
Beberapa hari kemudian, Sabrina mendapat kabar kalau obat yg ia dapat dari Pinkan adalah narkotika. Narkotika jenis baru yg bisa membuat seseorang menuruti perintah orang lain, karena efek halusinasi yg kuat.
Dan didapat pula informasi bisnis sampingan narkotika yg mungkin dijalankan oleh Piere, hingga ia memiliki akses ke beberapa pejabat.
"Jadi mereka selicik ini." ucap Sabrina di kamarnya bersama Michelle.
"Mereka harus dihukum." ucap Michelle.
"Iya.. tapi yg jadi pertanyaannya dimana barang haram tersebut?" tanya Sabrina.
"David dan yg lainnya yg sedang memeriksanya." ucap Michelle.
"Kuharap mereka menemukannya 3 hari lagi sebelum penyerangan." ucap Sabrina.
"Aku harap juga begitu." ucap Michelle.
Hari demi hari pun terlewati dengan cepat. Baik Sabrina, Michelle, David, Sandi dan Gilang pun mencari bukti lain tapi belum menemukannya. Hingga tibalah Michelle di sebuah gudang kosong yg terkunci.
"Apa yg kau lihat disana tidak ada apa-apa.." ucap rekannya.
"Memangnya ini tempat apa?" tanya Michelle.
"Itu hanya gudang penyimpanan barang-barang lama yg tidak terpakai dan jika sudah penuh akan dijual ke tempat rongsok. " ucap rekannya.
"Jadi begitu." ucap Michelle.
"Jadi apa tuan Piere sudah memanggilmu lagi?"
"Tidak belum. Memangnya ada apa?" tanya Michelle.
"Kau ini polos sekali, padahal kau cantik." ucap rekannya.
"Ya aku harus memakai pakaian pelayan, mana mungkin terlihat cantik. Kecuali aku memakai pakaian yg bagus mungkin dia akan tertarik." ucap Michelle.
"Yasudah lah, yg jelas nanti giliranmu pasti tiba." ucap rekannya.
"Kau ini, giliran apa sih? membuat aku bingung saja.. Tanggal gajian masih lama." ucap Michelle.
"Cih.. aku lelah bicara dengan gadis polos sepertimu." ucap rekannya.
"Apalagi aku yg tak mengerti ucapanmu dan tak mau menjawab pertanyaanku." ucap Michelle.
Mereka pun pergi, tapi Michelle tetap curiga pada gudang tersebut. Ia berencana meminta bantuan David atau yg lainnya untuk kesana dan melihat apa isinya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Michelle pun menemui David. Ia membagi informasi penting yg ia temukan.
"Kau yakin?" tanya David.
"Aku tak begitu yakin, tapi gudang kosong itu mencurigakan. Tak ada yg berani masuk dan benar-benar terkunci." ucap Michelle.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membantumu." ucap David.
Pada malam hari, David meminta bantuan Sandi dan Gilang untuk berjaga di sekitar, sementara dirinya dan Michelle masuk ke dalam. Sabrina pun tak bisa ikut karena dirinya disibukkan mengurus para wanita tuannya.
"Kalau membuka ini, serahkan padaku." ucap Michelle.
"Baiklah aku akan berjaga." ucap David.
Setelah pintu gudang terbuka, mereka masuk dan menutup kembali pintunya. Sementara Gilang dan Sandi berjaga disana jika ada yg mendekat. David dan Michelle pun menggeledahnya, ruangan yg terkunci rapat dan jarang dimasuki oleh orang lain tapi mengapa tak ada banyak debu disana. Bahkan sangat bersih seperti baru.
"Jika ini kosong dan jarang dibuka kenapa sangat bersih." ucap David.
"Iya.. aku juga berfikir hal sama." ucap Michelle.
"Hei bantu aku mengangkat ini." ucap Michelle yg ingin membuka suatu peti besar.
Perlahan mereka pun mengangkat peti di atasnya dan ingin melihat isinya. Dengan beberapa perjuangan, akhirnya peti tersebut pun berhasil dibuka. Info yg didapatkan mereka pun benar kalau Piere adalah seorang bandar narkotika. Mereka menemukan banyak paket siap kirim. Tak lupa mereka memfoto untuk bukti atas barang tersebut.
"Sudah, kita harus kembali penjaga 5 menit lagi akan datang. " ucap David.
"Iya ayo kembalikan seperti semula." ucap Michelle.
"Lakukan dengan cepat dan hati-hati." ucap David.
Mereka pun melakukannya dengan cepat dan tak ada suara. Hingga mereka keluar dan mengunci kembali tempat tersebut. Sandi dan Gilang pun sudah panik karena 1 menit lagi petugas yg berjaga akan datang. Lalu Michelle langsung menuju ke kamarnya dengan cepat.
"Hai Michelle, sedang apa?" tanya Piere.
"Iya tuan. Aku sedang jalan-jalan mencari udara segar dan ingin mengambil minuman dingin di dapur." ucap Michelle.
"Oh begitu, apa ada hal lain yg kau butuhkan?" tanya Piere.
"Tidak ada tuan." ucap Michelle.
"Lihat tanganmu terluka." ucap Piere dan meraih tangan tersebut.
