
Sheira pun pergi ke bakery-nya setelah sarapan. Ia dapat melihat semakin hari bakery-nya semakin ramai saja. Hingga ia nampaknya harus memperbesar usahanya. Tapi satu hal yg terpikir oleh Sheira, salah satu ruko yg menjadi tempat usahanya adalah pemberian suaminya. Ia takut hal itu akan diambil kembali suatu saat nanti karena semua sertifikatnya ada pada suaminya.
"Ini sudah jelas bukan milikku.." gumam Sheira dalam hati.
Sheira pun mulai mencari tempat baru yg akan menjadi lokasi jika rukonya diambil kembali oleh suaminya. Karena setiap ia bertanya akan sertifikatnya maka suaminya selalu berkelit membuatnya curiga. Walaupun benar suaminya yg membelinya tapi tetap saja ia was-was karena usahanya ada di ruko tersebut.
Sheira pun berkeliling tempat tak jauh darisana, ia mencari ruko-ruko yg dijual dengan lokasi strategis. Dan ia tertarik pada bangunan yg hendak sedang dibangun.
"Sepertinya ini bagus, tapi apa tabunganku cukup?" guma Sheira dalam hati.
Sheira pun memberanikan diri untuk menghubungi agennya. Dan responnya sangat cepat. Mereka siap bertemu hari ini juga di kantornya. Dan Sheira pun segera ke lokasi kantor mereka untuk meninjau.
"Silahkan nona Sheira.."
"Terimakasih.." ucap Sheira.
"Jadi anda tertarik pada ruko kami?"
"Iya, karena sepertinya aku butuh ruko yg lebih besar mengingat usahaku mulai ramai.." ucap Sheira.
"Aku senang mendengarnya nona.. kebetulan ada atasan kami yg sedang meninjau keinginan pembeli.." ucapnya.
"Baiklah, aku bisa bicara dengannya.." ucap Sheira.
"Silahkan tuan.." ucapnya.
Theo pun masuk ke ruangan.
"Tuan Theo.." ucap Sheira.
"Nona Sheira.. jadi anda calon pembelinya .." ucap Theo tersenyum senang.
Dan mereka pun membahas tentang keinginan Sheira mengenai konsep toko rotinya. Dan terjadilah sebuah keputusan disana. Sheira akan mengambil ruko tersebut. Dan juga Theo bersedia merenovasi ruko tersebut sesuai budgetnya. Didampingi beberapa staf ahli mereka pun sepakat akan perjanjiannya.
"Baiklah nona Sheira, saya senang ada pembeli seperti anda.." ucap Theo.
"Terimakasih, saya juga senang bisa menemukan lokasi yg bagus untuk usaha saya.." ucap Sheira.
"Baiklah, semuanya deal.. " ucap Theo.
"Iya Deal.." balas Sheira menjabat tangan Theo.
"Untuk masalah administrasi anda bisa menghubungi ke tim kami.." ucap Theo.
__ADS_1
"Oke.." balas Sheira.
Setelah dari kantor tersebut, Sheira kembali mengunjungi kedua bakery-nya. Ia senang semua tokonya laris manis dan banyak yg sudah habis jika sudah sore.
Setelah mengecek, Sheira pun pulang ke rumah. Tapi sebelumnya ia mengecek rumahnya. Tampak rapi bahkan Pinkan tak ada disana.
"Kemana si Ja**ang itu.." gumam Sheira.
Dan saat memutar cctv tampak Pinkan keluar dijemput momnya. Sheira pun tersenyum senang, karena baginya lebih baik wanita itu tak ada dirumah dan membuat rumahnya berantakan.
Lalu Sheira pulang ke rumah dengan damai. Ia pun menyempatkan diri untuk berbelanja dan memasak. Tapi setelah Sheira memasak makanan, suaminya baru mengirimkan pesan kalau ia dan Pinkan akan makan diluar. Seketika hatinya sakit, suaminya bisa makan diluar tanpa mengajaknya?? sungguh tidak adil bukan??
Menangis pun tak ada gunanya, Sheira hanya menerima semuanya tanpa protes. Bahkan uang bulanannya saja bulan ini suaminya tak memberikannya. Selalu dan selalu saja nanti, dan ujung-ujungnya Pinkan malah belanja ini dan itu saat pulang. Wanita ular itupun memamerkannya di hadapan Sheira.
"Mas terimakasih untuk semuanya.." ucap Pinkan.
"Iya sayang.. " ucap Aryo.
"Belanja barang mewah bisa, tapi uang untuk kebutuhan sehari-hari dirumah tak ditransfer hingga akhir bulan. Ironis sekali.." sindir Sheira.
"Maaf sayang.." ucap Aryo.
"Maaf Mas lebaran masih lama, jadi aku tak butuh maafmu.." ucap Sheira.
"Kau bisa belanja ini dan itu, tapi masih meminta uang pada Mas Aryo?? menyedihkan.." ucap Pinkan.
