Affair With Me??

Affair With Me??
EP.162 S2 : Perpisahan


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu dengan cepat, hingga hari ini adalah hari terakhir Sean bekerja. Itu artinya hari ini adalah hari terakhir Grace melihat Sean. Grace pun ingin sekali bolos kerja dan pergi dengan Sean seharian ini karena kemungkinan mereka sulit akan bertemu kembali. Lebih tepatnya nanti Grace akan butuh berbagai macam alasan untuk bertemu Sean.


"Sean, apa kau senang hari ini hari terakhirmu?" tanya Grace.


"Tidak juga nona, aku pasti akan merindukan momen mengawal anda." ucap Sean.


"Kau itu padahal sudah kusuruh berkata jujur." ucap Grace.


"Aku jujur nona.." ucap Sean.


"Ya..yaa.. sayangnya aku tak percaya." ucap Grace.


Grace pun minta diantarkan ke salah satu bekery miliknya. Setelah mengunjungi bakery tersebut, Grace pun minta diantarkan ke sebuah resto untuk makan siang. Grace sengaja ingin mentraktir Sean makan untuk yg terakhir kalinya.


"Sean kita makan siang disini." ucap Grace.


"Baik nona." ucap Sean.


Lalu mereka menikmati makan siangnya dan berbicara santai.


"Sean, hari ini adalah hari terakhirmu. Jadi aku ingin kau bekerja setengah hari saja.. Sisanya kita santai saja sampai waktu kerjamu habis." ucap Grace.


"Terimakasih nona." ucap Sean.


"Ya sama-sama.. dan aku punya hadiah kecil untukmu." ucap Grace.


"Hadiah?? anda tak perlu melakukan itu." ucap Sean.


"Aku memberikannya karena kau banyak mendengarkanku dan menuruti keinginanku yg kadang kau tak suka." ucap Grace.


"Baiklah.." ucap Sean.


Lalu Grace mengambil sekotak kecil hadiah di tasnya dan diberikan pada Sean. Kemudian Grace meminta Sean untuk membukanya dan menyimpan barang tersebut.


"Nona hadiah ini berlebihan." ucap Sean.


"Tapi tak sebanding dengan nyawaku yg kau selamatkan dari kebakaran kemarin. Jadi kau pantas menerimanya." ucap grace.


"Terimakasih nona." ucap Sean menerimanya.


"Ya.. tapi kau tahi arti jam tangan itu?" tanya Grace.


"Waktu?" tanya Sean.


"Ya.. agar kau ingat waktu.. itu yg diajarkan kak Nathan." ucap Grace.


"Baiklah, aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan." ucap Sean tersenyum.


"Ya.. kau harus menyimpannya." ucap Grace.


"Habis ini kita kemana nona?" tanya Sean.


"Karena kau bekerja setengah hari, bagaimana jika ke pantai?" tanya Grace.


"Agak jauh dari tempat kita.. anda yakin?" tanya Sean.

__ADS_1


"Ya.. apa perlu memanggil sopir.? bilang saja aku ingin ke pantai." ucap Grace.


"Baiklah, aku yg akan mengantarkan anda." ucap Sean.


Mereka pun tiba di pantai yg terdekat walau harus menempuh waktu beberapa jam. Dan Grace memeng sudah menyiapkan semua jadwalnya jauh-jauh hari. Ia ingin menghibur dirinya dan memberikan hadiah pada Sean.


Setibanya disana, Grace dan Sean pun menikmati indahnya pantai disana. Rasanya sudah lama sekali Grace tidak ke pantai. Udara yg bersih, dan juga air laut yg berwarna biru cerah membuatnya bersemangat. Kebetulan hari itu juga tidak terlalu panas cuacanya, bahkan hampir hujan.


Tapi Grace tetap berdiri di pinggir pantai menikmati indahnya pantai disana. Sean pun hanya mengawasinya dan melihat dua pemandangan indah di depan matanya. Pemandangan laut, serta pemandangan yg takkan bisa ia lihat lagi jika ia sudah kembali bekerja di SHIELD. Ingin rasanya ia resign dari ketua tim alfa dan menjadi bodyguard Grace selamanya, tapi itu adalah hal terbodoh karena bagaimanapun ia akan patah hati jika melihat Grace menikahi pria lain.


Rambut Grace yg indah pun tergerai dan tersibak angin. Sean pun hanya mampu melihatnya dari belakang tanpa ingin mendekat karena ia takut dirinya tak mampu menahan diri.


"Sean, nikmatilah hari ini.. pemandangan pantai yg sungguh sayang jika kita lewatkan begitu saja." ucap Grace.


"Baik nona." ucap Sean.


Hatinya pun teduh mendengar suara Grace dan sosoknya dari belakang. Hingga tiba-tiba hujan pun turun. Mereka sama sekali tak membawa payung atau jaket. Dan Sean melepas jasnya untuk melindungi Grace dari hujan.


"Ah.. hujan." ucap Grace santai.


"Nona, cepat ke mobil.." ucap Sean sembari menupi kepala Grace dengan jasnya.


