Affair With Me??

Affair With Me??
EP.18 Alasan


__ADS_3

Beberapa minggu pun berlalu, rumahnya kini sudah berubah dan sangat berbeda dari sebelumnya karena Pinkan yg merubah semuanya. Hanya dapur dan lantai atas yg tidak berubah. Itu karena permintaan Sheira, dan Aryo pun mengabulkannya.


Sheira melakukan semuanya seperti biasanya, ia malas menanggapi pasangan gila itu. Karena mereka akan selalu bertengkar dan bertengkar. Sheira yg ingin menceraikan suaminya itupun menahannya karena bangunan apartemen dan juga rukonya belum selesai direnovasi.


Hingga suatu pagi, Pinkan jatuh sakit. Tubuhnya demam, pusing dan mual-mual seperti gejala kehamilan. Dan tanpa panjang lebar Pinkan pun mengeceknya dengan tespack. Hasilnya dua garis biru yg membuatnya semakin menang dari Sheira.


"Mass.. aku hamill.." teriak Pinkan dari toilet.


"Apa?? kau tak salah bicara kan?" tanya Aryo.


"Ya.. aku hamil.. ini buktinya garisny ada dua tandanya postif.." ucap Pinkan.


"Akhirnya kita akan segera punya anak.." ucap Aryo memeluk dan menciumi Pinkan, hingga lupa di lantai 1 ada Sheira yg sedang memasak.


"Habis ini kita cek ke dokter dan jangan beritahu orang tua kita sebelum hasil dari rumah sakit.." ucap Aryo.


"Baik Mas.." ucap Pinkan girang.


"Sheira kita akan punya anak.." ucap Aryo memberitahu.


"Kita?? yg benar itu kau dan Pinkan.." ucap Sheira.


"Tapi dia akan jadi anakmu juga.." ucap Aryo.


"Tidak Mas, mungkin kau tak tahu bagaimana pandangan terhadap ibu tiri.." ucap Sheira.


"Tapi kau juga bisa belajar.." ucap Aryo.


"Belajar dari Pinkan?? mengurus dirinya saja tidak bisa, bagaimana mengurus bayi?? kau tidak lihat ada ART di rumah ini yg mengurusnya ." ucap Sheira.


"Aku tak tahu lagi harus menghadapimu.." ucap Aryo.


"Aku juga lebih tak tahu lagi padamu Mas, masih bertahan tanpa menafkahiku dan terus menyiksaku.." ucap Sheira.


"Aku akan pergi ke rumah sakit bersama Pinkan.." ucap Aryo.


"Mau pergi ke dukun juga aku tak peduli Mas.." balas Sheira.


Aryo pun pergi karena kata-kata Sheira begitu menohok dan menusuk. Bagaimana tidak, ibunya dan Pinkan melarangnya untuk memberi nafkah pada Sheira, dengan alasan Sheira mampu dan punya keuangan yg stabil. Belum lagi baru-baru ini Sheira membeli beberapa ruko dan apartemen.


Lantas, membuat sang ibu mertua kepanasan dan tak terima karena melihat kesuksesan Sheira. Padahal Pinkan juga anak orang kaya, tapi ia selalu dimanjakan dengan barang-barang mahal.


Setelah memeriksakan diri, hasilnya Pinkan memang positif hamil. Dan hal ini menjadi pukulan berat bagi Sheira yg gagal sebagai istri. Belum lagi pasti ia akan dicap mandul oleh ibu mertuanya.


Pinkan pun datang dengan Mia dan Siti. Mereka tampak bahagia dan pamer kebahagiaan pada Sheira. Sheira yg baru saja menyelesaikan eksperimen cake buatannya pun naik ke atas untuk memfoto dan mencicipinya tanpa memperdulikan kebahagiaan Pinkan dan Aryo.


Baginya, lebih baik bekerja keras daripada meladeni penghinaan yg tiada habisnya. Dan Siti pun tak tinggal diam dengan melabrak Sheira.

__ADS_1


"Sheira apa yg kau lakukan disini?? " tanyanya.


"Sedang foto kue dan mencicipinya." ucap Sheira santai.


"Kau bahkan tidak menyapaku?" tanya Siti.


"Maaf ibu aku sedang sibuk.. " ucap Sheira malas.


"Bukannya kau menyediakan kue atau makanan untuk kami.. kau tahu kan Pinkan sudah hamil.." ucap Siti.


"Tentu aku tahu dia hamil, dan ada ART bukan yg bertugas melayani semuanya.. " ucap Sheira.


"Kau ini sudah mandul, tak menghormati orang tua.. " ucap Siti.


"Ibu punya bukti kalau aku mandul, seperti catatan dokter atau sebagainya?? jika tidak punya lebih baik hati-hati dalam bicara.." ucap Sheira.


