
Theo dan Sheira pun bergegas kerumah sakit untuk melihat keadaan Grace. Begitu juga dengan Nicho dan Nathan. Tampak mereka berempat sangat cemas atas kondisi Grace. Bahkan Sheira tak peduli dengan tokonya yg terbakar, ia lebih mementingkan putrinya dan korban yg terluka.
Sejauh ini, tak ada korban lain selain Grace dan hal itu membuat Sheira panik. Bagaimana putrinya bisa tertinggal di dalam gedung yg terbakar. Dan setelah tiba disana, Sheira pun melihat Grace yg sedang terbaring.
Kemudian Theo dan Sheira bertanya pada Sean yg berada di lokasi kejadian.
"Jadi Sean apa yg terjadi?" tanya Sheira.
"Begini nyonya, saat kami sudah membereskan toko tiba-tiba ada asap tebal dan bau bensin. Dan ternyata bagian luar toko sudah terbakar, kami tak bisa melihatnya karena sebagian toko sudah kami tutup." ucap Sean.
"Aku pun bergegas mematikan api dengan tabung pemadam, dan nona tiba-tiba pergi untuk memutus aliran listrik. Saat pintu sudah bisa dilewati semua pun keluar kecuali nona. Lalu aku kembali dan menemukan nona mengamankan buku ini. " ucap Sean.
"Astaga anak ini.. hanya demi buku tak berguna ini ia hampir kehilangan nyawa?? membuat semua orang panik saja." ucap Sheira.
"Terimakasih Sean atas bantuanmu." ucap Theo.
"Sama-sama tuan." ucap Sean.
"Terimakasih, mungkin jika kau tak menarik Grace dia takkan bisa keluar dari sana." ucap Sheira.
"Sudah menjadi tugasku nyonya." ucap Sean.
Nathan dan Nicho pun mendengarkan penjelasan Sean pada kedua orangtuanya. Setelah itu Sean berjaga di luar dan Nicho beserta Nathan bicara padanya.
"Terimakasih Sean, berkatmu adik kami selamat." ucap Nicho.
"Ya.. Terimakasih kau sudah menolongnya." ucap Nathan.
"Sama-sama tuan." ucap Sean.
Kemudian Sean menceritakan kalau Grace terlihat seperti frustasi dan menyalahkan dirinya akan kesialan yg terjadi sekarang. Hingga Nicho dan Nathan pun terdiam. Mereka pun meminta Sean untuk mengawasi Grace saat mereka tak ada agar adiknya tak melakukan hal nekat yg membahayakan nyawanya.
"Kau awasi saja Grace jika tak ada kami." ucap Nicho.
"Baik tuan." ucap Sean.
"Dan masalah tugasmu menjaga adikku, nanti aku bicarakan pada ayahku." ucap Nicho.
"Aku mengandalkanmu Sean." ucap Nathan.
__ADS_1
Kemudian, Nicho dan Nathan pun masuk untuk melihat kondisi Grace. Mereka pun jadi tahu kalau adiknya secara mental tak baik-baik saja pasca gagalnya pertunangannya dengan Jefry. Tapi ada satu hal yg membuat mereka kesal pada malam itu. Dimana Jefry yg mendengar kabar tersebut langsung datang ke rumah sakit bermaksud untuk menjenguk Grace.
Disana nampak Sean hendak pulang dan berpamitan pada Nicho dan Nathan. Jefry pun muncul dengan wajah paniknya.
"Mau apa kau kemari bre***ek??" tanya Nicho kesal.
"Aku mau menjenguk Grace." ucap Jefry.
"Menjenguk?? kau tak ingat Grace tak ingin bertemu denganmu lagi?" ucap Nathan tak terima.
"Bisakah kalian mengijinkanku bertemu dan melihat kondisinya.? kumohon setelah itu aku akan pergi." ucap Jefry.
"Pulanglah, sebelum kesabaranku habis dan berakhir seperti kemarin." ucap Nicho.
"Nick.. kumohon sebagai temanmu aku hanya ingin melihat kondisinya." ucap Jefry.
"Kau bukan temanku lagi, hubungan kita hanya sekedar bisnis sekarang." ucap Nicho.
"Dan kondisi Grace baik-baik saja. Silahkan kau pulang." ucap Nathan yg tak ingin ada pertengkaran di rumah sakit.
Tiba-tiba Theo keluar setelah mendengar perdebatan.
"Om.. ijinkan aku untuk melihat kondisi Grace." ucap Jefry.
"Melihat kondisinya? Setelah menyakitinya saja kau tak perduli, sekarang apa niatanmu?" tanya Theo.