"Akh iya." ucap Grace.


Sean pun menuntunnya menuju ke mobil dan tanpa sadar Sean seperti merangkul pundak Grace. Lalu ia membukakan pintu mobil agar Grace bisa masuk dan dirinya pun masuk ke dalam mobil walaupun hujan-hujanan. Walaupun tidak deras tapi pakaian Sean agak basah.


"Akh sayang sekali padahal kita sudah jauh-jauh kemari." ucap Grace.


"Nona pikirkan kesehatan anda." ucap Sean.


"Oke.." ucap Grace.


"Ini handukmu." ucap Grace.


"Aku baru sadar, fungsi handuk ini." ucap Sean.


"Iya, setidaknya lumayan untuk mengeringkan wajah. Lihat kemejamu hampir basah." ucap Grace.


"Mau bagaimana lagi nona. Namanya hujan air, kalau hujan es kepalaku bisa berdarah." ucap Sean.


"Kau mulai bisa melucu." ucap Grace tersenyum.


Hujan pun malah turun semakin deras, Sean dan Grace pun terpaksa berdiam diri di mobil. Karena cukup berbahaya jika mereka melanjutkan perjalanan pulang.


Grace pun tertidur dan Sean melihatnya melalui spion kecil karena posisinya ada di kursi penumpang. Grace yg kelihatan kedinginan pun diselimuti dengan selimut yg ada di mobil. Dengan perlahan Sean mrnyelimutinya. Sampai Sean mematikan ac mobil agar Grace tidak kedinginan.


Samar-samar Grace pun membuka matanya sedikit lalu memanggil Sean.


"Sean, bisakah kau menjagaku lebih lama lagi?" tanya Grace.


"Maaf nona." ucap Sean lalu menoleh ke bangku penumpang.


"Kau akan meninggalkanku begitu saja." ucap Grace setengah tak sadar.


"Anda baik-baik saja nona?" tanya Sean karena Grace kelihatan ngelantur tak mungkin sekali Grace yg begitu cuek akan berkata demikian.

__ADS_1


"Aku.. kedinginan." ucap Grace lagi.


"Ac mobil sudah kumatikan nona. " ucao Sean.


"Kemarilah Sean.." pinta Grace.


"Apa anda baik-baik saja nona?" tanya Sean sekali lagi.


"Sean kemarilah.. ada hal penting yg ingin kukatakan." ucap Grace.


"Katakan saja nona." ucap Sean.


"Kemarilah Sean, kumohon aku cukup lemah." ucap Grace.


Sean pun mendekati Grace dan berpindah ke kursi penumpang perlahan. Sean juga sedang menyiapkan hatinya karena bagaimanapun ia lelaki normal yg menyukai Grace.


"Ada apa nona? apa nona sakit?" tanya Sean.


"Sedikit, aku pusing dan kedinginan." ucap Grace.


Sean pun mengecek kening Grace yg kelihatan agak panas. "Maaf nona aku pegang kening anda." ucap Sean.


"Anda deman nona, ayo kita segera pulang." ucap Sean.


"Tidak mau." ucap Grace yg malah memeluk Sean.


Sean pun kehabisan kata-kata selain mengontrol dirinya dan berkata kalau ini tak baik dan ia harus segera pergi dari sisi Grace.


"Nona, sadarlah.. nanti aku dimarahi tuan Nicho dab Nathan." ucap Sean.


"Aku yg akan dimarahi bukan kau." ucap Grace.


"Nona anda sedang demam, dan hujan sudah mereda aku akan membawa anda ke rumah sakit." ucap Sean.


"Sean.. bolehkah..?" ucap Grace tak jelas.


"Cukup nona, aku harus menyetir." ucap Sean.


Cupp..


Grace pun mengecup pipi Sean dalam keadaan tak


sadar. Lalu tersenyum dan berkata terimakasih membuat Sean harus menghindar dan mengontrol dirinya.


"Terimakasih Sean." ucap Grace tersenyum lalu kembali tidur.


"Apakah aku masih bisa bernafas besok?? bagaimana jika ayahnya atau kedua kakaknya tahu?? " gumam Sean dalam hati.


Sean pun melihat ke kanan dan ke kiri, lalu memerhatikan interior mobil apakah ada kamera atau penyadap lainnya. Untungnya tak ada jadi ia akan selamat terlebih Grace yg melakukannya bukan dirinya.


Lalu Grace pun tertidur lagi, dan Sean bisa berpindah posisi. Sean pun melajukan mobil ke rumah sakit terdekat agar Grace mendapatkan penanganan. Setelah itu, Grace pun dibawa pulang karena dinyatakan baik-baik saja.


"Sean apa yg terjadi?" tanya Grace.


"Anda demam nona. Apa anda tak ingat sesuatu?" tanya Sean takut.

__ADS_1


"Tidak.. ayo kita pulang saja." ucap Grace.


"Baiklah, dokter juga berkata demikian jika anda sudah sadar." ucap Sean.


__ADS_2