"Aku seharian bekerja dan mengangkat beberapa barang. " ucap Michelle.
"Mau kuobati?" tanya Piere.
"Tidak usah repot-repot tuan, aku bisa mengobatinya sendiri ini hanya luka kecil." ucap Michelle.
"Baiklah, kau jangan sampai terluka lagi ya.." ucap Piere tersenyum.
"Baik tuan. Terimakasih atas perhatiannya." ucap Michelle.
Dan untuk mengelabui Piere, Michelle pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Ia mengambil 2 kaleng minuman lalu ke kamarnya. Ia pun bercerita segalanya pada Sabrina dan membagi infonya pada rekannya di luar villa.
Mereka pun semakin memperketat pengamatan pada villa tersebut. Mereka mengawasi siapa saja yg datang dan keluar dari villa tersebut. Dan rencana penyerangannya akan terjadi 2 hari lagi. Mereka sudah mempersiapkan segalanya, mulai dari peretas cctv, senjata dan pasukan yg akan menangkap mereka semua.
__ADS_1
"Persiapan sudah siap tuan, dan kabar baru dari David dan Michelle kalau mereka menemukan narkotika di sebuah gudang disana." ucap Kim pada Leon.
"Berita bagus, terus pantau." ucap Leon.
"Baik tuan." ucap Kim.
H-1 Semua pun susah dipersiapkan dengan matang oleh mereka. Dan Sabrina ia tak lagi ditugaskan untuk mengurus para wanita Piere. Ia diberi waktu istirahat dan perawatan yg datang ke villa tersebut. Hal itu membuatnya semakin tak bisa kemana-mana karena harus mengikuti treatmen yg diberikan. Di tengah-tengah perawatannya, Piere datang.
"Bagaimana sayang?" tanya Piere.
"Bagus, aku suka. Terimakasih tuan." ucap Sabrina walaupun dalam hatinya ia ingin sekali memberikan tinjunya pada Piere.
"Aku akan menunggumu besok malam." ucap Piere berbisik.
"Baik tuan." ucap Sabrina.
Rencananya untuk menemui Pinkan pun gagal total. Sementara Michelle, ia belum diberi akses kesana jadi ia pun tak bisa apa-apa karena pekerjaanya cukup banyak.
Tapi hal itu, tak membuatnya berdiam diri. Ia dan rekan lainnya terus melakukan semuanya sesuai rencana mereka walaupun Sabrina sudah tak bisa lagi berkontribusi.
Hari yg dinanti pun telah tiba, Sabrina pun masih tak bisa kemana-mana karena ia masih harus melakukan perawatan hari ini. Dan ia harus menghadapi Piere nanti malam.
Waktu sehari pun berjalan dengan cepat, tibalah pada malam hari. Sabrina memakai pakaian bagus dan makan malam bersama tuannya. Ia benar-benar menjalani peran dengan baik walaupun ia muak dengan semuanya.
"Bagaimana sayang?? apa makananya enak?" tanya Piere.
"Iya makanannya lezat." ucap Sabrina.
"Baguslah, kita harus kenyang sebelum bertempur malam ini." ucap Piere tersenyum menyeringai.
Sementara Sabrina hanya tersenyum padahal dalam hatinya ia tak terima. Tapi demi sebuah misi ia rela meladeni si breng***k ini.
Malam pun semakin larut, kini keduanya tengan berbicara sambil meminum wine. Untungnya sabrina cukup kuat untuk minum wine hingga ia tak mudah mabuk dan terbawa suasana. Juga ia tahu kalau setelah ini mungkin Piere akan memberinya pil.
Sementara David, Michelle, Sandi dan Gilang mereka berbagi tugas. David dan Michelle mengamankan para wanita yg menjadi korban. Sementara Gilang dan Sandi meloloskan rekan mereka yg akan masuk.
Malam tersebut pun akan menjadi malam yg panjang, karena pastinya tak mudah. Dan Michelle yg sudah diberitahu seluk beluk cluster S pun segera kesana bersama David. Mereka menemukan apa yg mereka cari, yaitu para wanita yg berjumlah 20 orang.
Jumlah yg cukup untuk menjadikan Piere kaya raya dari bisnis prost**si tersebut. Dan setelah itu mereka membebaskan para wanita tersebut. Mereka yg terkejut pun ikut saja karena mereka sudah tak tahan lagi hidup seperti itu. Jika bukan karena ancaman dan obat yg membuat mereka ketagihan pasti mereka sudah kabur dari dulu.
Hingga tibalah Michelle di sebuah kamar yg merupakan kamar Pinkan. Ia tahu dari Sabrina, tapi begitu masuk ia terkejut karena Pinkan sudah tak ada disana. Beberapa wanita yg tahu pun bilang kalau Pinkan dibawa sejak kemarin entah kemana. Tapi semua sudah terlanjur, dan Michelle harus pergi membawa wanita-wanita malang tersebut.
Setelah ia mmendapat kabar kalau tim bantuan datang, ia langsung menuju ke mobil untuk membawa para wanita itu. Tapi semua itu tak mudah karena tim penjaga pun datang.
"Berhenti." ucap Gio.
"Senior Gio." ucap David bersiaga.
"Mau kemana kalian?" tanya Gio.
__ADS_1