"Cih, mulai drama.." ucap Pinkan.
Sementara Sheira memilih untuk naik ke lantai 2. Ia merasa sesak melihat semuanya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan tangis, tapi tak bisa karena air matanya terus jatuh.
"Kau jahat sekali Mas..!" gumam Sheira.
Hanya dengan menangis Sheira bisa mengekspresikan rasa sakitnya. Karena sudah tak ada seorang pun yg bisa ia jadikan sandaran. Orangtuanya meninggal dan keluarganya juga sudah tidak ada lagi. Hanya pamannya yg tinggal diluar negeri dan tak tahu kabarnya kini.
Tapi justru ulah Aryo akan menjadi bukti di pengadilan kalau ia tak memberi Sheira nafkah. "Teruskan saja Mas, aku akan meninggalkanmu.." gumam Sheira.
Sheira pun tak bisa tidur dan melihat dibawah tak ada orang. Nampaknya kedua orang tersebut sudah di dalam kamar. Sheira pun turun ke dapurnya dan membuat camilan. Ia ingin membuat cake kesukaannya yg membuat moodnya kembali membaik.
Setelah satu jam, tercium bau wangi dari dapur membuat Pinkan penasaran apa yg dilakukan Sheira. Aroma cake yg enak pun memenuhi dapurnya, sementara Sheira sedang membuat buttercream untuk lapisan kuenya.
"Kasihan sekali ya, selalu sendirian.." ucap Pinkan tapi Sheira tak peduli.
"Malam-malam membuat kue, apa sebegitu membosankannya hidupmu..?" tanya Pinkan.
__ADS_1
"Masih diam.." ucapnya.
Sheira pun terus melakukan pekerjaanya. Hingga Pinkan menuangkan buttercream ke kepala Sheira.
Byurr..
"Hei Ja**ang.. apa maumu??" tanya Sheira.
"Kau itu kalau ada orang bicara dengarkan.." ucap Pinkan.
"Untuk apa mendengarkan kata-kata sampah?? kau itu hanya akan menghinaku.." ucap Sheira membersihkan kepalanya dengan tisu.
"Apa kau bilang?? sampah.. " ucap Pinkan lalu menjambak rambut Sheira.
Tapi nampaknya Pinkan tak tahu apapun tentang Sheira. Ia pernah belajar ilmu bela diri dan langsung menepis tangan Pinkan. Rambutnya yg dijambak pun berhasil dilepaskan dan justru tangan Pinkan yg dikunci.
"Masih mau melawanku?" tanya Sheira.
"Akh.. Mas.. Tolongg.." teriak Pinkan membuat Aryo mendekat karena dari tadi suara ada ribut dari dapur.
"Sheira apa yg kau lakukan??" tanya Aryo melihat tangan Pinkan dikunci.
"Dia sudah mengacak-acak dapurku, dan menuangkan buttercream ke kepalaku.. kau bisa lihat Mas apa aku pernah seberantakan ini membuat kue??" ucap Sheira kesal.
"Lepaskan Pinkan.." ucap Aryo justru membela Pinkan.
"Baiklah, sesuai keinginanmu.." ucap Sheira.
Plakkk..
"Mas.. kau menamparku??" tanya Sheira.
"Tak seharusnya kau melukai Pinkan.." ucap Aryo.
"Aku hanya melindungi diri.. dia yg menghina dan mengejekku.. lalu karena aku tak meladeninya dia menuang buttercream di kapalaku dan saat dia menyerangku wajar jika aku melawan.." ucap Sheira.
"Wajar?? kau itu bisa beladiri sementara Pinkan tidak, kalau tangannya patah bagaimana?" tanya Aryo.
"Oh Mas sekarang sudah tak percaya padaku, baiklah Mas jika itu maumu.." ucap Sheira.
"Bukan masalah tidak percaya, tapi kau melukai tangan Pinkan." ucap Aryo.
"Aku hanya menguncinya agar dia tak menyerangku, tolong Mas bedakan antara gerakan menyerang dan bertahan.. yg kulakukan hanyalah bertahan dan membela diri. Kalau aku menyerangnya dia sudah pasti tak sadarkan diri.." ucap Sheira lalu naik ke atas.
__ADS_1
Sudah terlalu sakit hatinya, tapi ada hal membuatnya memperkuat alasan untuk bercerai, yaitu rekaman suaminya menamparnya. Juga penyerangan Pinkan terhadapnya.
Sheira masuk ke dalam kamarnya dan menangis. Sungguh perih hatinya ditampar suami sendiri padahal dirinya tak bersalah. Yang lebih parahnya ia melakukannya di hadapan Pinkan, yg pastinya wanita ular itu sangat bahagia. Sheira pun memilih mandi dan membersihkan kepalanya yg lengket akibat buttercream yg dituang ke kepalanya.