Affair With Me??

Affair With Me??
EP.122 Kontraksi


__ADS_3

Sheira pun diajak oleh Viola ke tempat perbelanjaan dan makan bersama. Viola hanya ingin menghibur Sheira agar mood nya bagus dan tak bosan di rumah. Padahal hal itu hanyalah akal-akalan Theo agar Sheira tak tahu kalau Suci Art dirumahnya menggodanya. Ia tak ingin Sheira salah paham dan membencinya.


Hingga saat Theo selesai membereskan Suci dan memecatnya, barulah Theo mengabari ibunya dan boleh membawa Sheira pulang. Saat pulang wajah Sheira pun bahagia setelah pergi bersama Viola. Ia pun tak sadar kalau Suci telah pergi dari rumah tersebut.


Theo pun langsung menyuruhnya beristirahat setelah membersihkan diri. Dan Viola langsung pulang karena lelah juga. Ia tak menyangka jika yayasan langganannya tega mengirim wanita murahan padanya.


Viola pun tak tinggal diam dan menegur mereka beserta bukti yg ditemukan Theo. Mereka pun meminta maaf dan mengaku lalai. Tapi Viola memaafkannya dengan satu syarat, jika ia butuh Art Viola yg akan memilihnya dan harus lolos kriterianya.


Setelah urusannya dengan yayasan selesai, Viola pun pulang kerumah. Ia ingin menegaskan kepada Theo agar tidak menambah Art lagi, takut kalau insiden ini terulang lagi.


Dan Sheira pun diberitahu pada pagi hari oleh Juminten kalau Suci sudah mengundurkan diri dan pulang ke kampung halamannya karena akan dinikahkan. Sheira pun mengiyakan saja tanpa mau tahu apapun. Dan seperti biasa ia menyiapkan makanan untuk Theo.


Saat sedang menyiapkan makanan, perut Sheira pun sakit. Hingga ia duduk di kursi dengan kompor yg menyala hingga bau gosong pun tercium. Juminten yg tak jauh darinya pun bergegas mematikan kompor dan mendekati Sheira.


"Ada apa bu? apa ibu sakit perut.?" tanya Juminten.


"Iya bi, sakit sekali." ucap Sheira.


"Ibu tenang dan tarik nafas perlahan.. jika rasa sakitnya tak kunjung hilang kita langsung ke rumah sakit." ucap Juminten.


"Iya bi, tolong ambilkan air." pinta Sheira.


"Baik bu." ucap Juminten.


Juminten yg sudah punya anak pun paham akan gejala Sheira. Ia pun mengajari Sheira dan memintanya untuk tenang. Juminten pun membawakan air untuk Sheira.


"Ini bu, hati-hati." ucap Juminten.


"Terimakasih bi." ucap Sheira yg langsung meminumnya.


"Ibu istirahat saja, biar saya yg meneruskan pekerjaan ini." ucap Juminten.


"Iya bi, tolong ya.. " ucap Sheira.

__ADS_1


"Baik bu, ingat ya bu jika ada tanda-tanda ibu harus ke rumah sakit." ucap Juminten mengingatkan.


"Baik bi aku mengerti." ucap Sheira.


Sheira pun masuk ke kamarnya dan Theo melihatnya sedang lemas. Theo pun bertanya karena khawatir.


"Sayang kau baik-baik saja?" tanya Theo.


"Perutku sakit," ucap Sheira.


"Ayo ke rumah sakit." ucap Theo.


"Tunggu beberapa menit lagi, jika hilang itu hanya kontraksi palsu. " ucap Sheira.


"Baiklah,." ucap Theo.


"Nak kau harus membantu ibumu ya.. " ucap Theo mengelus-elus perut Sheira.


"Eh.. sakitnya hilang saat kau sentuh." ucap Sheira.


"Aku akan menemanimu." ucap Sheira.


"Tak usah kau istirahat saja." ucap Theo.


"Dan ingat langsung ke dokter jika sudah ada tanda-tanda." ucap Theo.


"Baiklah, maaf ya sayang.." ucap Sheira.


"Ya.. kau istirahat saja." ucap Theo tersenyum lalu mengecup kening Sheira.


Theo pun menuju ke meja makan untuk sarapan. Ia pun mengerti setelah bi Juminten menceritakan kalau sarapan paginya dia yg membuatnya karena Sheira sakit. Dan Theo pun tetap memakannya sebelum berangkat kerja. Theo juga berpesan untuk menjaga istrinya jika tiba-tiba Sheira melahirkan saat Theo bekerja.