"Aku mohon, aku hanya khawatir." ucap Jefry.
"Tak ada gunanya kau mengkhawatirkan putriku, kau tahu siapa aku, aku akan menyembuhkannya dan menjaganya dengan baik. Jadi kau pulanglah." usir Theo kesal.
"Kau dengarkan? bahkan ayahku muak padamu." ucap Nathan.
"Jadi lebih baik kau pergi jika masih ingin hidup." ucap Nicho.
Jefry pun meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun. Wajahnya pucat dan pandangannya kosong. Ia pun pulang ke apartemennya dengan hampa. Di pikirannya hanya ada Grace, Grace dan Grace. Bahkan sampai kini ia meminta beberapa orang untuk memantau pergerakan Grace hingga ia tahu apa yg terjadi saat ini.
Hatinya pun sedih melihat Grace menjadi korban dalam insiden kebakaran. Tapi disaat dirinya sedang tak baik-baik saja, Angel datang dan menggodanya. Tapi sayangnya tak mempan karena pikiran Jefry yg sedang kalut.
"Sayang, kau pulanglah.. aku sedang ingin sendiri." ucap Jefry.
__ADS_1
"Aku merindukanmu. Terutama anakmu." ucap Angel.
"Iya, besok kita persiapkan pernikahan kita.. jadi lebih baik kau istirahat agar besok tak kelelahan kau kan sedang hamil." ucap Jefry.
"Baiklah, janji ya besok jangan ditunda lagi." ucap Angel.
"Iya aku janji." ucap Jefry.
"Oke aku pulang dulu." ucap Angel bahagia.
Setelah mencelakai Grace, dirinya pun senang bukan main. Kini hanya tinggal mengatur rencana selanjutnya untuk membuat ayahnya mengakuinya. Angel pun pulang ke apartemennya dengan bahagia. Anak buahnya juga sudah ia suruh pergi meninggalkan kota ini sejauh mungkin agar tak tertangkap sudah melakukan pembakaran.
Tapi sepertinya Angel terlalu menganggap remeh keluarga Grace. Theo, Nicho dan Nathan pun bergerak cepat menangkap pelakunya. Dibantu oleh Sean yg mengerahkan anak buahnya dari SHIELD untuk mencari tahu siapa dan apa motif pembakaran yg dilakukan secara sengaja ini. Apakah ini ulah pesaing, atau orang-orang yg membenci Sheira dan Theo. Hanya dua itu alasannya yg paling masuk akal.
Dan malam itu juga Sean mencari CCTV dan menyelidikinya. Nicho dan Nathan pun ikut menyaksikan cctv di lokasi kejadian. Dan terlihat segerombol orang tengah melewati tempat tersebut. Lalu beberapa orang dengan masker menyiram dengan bensin dan menyalakan api. Dari situlah api mulai cepat membesar.
Nampak sekali wajah kekesalan ditunjukkan Nicho dan Nathan. Mereka mungkin takkan membiarkan pelakunya begitu saja. Ini bukan soal kerugian toko Sheira, melainkan nyawa adiknya yg jadi taruhannya dalam insiden tersebut.
"Tuan, aku sudah memerintahkan beberapa orang untuk bergerak dan menangkap mereka. Kemungkinan mereka belum kabur terlalu jauh." ucap Sean.
"Kerja bagus Sean." ucap Nicho.
"Terimakasih tuan." ucap Sean.
Sean pun bekerja lembur malam itu, guna menangkap pelaku. Leon yg mendengar insiden itu juga ingin pelakunya segera ditangkap dan memerintahkan Sean untuk bergerak.
Beberapa jam kemudian, tim yg diperintahkan Leon pun berhasil melacak mereka dan segera menyergapnya. Dan pada pagi hari pelaku sudah ditangkap dan diamankan oleh petugas berwajib.
"Kerja bagus Sean.." ucap Theo.
"Terimakasih tuan."ucap Sean.
"Kau pulang dan tidurlah, aku tahu kau lelah." ucap Theo.
"Terimakasih tuan." ucap Sean.
Ia pun sampai begadangan demi menangkap pelakunya. Walaupun ia tak diam saja dan melihat pengakuan mereka langsung. Dan anehnya tak ada yg berani mengakuinya. Mereka bilang hanya iseng semata. Hal itu pun memantik kekesalan pada Nicho dan Nathan. Mereka sampai memukuli pelaku beberapa kali.
Dan Sean, ia sudah bisa menebaknya. Tapi ia memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yg sudah semalaman bekerja. Tapi ia juga meminta beberapa orang menyelidikinya lagi.
__ADS_1