja bagus anakku." ucap Theo melihat wajah babak belur Jefry.
"Tentu dad.." ucap Nicho.
"Good job Nick.." ucap Nathan tersenyum.
"Apa-apaan kalian ini, kalian bangga telah memukuli anakku?" tanya Bianca.
"Karena Jefry memang pantas di pukuli karena sudah menyakiti putriku dan membuatnya malu." ucap Theo.
"Kalian benar-benar keterlaluan." ucap Angel.
"Oh jadi ini wanita yg membuatmu meninggalkan adikku." ucap Nathan.
"Baiklah, aku akan mencabut laporan ini.. lebih baik kita pulang." ucap Jefry.
"Baguslah jika kau tahu diri." ucap Theo.
"Jeff.. apa yg kau lakukan?" tanya Bianca.
"Sudah mom.. cepat cabut laporannya.. Aku yg bersalah." ucap Jefry.
"Baguslah, lagipula aku siap membayar berapapun." ucap Theo.
"Dasar sombong sekali." ucap Bianca.
Theo dan kedua anaknya pun tersenyum apalagi melihat Jefry mencabut laporannya. Nicho pun dibebaskan dan hal tersebut membuat Bianca kesal. Berbeda dengan Angel yg mengkhawatirkan keadaan Jefry.
Theo dan kedua anaknya pun pulang, mereka puas sudah membuat Jefry babak belur. Dan saat mereka pulang, Grace nampak baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja Grace?" tanya Nicho.
"Iya." ucap Grace.
"Kau yakin sudah lebih baik?" tanya Theo.
"Iya dad." ucap Grace.
"Apa kau sudah tahu semuanya sejak awal?" tanya Nicho.
"Iya.. aku tahu Jefry selingkuh karena menyelidikinya sejak dirinya sering menghilang." ucap Grace.
"Gadis pintar.. kau tak pantas menangisi si bre***ek itu." ucap Nathan.
"Sudah, jangan dibahas lagi.. kita makan bersama saja." ucap Sheira.
"Waw.. mom masak banyak makanan." ucap Nathan.
Sheira pun berusaha mencairkan suasana dengan memasak makanan kesukaan mereka terutama Grace. Hingga semua orang pun berusaha mencairkan suasana demi menghibur Grace.
☘☘☘
Hingga esoknya Grace pun mengambil cuti dan beristirahat dirumahnya. Ia jadi malas melakukan apapun, dan memilih berolahraga di gym langganannya.
Grace pun pergi ke tempat biasa dan berolahraga disana. Cukup lama ia berada disana lalu kembali pulang saat sudah puas berada disana. Kemudian ia mampir ke sebuah cafe untuk menikmati makanan yg sedang ia inginkan.
Tiba-tiba di disergap beberapa orang berbadan besar.
"Ikuti kami atau kami akan bertindak kasar.." ucap salah seorang.
"Apa salahku?siapa kalian?" tanya Grace.
__ADS_1
"Kau hebat sekali berakting.."
"Akting? aku hanya ingin makan disini." ucap Grace.
"Tunjukkan identitasmu." ucap mereka.
"Baiklah." ucap Grace mengeluarkan kartu identitasnya.
"Grace Alesia Sanders.. kau yakin ini asli?" tanya mereka.
"Kalian ini menganggu makan siangku saja. " ucap Grace.
"Sudah ikuti kami." ucap mereka.
Grace pun tak terima dan melawan mereka, hingga ia terpojok karena kalah jumlah.
"Kalian ini siapa dan apa maksudnya ini semua?" tanya Grace.
Grace pun dibawa ke markas mereka dan mengikat Grace bak tahanan. Grace pun begitu sial hari ini, dan entah sampai kapan kesialan ini terus menimpanya.
"Ini dimana? kalian akan menyesal melakukan ini padaku." ucap Grace.
"Sudah ikuti saja." ucap salah seorang.
Grace pun dibawa ke sebuah gedung dan ia bingung bagaimana caranya keluar dan menghubungi keluarganya. Hingga seorang pria datang dan mereka pun melapor.
"Kapt, kami sudah menangkap wanita itu."
"Wanita mana?? aku dan tim II sudah menangkapnya tadi." ucap seorang pria bernama Sean.
"Apa?? lalu siapa wanita yg kami tangkap." ucapnya pada anak buahnya.
"Mana kutahu..! kalian ini cari masalah saja." ucap Sean lalu mendekati wanita itu.
