Affair With Me??

Affair With Me??
EP.46 Keberangkatan


__ADS_3

Sheira pun menyelesaikan satu persatu agendanya dan salah satunya adalah grand openning salah satu cabang baru yg ia persiapkan 2 minggu terakhir. Ia sudah merencanakannya dengan matang dan menaruh orang kepercayaannya untuk mengurusnya.


Setelah semuanya berjalan dengan baik, Sheira pun mempersiapkan keberangkatannya. Ia langsung membeli tiket pesawat bersama Daniel dan merapikan barang bawaannya di dalam koper. Sheira pun berharap kali ini ia bisa lepas dari trauma mengerikan tersebut. Ia tak mau musuhnya tahu kelemahannya, teritama Pinkan.


"Kumohon untuk kali ini aku ingin sembuh dan jadi lebih kuat lagi." gumam Sheira dalam hati.


Hari keberangkatan pun telah tiba, tapi ada seseorang yg mengikutinya dan berada disekitar apartemen. Orang-orang suruhan Theo pun mengetahuinya dan langsung menangkapnya.


Bughh..bughh..


"Diam dan ikuti kami.." ucap salah seorang anak buah Theo.


Mereka pun menyeret orang tersebut, dan membawanya ke hadapan Theo dan Dony.


"Tuan mereka datang.." ucap Dony.


"Ya.. mari kita sambut tamu tak diundang ini.." ucap Theo.


"Silahkan masuk.." ucap Dony.


"Ini tuan, mata-mata yg mengikuti nona Sheira.." ucap anak buahnya.


"Kerja bagus.." ucap Theo.


"Buka mulutnya dan kita suruh ia bicara." ucap Theo.


"Jadi bisa katakan siapa yg menyuruhmu?" tanya Theo.


"Tidak.." ucapnya.


"Oke.. silahkan.." ucap Theo pada anak buahnya.


Bughh..Bughh..bughh.


Anak buah Theo pun memukulinya dengan tongkat beberapa kali hingga ia kesakitan.


"Bagaimana masih mau bungkam?" tanya Theo.


"Aku takkan bicara.." ucapnya lagi.


"Keras kepala sekali.." ucap Theo.


Bughh..Buggh..bughh..


"Stop.. hentikan.." ucap Theo dan mereka langsung berhenti.


"Kau lihat ini?? aku punya racun yg akan menghentikan nafasmu dalam beberapa menit saja.. jika kau tak bicara tak ada gunanya kau hidup.." ucap Theo.

__ADS_1


"Kau pasti berbohong.."


"Mau coba?? tapi jangan coba-coba sih karena kau bisa benar-benar mati.." ucap Theo.


"Tapi jika memaksa aku akan menyuntikkannya.." ucap Theo.


"Ja-jangan tuan.."


"Ayolah sedikit saja agar kau tahu bagaimana rasanya tadi kau begitu tak percaya kan.." ucap Theo.


"Tidak, aku belum mau mati.. " ucapnya.


"Kalau tidak mau mati kau harus menurutiku.. dan katakan siapa yg menyuruhmu.." ucap Theo.


"D-dia adalah seorang wanita.." ucapnya.


"Mau wanita atau pria, yg terpenting itu identitasnya.. kalau hanya wanita ada berapa juta orang wanita di kota ini??" tanya Theo.


"Na-namanya Pinkan.. aku memanggilnya nona Pinkan.. dia bekerja di Miracle Company, dan orang cukup berpengaruh disana. Dia menjanjikanku banyak uang.." ucapnya.


"Oke.. karena kau sudah jujur, lanjutkan ucapanmu.. Apa yg sedang ia rencanakan?" tanya Theo.


"Aku hanya disuruh untuk mengikutinya dan saat ada kesempatan aku harus menyingkirkannya.." ucapnya.


"Dasar kurang ajar.. berani sekali kalian..!" ucap Theo.


"Karena sudah jujur aku akan memberimu hadiah ." ucap Theo.


Lalu anak buahnya memegangi pria tersebut dan Theo menyuntikkan sesuatu padanya.


"Ampun tuan aku belum mau mati.." ucapnya.


Theo pun tetap melakukanya hingga pria tersebut tak sadarkan diri.


"Tuan apa benar ini racun?" tanya Dony.


"Memangnya aku kriminal?? itu bukan racun hanya obat bius, dan pria itu hanya akan sadar 4 jam lagi. Jadi kembalikan pria itu di rumahnya kalian sudah menyekidikinya kan??" tanya Theo.


