
Setelah pengadilan ditunda dan Haris ditahan, mereka pun tak bisa langsung puas begitu saja. Karena masih ada Toni dan juga Luis. Dan Leon sudah memperingati mereka, dengan ditahannya Haris tak berarti kondisi akan menjadi aman. Justru mungkin kedua orang tersebut malah semakin menjadi.
Hingga Leon tak melonggarkan pengamanan sedikitpun. David juga memasang cctv tambahan di apartemen mereka dan ia bisa mengawasinya dari kamar Daniel.
"Bagaimana? sudah selesai kau pasang?" tanya Daniel.
"Sudah.. darisini kita bisa melihat siapa saja yg datang dan apa saja yg dilakukan mereka." ucap David.
"Good Job.." ucap Daniel.
"Aku ingin bertanya padamu, jika kasus ini selesai dan kau mendapatkan keadilan serta namamu dibersihkan, apa yg akan kau lakukan? tak mungkin kan kau kembali menjadi polisi." ucap Daniel.
"Ya.. aku akan tetap begini setidaknya hidupku jadi lebih bebas." ucap David.
"Jika kau butuh pekerjaan datanglah padaku, aku siap memberimu pekerjaan sesuia kemampuanmu." ucap Daniel.
"Baiklah, nanti aku akan menghubungimu jika membutuhkannya." ucap David.
"Bagus, hari ini aku ke kantor.. kau bisa awasi sambil bersantai." ucap Daniel.
"Ya.. aku akan menjaga tempat ini." ucap David.
David pun memantau situasi dari kamera pengawas yg ia pasang. Ia juga menunggu kabar dari Leon, yg entah kenapa ia bahagia jika mendapat tugas dari orang tersebut. Rasanya seperti hidup kembali seperti dulu.
"Semoga masalah ini cepat selesai.. " gumam David dalam hati.
Sementara itu, Theo pun ada janji makan siang dengan Sheira. Ia langsung pergi dari kantornya setelah tiba jam makan siang. Ia menuju ke resto yg sudah dijanjikan dengan Sheira.
Tapi diluar dugaan Sheira justru mengajak Jasmine. Mau tak mau Theo menahan diri, karena ada Jasmine. Begitu pula dengan Jasmine, ia merasa sudah datang ke tempat yg salah. "Aku jadi merasa bersalah pada mereka, aku harus mencari alasan untuk pulang." gumam Jasmine.
"Sheira, aku baru ingat sedang ada diskon bagus di toko langgananku.. bolehkah aku pergi.." ucap Jasmine.
"Kau serius, kenapa baru bilang sekarang?" tanya Sheira.
"Aku benar-benar lupa, jika tidak melihat ponsel pasti aku ketinggalan." ucap Jasmine.
"Baiklah kau pergi saja, ada aku yg akan mengantar Sheira pulang.." ucap Theo.
"Benarkah tuan Theo?? ya ampun terimakasih banyak." ucap Jasmine.
"Ya.. kau pergi saja, aku akan minta antarkan Theo." ucap Sheira.
"Yasudah, kalau begitu aku pergi ya.. sekali lagi aku minta maaf Sheira." ucap Jasmine.
"Tak apa, pergilah.." ucap Sheira.
"Pergilah, aku bisa mengantarkan Sheira pulang." ucap Theo. "Terimakasih Jasmine, dengan begini aku bisa mendekati Sheira." gumam Theo dalam hati.
Sheira dan Theo pun makan bersama dan melakukan meeting tentang project mereka. Sedikit demi sedikit mulailah project mereka berjalan. Seiring dengan dibangunnya pembatas wilayah agar tak ada orang yg mengganggu lahan tersebut.
__ADS_1
"Jadi, mereka siap dalam 1 minggu lagi." ucap Theo.
"Baiklah, kita adakan meeting lagi untuk merapikan semuanya dan pembangunan gedung bisa dilakukan." ucap Sheira.
"Aku harap impian ayah kita bisa terwujud." ucap Theo.
"Ya.. aku juga berharap demikian." ucap Sheira.
Mereka pun mengobrol santai berdua dan bercanda tawa. Theo pun sudah mulai bisa mengambil hati Sheira, mereka sudah mulai akrab dan dekat karena project tersebut. Setelah itu, mereka kembali ke apartemen. Dan saat mereka hendak keluar resto, Sheira melihat Aryo dan rekan-rekan kantornya. Sheira pun pura-pura tidak lihat dan pergi bersama Theo.
"Sheira.." panggil Aryo membuat semua rekan Aryo menengok.
"Pak, bukannya itu mantan istri bapak.?" tanya salah seorang tapi Aryo pergi begitu saja.
"Sheira tunggu." ucap Aryo lalu menarik tangannya.
"Oh Mas Aryo, ada apa?" tanya Sheira.
"Lama tak bertemu." ucap Aryo tersenyum.
"Ya.. tapi ada perlu apa sampai kau menemuiku begini.?" tanya Sheira.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Aryo.
"Aku baik.. " ucap Sheira.
"Mau kubuktikan?" tanya Theo merangkul pundak Sheira.
"Jangan berakting.. siapa saja bisa melakukannya." ucap Aryo.
