
Grace pun terbagun pada dini hari. Ia merasa aneh karena berada di ruangan yg seba putih. Lalu ia melihat momnya di sampingnya sedang tertidur lelap di sebuah kursi.
"Mom.." ucap Grace.
"Kau sudah sadar sayang." ucap Sheira senang dan membangunkan Theo.
"Iya.. kalian pulang saja dan tidur dengan baik nanti tubuh kalian sakit tidur di kursi." ucap Grace.
"Grace kami mencemaskanmu." ucap Theo.
"Aku baik-baik saja, kalian pulanglah dan tidur dengan baik di rumah." ucap Grace.
"Anak ini benar-benar." ucap Theo.
"Mom takkan pulang." ucap Sheira.
"Kalau begitu, kita tukar tempat. Mom di ranjang dan aku duduk di kursi." ucap Grace.
"Grace, kau itu masih butuh istirahat." ucap Sheira.
"Dan mom juga butuh tidur.. Dad juga.. kalian pulanglah nanti kembali lagi besok." ucap Grace.
"Kau ini tega sekali mengusir kami." ucap Theo.
"Baiklah sayang ayo kita pulang." ucap Theo.
"Sesuai permintaanmu." ucap Sheira kesal.
"Bye.. mom.. dad.. lagi pula di luar sudah ada yg berjaga kalian tenang saja." ucap Grace.
"Iya..hati-hati dan panggil mereka jika butuh bantuan." ucap Sheira.
"Tentu saja." ucap Grace.
Grace pun lega orangtuanya sudah pulang dan bisa beristirahat dengan nyaman. Karena tak mungkin dirinya membiarkan mereka tidur di kursi atau sofa yg disediakan. Mau bagaimanapun mereka sudah tak muda lagi.
Tapi Theo justru menginap di hotel yg berada di depan rumah sakit tersebut. Ia hanya ingin mengawasi putrinya. Begitu juga dengan Sheira yg sependapat dengannya. Walaupun Grace tak terluka parah tapi tetap saja mereka khawatir.
Keesokannya, Sheira pun datang ke kamar Grace dan melihat putrinya masih tertidur. Kemudian ia menyiapkan sarapan yg sudah ia minta pada pelayan dirumahnya untuk Grace.
"Mom.." ucap Grace.
"Ya sayang." ucap Sheira.
"Mom tidak kerja?" tanya Grace.
"Mom bisa bekerja dari sini." ucap Sheira.
__ADS_1
"Mom tidak lelah? aku saja ingin segera pulang." ucap Grace.
"Iya, sore ini kau akan pulang." ucap Sheira.
"Baguslah, aku sudah bosan di ruangan ini." ucap Grace.
"Kalau begitu nikmati sarapanmu." ucap Sheira.
"Terimakasih mom. " ucap Grace.
Grace pun menikmati sarapannya bersama dengan Sheira. Sementara Theo, Nicho dan Nathan harus bekerja. Masalah ganti rugi toko, Sheira serahkan pada Nicho untuk mengurus segalanya.
Sean pun hari ini libur, dan besok akan kembali bekerja. Theo pun memberinya libur karena sudah membantu menangkap pelakunya semalaman.
Sementara Grace, ia bahagia ditemani momnya. Tapi tiba-tiba ada keributan di luar kamarnya. Dan seorang pria masuk ke kamarnya membuat Grace waspada. Pria dengan topi, jaket dan kacamata masuk ke kamarnya.
Dengan sigap Grace pun memberi perlawanan untuk melindungi momnya. Grace pun melempar sebuah apel besar ke wajah pria itu.
Bughh..
"Akh.." ucap Pria itu.
"Mau apa kau pada putriku?" tanya Sheira.
Sementara bodyguard di depan sedang bersitegang dengan bodyguard dari pria yg masuk ke dalam.
"Grace ini aku." ucap Jefry membuka topi dan kacamatanya.
"Lalu kau mau apa kemari?" tanya Grace.
"Aku ingin menjengukmu tapi tidak diperbolehkan jadi aku memakai cara ini." ucap Jefry.
"Orang tua mana yg mau anaknya bertemu dengan pria yg sudah menyakitinya. Apalagi kau tahu kan kedua kakakku seperti apa." ucap Grace.
"Bagaimana kondisimu? aku hanya ingin tahu kondisimu." ucap Jefry.
"Kau bisa lihat aku baik-baik saja." ucap Grace.
"Syukurlah, aku tak bisa tidur karena khawatir." ucap Jefry.