"Dia bukan targer kita.. kalian ini membuatku dalam masalah kalau begini." ucap Sean.
"Maaf kapt." ucap mereka.
"Maafkan kami nona.. " ucap Sean lalu melepaskan ikatannya.
"Padahal aku sudah menunjukkan kartu identitasku." ucap Grace.
"Apa anda terluka nona?" tanya Sean.
"Tentu saja, dengan badan besar mereka sebagai wanita aku pasti kalah." ucap Grace.
"Kalau begitu ikut denganku." ucap Sean membawa Grace menuju ke pusat medis tempat tersebut.
"Ini dimana?" tanya Grace.
"Ini gedung SHIELD. Maaf kami salah tangkap orang. Karena wanita yg menjadi target memakai pakaian yg hampir sama denganmu. " ucap Sean.
"Aku bisa memahami, tapi tak tahu kalau ayahku." ucap Grace membuat Sean terdiam.
"Aku akan berlutut dan memohon maaf padanya." ucap Sean.
"Baiklah, kau akan diobati oleh dr.Tifany. Aku akan menunggu diluar." ucap Sean.
Setelah diobati, Grace pun keluar dari ruangan tersebut. Lalu ia melihat pria itu menunggunya di luar.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Sean.
"Ya.. aku mau pulang." ucap Grace.
__ADS_1
"Akan aku antarkan." ucap Sean.
"Oke." ucap Grace.
Tapi baru saja mereka keluar gedung nampak bodyguard Theo sudah ada disana dan menunggunya.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya mereka.
"Aku baik-baik saja.. ayo pulang." ucap Grace.
"Sepertinya kau tak perlu repot-repot karena aku sudah dijemput." ucap Grace pada Sean.
"Baiklah, tapi aku akan meminta maaf pada keluargamu." ucap Sean.
"Ya silahkan saja jika kau mau cari masalah dengan ayahku." ucap Grace.
"Aku akan bertanggungjawab atas kesalahan anak buahku." ucap Sean.
Grace pun pulang dikawal oleh bodyguard dan Sean mengikuti mereka dari belakang. Grace pun mengakui mental Sean yg sangat berani. Hingga mereka tiba di rumah Grace. Sean pun sudah melaporkan pada atasannya kalau dirinya melakukan kesalahan dalam penangkapan pada seorang wanita.
Grace pun mempersilahkan Sean untuk masuk ke rumahnya dikawal oleh bodyguardnya.
"Dad.. sudah pulang." ucap Grace.
"Kami juga sudah ada disini." ucap Nathan dan Nicho.
"Nah, tuan silahkan jika kau ingin bicara pada mereka." ucap Grace pada Sean.
Sean pun berlutut dihadapan Theo. Dan Theo pun memasang ekspresi kesalnya.
"Maafkan aku tuan, kami melakukan kesalahan pada putri anda yg begitu berharga. Aku akan bertanggungjawan pada semua biaya pengobatan nona Grace karena kesalahan anak buahku." ucap Sean.
"Baiklah.." ucap Theo membuat Nathan dan Nicho bingung.
"Dad.. semudah itu?" tanya Nathan.
"Dad.. ini tak benar, lihat Grace terluka. " ucap Nicho.
"Atasanya mengenal dad, dan dirinya sudah meminta maaf tadi. Dad juga punya hubungan yg baik dengan atasannya." ucap Theo.
"Ck.. kau beruntung." ucap Nicho.
"Awas saja kalau adikku kenapa-kenapa." ucap Nathan.
"Aku akan bertanggungjawab penuh tuan-tuan." ucap Sean.
"Ya aku percaya. Aku mengenal atasanmu tuan Leon. Sekarang kau boleh pulang." ucap Theo.
" Terimakasih atas kemurahatian anda tuan." ucap Sean lalu berdiri meninggalkan tempat itu.
"Kukira dad akan marah." ucap Grace.
"Ayah berhutang budi pada atasannya, tuan Leon." ucap Theo.
"Hutang budi bagaimana Dad?" tanya Nicho penasaran.
"Atasannya menyelamatkan nyawa mom dan dad di masa lalu." ucap Theo.
"Wow.. ada kejadian apa di masalalu?" tanya Grace.
"Nanti dad ceritakan.. kau istirahatlah Grace." ucap Theo.
"Baiklah." ucap Grace.
__ADS_1