"Mas, mau aku berakting atau tidak, kau tak punya hak untuk bicara. Lagipula, ingat istrimu Pinkan dia sedang hamil anak yg kau dambakan." ucap Sheira.
"Yasudah, cukup basa basinya.. sampai jumpa lagi." ucap Sheira.
"Sayang ayo kita pulang aku lelah." ucap Sheira pada Theo.
"Kuharap kau move on, dan jalani hidupmu yg bahagia." ucap Theo tersenyum.
Sheira dan Theo pun berjalan bergandengan tangan hingga menuju ke mobil. Dan Aryo menatapnya dengan sendu, hilang sudah harapannya untuk kembali pada Sheira. Dan ia pun teringat pada rapat kantornya. Aryo pun kembali walaupun dengan hati yg pedih.
"Maaf semuanya, aku hanya menyapa kenalanku." ucap Aryo.
"Iya pak, mari kita lanjutlan lagi.." ucap sekertarisnya Juwita. "Ternyata anda masih belum move on dari mantan istri anda, pantas saja bu Pinkan sewot pada wanita yg ada di dekat pak Aryo." gumam Juwita dalam hati.
☘☘☘
Sheira pun mengucapkan terimakasih pada Theo. Dan ia pun merasa baik-baik saja walaupun bertemu Aryo. Nampaknya semua pengobatannya tidak sia-sia dan juga dengan semua keadaan yg menimpanya belakangan membuat mentalnya lebih tenang dalam menghadapi situasi.
Theo pun mengantar Sheira pulang ke apartemennya. Diperjalanan, mereka nampak damai dan sesekali bicara bahkan bercanda. Namun, tiba-tiba dari arah belakang mereka ada mobil yg dengan kecepatan tinggi menabrak mereka dari samping.
__ADS_1
Brakkk..
Theo yg sedang mengemudi dengan kecepatan sedang pun sampai menabrak bahu jalan, dan orang tersebut langsung kabur begitu saja.
"Akh.. siapa baj***an ini.." umpat Theo langsung menengok ke arah spion dan nampak orang yg menabrak sengaja dan langsung kabur.
"Sheira.. kau tak apa?" tanya Theo.
"Ya.. aku masih bisa sadar." ucap Sheira.
Theo pun membuka pintu mobilnya dengan kuat tapi sepertinya tidak bisa dibuka karena kecelakaan tadi. Theo pun beralih ke pintu belakang dan bisa terbuka. Ia pun membantu Sheira untuk keluar dari pintu belakang. Tapi kaki Sheira terjepit dan tidak bisa keluar.
Theo pun keluar dan meminta bantuan, tampak kondisi disana sepi sekali. Ia pun menelpon Daniel dan David untuk meminta bantuan mereka. Pasukan pengawal SHIELD pun tiba disana setelah Theo berusaha keras untuk melepaskan kaki Sheira yg terjepit.
"Akhirnya kalian tiba, ayo kita ke rumah sakit.." pinta Theo.
"Baik tuan.." ucap mereka.
Beberapa orang pengawal pun dilokasi untuk memeriksa mobil dan menunggu mobil derek tiba. Tampak mobil Theo agak hancur pada bagian samping karena menabrak pembatas jalan. Dan juga mereka mencari kamera pada mobil Theo untuk mengecek kejadian tabrakan tadi dan melihat mobil seperti apa yg menabraknya. Mereka juga memeriksa CCTV setempat dan melaporkannya pada Leon.
Mobil Theo pun diatasi oleh pengawal SHIELD. Dan ia pergi ke rumah sakit bersama Sheira dan pengawal lainnya. Theo yg tak sadar lengannya terluka pun tak merasakannya dan ia langsung meminta dokter untuk segera menangani Sheira.
Jasmine yg dihubungi pun langsung ke rumah sakit untuk membantu mereka. Ia merasa bersalah karena meninggalkan mereka berdua. Ia pun melihat Theo yg kelihatan panik melihat kondisi Sheira.
"Maaf tuan, ini gara-gara aku yg meninggalkan kalian." ucap Jasmine.
"Tidak, ini bukan salahmu tapi memang musuh kami yg mengincar kami." ucap Theo.
"Bagaimana keadaan Sheira?" tanya Jasmine.
"Kakinya sempat terjepit dan sedang diperiksa, semoga tak ada luka yg parah." ucap Theo.
"Tuan, lengan anda juga terluka lebih baik diobati." ucap Jasmine melihat lengan Theo.
"Akh, aku tak merasakannya dari tadi.." ucap Theo.
Jasmine pun memanggil perawat untuk mengobati Theo dan ia menunggu Sheira menggantikan Theo. Jasmine pun berharap Sheira baik-baik saja, hingga Daniel tiba bersama David.
"Jasmine bagaimana keadaan Sheira?" tanya Daniel.
"Sedang diobati tuan, kata tuan Theo kakinya sempat terjepit.." ucap Jasmine.
"Akh.. mereka benar-benar, kau jangan khawatir ini bukan salahmu.. dengan siapapun adikku pergi bukan tidak mungkin hal ini bisa terjadi." ucap Daniel.
"Terimakasih tuan." ucap Jasmine.
"Sheira benar-benar tidak bisa keluar dari apartemen kalau begini." ucap David.
Mereka bertiga pun menunggu Sheira dan Theo dari ruangan pemeriksaan.
__ADS_1