"Pfff.. lucu sekali mendengarnya setelah dicampakkan. Kalau sudah pergilah.. kau hanya ingin tahu kondisku kan.?" ucap Grace.
"Mau pergi atau ingin kuhajar?" tanya Sheira sembari memegang pisau.
"Baiklah aku akan pergi." ucap Jefry.
Jefry pun keluar dan membawa para bodyguardnya. Pihak rumah sakit pun sampai menegur Grace dan keluarganya. Hingga akhirnya Grace langsung pulang ke rumahnya daripada terjadi keributan lainnya. Maklum saja karena rumah sakit tempat orang sakit beristirahat, dan jika ada keributan pasti pasien lain tak nyaman.
__ADS_1
Grace pun pulang bersama Sheira dan bodyguard yg menjaganya. Ia pun hanya beristirahat di kamarnya dan tak melakukan apapun. Sheira pun senantiasa menyiapkan segalanya untuk Grace. Nicho dan Nathan juga sering mengunjungi kamar Grace untuk melihat kondisi adiknya.
Grace pun beristirahat dengan cukup dan sembuh dengan cepat. Hanya saja satu hal yg belum bisa ia sembuhkan, yaitu hatinya. Ia terkadang masih merasa sedih dan kecewa. Walaupun ia sudah mencoba berfikir positif.
Dan semua keluarganya juga sudah menghiburnya. Toko yg ludes terbakar juga sudah mulai direnovasi kembali. Sheira pun tak mau ambil pusing walaupun ia mengalami kerugian ratusan juta atas terbakarnya salah satu tokonya. Baginya yg terpenting nyawa anaknya dan karyawannya selamat. Walaupun motif pelaku masih tak jelas.
Semangat Grace yg tak ingin terpuruk pun membuatnya ingin kembali bekerja. Mau tak mau keluarganya mengijinkannya dan menaruh Sean disisinya. Grace pun tak keberatan karena Sean bisa mendengarkan ceritanya dan melakukan yg ia inginkan.
"Nona anda yakin baik-baik saja?" tanya Sean.
"Iya.. lebih baik daripada aku mengurung diri dirumah." ucap Grace.
"Katakan jika anda butuh sesuatu." ucap Sean.
"Oke." ucap Grace.
Grace pun mengurus kembali toko roti Sheira yg lainnya. Ia juga menyibukkan dirinya dengan hal-hal positif lainnya agar melupakan kesedihannya. Serta ia tak ingin kembali meratapi kesialannya. Ia teringat kata Sean kalau dirinya bukan sial tapi hanya bertemu dengan orang-orang jahat.
Sementara Sean ia merasa ada beberapa orang yg mengawasi nonanya. Ia pun berinisatif bertanya pada Nicho dan Nathan. Tapi mereka berdua merasa orang-orang yg ditunjukkan pada mereka bukan bodyguard ayah mereka. Hingga mereka berdua pun turun tangan langsung bersama Sean.
Ketiganya pun memergoki orang-orang yg mengawasi Grace dan curiga kalau mereka adalah pelaku insiden pembakaran sebelumnya. Ketiganya pun menangkap orang tersebut. Dan setelah diselidiki mereka adalah orang-orang Jefry dan sama sekali tak terlibat atas insiden kebakaran tersebut.
"Maaf tuan, kami hanya menjalankan perintah atasan kami."
"Siapa atasan kalian?" tanya Sean.
"Cepat jawab??" tanya Nicho kesal.
"Tu-tuan Jefry." ucapnya.
"Ringkus mereka dan ikut denganku." ucap Nicho.
Sean dan anak buah Nicho pun meringkus mereka dan membawa mereka ke suatu tempat. Tempat yg tak lain adalah kantor Jefry. Disana nampak para pegawai terkejut dengan Nicho yg membawa orang-orang mencurigkan dan ingin bertemu dengan atasan mereka.
Jefry pun keluar setelah mendapatkan laporan pegawainya. Dirinya terkejut melihat orang-orangnya ditangkap oleh Nicho dan Nathan.
"Akhirnya kau keluar juga.. dasar stalker." ucap Nicho mendorong anak buahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Jefry.
"Mereka adalah orang-orang suruhanmu untuk memata-matai adikku.. jika tak ingin cari masalah, jauhi adikku." ucap Nicho.
"Aku takkan tinggal diam jika kau berulah lagi." ucap Nathan.
"Baiklah." ucap Jefry mengalah karena sudah ketahuan.
Nicho, Nathan dan Sean pun keluar dari kantor Jefry bersama orang-orang Nicho. Kemudian mereka kembali bekerja masing-masing setelah membereskannya.
__ADS_1