"Sudah tuan." ucap Dony.


"Yasudah laksanakan." ucap Theo.


Dony pun menyuruh anak buahnya untuk membawa pria tersebut pulang ke rumahnya dalam keadaan aman. Theo tak mau melakukan kejahatan, ia hanya ingin memberi pelajaran agar pria itu tak lagi mengganggu Sheira.


Dan ia juga memberikan uang pada sebuah amplop di rumah pria tersebut untuk kabur, karena jika ia masih berkeliaran di kota ini ia bisa mati ditangan Pinkan ataupun Theo.


Setelah sadar, pria tersebut pun melihat amplop yg ada di meja dekat tempat tidurnya. Ia melihat ada uang dan juga surat serta langsung membacanya. Karena takut ia langsung merapikan barangnya dan pergi keluar kota. " Aku tak mau mati.. lebih baik aku pergi saja dengan uang ini.." gumamnya.

__ADS_1


☘☘☘


Sementara itu, Daniel sedang menghubungi seseorang dibandara. Dan orang tersebut tak lain adalah Theo.


"Bagaimana?" tanya Daniel.


"Sudah beres, kalian berangkat saja.. maaf aku tak bisa mengantar ." ucap Theo.


"Oke.. terimakasih.." ucap Daniel.


"Ya.." balas Theo lalu menutup sambungan telepon.


Daniel pun tersenyum dan menghampiri Sheira. Ia berkata kalau Theo sedang sibuk jadi tak bisa mengantar mereka.


"Yasudah kak, ayo kita masuk.. " ucap Sheira.


"Ya.. " ucap Daniel.


Sheira dan Daniel pun berangkat sesuai jadwal keberangkatan, mereka akan berada di pesawat selama berjam-jam. Sheira pun sudah membawa buku bacaan dan juga earphone. Sementara Daniel ia


hanya akan menonton film.


Tak terasa mereka sudah tiba di bandara, dan Daniel langsung membawa Sheira pulang kerumahnya. Keluarga Daniel pun terkejut tapi senang Sheira kembali mengunjungi mereka. Sheira dan Daniel pun diminta untuk beristirahat saja dikamar selama 1 hari.


Keesokannya barulah Sheira dan Daniel bisa berbincang dengan Anderson dan Luciana. Sheira pun menyampaikan tujuannya datang kemari untuk menjalani terapi dan berlibur. Karena banyak yg sudah terjadi di hidupnya belakangan ini. Anderson dan Luciana pun memahaminya dan mencoba memberi support yg mampu mereka berikan sebagai pengganti orang tua Sheira.


Selama disana, Luciana selalu memasakkan makanan untuk Sheira. Dan Sheira juga sering memasak disana, hingga mereka berdua cukup akrab. Terkadang Sheira juga menemani Luciana berbelanja.


"Ara, kau sangat pintar memasak.." ucap Luciana.


"Iya tante, aku memang suka memasak dan mengikuti sekolah memasak.." ucap Sheira.


"Kau pasti akan menjadi istri yg sempurna kelak.." ucap Luciana.


"Ya tante, semoga.." ucap Sheira.


"Jangan menyerah, kau mungkin pernah gagal.. tapi belum tentu kau akan gagal lagi." ucap Luciana.


"Semoga begitu tante.." ucap Sheira.


"Tante akan mendengarkan semua ceritamu.. jadi kau bisa mulai bercerita saat kau siap.." ucap Luciana.


"Terimakasih tante.." ucap Sheira.


Keduanya pun berpelukan dan saling menguatkan. Luciana tahu kalau trauma Sheira begitu dalam hingga ia belum bisa menerima kehadiran siapapun dihidupnya. Tapi ia juga berusaha membuka mata Sheira kalau masih ada orang baik di dunia ini.


Dan selama disana, Sheira rutin melakukan terapi. Dalam satu bulan Sheira dinyatakan sembuh, tapi masih harus sering konsultasi jika ada masalah dalam 3 bulan ke depan. Sheira sudah bisa melihat ikat pinggang tanpa rasa takut. Tapi ia masih belum bisa sepenuhnya melihat jika ada seseorang yg mencambuk. Karena itu ia harus menguatkan mentalnya dan menjauhi hal-hal yg berbau cambuk dan sejenisnya.

__ADS_1


Daniel dan Sheira pun besok akan kembali ke Indonesia. Mereka sudah tak sabar untuk mengungkap kasus 20 tahun yg lalu yg sempat tertunda. Dan David sudah menunggu mereka kembali.


__ADS_2