
Sejak hari itu, Celine sangat malu pada keduanya. Baik Nathan maupun Nicholas pun santai saja karena mereka memang tak bersalah. Bukan salah mereka juga kan jika keduanya adalah kembar identik. Untung saja warna rambut mereka berbeda jika tidak mereka sulit untuk dibedakan.
Suatu ketika, di kelas Nicholas ada sebuah tugas kelompok. Dimana Nicholas dan Celine beserta kedua murid lainnya harus mengerjakan tugas kelompok. Mereka ditugaskan membuat makalah tentang beberapa jenis tanaman yg sudah ditentukan. Mulai dari ciri-ciri tanaman, manfaat sampai cara perawatan tanaman dan foto-foto tanaman tersebut.
"Baiklah, kalian sudah paham kan tentang tugas ini.. aku akan membagi tugas." ucap Nicholas.
"Apa kau ketuanua disini?" tanya Celine.
"Kalau ada yg ingin disampaikan silahkan saja." ucap Nicholas.
"Ehmm.. anu untuk tanamannya, siapa bagaimana cara merawatnya.?" tanya Celine.
"Sudah kuduga, kau hanya basa-basi. Jadi kita sudah dapat benihnya.. apa ada yg bersedia menyemainya sampai tumbuh menjadi tamanan kecil?" tanya Nicholas.
"Aku tak bisa rumahku di apartemen dan tidak ada lahan bercocok tanam." ucap salah seorang.
"Aku tinggal di kos-kosan, dan tak ada tempat yg pas karena kurang cahaya matahari." ucap salah seorang lagi.
"Dan kau Celine?" tanya Nicholas.
"Aku, tinggal di apartemen dan tak bisa merawat tanaman." ucap Celine.
"Baiklah sudah kuduga, aku yg akan merawatnya.. kalian kerjakan saja bagian ini.." ucap Nicholas.
"Baik.." ucap ketiganya.
"Ingat kalian harus meringkasnya bukan menyalin dari internet. Aku akan memeriksa tugasnya sebelum dikumpulkan."ucap Nicholas.
"Oke." ucap ketiganya.
Pembagian pun selesai, mereka pun berdiskusi mengenai tugas ini dengan baik. Dan Nicholas paling banyak berkontribusi sebagai murid paling pintar di kelasnya.
Celine pun malu karena awalnya tak terima Nicholas langsung memimpin tugas kelompok. Hingga setelah pelajaran usai semua kembali ke bangku masing-masing.
"Cel tak baik menilai sesuatu tanpa kau mengenal orangnya." ucap rekan tugas kelompok Celine.
"Maksudmu?" tanya Celine.
"Maksudnya, kau tak tahu siapa Nicholas tapi kau meragukannya. Kami diam karena kami tahu dia dan kemampuannya."
"Iya maaf, aku takkan mengulanginya. Dia juara kelas ya?" tanya Celine.
"Benar, tapi dia juga juara umum dari kelas 10."
"Akh.. sepertinya aku terlalu meremehkannya." ucap Celine.
"Iya, jadi kalau tak tahu lebih baik bertanya." ucap salah seorang.
"Baiklah." ucap Celine.
Sejak itulah Celine bahkan tak berani mengajak bicara Nicholas dan hanya berbicara seperlunya saja. Dan tugas kelompok itupun berlangsung selama 1 bulan karena harus merawat tanaman dari benih menjadi tanaman.
Nicholas pun dengan telaten merawatnya dan membagikan pertumbuhannya pada teman-temannya di grup chat. Setiap harinya Nicholas membagikan gambarnya dan setiap pertumbuhannya.
__ADS_1
Dan semuanya juga mengumpulkan bahan tugas yg diminta Nicholas. Hingga tanaman pun sudah tumbuh menjadi tanaman kecil dengan tinggi 10 cm. Untuk menyelesaikan tugas akhirnya, mereka pun mengerjakan tugas kelompok tersebut di rumah Nicholas.
Secara tidak langsung ketiganya juga bertemu dengan Nathan saat ke rumah mereka. Mereka pun tak terkejut saat masuk ke area perumahan elit tersebut karena sesuai rumor kedua anak kembar itu berasal dari keluarga kaya raya. Mereka pun tiba di sebuah rumah besar dan masuk kesana.
Nicholas pun meminta mereka masuk ke dalam rumah, dan menunggu di ruang belajar yg disediakan. Sementara Nicholas meminta pelayan menyiapkan minuman dan makanan ringan. Kemudian ia naik ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
Celine pun melihat Nathan dan Nicholas yg wajahnya sama persis. Ia bahkan masih bingung membedakan keduanya.
"Nicho dimana toiletnya?" tanya Celine pada Nathan.
"Aku Nathan, toilet di sebelah kiri." ucap Nathan.