"Ck.. dasar menantu tak tahu diri.." ucap Siti meninggalkan Sheira.


"Bilang saja kau iri pada Pinkan.." ucap Siti.


Tapi Sheira tetap diam dan melakukan pekerjaannya. Dan Siti pun melaporkannya pada Aryo.


"Aryo, semakin lama kelakuan Sheira semakin menjadi.." ucap Siti.


"Sudah bu biarkan saja, bisnisnya sedang bagus dan ia sibuk.." ucap Aryo.


"Kau terus saja membelanya.." ucap Siti.


"Justru karena Pinkan hamil, kau harus meresmikan pernikahan kalian.." ucap Siti.


"Itu benar, aku tak mau nak Aryo kalau cucuku tak punya identitas.." ucap Mia.


"Nanti aku akan membahasnya dengan Sheira.." balas Aryo.


"Mas, kau tidak kasihan pada anak ini jika tak punya identitas.." ucap Pinkan.


"Iya sayang, Mas akan mengurusnya." ucap Aryo.


"Memangnya sudah ada berapa cabang sih toko Sheira..?" tanya Siti.


"Sudah ada 6 cabang dan dia akan membuka 2 cabang lagi.." ucap Aryo.


"Pantas saja, semakin sombong.. tapi bukankah kau juga menyokongnya.." ucap Siti.


"Ya.. aku hanya menyokongnya di awal.." ucap Aryo.


"Mas, kenapa kau tidak menyokongku juga, bahkan rumah ini juga atas nama Sheira.. ini tidak adil .." ucap Pinkan.

__ADS_1


"Sayang, aku dan dia berawal dari nol bersama-sama.. nanti Mas akan membuatkanmu usaha.." ucap Aryo.


"Aku mau salah satu toko milik Sheira." ucap Pinkan.


"Jangan aneh-aneh, itu miliknya dan haknya bukan milikku.." ucap Aryo.


"Aryo bukankah kau juga yg menyokongnya.." ucap Siti.


"Bu itu hanya sebuah ruko.. " ucap Aryo.


"Tapi ruko itu harganya lumayan mahal sekarang.." ucap Siti.


"Mas, aku akan berhenti bekerja jika perutku semakin besar dan aku butuh usaha.." ucap Pinkan.


"Pokoknya nanti Mas buatkan usaha untukmu.." ucap Aryo.


"Buat apa? memangnya memulai usaha mudah? kan kalau aku menjalankan salah satu toko Sheira aku hanya tinggal duduk manis dan menerima uangnya.." ucap Pinkan.


"Pinkan benar, kasihan dia hamil dan mengurus anak mana sempat bekerja.." ucap Siti.


"Cukup ya.. ini milik Sheira dan aku bahkan tak memberinya nafkah karena kalian.. kalian masih mau membuatku kehilangan muka dengan meminta bisnis miliknya??" tanya Aryo membuat semuanya diam.


"Kau jahat Mas.." ucap Pinkan pergi menuju ke kamarnya.


"Aryo, pokoknya mom tak mau tahu.. kau harus membahagiakan Pinkan, karena kebahagiaannya dapat membuat janinnya sehat.." ucap Mia lalu pergi.


"Ibu juga setuju karena ruko itu atas nama milikmu, jadi tak masalah jika diberikan pada Pinkan." ucap Siti lalu ikut pergi.


Sementara Aryo sakit kepala. Ia tak sanggup punya dua orang istri. Yg satu tak ia nafkahi dan selalu ia sakiti. Dan yg satu lagi mendapat dukungan penuh dan selalu harus dimanjakan membuatnya merasa bersalah pada Sheira.


Aryo pun naik ke atas untuk menemui Sheira dan membahas hal ini dengannya.


"Sayang Mas mohon, setidaknya ijinkan Mas menikahi Pinkan dengan resmi demi anak itu.." ucap Aryo.


"Hh.. lalu masalah tokoku itu bagaimana?" tanya Sheira.


"Tak bisakah kau berikan saja.. nanti Mas bisa menggantinya dengan yg lain.." ucap Aryo.


"Itu jerih payahku Mas, Mas hanya memberi ruko tapi semua isi dan apa yg dijual adalah milikku, hasil keringatku.." ucap Sheira.


"Sayang tolong Mas.. Pinkan tak mau makan jika kau tak memberikannya." ucap Aryo.


"Aku akan memberikannya, tapi tak sekarang." ucap Sheira.


"Benarkah?" tanya Aryo senang.


"Ya.. dan kalian juga bisa menikah secara resmi.." ucap Sheira.

__ADS_1


"Terimakasih sayang, kau memang istriku yg baik.." ucap Aryo memeluk Sheira.


"Kau saja yg tak tahu sudah masuk ke dalam jebakanku.." gumam Sheira dalam hati.


__ADS_2