"Baik tuan saya mengerti." ucap Juminten.

__ADS_1


"Tolong ya Bi.." ucap Theo.


"Baik tuan." ucap Juminten.


Theo pun menyelesaikan sarapn kemudian pergi ke kantor. Sebelum pergi ia menengok ke kamarnya dimana Sheira sedang tertidur. Lalu ia menutup pintu perlahan dan berangkat bekerja. Sepanjang hari, Theo pun mengecek ponselnya dan bertanya pada Juminten dan pengawalnya. Tapi Sheira baik-baik saja dan membuat Theo lega.


Saat pulang ke rumah pun Sheira nampak baik-baik saja membuat Theo tenang. Sheira bahkan bisa menyiapkan makan malam untuknya walaupun dibantu oleh Bi Juminten.


"Sayang bagaimana kondisimu hari ini?" tanya Theo.


"Aku baik-baik saja, aku sudah istirahat dan bertanya pada dr.Hana, katanya aku harus segera ke rumah sakit saat benar-benar muncul tandanya." ucap Sheira.


"Baiklah, kau jangan memikirkan yg berat-berat aku yg akan mengurus perusahaanmu sementara." ucap Theo.


"Terimakasih sayang, aku baik-baik saja." ucap Sheira.


Mereka pun menikmati makan malam tersebut. Dan Juminten tersenyum melihat kebahagiaan sederhana keluarga kecil tersebut. Ia bisa membayangkan jika Sheira sudah melahirkan pasti rumah ini akan ramai dengan bayi kembarnya. Juminten pun berharap Sheira bisa melahirkan dengan lancar dan kedua bayinya selamat.


☘☘☘


Beberapa hari kemudian, Theo pun hendak berangkat kerja seperti biasa. Dan Sheira menemaninya sarapan pagi. Tapi nampak Sheira begitu pucat wajahnya dan ia mengeluh sakit perut. Tak berapa lama dari kaki Sheira mengalirkan darah. Dan Juminten menyarankan untuk segera dibawa ke rumah sakit karena Sheira akan melahirkan.


Theo pun dengan sigap membawa Sheira ke mobil dan langsung menuju ke rumah sakit. Juminten juga sudah membawakan tas perlengkapan Sheira saat melahirkan yg sudah Sheira siapkan dari jauh-jauh hari. Begitu semuanya siap, Theo pun membawa Sheira menuju ke rumah sakit. Dr.Hana pun sudah dihubungi dan ia akan bersiaga menyambut Sheira.


Perjalanan pun cukup macet karena jam pergi ke kantor. Theo pun sampai turun dan meminta bantuan polantas untuk memandu jalan mereka ke rumah sakit karena Sheira dalam keadaan darurat.


Berkat bantuan polantas Theo pun bisa sampai ke rumah sakit dengan selamat. Theo pun mengucapkan banyak terimakasih pada mereka yg memandu jalan agar dirinya bisa tiba dengan cepat.


Dirumah sakit, nampak dr.Hana sudah menanti Sheira dan sudah menyiapkan ruangan bersalin. Setelah mengecek keadaan Sheira, dr.Hana pun meminta Sheira mengganti bajunya karena akan segera masuk ke ruang persalinan.


Theo pun juga diminta untuk mamakai baju khusus saat memasuki ruang persalinan menemani Sheira. Viola yg dikabari pun langsung menuju ke rumah sakit untuk menunggu menantunya melahirkan cucu-cucunya.


Beberapa menit berlalu pun dilalu Sheira dengan sabar. Rasa sakit dan motifasi dari dr.Hana pun ia dengarkan baik-baik. Serta Theo yg selalu ada disampingnya menyemangatinya dan menggenggam erat tangannya. Theo juga membisikkan kata-kata cinta yg membuat Sheira semakin kuat. Hingga tangisan bayi pertama pun terdengar di ruangan tersebut. Bayi pertama pun ditangani dan dibersihkan, kemudian Sheira masih harus berjuang untuk bayi kedua. Tak lama tangisan bayi kedua pun memenuhi ruangan persalinan.

__ADS_1


Setelah itu kedua bayi kembar itupun berada di pelukan Sheira selama beberapa saat. Tangis haru pun pecah karena Sheira melihat kedua putranya lahir dengan sehat dan sempurna. Begitu juga dengan Theo yg ikut menitihkan air mata melihat perjuangan istrinya melahirkan kedua putra kembarnya dengan sangat luar biasa.


"Terimakasih sayang, i love you.." ucap Theo sembari menatap kedua bayi kembarnya.


__ADS_2