"Maaf dan terimakasih." ucap Celine.
Nathan pun santai saja dan ia menuju ke halaman untuk melukis sebuah karya yg akan dia ajukan untuk lomba. Sebuah lomba yg bisa membawanya pada mimpinya menjadi pelukis terkenal dan juga beasiswa diluar negeri.
Celine yg keluar dari toilet pun melihat Nathan sedang melukis dan terpesona oleh lukisannya. Dan Nathan takkan pernah perduli pada apapun atau siapapun saat sedang melukis.
Nicholas pun melihat Celine yg malah terpaku melihat Nathan melukis.
"Kau kemari untuk mengerjakan tugas, bukan melihat saudaraku melukis." tegus Nicholas.
"Maaf.." ucap Celine lalu kembali ke ruang belajar mereka.
Mereka pun akhirnya membahas tugas kelompok mereka dan menyelesaikannya hari itu. Tak lupa Nicholas juga memperlihatkan tanaman yg sudah ia rawat selama sebulan terakhir. Semuanya pun berjalan dengan baik karena mereka tak ingin namanya dicoret dari nama kelompok oleh Nicholas.
"Jadi tugas hari ini selesai dengan baik, nanti aku akan merapikannya dan besok akan membawa tanamannya." ucap Nicholas.
"Celine, jangan lupa kau harus presentasi dengan lancar dan intonasi yg baik." ucap Nicholas.
"Aku akan berusaha." ucap Celine.
"Oke.. " ucap Nicholas.
"Nak bi Jum sudah masak untuk makan siang sama teman-temannya." ucap Bi Jum.
"Oke.. terimakasih bi." ucap Nicholas.
"Karena sudah disiapkan, lebih baik kita makan siang sebelum kalian pulang." ucap Nicholas.
"Terimakasih Nicholas." ucap mereka.
Mereka pun makan siang disana, dan berbicara santai. Sementara Nathan, ia masih asik dengan dunianya dan melupakan makan siangnya.
Pelayan yg membawakan makanan pun hanya meletakkannya di sebuah meja tapi tak disentuh sekalipun oleh Nathan.
Setelah selesai makan, Celine dan yg lainnya pun pulang tapi Celine menunggu sopir jemputannya.
"Kau belum pulang?" tanya Nicholas.
"Aku menunggu jemputan." ucap Celine.
"Ya.. duduklah di bangku taman jangan berdiri nanti kau pingsan lagi." ucap Nicholas.
__ADS_1
"Terimakasih,." ucap Celine.
Sementara Nicholas justru meninggalkannya dan merapikan tugasnya. Celine yg menunggu pun melihat Nathan yg sedang melukis sebuah taman yg indah. Dirinya begitu takjub pada lukisan Nathan yg begitu bagus.
"Apa itu gambar taman?" tanya Celine.
"Iya, kan kau bisa lihat." ucap Nathan.
"Kau suka sekali melukis.?" tanya Celine.
"Jika tidak suka, untuk apa aku melukis di sekolah dan dirumah. Dan bisakah kau melihat saja, aku harus fokus." ucap Nathan.
"Baiklah maaf." ucap Celine.
"Keduanya sangat dingin, tapi Nathan masih lebih baik. Lukisannya juga bagus." gumam Celine dalam hati.
Celine pun memerhatikan Nathan yg melukis dan melupakan sopir yg sedang ditunggunya. Hingga Nicholas keluar untuk mengecek apakah Celine masih menunggu sopirnya.
Saat Nicholas keluar, ia melihat Celine masih menunggu dan melihat Nathan melukis. Dan sopir jemputannya pun tiba tapi Celine tak melihatnya karena fokus pada Nathan.
Tinn..Tinn.
"Non.." panggil sang sopir.
Nicholas pun mendekatinya dan menepuk pundaknya.
"Cel.. sopirmu sudah tiba." ucap Nicholas.
"Eh.. iya terimakasih aku pulang dulu." ucap Celine.
Nicholas pun hanya memerhatikannya, hingga Celine tersandung batu karena jalan cepat-cepat.
Brukkk..
"Kau itu kalau jalan lihat-lihat." ucap Nicholas mendekat.
"Akh sakit sekali." ucap Celine.
"Bisa berdiri?" tanya Nicholas.
"Bisa." ucap Celine malu.
"Ada obat tunggulah sebentar." ucap Nicholas lalu memanggil pelayan untuk mengambil obat.
"Bi, obati temanku." ucap Nicholas.
"Baik tuan." ucap pelayan tersebut.
Lalu Nicholas meninggalkannya dan Celine pulang setelah diobati.
"Merepotkan saja." gumam Nicholas yg melihatnya dari jendela.
Nicholas yg tak suka menyentuh perempuan jadi ia memanggil pelayan untuk mengobatinya.
__ADS_1